Beginilah jika hujan salah musim.
Apa-apa yang harusnya tak tumbuh,
tumbuhlah jua tanpa tahu sebab.
Namaku Reneta,
kekasih Erlang.
Dan aku benci hujan.
Beginilah jika hujan salah musim,
apa-apa yang seharusnya tumbuh,
kikis juga oleh derasnya.
Gugur kelopak melati satu-satu.
Mengapa?
Hai, karena hujan sudah berlaku sangat kejam,
sangat tidak adil padaku.
Pada untaian melati yang susah payah kurangkai,
untuk kukalungkan pada Erlang kelak.
Beginilah jika hujan salah musim.
Kebun melati justru tak berbunga,
kalah saing dengan ilalang.
Hei, siapa kamu gadis berparas teduh berpayung bening?
Mengapa di balik teduhmu menyimpan begitu banyak petaka?
Mengapa di balik tenangmu menyimpan sembilu yang menyakitkan?
Mengapa mendungmu justru menutupkan mata kekasihku akan matahari?
Ini hujan salah musim.
Gugur melati.
Gugur bunga gugur kelopak gugur pula wanginya.
Padam purnama padam pula terangnya.
"Aku tidak buta, Erlang. Siapa dia yang tiba-tiba datang?"
"Dia.. Garis nasib yang tiba-tiba ditautkan padaku tanpa kutahu muasalnya," jawab Erlang.
"Berhentilah berpuisi!"
"Apa lagi yang bisa kukatakan Reneta? Kenapa kau berpikir sebegini janggalnya?"
"Janggal katamu Erlang? Janggal kah kekasih yang bertanya tentang seorang yang tiba-tiba menelusup ruang hati kekasihnya? Janggal kah itu Erlang?"
Erlang hanya membisu.
Aku semakin beku.
April, dan hujan sesekali masih menderasi bumi.
Empat warsa kuhabiskan bersama Erlang.
Bagaimana aku tidak paham betul perangainya?
Erlang, yang begitu kucintai.
Erlang, yang bahunya sanggup menopang beribu-ribu ton masalah dan pikiran.
Erlang, yang di kedalaman matanya aku berani berharap.
Erlang, yang untuknya aku berjuang meronce namaku bersama harum melati.
Lalu rusak sudah.
Hujan menyapu semuanya tentang Erlang dariku,
bersama dengan Gadis Berpayung Bening.
Dia, yang tiba-tiba ada di mobil Erlang ketika Erlang menjemputku pulang.
Dia, yang sketsanya dengan tidak sadar selalu dilukis Erlang.
Gadis berpayung transparan di tengah rerimbun hujan.
Bukan lagi gadis dengan senyum cemerlang diterpa cahaya mentari.
"Erlang, kumohon, jujurlah,"
"Aku ingin berteduh Reneta. Berlari bersama hujan. Aku ingin menciptakan pelangi, Reneta,"
"Tidakkah kau suka pada kehangatan matahari, Erlang?"
"Ada masanya, Reneta, ketika aku harus menepi dari matahari. Bumi pun perlu hujan untuk meredakan kemarau,"
"Erlang, sungguh aku membenci hujan!"
"Kemarilah Reneta. Cinta kasih yang sama kukalungkan untukmu. Jangan benci hujan karena aku. Jangan pula karena payung transparan milikku. Bukan salahnya, Reneta. Kumohon jangan salahkan hujan atas pilihan yang aku ambil,"
"Aku benci hujan! Aku benci hujan yang membasuh segala tentangku di hadapanmu, yang melebur empat tahunku bersamamu, yang membilas habis mimpi yang kubangun denganmu!"
Lalu yang kutahu hanyalah hangat.
Hanyalah air yang meleleh di kemeja Erlang.
Hanyalah tangan Erlang yang membelai rambutku.
Hanyalah bibir Erlang yang terasa lama sekali melebur di bibirku.
Hanyalah nafas berat entah Erlang entah aku yang satu-satu.
Sungguh, ini hujan salah musim.
Tahu hancur hati menggenggam melati,
tetapi kenanga anggrek yang didapati.
Sungguh, aku benci hujan salah musim!
Jumat, 27 Desember 2013
Selasa, 10 Desember 2013
Selamat Tidur
Justru aku takut kalau kamu masih menyediakan ruang kosong untukku.
Itu milikku, dulu.
Sekarang udah beda cerita.
Kamu saudaraku, kakakku.
Selain itu, tunggu.
Aku senang.
Seringan gelembung berbincang denganmu.
Aku itu saudaramu, adikmu.
Hanya nyaman.
Lega saja ketika sadar aku bisa berbicara denganmu seperti dulu.
Kamu kakakku, aku adikmu.
Ruang kosong buatmu lebur kakakku,
masih saja istimewa, tapi tidak kubiarkan melompong begitu.
Lebih baik kugeser tempatnya, bukan lagi sepetak di sudut,
tetapi berbaur dengan saudara-saudaraku yang lain.
Sehat kakakku?
Kadang ada juga waktunya aku ingin istirahat di ruangan kecilmu,
tapi kubilang sudah kuleburkan bersama ruang-ruang milik saudaraku yang lain.
Kasih sayang itu universal kakakku,
dan untukmu masih sama sebesar dulu.
Hanya lain wujud.
Begitu pula kasih sayang Bapak Ibu, tidaklah berkurang jatahnya untukmu kakakku,
melainkan berlipat ganda.
Kau itu Kartika.
Kartika yang selalu disayang, yang selalu dinanti pulang.
Selaksa doa yang sejak dulu kurangkaikan untukmu tak pernah surut kakakku.
Tidak ada yang berubah setelah bertahun-tahun.
Sejak kita masih sama-sama lugu.
Hingga kini saat kita sudah dirubah waktu.
Tidak ada yang berubah kakakku.
Hanya pergeseran posisi.
Sudut milikmu itu kini kosong lagi, entah siapa yang akan mengisinya nanti.
Betapa aku gadis beruntung kakakku,
terikat persaudaraan denganmu yang jauh lebih abadi ketimbang tali apapun yang pernah kita anyam dulu.
Selamat tidur.
Itu milikku, dulu.
Sekarang udah beda cerita.
Kamu saudaraku, kakakku.
Selain itu, tunggu.
Aku senang.
Seringan gelembung berbincang denganmu.
Aku itu saudaramu, adikmu.
Hanya nyaman.
Lega saja ketika sadar aku bisa berbicara denganmu seperti dulu.
Kamu kakakku, aku adikmu.
Ruang kosong buatmu lebur kakakku,
masih saja istimewa, tapi tidak kubiarkan melompong begitu.
Lebih baik kugeser tempatnya, bukan lagi sepetak di sudut,
tetapi berbaur dengan saudara-saudaraku yang lain.
Sehat kakakku?
Kadang ada juga waktunya aku ingin istirahat di ruangan kecilmu,
tapi kubilang sudah kuleburkan bersama ruang-ruang milik saudaraku yang lain.
Kasih sayang itu universal kakakku,
dan untukmu masih sama sebesar dulu.
Hanya lain wujud.
Begitu pula kasih sayang Bapak Ibu, tidaklah berkurang jatahnya untukmu kakakku,
melainkan berlipat ganda.
Kau itu Kartika.
Kartika yang selalu disayang, yang selalu dinanti pulang.
Selaksa doa yang sejak dulu kurangkaikan untukmu tak pernah surut kakakku.
Tidak ada yang berubah setelah bertahun-tahun.
Sejak kita masih sama-sama lugu.
Hingga kini saat kita sudah dirubah waktu.
Tidak ada yang berubah kakakku.
Hanya pergeseran posisi.
Sudut milikmu itu kini kosong lagi, entah siapa yang akan mengisinya nanti.
Betapa aku gadis beruntung kakakku,
terikat persaudaraan denganmu yang jauh lebih abadi ketimbang tali apapun yang pernah kita anyam dulu.
Selamat tidur.
Minggu, 08 Desember 2013
Bening Payung (Hujan)
Ini sudah bulan Februari.
Dan hujan masih saja ngeyel belum mau berhenti.
"Bete deh, kalau hujan begini terus kan aku harus berangkat lebih pagi. Belum lagi kalau banjir, menyiksa," keluh Reneta panjang pendek.
Reneta, kekasihku.
"Simpan keluh kesahmu sayang, mukamu aneh kalau cemberut begitu," gurauku.
Kian maju sajalah manyun bibir Reneta. Kian deraslah tawaku.
"Kamu ini kenapa sih? Udah bete begini masih juga dibercandain," sungut Reneta.
"Lho, justru kamu ini yang kenapa, bukannya hujan begini malah jadi sejuk? Hujan kan rejeki juga Reneta,"
"Iya, rejeki kalau di saat yang tepat. Tapi kalau tiap hari begini susah juga kita,"
Aku tersenyum. Renetaku yang manja.
Kalau sudah begini mending aku diam saja.
Kuantarkan Reneta sampai depan pintu kantornya.
Pak Sugeng, satpam kantor Reneta melambai padaku.
Kubalas lambaiannya dengan senyum hangat.
"Senyum dulu dong sayang, bisa-bisa bosmu pun akan takut melihatmu begitu," godaku.
Renata memukul lenganku. Tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
"Jam 5 yaa," ujarnya seraya membuka pintu mobil.
Aku mengacungkan ibu jari dan membiarkan Reneta memasuki kantornya.
Ah, sungguh tidak pas gadis secerah Reneta berada di tengah background muram hujan begini.
Payung-payung berseliweran membentuk pelangi di sepanjang trotoar jalan.
Aih, merah, kuning, hijau, sungguh cerah seperti gadisku.
Tapi, hey, ada payung transparan menyembul di situ.
Bening. Tidak memancarkan warna apapun.
Tapi hey, justru bertambah elok dia diapit beragam warna.
Ah, kembali aku ke kedai kopi hampir setahun berselang.
Ketika duduk di depanku gadis sedingin subuh.
Dan tentu saja, buram.
Lucunya, kami hanya saling bertukar pandang tanpa melempar bilah-bilah pertanyaan yang menggantung memenuhi kepala kami.
Sampai akhirnya meluncur kata-kata "Kacamatamu basah" dari mulutnya.
Pembukaan yang aneh.
Gadis sebeku mendung.
Tapi sekaligus teduh kalau boleh aku bilang.
Reneta adalah Matahari yang menyala, terang, menawan.
Sementara gadis entah siapa itu tak ubahnya mendung yang mengembun.
Sejuk.
Ah, ya, bagaimana bisa aku justru memberikan payung teduhku untuknya?
Kukira sederhana saja.
Aku cemburu.
Pada titik-titik air hujan yang menciumi tubuhnya sebelum dia menepi dan duduk di hadapanku.
Aih, aku iri pada tetes-tetes mendung yang bebas melebur di bibirnya, merayapi pipinya, dan melingkupi jemarinya yang cantik.
Bagaimana bisa aku begitu memperhatikan?
Tidak tahu.
Yang kutahu aku hanya cemburu.
Sudah hampir setahun.
Dan aku masih mengulum senyum.
Aku tahu payung beningku ada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.
Dan hujan masih saja ngeyel belum mau berhenti.
"Bete deh, kalau hujan begini terus kan aku harus berangkat lebih pagi. Belum lagi kalau banjir, menyiksa," keluh Reneta panjang pendek.
Reneta, kekasihku.
"Simpan keluh kesahmu sayang, mukamu aneh kalau cemberut begitu," gurauku.
Kian maju sajalah manyun bibir Reneta. Kian deraslah tawaku.
"Kamu ini kenapa sih? Udah bete begini masih juga dibercandain," sungut Reneta.
"Lho, justru kamu ini yang kenapa, bukannya hujan begini malah jadi sejuk? Hujan kan rejeki juga Reneta,"
"Iya, rejeki kalau di saat yang tepat. Tapi kalau tiap hari begini susah juga kita,"
Aku tersenyum. Renetaku yang manja.
Kalau sudah begini mending aku diam saja.
Kuantarkan Reneta sampai depan pintu kantornya.
Pak Sugeng, satpam kantor Reneta melambai padaku.
Kubalas lambaiannya dengan senyum hangat.
"Senyum dulu dong sayang, bisa-bisa bosmu pun akan takut melihatmu begitu," godaku.
Renata memukul lenganku. Tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
"Jam 5 yaa," ujarnya seraya membuka pintu mobil.
Aku mengacungkan ibu jari dan membiarkan Reneta memasuki kantornya.
Ah, sungguh tidak pas gadis secerah Reneta berada di tengah background muram hujan begini.
Payung-payung berseliweran membentuk pelangi di sepanjang trotoar jalan.
Aih, merah, kuning, hijau, sungguh cerah seperti gadisku.
Tapi, hey, ada payung transparan menyembul di situ.
Bening. Tidak memancarkan warna apapun.
Tapi hey, justru bertambah elok dia diapit beragam warna.
Ah, kembali aku ke kedai kopi hampir setahun berselang.
Ketika duduk di depanku gadis sedingin subuh.
Dan tentu saja, buram.
Lucunya, kami hanya saling bertukar pandang tanpa melempar bilah-bilah pertanyaan yang menggantung memenuhi kepala kami.
Sampai akhirnya meluncur kata-kata "Kacamatamu basah" dari mulutnya.
Pembukaan yang aneh.
Gadis sebeku mendung.
Tapi sekaligus teduh kalau boleh aku bilang.
Reneta adalah Matahari yang menyala, terang, menawan.
Sementara gadis entah siapa itu tak ubahnya mendung yang mengembun.
Sejuk.
Ah, ya, bagaimana bisa aku justru memberikan payung teduhku untuknya?
Kukira sederhana saja.
Aku cemburu.
Pada titik-titik air hujan yang menciumi tubuhnya sebelum dia menepi dan duduk di hadapanku.
Aih, aku iri pada tetes-tetes mendung yang bebas melebur di bibirnya, merayapi pipinya, dan melingkupi jemarinya yang cantik.
Bagaimana bisa aku begitu memperhatikan?
Tidak tahu.
Yang kutahu aku hanya cemburu.
Sudah hampir setahun.
Dan aku masih mengulum senyum.
Aku tahu payung beningku ada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.
Sekar Megananda
Sembah Gusti ingkang Maha Suci
Maha Asih mring para manungsa
Tiyang titah salawase
Sembah sujud kula tutur
Bocah bajang Megananda lair
Duh putra ilingana
Dadyo Satrya kang luhur
Dadyo manungsa utama
Anjangkepi
Bektimu mring Ibu Pertiwi
Duh putra mulya sira
Senin, 18 November 2013
Cerita Fina (Hujan)
Sabtu malam yang basah.
Diam-diam aku menertawakan derita muda mudi yang batal keluar untuk bercengkrama.
Sebaliknya denganku,
hujan justru membawa teduh yang luar biasa untukku.
"Aku juga suka hujan, Tania," ujar Fina ketika suatu saat kami duduk bersama di bangku taksi yang nyaman, menembus hujan yang tiba-tiba turun di siang bolong.
"Kenapa?"
"Oma pernah bercerita,
dahulu kala, hidup seorang Putri di negara antah berantah. Tetapi tidak seperti putri-putri lain di dalam dongeng, putri yang satu ini amat buruk rupa. Hal ini membuatnya malu bahkan untuk sekedar keluar dari kamarnya.Tentulah hal ini membuat Raja dan Ratu amat berduka,"
Fina mengambil nafas sejenak.
Hmm, kemacetan semakin parah.
"Sampai akhirnya sang putri berusia 17 tahun. Dia tetap tumbuh menjadi gadis pemurung dan tertutup. Akan tetapi, suatu hari, entah apa gerangan yang melangkahkan kakinya ke hutan di belakang Istana. Sang Putri menghirup udara di luar istana untuk pertama kalinya. Terkagum-kagum dia memandang sekeliling. Bunga-bunga mekar, suara burung ramai bersahutan. Gerangan apa yang membuat kecantikan semacam ini? Tanyanya dalam hati.
Namun, tak lama kemudian rintik hujan mulai turun,"
Aku mulai memperhatikan cerita Fina.
Lumayan juga untuk mengalihkan perhatian dari macet yang semakin menggila.
Warna-warni pelangi payung semakin ramai menjejali pinggir jalan.
Ah, tidak sadar aku menyentuh payung transparan miliknya yang kubawa ke mana-mana.
Sudah hampir setahun yang lalu.
"Begitu seterusnya. Setiap senja sang putri masuk ke hutan, kemudian bercengkrama dengan bebungaan hingga hujan turun. Ah, mengapa hujan selalu saja mengganggu cengkramaku? Tidakkah hujan tahu betapa senang aku akhirnya bisa menghirup udara bebas? Selalu begitu rutuknya setiap kali dia terpaksa pulang karena hujan,"
"Setengah revolusi bumi berlalu. Memasuki musim kemarau, hujan tak lagi mengganggu cengkerama sang putri di hutan. Tentu saja hal ini membuat sang putri senang.
Namun, kerajaan dilanda kemarau panjang. Kekeringan menyebabkan gagal panen di mana-mana, kematian akibat kelaparan meningkat, endemik penyakit meluas.
Raja dan Ratu kelimpungan. Sang Putri juga merasa hutan kecilnya berubah. Air sungainya yang jernih kini menyusut perlahan-lahan. Suara burung-burung kini mulai sepi. Daun-daun menguning dan rontok dengan lesu. Bebungaan, jangankan mekar, yang tersisa hanyalah kelopaknya yang kering dan kisut.
"Sang Putri tahu ada yang hilang. Apa yang salah berbulan-bulan ini? Sedekah bumi masih taat kami lakukan, sembahyang tak pernah kami tinggalkan, apa yang salah? Gumam Sang Putri yang sedang berpikir keras. Kemudian dia ingat apa yang tak lagi dia lakukan : merutuki hujan. Ya, dia tidak lagi merutuki hujan karena hujan sudah tiada. Ya, Hujan! Pekiknya.
Sang Putri perlahan memikirkan kembali semuanya. Dia merutuki hujan, padahal hujanlah yang membuat hutan kecilnya benderang. Dia mengusir hujan, padahal hujanlah yang membawa anugerah untuk negerinya. Maka sang putri memutuskan untuk berdamai dengan hujan. Dengan setia dia memanggil nama Hujan di tepi hutan kecilnya. Berharap hujan akan segera datang,"
"Kau tahu Tania, kadang kita sering acuh terhadap orang-orang yang selalu membantu kita dan menyayangi kita dengan diam-diam. Seringkali kita hanya melihat keburukan yang ditimbulkan, bukan kebaikan yang bahkan jauh lebih besar," ujar Fina. Aku mengangguk. Fina kembali melanjutkan cerita.
"Tubuh Sang Putri mulai melemah saking seringnya dia lupa untuk makan. Sungguh, dia berharap hujan segera datang. O hujan, sebegini besar sesalku, mengapa pula kau tak kunjung menghampiriku? O hujan mulia, tidakkah kau lihat penderitaan yang timbul selepas pergimu? Tegakah engkau wahai hujan?! serunya,"
"Suatu senja, tubuh Sang Putri benar-benar lemas, dia bahkan tak lagi bisa menggerakkan bibirnya untuk menyeru hujan. Tetapi hujan justru turun membanjir di matanya. Datanglah hujan, segera.. Mata sang Putri terpejam.
Hujan sebenarnya tidak pernah acuh terhadap panggilan Sang Putri, hujan melihat, hujan mendengar. Hujan bukan tidak ingin berdamai dengan Sang Putri, hujan tidak pernah menyimpan dendam. Tetapi hujan juga tidak bisa selamanya berada di sana. Keberadaannya justru akan menimbulkan petaka. Hujan harus terus berganti tempat untuk memakmurkan bumi. Perlahan, hujan turun dari langit mengecupi tubuh sang Putri yang beku. Mencumbui kembali tanah kerajaan yang telah lama ditinggalkannya. Semua orang berseri, semua orang berbahagia menyambut kembalinya hujan."
"Kau tahu Tania, diperlukan pengorbanan untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar. Aku suka hujan, Tania, yang tidak pernah mendendam, yang mau mendengar, yang tetap menunaikan tanggungjawab sesuai porsinya, yang tidak egois, yang memberikan berkah dalam diam. Dan ketika dia pergi, orang-orang baru sadar betapa berarti keberadaannya," pugkas Fina.
Aku tersenyum. Berterima kasih atas cerita Fina.
Hujan di luar sana,
seseorang yang kurindukan pasti sedang berada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.
Diam-diam aku menertawakan derita muda mudi yang batal keluar untuk bercengkrama.
Sebaliknya denganku,
hujan justru membawa teduh yang luar biasa untukku.
"Aku juga suka hujan, Tania," ujar Fina ketika suatu saat kami duduk bersama di bangku taksi yang nyaman, menembus hujan yang tiba-tiba turun di siang bolong.
"Kenapa?"
"Oma pernah bercerita,
dahulu kala, hidup seorang Putri di negara antah berantah. Tetapi tidak seperti putri-putri lain di dalam dongeng, putri yang satu ini amat buruk rupa. Hal ini membuatnya malu bahkan untuk sekedar keluar dari kamarnya.Tentulah hal ini membuat Raja dan Ratu amat berduka,"
Fina mengambil nafas sejenak.
Hmm, kemacetan semakin parah.
"Sampai akhirnya sang putri berusia 17 tahun. Dia tetap tumbuh menjadi gadis pemurung dan tertutup. Akan tetapi, suatu hari, entah apa gerangan yang melangkahkan kakinya ke hutan di belakang Istana. Sang Putri menghirup udara di luar istana untuk pertama kalinya. Terkagum-kagum dia memandang sekeliling. Bunga-bunga mekar, suara burung ramai bersahutan. Gerangan apa yang membuat kecantikan semacam ini? Tanyanya dalam hati.
Namun, tak lama kemudian rintik hujan mulai turun,"
Aku mulai memperhatikan cerita Fina.
Lumayan juga untuk mengalihkan perhatian dari macet yang semakin menggila.
Warna-warni pelangi payung semakin ramai menjejali pinggir jalan.
Ah, tidak sadar aku menyentuh payung transparan miliknya yang kubawa ke mana-mana.
Sudah hampir setahun yang lalu.
"Begitu seterusnya. Setiap senja sang putri masuk ke hutan, kemudian bercengkrama dengan bebungaan hingga hujan turun. Ah, mengapa hujan selalu saja mengganggu cengkramaku? Tidakkah hujan tahu betapa senang aku akhirnya bisa menghirup udara bebas? Selalu begitu rutuknya setiap kali dia terpaksa pulang karena hujan,"
"Setengah revolusi bumi berlalu. Memasuki musim kemarau, hujan tak lagi mengganggu cengkerama sang putri di hutan. Tentu saja hal ini membuat sang putri senang.
Namun, kerajaan dilanda kemarau panjang. Kekeringan menyebabkan gagal panen di mana-mana, kematian akibat kelaparan meningkat, endemik penyakit meluas.
Raja dan Ratu kelimpungan. Sang Putri juga merasa hutan kecilnya berubah. Air sungainya yang jernih kini menyusut perlahan-lahan. Suara burung-burung kini mulai sepi. Daun-daun menguning dan rontok dengan lesu. Bebungaan, jangankan mekar, yang tersisa hanyalah kelopaknya yang kering dan kisut.
"Sang Putri tahu ada yang hilang. Apa yang salah berbulan-bulan ini? Sedekah bumi masih taat kami lakukan, sembahyang tak pernah kami tinggalkan, apa yang salah? Gumam Sang Putri yang sedang berpikir keras. Kemudian dia ingat apa yang tak lagi dia lakukan : merutuki hujan. Ya, dia tidak lagi merutuki hujan karena hujan sudah tiada. Ya, Hujan! Pekiknya.
Sang Putri perlahan memikirkan kembali semuanya. Dia merutuki hujan, padahal hujanlah yang membuat hutan kecilnya benderang. Dia mengusir hujan, padahal hujanlah yang membawa anugerah untuk negerinya. Maka sang putri memutuskan untuk berdamai dengan hujan. Dengan setia dia memanggil nama Hujan di tepi hutan kecilnya. Berharap hujan akan segera datang,"
"Kau tahu Tania, kadang kita sering acuh terhadap orang-orang yang selalu membantu kita dan menyayangi kita dengan diam-diam. Seringkali kita hanya melihat keburukan yang ditimbulkan, bukan kebaikan yang bahkan jauh lebih besar," ujar Fina. Aku mengangguk. Fina kembali melanjutkan cerita.
"Tubuh Sang Putri mulai melemah saking seringnya dia lupa untuk makan. Sungguh, dia berharap hujan segera datang. O hujan, sebegini besar sesalku, mengapa pula kau tak kunjung menghampiriku? O hujan mulia, tidakkah kau lihat penderitaan yang timbul selepas pergimu? Tegakah engkau wahai hujan?! serunya,"
"Suatu senja, tubuh Sang Putri benar-benar lemas, dia bahkan tak lagi bisa menggerakkan bibirnya untuk menyeru hujan. Tetapi hujan justru turun membanjir di matanya. Datanglah hujan, segera.. Mata sang Putri terpejam.
Hujan sebenarnya tidak pernah acuh terhadap panggilan Sang Putri, hujan melihat, hujan mendengar. Hujan bukan tidak ingin berdamai dengan Sang Putri, hujan tidak pernah menyimpan dendam. Tetapi hujan juga tidak bisa selamanya berada di sana. Keberadaannya justru akan menimbulkan petaka. Hujan harus terus berganti tempat untuk memakmurkan bumi. Perlahan, hujan turun dari langit mengecupi tubuh sang Putri yang beku. Mencumbui kembali tanah kerajaan yang telah lama ditinggalkannya. Semua orang berseri, semua orang berbahagia menyambut kembalinya hujan."
"Kau tahu Tania, diperlukan pengorbanan untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar. Aku suka hujan, Tania, yang tidak pernah mendendam, yang mau mendengar, yang tetap menunaikan tanggungjawab sesuai porsinya, yang tidak egois, yang memberikan berkah dalam diam. Dan ketika dia pergi, orang-orang baru sadar betapa berarti keberadaannya," pugkas Fina.
Aku tersenyum. Berterima kasih atas cerita Fina.
Hujan di luar sana,
seseorang yang kurindukan pasti sedang berada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.
Minggu, 10 November 2013
Matahari
Kepada seseorang, yang meninggalkan kesan mendalam
bahkan ketika pertama kali jumpa.
Salam sejahtera untukmu di sana,
semoga Tuhan melapangkan jalanmu menuju cita-citamu,
semoga Tuhan menguatkanmu menapaki jalanmu,
Matahari.
Lalu bingung mau nulis apa.
Awal ketemu?
Ospek.
Nggak ding, cuma denger suaranya doang.
Panggungnya jauh sih, dan aku terjepit di antara 10000 orang.
Kesan pertama?
Ya biasalah, seperti anak buah yang memang harus menghormati pimpinannya.
Seperti junior yang memang harus menghormati seniornya.
Ketemu lagi kapan?
Kemarin malam.
Apa yang terjadi?
Matahari berbagi cerita.
Banyaaaaaak sekali cerita
Ada yang menarik dari Matahari.
Caranya memandang suatu masalah barangkali.
Atau mungkin cara menyikapi masalah itu.
Mungkin juga apa saja yang sudah dibacanya.
Berapa banyak dia bisa mengambil makna dari bacaannya,
atau peristiwa yang dialaminya.
Bisa jadi cara bicaranya.
Bisa juga cerdasnya.
Atau jujurnya?
Yah pokoknya ada yang menarik entah bagian mananya.
Ceritanya kalau ditulisin itu novelik bangeeettt.
Menimbulkan naluri untuk berbagi, mendengarkan gitu.
Kayaknya bakal merindukan cerita-ceritanya lagi deh.
Sayangnya ketemu pas menjelang terbenam di belahan bumi tempat aku berpijak.
Matahari harus pergi.
Tapi bukan untuk mati,
melainkan menyinari dan menghangatkan bagian bumi yang lain lagi.
Ya udah, intinya aku menghormati dan mengagumi Matahari.
Suatu saat nanti aku pengen denger nama Matahari berhasil membawa kebaikan yang lebih besar.
Suatu saat nanti aku pengen lihat Matahari sukses menempuh garis edarnya.
Matahari itu tugasnya menyinari, menghangatkan bumi.
Matahari tidak dapat mendekati bumi, karena bumi akan hangus karenanya.
Begitu juga sebaliknya, kalau Matahari pergi, bumi akan mati.
Tugas Matahari hanya memandang dari jauh, memastikan semua baik-baik saja.
Dari kejauhan.
bahkan ketika pertama kali jumpa.
Salam sejahtera untukmu di sana,
semoga Tuhan melapangkan jalanmu menuju cita-citamu,
semoga Tuhan menguatkanmu menapaki jalanmu,
Matahari.
Lalu bingung mau nulis apa.
Awal ketemu?
Ospek.
Nggak ding, cuma denger suaranya doang.
Panggungnya jauh sih, dan aku terjepit di antara 10000 orang.
Kesan pertama?
Ya biasalah, seperti anak buah yang memang harus menghormati pimpinannya.
Seperti junior yang memang harus menghormati seniornya.
Ketemu lagi kapan?
Kemarin malam.
Apa yang terjadi?
Matahari berbagi cerita.
Banyaaaaaak sekali cerita
Ada yang menarik dari Matahari.
Caranya memandang suatu masalah barangkali.
Atau mungkin cara menyikapi masalah itu.
Mungkin juga apa saja yang sudah dibacanya.
Berapa banyak dia bisa mengambil makna dari bacaannya,
atau peristiwa yang dialaminya.
Bisa jadi cara bicaranya.
Bisa juga cerdasnya.
Atau jujurnya?
Yah pokoknya ada yang menarik entah bagian mananya.
Ceritanya kalau ditulisin itu novelik bangeeettt.
Menimbulkan naluri untuk berbagi, mendengarkan gitu.
Kayaknya bakal merindukan cerita-ceritanya lagi deh.
Sayangnya ketemu pas menjelang terbenam di belahan bumi tempat aku berpijak.
Matahari harus pergi.
Tapi bukan untuk mati,
melainkan menyinari dan menghangatkan bagian bumi yang lain lagi.
Ya udah, intinya aku menghormati dan mengagumi Matahari.
Suatu saat nanti aku pengen denger nama Matahari berhasil membawa kebaikan yang lebih besar.
Suatu saat nanti aku pengen lihat Matahari sukses menempuh garis edarnya.
Matahari itu tugasnya menyinari, menghangatkan bumi.
Matahari tidak dapat mendekati bumi, karena bumi akan hangus karenanya.
Begitu juga sebaliknya, kalau Matahari pergi, bumi akan mati.
Tugas Matahari hanya memandang dari jauh, memastikan semua baik-baik saja.
Dari kejauhan.
Jumat, 08 November 2013
Seandainya Takdir tak Sekejam Ini pada Kami
Duhai Kakanda yang aku kasihi,
bukan, bukan aku yang meminta jadi begini.
Oo, Dewata, kejam sekali takdir mempermainkan perasaan.
Namaku Drupadi, Putri Pancala.
Nama yang bukan sembarang nama.
Yang pada masanya menjadi pertaruhan, sayembara harga diri para Ksatria.
Namaku Drupadi, Putri Pancala.
Hari ini aku bersumpah,
kelak di Kurusetra, aku akan keramas darah Dursasana!
Oo, kakanda yang aku kasihi,
Oo, Dewata yang mombolak balikkan hati.
Belum cukupkah pengabdianku sebagai seorang istri?
Sehingga layak dibagi-bagi,
bahkan di atas meja judi.
Oo, kakanda yang aku kasihi, yang selalu bersinar tanpa cela,
Ingatkah kanda pada dinding-dinding Pancala yang hening bersaksi,
kepada siapa hati ini kemudian menjatuhkan diri.
Bukan kanda, bukan karena kau seorang ksatria,
ingatkah kau pada jubah brahmana yang kau kenakan sebagai mimikri?
Bukan kanda, bukan aku tidak tahu apa-apa,
lakumu jelas menyiratkan siapa kau sesungguhnya.
Tapi benar kanda, aku tahu aku akan mengabdikan hidupku sepenuhnya untukmu.
Oo, kakanda yang aku kasihi, Baratasresta,
yang patuh kepada Ibunda.
Kau tahu kanda, hanya tubuhku yang bersedia kubagi dengan para saudaramu.
Karena titahmu kanda, yang membaktikan diri seutuhnya pada Ibunda.
Tapi bukan hatiku,
bukan pula hasrat berpikirku.
Namaku Drupadi, kanda, nama yang bukan sembarang nama.
Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Jisnu,
Yang hebat ketika marah.
apa dayamu kanda?
Melihat wanita tak berdaya ini begitu saja pasrah dipermainkan di meja judi.
Setengah mati aku mendaras kanda, agar yang telah kuserahkan padamu sepenuh hati tidaklah dapat menjadi orang lain di atas meja judi ini.
Namaku Drupadi, kanda, yang bersumpah akan keramas darah Dursasana!
Oo, kakanda yang aku kasihi, Purusaresaba,
kurang apa aku berbakti kanda?
Bahkan ketika aku tahu kau membagi hati.
Bukan kanda, bukan aku yang meminta begini.
Kau sendiri yang tak pernah membela diri,
merelakan Drupadi yang kau kasihi menjadi milik kakak-adikmu semua.
Bukan kanda, sungguh kalau Dewata menghendaki, aku memilih membagi hidup hanya denganmu seorang.
Duhai kakanda, sembah sujudku sebagai seorang istri yang senantiasa melaksanakan bakti.
Meski sakit rasanya melihatmu membagi hati.
Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Bibatsu,
tidakkah kau malu melihat wanitamu menitikkan airmata di hadapanmu?
Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Dananjaya,
tidak bisakah kau cabut saja anak-anak panahmu dan melesatkannya pada Sata Kurawa ini?
Tidakkah kau ingin melindungi wanitamu, kanda?
Aku bersumpah, andai kau bukan orang yang kupilih untuk membaktikan diri,
niscaya aku juga akan mencerabut jantung dari dadamu seperti halnya yang kulakukan pada Dursasana kelak.
Namaku Drupadi, kanda.
Nama yang bukan sembarang nama.
Nama yang hanya padamu aku bersumpah mendedikasikan diri.
Nama yang hanya untukmu menjatuhkan hati.
Ingat namaku kanda, di sela tapa dan tidurmu, dengan siapapun di sisimu.
Namaku Drupadi.
bukan, bukan aku yang meminta jadi begini.
Oo, Dewata, kejam sekali takdir mempermainkan perasaan.
Namaku Drupadi, Putri Pancala.
Nama yang bukan sembarang nama.
Yang pada masanya menjadi pertaruhan, sayembara harga diri para Ksatria.
Namaku Drupadi, Putri Pancala.
Hari ini aku bersumpah,
kelak di Kurusetra, aku akan keramas darah Dursasana!
Oo, kakanda yang aku kasihi,
Oo, Dewata yang mombolak balikkan hati.
Belum cukupkah pengabdianku sebagai seorang istri?
Sehingga layak dibagi-bagi,
bahkan di atas meja judi.
Oo, kakanda yang aku kasihi, yang selalu bersinar tanpa cela,
Ingatkah kanda pada dinding-dinding Pancala yang hening bersaksi,
kepada siapa hati ini kemudian menjatuhkan diri.
Bukan kanda, bukan karena kau seorang ksatria,
ingatkah kau pada jubah brahmana yang kau kenakan sebagai mimikri?
Bukan kanda, bukan aku tidak tahu apa-apa,
lakumu jelas menyiratkan siapa kau sesungguhnya.
Tapi benar kanda, aku tahu aku akan mengabdikan hidupku sepenuhnya untukmu.
Oo, kakanda yang aku kasihi, Baratasresta,
yang patuh kepada Ibunda.
Kau tahu kanda, hanya tubuhku yang bersedia kubagi dengan para saudaramu.
Karena titahmu kanda, yang membaktikan diri seutuhnya pada Ibunda.
Tapi bukan hatiku,
bukan pula hasrat berpikirku.
Namaku Drupadi, kanda, nama yang bukan sembarang nama.
Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Jisnu,
Yang hebat ketika marah.
apa dayamu kanda?
Melihat wanita tak berdaya ini begitu saja pasrah dipermainkan di meja judi.
Setengah mati aku mendaras kanda, agar yang telah kuserahkan padamu sepenuh hati tidaklah dapat menjadi orang lain di atas meja judi ini.
Namaku Drupadi, kanda, yang bersumpah akan keramas darah Dursasana!
Oo, kakanda yang aku kasihi, Purusaresaba,
kurang apa aku berbakti kanda?
Bahkan ketika aku tahu kau membagi hati.
Bukan kanda, bukan aku yang meminta begini.
Kau sendiri yang tak pernah membela diri,
merelakan Drupadi yang kau kasihi menjadi milik kakak-adikmu semua.
Bukan kanda, sungguh kalau Dewata menghendaki, aku memilih membagi hidup hanya denganmu seorang.
Duhai kakanda, sembah sujudku sebagai seorang istri yang senantiasa melaksanakan bakti.
Meski sakit rasanya melihatmu membagi hati.
Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Bibatsu,
tidakkah kau malu melihat wanitamu menitikkan airmata di hadapanmu?
Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Dananjaya,
tidak bisakah kau cabut saja anak-anak panahmu dan melesatkannya pada Sata Kurawa ini?
Tidakkah kau ingin melindungi wanitamu, kanda?
Aku bersumpah, andai kau bukan orang yang kupilih untuk membaktikan diri,
niscaya aku juga akan mencerabut jantung dari dadamu seperti halnya yang kulakukan pada Dursasana kelak.
Namaku Drupadi, kanda.
Nama yang bukan sembarang nama.
Nama yang hanya padamu aku bersumpah mendedikasikan diri.
Nama yang hanya untukmu menjatuhkan hati.
Ingat namaku kanda, di sela tapa dan tidurmu, dengan siapapun di sisimu.
Namaku Drupadi.
Tuan Payung (Hujan)
Akhir-akhir ini langit seperti muntab,
tanpa ampun mengguyur kami-kami di bumi dengan limpahan airnya.
Mungkin membalaskan dendam kemarau berkepanjangan tahun ini.
Sudah menginjak akhir tahun lagi.
Semestinya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, musim hujan akan datang di akhir bulan begini,
semestinya payung selalu siap sedia menemani.
Tapi tidak denganku.
Berapa kali aku terpaksa harus berlarian menembus hujan karena lalai yang sederhana ini.
Berapa kali pula aku harus berteduh, rehat sejenak akibat alpa yang sederhana ini.
Seperti juga hari itu.
Awal jumpa yang lucu.
Kita.
Dua manusia yang diderasi hujan.
Sama-sama menepi, sebelum kemudian bertukar sapa dengan cokelat hangat.
Memilin senyum dengan tanda tanya.
Siapa?
Yang malah tertukar dengan gumam "Kacamatamu basah"
Kamu yang dengan santai kemudian menoleh heran.
Kemudian mengambil dan mengelap kacamatamu dengan santai.
"Kan hujan," sahutmu.
"Lalu?"
"Hujan itu air. Apapun yang terkena air akan basah," jawabmu lagi.
Kembali berkutat dengan cokelat hangatmu.
Aku ikut menunduk menekuri gelas cokelat panasku.
Sepasang muda-mudi dengan payung biru tua lewat di depan kedai kami berteduh.
Tertawa.
"Kuliah?" tanyamu.
Aku menoleh kaget. Kemudian mengangguk sesopan mungkin.
"Kelihatan kok," ujarmu lagi.
"Lalu kenapa bertanya?"
"Pertanyaan penting untuk membuktikan hipotesamu,"
"Oh ya? Hipotesa apa lagi yang kamu punya tentang aku?"
"Kenapa kamu mengira aku punya hipotesa lain tentang kamu?"
"Memangnya tidak ada?"
"Hmm, mungkin ada. Mungkin juga tidak,"
Aku mengangkat bahu.
Pengunjung kedai kian ramai.
Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda hendak reda.
"Hujan begini akan lama redanya," gumammu lagi.
Aku memandang heran.
"Kau ini pawang hujan? Atau peramal cuaca?" sahutku jengah.
"Bukan keduanya. Begini ini namanya membaca alam. Tuhanku meminta umatNya untuk membaca, apapun," ujarmu. Kali ini disertai senyum.
Ada diastema di geligi kiri atasmu. Lesung pipit tetiba terbit di dua belah pipimu.
Aih, mata kanak-kanak yang bersinar.
Aku mengangguk sepakat.
"Lihat, awannya putih, bukan hitam gelap. Kalau putih begini tandanya hujan akan lama, kalau hitam gelap hujan biasanya deras, tapi sekaligus langsung selesai,"
Aku hanya menggut-manggut.
Cokelat panasku tinggal beberapa tetes saja.
"Kamu harus belajar untuk lebih memperhatikan lagi," ujarmu masih dengan senyum menggemaskan itu.
Mau tak mau aku ikut tersenyum.
Kami lalu diam untuk waktu yang entah bagaimana lama sekali merangkak.
Sampai kemudian kamu mencangklong ranselmu.
"Hujan mulai reda. Aku harus pergi," ujarmu.
Aku menilik ke luar jendela. Masih ada sisa-sisa gerimis yang tertinggal.
"Tapi kau tak boleh pergi tanpa payung!" perintahmu.
Aku melongo.
Memangnya siapa kau? Ah, bahkan namamu siapa saja aku tidak tahu.
"Pilihlah salah satu, pakai payung ini atau tinggal di sini sampai hujan benar-benar reda," ujarmu sebelum aku sempat membantah apapun.
Payung transparan tergeletak di atas mejaku.
Aku kembali bingung dibuatnya.
"Ah, aku buru-buru! Apapun keputusanmu, payung itu milikmu, pakailah sesukamu. Aku pergi dulu! Terima kasih bincang-bincangnya sore ini," ujarmu sembari tersenyum sekilas lalu beranjak keluar dari kedai.
Hanya senyummu yang kuingat.
Merembes masuk ke memoriku bersama dengan gerimis yang pelan-pelan membasahi bumi, membasuh kemarau yang kering.
Ah, siapa namamu Tuan Payung?
tanpa ampun mengguyur kami-kami di bumi dengan limpahan airnya.
Mungkin membalaskan dendam kemarau berkepanjangan tahun ini.
Sudah menginjak akhir tahun lagi.
Semestinya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, musim hujan akan datang di akhir bulan begini,
semestinya payung selalu siap sedia menemani.
Tapi tidak denganku.
Berapa kali aku terpaksa harus berlarian menembus hujan karena lalai yang sederhana ini.
Berapa kali pula aku harus berteduh, rehat sejenak akibat alpa yang sederhana ini.
Seperti juga hari itu.
Awal jumpa yang lucu.
Kita.
Dua manusia yang diderasi hujan.
Sama-sama menepi, sebelum kemudian bertukar sapa dengan cokelat hangat.
Memilin senyum dengan tanda tanya.
Siapa?
Yang malah tertukar dengan gumam "Kacamatamu basah"
Kamu yang dengan santai kemudian menoleh heran.
Kemudian mengambil dan mengelap kacamatamu dengan santai.
"Kan hujan," sahutmu.
"Lalu?"
"Hujan itu air. Apapun yang terkena air akan basah," jawabmu lagi.
Kembali berkutat dengan cokelat hangatmu.
Aku ikut menunduk menekuri gelas cokelat panasku.
Sepasang muda-mudi dengan payung biru tua lewat di depan kedai kami berteduh.
Tertawa.
"Kuliah?" tanyamu.
Aku menoleh kaget. Kemudian mengangguk sesopan mungkin.
"Kelihatan kok," ujarmu lagi.
"Lalu kenapa bertanya?"
"Pertanyaan penting untuk membuktikan hipotesamu,"
"Oh ya? Hipotesa apa lagi yang kamu punya tentang aku?"
"Kenapa kamu mengira aku punya hipotesa lain tentang kamu?"
"Memangnya tidak ada?"
"Hmm, mungkin ada. Mungkin juga tidak,"
Aku mengangkat bahu.
Pengunjung kedai kian ramai.
Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda hendak reda.
"Hujan begini akan lama redanya," gumammu lagi.
Aku memandang heran.
"Kau ini pawang hujan? Atau peramal cuaca?" sahutku jengah.
"Bukan keduanya. Begini ini namanya membaca alam. Tuhanku meminta umatNya untuk membaca, apapun," ujarmu. Kali ini disertai senyum.
Ada diastema di geligi kiri atasmu. Lesung pipit tetiba terbit di dua belah pipimu.
Aih, mata kanak-kanak yang bersinar.
Aku mengangguk sepakat.
"Lihat, awannya putih, bukan hitam gelap. Kalau putih begini tandanya hujan akan lama, kalau hitam gelap hujan biasanya deras, tapi sekaligus langsung selesai,"
Aku hanya menggut-manggut.
Cokelat panasku tinggal beberapa tetes saja.
"Kamu harus belajar untuk lebih memperhatikan lagi," ujarmu masih dengan senyum menggemaskan itu.
Mau tak mau aku ikut tersenyum.
Kami lalu diam untuk waktu yang entah bagaimana lama sekali merangkak.
Sampai kemudian kamu mencangklong ranselmu.
"Hujan mulai reda. Aku harus pergi," ujarmu.
Aku menilik ke luar jendela. Masih ada sisa-sisa gerimis yang tertinggal.
"Tapi kau tak boleh pergi tanpa payung!" perintahmu.
Aku melongo.
Memangnya siapa kau? Ah, bahkan namamu siapa saja aku tidak tahu.
"Pilihlah salah satu, pakai payung ini atau tinggal di sini sampai hujan benar-benar reda," ujarmu sebelum aku sempat membantah apapun.
Payung transparan tergeletak di atas mejaku.
Aku kembali bingung dibuatnya.
"Ah, aku buru-buru! Apapun keputusanmu, payung itu milikmu, pakailah sesukamu. Aku pergi dulu! Terima kasih bincang-bincangnya sore ini," ujarmu sembari tersenyum sekilas lalu beranjak keluar dari kedai.
Hanya senyummu yang kuingat.
Merembes masuk ke memoriku bersama dengan gerimis yang pelan-pelan membasahi bumi, membasuh kemarau yang kering.
Ah, siapa namamu Tuan Payung?
Sabtu, 02 November 2013
Nostalgia-Magelang
November.
Sudah mulai memasuki penghujan.
Dingin.
Malam ini aku terlambat pulang.
Pekerjaan yang menumpuk,
menghambat lajuku pulang,
membuat aku terjebak di kota ini malam ini.
Sekali lagi.
Terminal Tidar sepi.
Malam yang terus merangkak naik tak menggubris gigil yang ditimbulkan serangkaian gerimis sejak pagi hingga malam ini.
Hmm, harum basah tanah Magelang yang amat aku rindukan menguar.
Yang kuingat dari terminal ini adalah dulu sekali aku berlarian bersama Ibu,
turun dari bus antarkota yang membawa kami pulang ke haribaan tanah ksatrian ini,
kemudian mencari angkot biru yang akan membawa kami pulang ke rumah.
Ah, ingatan usang yang entah bagaimana tidak pernah hilang.
Malam ini aku pulang.
Magelang tetap sama.
Dari rahim Tidar-nya lahir beribu ksatria, tunas-tunas pemimpin bangsa.
Tidar yang tenang, tidak pernah grusa grusu.
Wangi jalannya masih sama.
Mawar, kenanga, sedap malam, yang selalu menjadi favorit Ibu.
Juga favoritku.
Ah, apalagi ketika pagi datang.
Aku selalu suka dialektika masyarakatnya yang asih, santun.
Tidak pernah sedikitpun aku berburuk sangka pada orang-orang di dalamnya.
Kegiatan pasar lebih dari sekedar memesona.
Selalu menyenangkan berada di tengah hiruk pikuk percakapan bahasa Jawa dari ibu-ibu berkebaya.
Senyum-senyum simpul dan bungkukan terima kasih pedagang kepada para pembelinya.
Pun salam yang selalu tersampaikan tiap bertemu orang lain.
Dulu aku senang sekali berjalan digandeng nenek dan ibu,
menyusuri gang-gang pasar Kebonpolo.
Menarik-narik baju ibu, merengek meminta jepit rambut kupu-kupu.
Getuk Magelang dan salak pondoh adalah dua hal wajib yang harus ada dalam daftar belanjaan.
Taman-taman bermain di tengah kota masih ada, masih sama.
Dengan ayunan dan patung-patung aneka rupa binatang,
yang aku ingat sering kunaiki dan meminta Bapak mengambil gambarnya.
Museum Sudirman masih berdiri di belakang taman itu.
Aku ingat dulu aku ternganga takjub melihat tandu yang membawa Sang Jenderal Besar bergerilya keluar masuk rimba.
Ada manusia setangguh itu.
Lalu patung Diponegoro yang banyak kutemui di sepanjang jalan menuju rumah.
Aku ingat dulu aku sempat bertanya mengapa Diponegoro yang dijadikan simbol militer Jawa Tengah, bukan Sudirman.
Hijau di sepanjang jalan menuju rumah.
Kompleks-kompleks perumahan militer yang elegan tapi tetap garang.
Gerbang Akademi Militer yang tegak menjulang, dengan pedang emasnya.
Jujur sekali, tanpa tedeng aling-aling menyiratkan kawah candradimuka yang siap menelurkan jiwa-jiwa pembela kedaulatan Republik.
Kemudian menuju rumah akan melewati salah satu sekolah terbaik yang namanya terus didengungkan di telingaku bahkan sebelum aku masuk sekolah.
Taruna Nusantara.
Yang ibu bilang itu sekolah istimewa, tempat putra putri terbaik Indonesia berkumpul belajar bersama di dalamnya.
Yang bapak bilang itu sekolah istimewa, hanya anak-anak terbaik Indonesia yang bisa masuk ke dalamnya.
Itu yang didengungkan terus menerus di telingaku sejak aku belum juga merasakan bangku sekolahan.
Dan akhirnya terngiang terus sampai sekarang. Bahkan ketika beragam regulasi berubah.
Rumah tempatku pulang termasuk kompleks militer dulunya.
Sekarang setahuku sudah banyak dihuni sipil.
Rumah yang sejuk.
Dengan pohon rambutan (yang selalu dipanjat oleh kakak-kakakku ketika lebaran) di depannya, dan bunga-bunga cantik yang rajin dirawat nenek.
Sekilas aku bisa mengingat nama kawan-kawan mainku di sana.
Apa kabar kakak cantik yang rumahnya di ujung jalan?
Apa kabar juga anak laki-laki sebayaku yang tinggal di rumah seberang?
Dulu cat rumah ini kuning muda, dengan gorden merah bermotif angsa-angsa terbang.
Sekarang, setelah dipindah tangan, cat-nya menjadi putih, dan penuh stiker di jendelanya.
Pohon rambutan itu masih ada, tapi tidak dengan bebungaannya.
Panggung di dekat gerbang masuk masih ada.
Selalu saja tertawa kalau ingat dulu pernah mencoba melompat dari atas panggung dan kemudian meninggalkan jejak luka di kaki dan sikuku.
Masjid kompleks, yang sama dengan masjid di semua kompleks militer lain, masih utuh, bercat hijau khas militer.
Ada dua beringin kembar di kanan kiri jalan masuknya.
Kata ibu, beringin itu ditanam pada tahun yang sama nenek meninggalkan Magelang.
Beringin itu sudah besar sekarang.
Akar-akar gantungnya sudah lebat menyentuh tanah.
Benar-benar menjadi penanda berapa lama aku tidak pulang.
Ada beberapa bagian Magelang yang berubah, terkena dampak modernisasi.
Pusat-pusat perbelanjaan pun didirikan.
Aku tak ingat tempat apa itu sebelumnya.
Sudah terlalu lama aku tidak pulang.
Magelang mulai panas kurasa.
Tapi tetap aku rindukan.
Tetap ada denyar yang berbeda tiap melewati gerbangnya.
Malam ini aku pulang ke kota penuh Harapan.
*Terminal Tidar, Magelang, 1 November 2013*
Sudah mulai memasuki penghujan.
Dingin.
Malam ini aku terlambat pulang.
Pekerjaan yang menumpuk,
menghambat lajuku pulang,
membuat aku terjebak di kota ini malam ini.
Sekali lagi.
Terminal Tidar sepi.
Malam yang terus merangkak naik tak menggubris gigil yang ditimbulkan serangkaian gerimis sejak pagi hingga malam ini.
Hmm, harum basah tanah Magelang yang amat aku rindukan menguar.
Yang kuingat dari terminal ini adalah dulu sekali aku berlarian bersama Ibu,
turun dari bus antarkota yang membawa kami pulang ke haribaan tanah ksatrian ini,
kemudian mencari angkot biru yang akan membawa kami pulang ke rumah.
Ah, ingatan usang yang entah bagaimana tidak pernah hilang.
Malam ini aku pulang.
Magelang tetap sama.
Dari rahim Tidar-nya lahir beribu ksatria, tunas-tunas pemimpin bangsa.
Tidar yang tenang, tidak pernah grusa grusu.
Wangi jalannya masih sama.
Mawar, kenanga, sedap malam, yang selalu menjadi favorit Ibu.
Juga favoritku.
Ah, apalagi ketika pagi datang.
Aku selalu suka dialektika masyarakatnya yang asih, santun.
Tidak pernah sedikitpun aku berburuk sangka pada orang-orang di dalamnya.
Kegiatan pasar lebih dari sekedar memesona.
Selalu menyenangkan berada di tengah hiruk pikuk percakapan bahasa Jawa dari ibu-ibu berkebaya.
Senyum-senyum simpul dan bungkukan terima kasih pedagang kepada para pembelinya.
Pun salam yang selalu tersampaikan tiap bertemu orang lain.
Dulu aku senang sekali berjalan digandeng nenek dan ibu,
menyusuri gang-gang pasar Kebonpolo.
Menarik-narik baju ibu, merengek meminta jepit rambut kupu-kupu.
Getuk Magelang dan salak pondoh adalah dua hal wajib yang harus ada dalam daftar belanjaan.
Taman-taman bermain di tengah kota masih ada, masih sama.
Dengan ayunan dan patung-patung aneka rupa binatang,
yang aku ingat sering kunaiki dan meminta Bapak mengambil gambarnya.
Museum Sudirman masih berdiri di belakang taman itu.
Aku ingat dulu aku ternganga takjub melihat tandu yang membawa Sang Jenderal Besar bergerilya keluar masuk rimba.
Ada manusia setangguh itu.
Lalu patung Diponegoro yang banyak kutemui di sepanjang jalan menuju rumah.
Aku ingat dulu aku sempat bertanya mengapa Diponegoro yang dijadikan simbol militer Jawa Tengah, bukan Sudirman.
Hijau di sepanjang jalan menuju rumah.
Kompleks-kompleks perumahan militer yang elegan tapi tetap garang.
Gerbang Akademi Militer yang tegak menjulang, dengan pedang emasnya.
Jujur sekali, tanpa tedeng aling-aling menyiratkan kawah candradimuka yang siap menelurkan jiwa-jiwa pembela kedaulatan Republik.
Kemudian menuju rumah akan melewati salah satu sekolah terbaik yang namanya terus didengungkan di telingaku bahkan sebelum aku masuk sekolah.
Taruna Nusantara.
Yang ibu bilang itu sekolah istimewa, tempat putra putri terbaik Indonesia berkumpul belajar bersama di dalamnya.
Yang bapak bilang itu sekolah istimewa, hanya anak-anak terbaik Indonesia yang bisa masuk ke dalamnya.
Itu yang didengungkan terus menerus di telingaku sejak aku belum juga merasakan bangku sekolahan.
Dan akhirnya terngiang terus sampai sekarang. Bahkan ketika beragam regulasi berubah.
Rumah tempatku pulang termasuk kompleks militer dulunya.
Sekarang setahuku sudah banyak dihuni sipil.
Rumah yang sejuk.
Dengan pohon rambutan (yang selalu dipanjat oleh kakak-kakakku ketika lebaran) di depannya, dan bunga-bunga cantik yang rajin dirawat nenek.
Sekilas aku bisa mengingat nama kawan-kawan mainku di sana.
Apa kabar kakak cantik yang rumahnya di ujung jalan?
Apa kabar juga anak laki-laki sebayaku yang tinggal di rumah seberang?
Dulu cat rumah ini kuning muda, dengan gorden merah bermotif angsa-angsa terbang.
Sekarang, setelah dipindah tangan, cat-nya menjadi putih, dan penuh stiker di jendelanya.
Pohon rambutan itu masih ada, tapi tidak dengan bebungaannya.
Panggung di dekat gerbang masuk masih ada.
Selalu saja tertawa kalau ingat dulu pernah mencoba melompat dari atas panggung dan kemudian meninggalkan jejak luka di kaki dan sikuku.
Masjid kompleks, yang sama dengan masjid di semua kompleks militer lain, masih utuh, bercat hijau khas militer.
Ada dua beringin kembar di kanan kiri jalan masuknya.
Kata ibu, beringin itu ditanam pada tahun yang sama nenek meninggalkan Magelang.
Beringin itu sudah besar sekarang.
Akar-akar gantungnya sudah lebat menyentuh tanah.
Benar-benar menjadi penanda berapa lama aku tidak pulang.
Ada beberapa bagian Magelang yang berubah, terkena dampak modernisasi.
Pusat-pusat perbelanjaan pun didirikan.
Aku tak ingat tempat apa itu sebelumnya.
Sudah terlalu lama aku tidak pulang.
Magelang mulai panas kurasa.
Tapi tetap aku rindukan.
Tetap ada denyar yang berbeda tiap melewati gerbangnya.
Malam ini aku pulang ke kota penuh Harapan.
*Terminal Tidar, Magelang, 1 November 2013*
Selasa, 17 September 2013
Jawab Jujur yaa!
Oke, ayo kita mulai.
Pagi lalu, kelasku dapet materi Pancasila.
Trus apa masalahnya?
Sebelumnya, aku ceritain dulu deh kelasku kayak apa.
Aku melanjutkan sekolah di salah satu PTN di Indonesia. Nah, lingkupnya sudah bukan lagi kedaerahan, tetapi nasional, bahkan internasional.
Kelasku berisi 82 anak.
Asal daerah kami berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke. Di antara kami, ada 10 orang dari Malaysia yang juga belajar bersama kami di sini.
Mereka ini yang mau aku ceritain.
Mau tanya dulu deh,
masih inget nggak sih sama Pancasila?
Jangan-jangan udah nggak ngeh, asing banget sama istilah "Pancasila", dan lebih akrab sama istilah-istilah berbahasa Inggris atau Korea hehe.
Tapi aku percaya kok, masih banyak yang hafal, minimal tahu Pancasila. Kalau nggak, hmm, perlu dipertanyakan setiap upacara sejak TK unyu-unyu sampai sekarang ngapain aja.
Terus, tanya lagi deh,
siapa yang bisa nyanyiin Indonesia Raya?
siapa yang tahu lagu-lagu perjuangan?
Padamu Negeri?
Tanah Air?
Hari Merdeka?
Merasa bangga lah kalian yang tahu dan bisa menyanyikannya, bahkan merenunginya.
Nah, di kelas Pancasila tadi, kami semua ditanya,
"Sejak kapan bangsa Indonesia ada?"
"Apa sebenarnya yang menjadi pemersatu kita?"
Kami lalu dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk mendiskusikannya.
Di tengah diskusi, teman Malaysia kami bertanya, "kalian tahu kan mengenai bangsa kalian sendiri?"
Kami diam.
Kami pura-pura sibuk, menulis, searching. Sementara kami sibuk dengan teori-teori, dia keluar dengan pertanyaan yang paling substansial.
Dia kemudian membacakan artikel yang dia temukan mengenai kelahiran bangsa Indonesia, nenek moyang kita.
Dia menemukan Majapahit dan Sriwijaya.
"Sultan pertama di negara saya berasal dari Sriwijaya," ujarnya bangga.
Kami membahas Sumpah Pemuda.
Kembali dia bertanya, "apa itu Sumpah Pemuda?"
Lalu kami bacakan.
Dia menirukan. Berusaha menghafalkan.
Secara spontan dia melanjutkan dengan Pancasila.
Tertatih-tatih dia menghafal.
Tapi dia paham maksud tiap sila-nya.
Aku cuma bisa mlongo, takjub.
Lalu di sepanjang pelajaran pagi itu, dia dengan riang menyenandungkan Indonesia Raya.
Dengar, Indonesia Raya!
Di akhir pelajaran, kami semua diminta menyanyikan lagu "Hari Merdeka"
Coba tebak apa yang terjadi..
Ada lirik yang terbalik-balik.
Ada di antara kami yang hanya lipsync.
Ada yang hanya diam.
Ada pula yang disambi tertawa-tawa, bermain ponsel.
Bahkan ada yang menguap bosan.
Duh Bunda, betapa aku malu dengan diriku sendiri saat itu.
Malu, malu sekali aku berhadapan dengan putra tetangga sebagai putra Bunda, tapi kami sendiri tidak paham tentang Bunda. Kami tidak menunjukkan kecintaan kami kepada Bunda.
Lagu Ulang Tahun Bunda kami tak hafal.
Bahkan kami bosan melantunkannya.
Lagu yang seharusnya menjadi kebanggaan kami semua kepada Bunda, tak pernah lagi kami nyanyikan.
Pancasila, Bunda, yang menjadi pijakan kami melangkah, bahkan kami tidak hafal. Padahal kami mengenalnya sejak kami membuka mata. Sejak kami dilahirkan dari rahim Bunda.
Malu, Bunda, aku malu.
Teman kami dari negeri tetangga lebih paham mengenai Bunda, daripada kami.
Saudara kami itu menyanyikan Indonesia Raya dengan bangga. Memahami Pancasila dengan khidmat. Bangga atas tali persaudaraan sedarah dengan Bunda.
Malah kami, anak kandung Bunda, memilih diam, memilih acuh, memilih pura-pura sibuk.
Aku malu Bunda.
Paham nggak sih betapa sakit hati Bunda dengan kelakuan kita yang kayak gitu?
Betapa malu Bunda sama tingkah laku kita yang nggak punya rasa cinta, nggak bangga sama Bunda.
Sejelek apapun, Bunda lah yang membesarkan kita di pangkuannya. Yang nantinya, ketika kita mati pun akan tetap dipeluknya.
Sudah tahu Bunda sedang susah, jangan ditambah lagi susahnya. Kalau mau Bunda kita baik, Bunda kita cantik lagi, jangan lakukan hal-hal yang sama dengan yang dilakukan orang-orang yang tidak mencintai Bundanya sendiri.
Cintai Bunda seperti mencintai Ibu kita sendiri.
Bunda punya sejarah panjang untuk berdiri. Banyak putra-putra terbaiknya yang sudah gugur karenanya. Tugas kita lebih ringan, kita "hanya" harus merawat Bunda.
Ayo tunjukin kalau kita bisa, kalau kita juga termasuk salah satu putra terbaik Bunda :)
Pagi lalu, kelasku dapet materi Pancasila.
Trus apa masalahnya?
Sebelumnya, aku ceritain dulu deh kelasku kayak apa.
Aku melanjutkan sekolah di salah satu PTN di Indonesia. Nah, lingkupnya sudah bukan lagi kedaerahan, tetapi nasional, bahkan internasional.
Kelasku berisi 82 anak.
Asal daerah kami berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke. Di antara kami, ada 10 orang dari Malaysia yang juga belajar bersama kami di sini.
Mereka ini yang mau aku ceritain.
Mau tanya dulu deh,
masih inget nggak sih sama Pancasila?
Jangan-jangan udah nggak ngeh, asing banget sama istilah "Pancasila", dan lebih akrab sama istilah-istilah berbahasa Inggris atau Korea hehe.
Tapi aku percaya kok, masih banyak yang hafal, minimal tahu Pancasila. Kalau nggak, hmm, perlu dipertanyakan setiap upacara sejak TK unyu-unyu sampai sekarang ngapain aja.
Terus, tanya lagi deh,
siapa yang bisa nyanyiin Indonesia Raya?
siapa yang tahu lagu-lagu perjuangan?
Padamu Negeri?
Tanah Air?
Hari Merdeka?
Merasa bangga lah kalian yang tahu dan bisa menyanyikannya, bahkan merenunginya.
Nah, di kelas Pancasila tadi, kami semua ditanya,
"Sejak kapan bangsa Indonesia ada?"
"Apa sebenarnya yang menjadi pemersatu kita?"
Kami lalu dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk mendiskusikannya.
Di tengah diskusi, teman Malaysia kami bertanya, "kalian tahu kan mengenai bangsa kalian sendiri?"
Kami diam.
Kami pura-pura sibuk, menulis, searching. Sementara kami sibuk dengan teori-teori, dia keluar dengan pertanyaan yang paling substansial.
Dia kemudian membacakan artikel yang dia temukan mengenai kelahiran bangsa Indonesia, nenek moyang kita.
Dia menemukan Majapahit dan Sriwijaya.
"Sultan pertama di negara saya berasal dari Sriwijaya," ujarnya bangga.
Kami membahas Sumpah Pemuda.
Kembali dia bertanya, "apa itu Sumpah Pemuda?"
Lalu kami bacakan.
Dia menirukan. Berusaha menghafalkan.
Secara spontan dia melanjutkan dengan Pancasila.
Tertatih-tatih dia menghafal.
Tapi dia paham maksud tiap sila-nya.
Aku cuma bisa mlongo, takjub.
Lalu di sepanjang pelajaran pagi itu, dia dengan riang menyenandungkan Indonesia Raya.
Dengar, Indonesia Raya!
Di akhir pelajaran, kami semua diminta menyanyikan lagu "Hari Merdeka"
Coba tebak apa yang terjadi..
Ada lirik yang terbalik-balik.
Ada di antara kami yang hanya lipsync.
Ada yang hanya diam.
Ada pula yang disambi tertawa-tawa, bermain ponsel.
Bahkan ada yang menguap bosan.
Duh Bunda, betapa aku malu dengan diriku sendiri saat itu.
Malu, malu sekali aku berhadapan dengan putra tetangga sebagai putra Bunda, tapi kami sendiri tidak paham tentang Bunda. Kami tidak menunjukkan kecintaan kami kepada Bunda.
Lagu Ulang Tahun Bunda kami tak hafal.
Bahkan kami bosan melantunkannya.
Lagu yang seharusnya menjadi kebanggaan kami semua kepada Bunda, tak pernah lagi kami nyanyikan.
Pancasila, Bunda, yang menjadi pijakan kami melangkah, bahkan kami tidak hafal. Padahal kami mengenalnya sejak kami membuka mata. Sejak kami dilahirkan dari rahim Bunda.
Malu, Bunda, aku malu.
Teman kami dari negeri tetangga lebih paham mengenai Bunda, daripada kami.
Saudara kami itu menyanyikan Indonesia Raya dengan bangga. Memahami Pancasila dengan khidmat. Bangga atas tali persaudaraan sedarah dengan Bunda.
Malah kami, anak kandung Bunda, memilih diam, memilih acuh, memilih pura-pura sibuk.
Aku malu Bunda.
Paham nggak sih betapa sakit hati Bunda dengan kelakuan kita yang kayak gitu?
Betapa malu Bunda sama tingkah laku kita yang nggak punya rasa cinta, nggak bangga sama Bunda.
Sejelek apapun, Bunda lah yang membesarkan kita di pangkuannya. Yang nantinya, ketika kita mati pun akan tetap dipeluknya.
Sudah tahu Bunda sedang susah, jangan ditambah lagi susahnya. Kalau mau Bunda kita baik, Bunda kita cantik lagi, jangan lakukan hal-hal yang sama dengan yang dilakukan orang-orang yang tidak mencintai Bundanya sendiri.
Cintai Bunda seperti mencintai Ibu kita sendiri.
Bunda punya sejarah panjang untuk berdiri. Banyak putra-putra terbaiknya yang sudah gugur karenanya. Tugas kita lebih ringan, kita "hanya" harus merawat Bunda.
Ayo tunjukin kalau kita bisa, kalau kita juga termasuk salah satu putra terbaik Bunda :)
Jumat, 06 September 2013
Eftirsjá
Sekip Utara, Jogjakarta.
Aku memandang gerbang Fakultas Kedokteran Gigi dengan takzim.
Masih segar rasanya melangkah keluar dari gerbang Sekolah Menengah. Menentukan mimpi.
Aku memandang rerimbunan pakis yang menaungi jalanannya.
Subuh suatu saat dulu aku pernah takut takut menerobos gelap jalannya, berlari-lari dalam kelompok-kelompok menggendong tas karung goni. Sewarna dengan jas almamater kami.
Aku menelusuri gang-gang perumahan dosen di seberangnya.
Ah, itu rumahmu. Dulu.
Aku pulang.
Ke kota impian kita berdua, yang tertancap dalam-dalam di hati dan pikiran kita.
Yang kita berdua kejar, jatuh bangun. Bergantian tangan kita, semangat kita menyangga satu sama lain.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Di tempat segala batas bisa tersamarkan, di mana jarak hanya menjadi satu titik kecil di antara kaki-kaki kita.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Kamu di kampusmu yang megah, mentereng, prestisius.
Aku di sebelah kampusmu, yang keras tanpa ampun mendidik kami di dalamnya.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Masih teringat ketika aku dan kamu dibariskan bersama di jalan yang membelah kampusmu dan kampusku. Sama-sama menunduk takut. Sama-sama mengkerut ciut.
Berlari-lari menembus selongsong bentakan yang mengiringi.
Lalu kita terpisahkan di kampus masing-masing.
Masih sempat kita melambai.
Ah sudah lama sekali semua itu.
Sudah usang. Lapuk mungkin.
Ini kota impian kita.
Tempat harapan, asa, cita-cita kita semburkan setinggi yang kita bisa.
Tempat kita membentang rencana-rencana hidup kita yang terbentang panjang.
Tempat kita tertawa, mengerutkan dahi.
Tempat kita juga dihadang masalah.
Kuliah tak pernah semudah yang kita bayangkan.
Ini kota pemersatu kita.
Tempat kita pergi siang bolong ke kedai es krim favorit kita.
Malam-malam yang kita habiskan di angkringan seputaran Malioboro, berputar-putar di Tugu Jogja, terkikik bersama melihat kereta api melintas di atas kita.
Menyusuri selokan Mataram yang panjang itu, kita lapar, setelah segala tetek bengek urusan sekolah.
Praktikum yang semakin sulit, kegiatan BEM yang membelit.
Dan yang sudah jadi kebiasaan kita, saling bersandar dan menghirup secangkir teh hangat cukup meluruhkan lelah.
Kita sahabat dekat. Sangat dekat.
Kamu.
Yang mendengarkan aku ngoceh ngalor ngidul dengan suara parau saat awal-awal kuliah. Homesick.
Yang selalu siap sedia mengantarku ke mana pun aku mau. Membantuku menyelesaikan tugas-tugasku. Memandang setengah iba setengah frustasi kepadaku yang tak kunjung mengerti juga konsep Fisika yang kamu jelaskan.
Memintaku selalu tampil rapi ke mana pun pergi.
"Kamu ini pekerja medis, mana ada pasien yang percaya kalau kamu saja berantakan begini,"
selalu katamu.
Aku tertawa.
Aku.
Yang cerewet merepet memintamu menjaga pola makan.
Yang selalu meneleponmu pagi-pagi agar kamu bangun dan tak lupa sembahyang.
Memandang antara takjub dan geli kepadamu yang tiba-tiba berbicara soal musik dan seni di antara dominansi otak kirimu.
Memintamu untuk menjaga kesehatan tubuhmu.
"Kamu ini pekerja medis, mana bisa mengobati pasien kalau kamu saja sakit begini,"
selalu tiruku.
Kamu tertawa.
Bertahun yang lalu.
Dan sekarang aku memandang perih pada lampu-lampu jalan di pertigaan tempat kamu pertama kali mencium bibirku.
Yang berlanjut di hari-hari selanjutnya setiap menemaniku pulang ke rumahku.
Kamu tahu tidak pernah mudah bagiku berbohong.
Kamu yang bilang sendiri aku tak cocok masuk teater, "Nggak ada bakat akting," katamu.
Kukira kamu tahu.
Kemudian kamu pergi.
Sudah. Begitu saja.
Tak pernah lagi mengangkat teleponku padahal nomor ponselmu tak pernah ganti.
Tak pernah lagi menjawab pesanku sepenting apapun.
Rumahmu yang selalu melompong ketika kujenguk.
Aku tidak pernah bisa menemuimu lagi.
Dan kamu tidak pernah bisa menjelaskan apapun.
Jalan Kaliurang yang membentang panjang, melewati bulevar Universitas, yang biasanya selalu padat mendadak terasa kosong.
Telingaku tak lagi bisa mendengar. Mataku tak bisa lagi melihat.
Suarku sudah hilang.
Aku lulus lebih cepat darimu. Kamu tak pernah datang ke yudisiumku. Dan aku tidak pernah bisa menemuimu mengucapkan selamat tinggal.
Kota Impian kita koyak sudah.
Berhamburan segala mimpi, harapan, doa, cita-cita yang kita tanam di dalamnya.
Aku melarikan diri dari kejarannya.
Berapa tahun terlewat, Sayang?
"Aku tak pernah berani mengatakan padamu Purnama, sejak bertahun lalu. Sejak kita bersama menyusun mimpi-mimpi kita, bukan secara fragmentis, tapi kolektif. Aku terlalu pengecut, Purnama. Menggandengmu ke mana-mana, berusaha melindungimu, tapi malah menyakitimu.
Aku tidak pernah lupa, Purnama, saat kita naik ke Grha Sabha sesaat setelah kita resmi jadi mahasiswa. Menatap tegak menjulang puncak Merapi. Senyummu Purnama, membuatku puas atas kerja kerasku. Membawaku dan kamu terus melaju di pusaran waktu. Tidak mudah Purnama. Tapi senyum banggamu dulu itu membuatku mati-matian menjadi yang terbaik.
Lalu aku menarik diri dari hidupmu. Kita sudah di tahun akhir kuliah. Kau tahu apa artinya sebuah hubungan di tahun kritis itu. Aku sadar aku memonopolimu. Ke mana pun kamu bersamaku, tapi tak pernah sekali pun kuutarakan niatku memintamu mendampingiku. Rasanya salah aku egois begitu. Kamu tentu berhak memilih calon pendampingmu, tidak hanya berkutat denganku. Aku tahu kau sayang padaku, Purnama. Tapi aku takut itu karena hanya aku yang selalu ada di hidupmu. Aku ingin kau bisa memilih Purnama, walaupun aku tetap ingin jadi pilihan utamamu.
Sungguh maafkan aku, Purnama, atas tahun-tahun terakhir itu. Kau tahu, sulit sekali mengabaikan teleponmu, pesanmu. Apalagi menghindar darimu. Kau lulus lebih cepat dariku, Purnama. Aku sedang terbang saat itu. Aku hanya menemukan serakan sampah dan bunga yang berbaur di Grha Sabha ketika aku tiba. Aku tahu kau sangat cinta mawar, Purnama. Seikat penuh di tanganku tak pernah sampai ke tanganmu. Aku terlambat.
Aku lulus setahun berselang, Purnama. Hanya kekosongan yang bisa kulihat di deret bangku-bangku undangan yudisiumku. Bukan senyum banggamu. Hatiku hancur, Purnama. Gerhana menelan Purnamaku. Sungguh menyesal aku tak pernah berani mengatakan padamu seberapa besar aku menyayangimu. Jika surat ini sampai ke tanganmu, Purnama, segeralah pulang ke kota impian kita. Aku menantimu."
Aku menengadah, mencegah airmataku tumpah.
Suratmu terlambat datang, Satria.
Ku elus perutku yang membuncit.
Aku pulang.
Aku memandang gerbang Fakultas Kedokteran Gigi dengan takzim.
Masih segar rasanya melangkah keluar dari gerbang Sekolah Menengah. Menentukan mimpi.
Aku memandang rerimbunan pakis yang menaungi jalanannya.
Subuh suatu saat dulu aku pernah takut takut menerobos gelap jalannya, berlari-lari dalam kelompok-kelompok menggendong tas karung goni. Sewarna dengan jas almamater kami.
Aku menelusuri gang-gang perumahan dosen di seberangnya.
Ah, itu rumahmu. Dulu.
Aku pulang.
Ke kota impian kita berdua, yang tertancap dalam-dalam di hati dan pikiran kita.
Yang kita berdua kejar, jatuh bangun. Bergantian tangan kita, semangat kita menyangga satu sama lain.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Di tempat segala batas bisa tersamarkan, di mana jarak hanya menjadi satu titik kecil di antara kaki-kaki kita.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Kamu di kampusmu yang megah, mentereng, prestisius.
Aku di sebelah kampusmu, yang keras tanpa ampun mendidik kami di dalamnya.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Masih teringat ketika aku dan kamu dibariskan bersama di jalan yang membelah kampusmu dan kampusku. Sama-sama menunduk takut. Sama-sama mengkerut ciut.
Berlari-lari menembus selongsong bentakan yang mengiringi.
Lalu kita terpisahkan di kampus masing-masing.
Masih sempat kita melambai.
Ah sudah lama sekali semua itu.
Sudah usang. Lapuk mungkin.
Ini kota impian kita.
Tempat harapan, asa, cita-cita kita semburkan setinggi yang kita bisa.
Tempat kita membentang rencana-rencana hidup kita yang terbentang panjang.
Tempat kita tertawa, mengerutkan dahi.
Tempat kita juga dihadang masalah.
Kuliah tak pernah semudah yang kita bayangkan.
Ini kota pemersatu kita.
Tempat kita pergi siang bolong ke kedai es krim favorit kita.
Malam-malam yang kita habiskan di angkringan seputaran Malioboro, berputar-putar di Tugu Jogja, terkikik bersama melihat kereta api melintas di atas kita.
Menyusuri selokan Mataram yang panjang itu, kita lapar, setelah segala tetek bengek urusan sekolah.
Praktikum yang semakin sulit, kegiatan BEM yang membelit.
Dan yang sudah jadi kebiasaan kita, saling bersandar dan menghirup secangkir teh hangat cukup meluruhkan lelah.
Kita sahabat dekat. Sangat dekat.
Kamu.
Yang mendengarkan aku ngoceh ngalor ngidul dengan suara parau saat awal-awal kuliah. Homesick.
Yang selalu siap sedia mengantarku ke mana pun aku mau. Membantuku menyelesaikan tugas-tugasku. Memandang setengah iba setengah frustasi kepadaku yang tak kunjung mengerti juga konsep Fisika yang kamu jelaskan.
Memintaku selalu tampil rapi ke mana pun pergi.
"Kamu ini pekerja medis, mana ada pasien yang percaya kalau kamu saja berantakan begini,"
selalu katamu.
Aku tertawa.
Aku.
Yang cerewet merepet memintamu menjaga pola makan.
Yang selalu meneleponmu pagi-pagi agar kamu bangun dan tak lupa sembahyang.
Memandang antara takjub dan geli kepadamu yang tiba-tiba berbicara soal musik dan seni di antara dominansi otak kirimu.
Memintamu untuk menjaga kesehatan tubuhmu.
"Kamu ini pekerja medis, mana bisa mengobati pasien kalau kamu saja sakit begini,"
selalu tiruku.
Kamu tertawa.
Bertahun yang lalu.
Dan sekarang aku memandang perih pada lampu-lampu jalan di pertigaan tempat kamu pertama kali mencium bibirku.
Yang berlanjut di hari-hari selanjutnya setiap menemaniku pulang ke rumahku.
Kamu tahu tidak pernah mudah bagiku berbohong.
Kamu yang bilang sendiri aku tak cocok masuk teater, "Nggak ada bakat akting," katamu.
Kukira kamu tahu.
Kemudian kamu pergi.
Sudah. Begitu saja.
Tak pernah lagi mengangkat teleponku padahal nomor ponselmu tak pernah ganti.
Tak pernah lagi menjawab pesanku sepenting apapun.
Rumahmu yang selalu melompong ketika kujenguk.
Aku tidak pernah bisa menemuimu lagi.
Dan kamu tidak pernah bisa menjelaskan apapun.
Jalan Kaliurang yang membentang panjang, melewati bulevar Universitas, yang biasanya selalu padat mendadak terasa kosong.
Telingaku tak lagi bisa mendengar. Mataku tak bisa lagi melihat.
Suarku sudah hilang.
Aku lulus lebih cepat darimu. Kamu tak pernah datang ke yudisiumku. Dan aku tidak pernah bisa menemuimu mengucapkan selamat tinggal.
Kota Impian kita koyak sudah.
Berhamburan segala mimpi, harapan, doa, cita-cita yang kita tanam di dalamnya.
Aku melarikan diri dari kejarannya.
Berapa tahun terlewat, Sayang?
"Aku tak pernah berani mengatakan padamu Purnama, sejak bertahun lalu. Sejak kita bersama menyusun mimpi-mimpi kita, bukan secara fragmentis, tapi kolektif. Aku terlalu pengecut, Purnama. Menggandengmu ke mana-mana, berusaha melindungimu, tapi malah menyakitimu.
Aku tidak pernah lupa, Purnama, saat kita naik ke Grha Sabha sesaat setelah kita resmi jadi mahasiswa. Menatap tegak menjulang puncak Merapi. Senyummu Purnama, membuatku puas atas kerja kerasku. Membawaku dan kamu terus melaju di pusaran waktu. Tidak mudah Purnama. Tapi senyum banggamu dulu itu membuatku mati-matian menjadi yang terbaik.
Lalu aku menarik diri dari hidupmu. Kita sudah di tahun akhir kuliah. Kau tahu apa artinya sebuah hubungan di tahun kritis itu. Aku sadar aku memonopolimu. Ke mana pun kamu bersamaku, tapi tak pernah sekali pun kuutarakan niatku memintamu mendampingiku. Rasanya salah aku egois begitu. Kamu tentu berhak memilih calon pendampingmu, tidak hanya berkutat denganku. Aku tahu kau sayang padaku, Purnama. Tapi aku takut itu karena hanya aku yang selalu ada di hidupmu. Aku ingin kau bisa memilih Purnama, walaupun aku tetap ingin jadi pilihan utamamu.
Sungguh maafkan aku, Purnama, atas tahun-tahun terakhir itu. Kau tahu, sulit sekali mengabaikan teleponmu, pesanmu. Apalagi menghindar darimu. Kau lulus lebih cepat dariku, Purnama. Aku sedang terbang saat itu. Aku hanya menemukan serakan sampah dan bunga yang berbaur di Grha Sabha ketika aku tiba. Aku tahu kau sangat cinta mawar, Purnama. Seikat penuh di tanganku tak pernah sampai ke tanganmu. Aku terlambat.
Aku lulus setahun berselang, Purnama. Hanya kekosongan yang bisa kulihat di deret bangku-bangku undangan yudisiumku. Bukan senyum banggamu. Hatiku hancur, Purnama. Gerhana menelan Purnamaku. Sungguh menyesal aku tak pernah berani mengatakan padamu seberapa besar aku menyayangimu. Jika surat ini sampai ke tanganmu, Purnama, segeralah pulang ke kota impian kita. Aku menantimu."
Aku menengadah, mencegah airmataku tumpah.
Suratmu terlambat datang, Satria.
Ku elus perutku yang membuncit.
Aku pulang.
Selasa, 27 Agustus 2013
Pulang :)))
Pulang ke kotamu,
ada setangkup haru dalam rindu...
Mau cerita.
Aku jauh dari rumah lagi.
Tapi aku nggak pergi.
Aku pulang.
Aku mengalir lagi.
Tapi aku nggak terbuang.
Aku pulang.
Aku berjalan lagi.
Tapi aku nggak menjauh.
Aku pulang.
Pulang.
Iya, aku pulang.
Rasanya kata "pulang" yang paling bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan.
Menemukan sesuatu yang dicari.
Sesuatu yang dinanti sejak lama sekali.
Rasanya seperti menemukan suatu legenda yang jadi kenyataan.
Tempat yang hanya kalian kenal via buku-buku dan cerita-cerita.
Kemudian kalian tinggal, hidup di dalamnya,
menginjak tanahnya, menghirup atmosfernya,
ikut lebur dalam putaran waktu dan aktivitasnya.
Mungkin, yang bikin ini jadi berbeda juga,
aku tidak meninggalkan seorang pun, apapun, di tanah kelahiran.
Aku bukan lagi balita yang baru bisa jalan tapi ngeluyur kemana-mana
tapi memang sudah saatku untuk bisa berlari jauh sekali.
Lagipula, ke sini aku menemui, menjemput, menuju.
Hatiku sudah lama sekali ada di sini.
Belum pernah aku menginjak tanah ini.
Tapi entah apa dan bagaimana tanah ini menyedot penuh euforiaku,
antusiasmeku, bahkan kecintaanku.
Sebelum ini, aku sempat mengira cuma sedih dan sepi yang bisa kurasa ketika aku akhirnya menapakkan kaki di sini.
Tapi, alih-alih sedih, justru aku merasa lepas sekali, lega setengah mati.
Aku belum mulai ngapa-ngapain di sini.
Tapi aku harap aku masih se-antusias ini sampai masa belajarku selesai.
Mungkin aku akan tetap di sini nanti.
Aku senang aku pulang :))))))
ada setangkup haru dalam rindu...
Mau cerita.
Aku jauh dari rumah lagi.
Tapi aku nggak pergi.
Aku pulang.
Aku mengalir lagi.
Tapi aku nggak terbuang.
Aku pulang.
Aku berjalan lagi.
Tapi aku nggak menjauh.
Aku pulang.
Pulang.
Iya, aku pulang.
Rasanya kata "pulang" yang paling bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan.
Menemukan sesuatu yang dicari.
Sesuatu yang dinanti sejak lama sekali.
Rasanya seperti menemukan suatu legenda yang jadi kenyataan.
Tempat yang hanya kalian kenal via buku-buku dan cerita-cerita.
Kemudian kalian tinggal, hidup di dalamnya,
menginjak tanahnya, menghirup atmosfernya,
ikut lebur dalam putaran waktu dan aktivitasnya.
Mungkin, yang bikin ini jadi berbeda juga,
aku tidak meninggalkan seorang pun, apapun, di tanah kelahiran.
Aku bukan lagi balita yang baru bisa jalan tapi ngeluyur kemana-mana
tapi memang sudah saatku untuk bisa berlari jauh sekali.
Lagipula, ke sini aku menemui, menjemput, menuju.
Hatiku sudah lama sekali ada di sini.
Belum pernah aku menginjak tanah ini.
Tapi entah apa dan bagaimana tanah ini menyedot penuh euforiaku,
antusiasmeku, bahkan kecintaanku.
Sebelum ini, aku sempat mengira cuma sedih dan sepi yang bisa kurasa ketika aku akhirnya menapakkan kaki di sini.
Tapi, alih-alih sedih, justru aku merasa lepas sekali, lega setengah mati.
Aku belum mulai ngapa-ngapain di sini.
Tapi aku harap aku masih se-antusias ini sampai masa belajarku selesai.
Mungkin aku akan tetap di sini nanti.
Aku senang aku pulang :))))))
Kamis, 22 Agustus 2013
Tiga Tahun
Stasiun Gambir, Jakarta
20 April 2011
Masih hangat rasanya tanganmu menggandeng turun dari gerbong kereta eksekutif yang membawa kita dari Semarang subuh itu.
Harum kopi dan roti-roti menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di peron stasiun.
Kita mencicip satu.
Lapar.
"Tiga atau lima tahun lagi kita akan menetap di sini, di kota sejuta mimpi ini"
Aku tersenyum.
Selalu janji masa depan yang indah.
Yang aku percaya, asal keluar dari bibirmu.
Karena aku ingin percaya kau laki-laki yang benci ingkar janji.
"Mengapa kau pilih kota ini, Adrian?"
"Banyak sekali konflik terjadi dalam keseharian di sini. Sepertinya kota ini sangat cocok untukmu memuaskan kehausanmu membaca kehidupan,"
Lagi-lagi aku tersenyum.
Aku kadang takut padamu, Adrian.
Kamu terlalu mengerti aku tanpa pernah kuberi tahu.
"Bukankah kamu benci polusi, macet, dan kehidupan keras di sini, Adrian?"
"Memang. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengatasinya. Kita kan akan hidup bersama, aku entah bagaimana takkan membiarkan hidup kita kering kerontang seperti yang kita lihat,"
Mendadak aku merasa haus mendengar celotehmu, Adrian.
Segelas besar Pepsi ludes dalam sekejap.
"Maukah kau menikah denganku Lucyana? Entah itu tiga atau lima tahun lagi,"
Kau belum yakin Adrian.
Mana bisa kau melamar wanita jika kau tidak yakin Adrian?
Jangan lupa, pekerjaanku membaca Adrian.
Kau belum yakin.
"Jangan hanya diam, Lucyana, aku melamarmu sekarang. Atau mungkin peron stasiun sama sekali tak romantis untuk hal begini? Kau mau aku melamarmu di atas Tornado?"
Aku tertawa.
Bukankah kau pernah cerita, kau takut dengan ketinggian Adrian?
Bisa-bisa kau muntah di atas sana.
Ah, Adrian, kau memang belum yakin.
Stasiun Gambir, Jakarta.
2014
Tanganku kini menggandeng, alih-alih tangan hangatmu Adrian, melainkan koper besar yang kubawa dari rumahku di Semarang.
Harum kopi dan roti-roti masih menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di sepanjang peron stasiun.
Aku lapar.
Tapi aku tak ingin makan.
Sudah tiga tahun, Adrian.
Waktu sangat tepat janji dan selalu dapat dipercaya.
Janjinya tak pernah meleset sedetik pun.
Aku menginjakkan kaki kembali ke Jakarta, Adrian.
Menagih janji yang kupercaya asal keluar dari bibirmu.
Kota sejuta mimpi kita Adrian.
Saat itu kau memang belum yakin Adrian.
Kubiarkan lamaranmu menggantung tinggi di tiang-tiang penopang stasiun kuno ini.
Warna hijau tembok stasiun mulai memudar.
Sama, sepertimu.
Kau tidak sabar, Adrian, atas dirimu dan jawabanku.
Mengapa kau lari, Adrian?
Bukankah lebih nyaman menunggu sambil menghirup capuccino?
Ah, tapi kau juga tepat janji, Adrian.
Awal tahun ini kau pun sudah tinggal di kota sejuta mimpimu
yang katamu takkan kau biarkan hidupku kering kerontang seperti yang terlihat.
Tapi kau tidak sabar.
Kau memilih tinggal bersama gadis manis pengantar pesanan kita di gerai stasiun ini
Tiga tahun lalu.
20 April 2011
Masih hangat rasanya tanganmu menggandeng turun dari gerbong kereta eksekutif yang membawa kita dari Semarang subuh itu.
Harum kopi dan roti-roti menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di peron stasiun.
Kita mencicip satu.
Lapar.
"Tiga atau lima tahun lagi kita akan menetap di sini, di kota sejuta mimpi ini"
Aku tersenyum.
Selalu janji masa depan yang indah.
Yang aku percaya, asal keluar dari bibirmu.
Karena aku ingin percaya kau laki-laki yang benci ingkar janji.
"Mengapa kau pilih kota ini, Adrian?"
"Banyak sekali konflik terjadi dalam keseharian di sini. Sepertinya kota ini sangat cocok untukmu memuaskan kehausanmu membaca kehidupan,"
Lagi-lagi aku tersenyum.
Aku kadang takut padamu, Adrian.
Kamu terlalu mengerti aku tanpa pernah kuberi tahu.
"Bukankah kamu benci polusi, macet, dan kehidupan keras di sini, Adrian?"
"Memang. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengatasinya. Kita kan akan hidup bersama, aku entah bagaimana takkan membiarkan hidup kita kering kerontang seperti yang kita lihat,"
Mendadak aku merasa haus mendengar celotehmu, Adrian.
Segelas besar Pepsi ludes dalam sekejap.
"Maukah kau menikah denganku Lucyana? Entah itu tiga atau lima tahun lagi,"
Kau belum yakin Adrian.
Mana bisa kau melamar wanita jika kau tidak yakin Adrian?
Jangan lupa, pekerjaanku membaca Adrian.
Kau belum yakin.
"Jangan hanya diam, Lucyana, aku melamarmu sekarang. Atau mungkin peron stasiun sama sekali tak romantis untuk hal begini? Kau mau aku melamarmu di atas Tornado?"
Aku tertawa.
Bukankah kau pernah cerita, kau takut dengan ketinggian Adrian?
Bisa-bisa kau muntah di atas sana.
Ah, Adrian, kau memang belum yakin.
Stasiun Gambir, Jakarta.
2014
Tanganku kini menggandeng, alih-alih tangan hangatmu Adrian, melainkan koper besar yang kubawa dari rumahku di Semarang.
Harum kopi dan roti-roti masih menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di sepanjang peron stasiun.
Aku lapar.
Tapi aku tak ingin makan.
Sudah tiga tahun, Adrian.
Waktu sangat tepat janji dan selalu dapat dipercaya.
Janjinya tak pernah meleset sedetik pun.
Aku menginjakkan kaki kembali ke Jakarta, Adrian.
Menagih janji yang kupercaya asal keluar dari bibirmu.
Kota sejuta mimpi kita Adrian.
Saat itu kau memang belum yakin Adrian.
Kubiarkan lamaranmu menggantung tinggi di tiang-tiang penopang stasiun kuno ini.
Warna hijau tembok stasiun mulai memudar.
Sama, sepertimu.
Kau tidak sabar, Adrian, atas dirimu dan jawabanku.
Mengapa kau lari, Adrian?
Bukankah lebih nyaman menunggu sambil menghirup capuccino?
Ah, tapi kau juga tepat janji, Adrian.
Awal tahun ini kau pun sudah tinggal di kota sejuta mimpimu
yang katamu takkan kau biarkan hidupku kering kerontang seperti yang terlihat.
Tapi kau tidak sabar.
Kau memilih tinggal bersama gadis manis pengantar pesanan kita di gerai stasiun ini
Tiga tahun lalu.
Sabtu, 10 Agustus 2013
Bilakah Rama (Boleh) Tak Setia
Tangan bertangkup
bibir terus mendaras puja puji
kepada Purnama yang teduh melatari
tegak tinggi menjulang
puncak-puncak Swargaloka
Berdiri di sana,
membelakangi altar Siwagrha
Tegap, gagah, yakin
memburu Angkara yang meraung menggila
Terucap doa-doa kepada Sang Hyang
yang kepadamu, Putra Surya,
telah melimpahkan banyak brahmastra
agar senantiasa mereka
melingkupi berkah dan selamat untukmu
Vishnu awatara
Sabit terbit di antara puja pujiku
ketika kau berdiri di hadapanku
sekilas memandangku yang memujamu
Ah, semakin deras butir-butir tasbih
kudaraskan untukmu
Kembali membeku melihatmu,
merentang busur Shiva
mencabut anak-anak panah
yang kemudian melesat membelah malam
Raungan Angkara merobek egoku
Ah, mengapa pula bukan demi aku
kau lakukan segala itu?
Bilakah Sri Rama boleh tak setia
kepada Shinta?
Hanya sekali saja, lalu sudah
Biarkan Shinta dicumbu Angkara
dan kau, kau untuk sekali saja
menjadi sosok utuh yang maujud
bukan hanya menghantui mimpi
yang bisa, boleh
kusentuh dan kumiliki
Lalu biarkan Shinta terbakar hangus
lebur dalam nafsu api sucinya
Dan kau, lagi-lagi kau,
akan kuminta bermain cinta lagi
denganku
Kita ciptakan sendiri legenda kita,
membumihangus lakon-lakon lawas Ramayana
merobek bab-babnya
dan menggantinya dengan aku dan engkau
Maryada Purushottama
Kian deras tasbihku menderu
meluruhkan relung-relung batu Pura
ruang-ruang singgah Dewata
yang kepada mereka aku terus bertanya
Bilakah Rama boleh tak setia?
bibir terus mendaras puja puji
kepada Purnama yang teduh melatari
tegak tinggi menjulang
puncak-puncak Swargaloka
Berdiri di sana,
membelakangi altar Siwagrha
Tegap, gagah, yakin
memburu Angkara yang meraung menggila
Terucap doa-doa kepada Sang Hyang
yang kepadamu, Putra Surya,
telah melimpahkan banyak brahmastra
agar senantiasa mereka
melingkupi berkah dan selamat untukmu
Vishnu awatara
Sabit terbit di antara puja pujiku
ketika kau berdiri di hadapanku
sekilas memandangku yang memujamu
Ah, semakin deras butir-butir tasbih
kudaraskan untukmu
Kembali membeku melihatmu,
merentang busur Shiva
mencabut anak-anak panah
yang kemudian melesat membelah malam
Raungan Angkara merobek egoku
Ah, mengapa pula bukan demi aku
kau lakukan segala itu?
Bilakah Sri Rama boleh tak setia
kepada Shinta?
Hanya sekali saja, lalu sudah
Biarkan Shinta dicumbu Angkara
dan kau, kau untuk sekali saja
menjadi sosok utuh yang maujud
bukan hanya menghantui mimpi
yang bisa, boleh
kusentuh dan kumiliki
Lalu biarkan Shinta terbakar hangus
lebur dalam nafsu api sucinya
Dan kau, lagi-lagi kau,
akan kuminta bermain cinta lagi
denganku
Kita ciptakan sendiri legenda kita,
membumihangus lakon-lakon lawas Ramayana
merobek bab-babnya
dan menggantinya dengan aku dan engkau
Maryada Purushottama
Kian deras tasbihku menderu
meluruhkan relung-relung batu Pura
ruang-ruang singgah Dewata
yang kepada mereka aku terus bertanya
Bilakah Rama boleh tak setia?
Pelarian
Bulan berdarah,
malam meruam merah.
Ah, bukankah kita harus
terus berlari, Puan?
Sirine patroli pecah
menggerus hening pekat malam
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ah, malaikat maut malih rupa, Puan
Bersorban, berjubah, berkalang asma Tuhan
Sebegitu mudah, Puan,
menghunus belati, pentungan, bebatuan
kepada kita yang katanya sesama manusia
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ayo terus berlari Puan!
Menerjang pelor yang berguguran.
Mereka takkan peduli kita teriakkan Tuhan, Puan
yang mereka peduli kita lah sasaran
Kiranya kita mati dalam kebutaan, Puan
Ah, diimpit maut pun aku masih bertanya,
siapa kiranya yang pantas disebut manusia?
malam meruam merah.
Ah, bukankah kita harus
terus berlari, Puan?
Sirine patroli pecah
menggerus hening pekat malam
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ah, malaikat maut malih rupa, Puan
Bersorban, berjubah, berkalang asma Tuhan
Sebegitu mudah, Puan,
menghunus belati, pentungan, bebatuan
kepada kita yang katanya sesama manusia
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ayo terus berlari Puan!
Menerjang pelor yang berguguran.
Mereka takkan peduli kita teriakkan Tuhan, Puan
yang mereka peduli kita lah sasaran
Kiranya kita mati dalam kebutaan, Puan
Ah, diimpit maut pun aku masih bertanya,
siapa kiranya yang pantas disebut manusia?
Senin, 05 Agustus 2013
Ismail
Awal hari yang cerah.
Akhir pekan yang indah.
Ah, Ismail tersenyum riang.
Berderai tawanya tertiup angin yang menyapu rambutnya.
Hari ini Ismail pergi ke kota,
kota yang katanya gemerlap, yang katanya penuh gedung indah.
Ismail hanya bocah desa,
berkubang lumpur tamasyanya,
berlarian, bersepeda bersama temannya.
Ismail ingin melihat kota.
Tawa renyahnya tersirap lalu lalang kendaraan.
Ah, takjub dia rupanya,
pada bis, truk, dan mobil yang berlarian.
Ismail hanya bocah desa,
hanya pernah melihat bis, truk, dan mobil di rak mainan taman kanak-kanak.
Ismail membayangkan dia yang gagah menaikinya.
Matanya menatap gedung tinggi megah bak istana.
Tempat apa ini?
Begitu banyak kendaraan terparkir di depannya,
begitu banyak manusia lalu lalang di dalamnya,
begitu riuh musik mengalun di telinga,
begitu harum roti-roti indah yang berderet di etalase.
Ismail hanya bocah desa,
belum pernah mendengar, apalagi melihat kata "Mall" sebelumnya.
Takjub dia dibuatnya,
tak pernah terbayang menginjakkan kaki di dalamnya.
Ismail hanya bocah lugu.
Memandang orang-orang berlalu, ingin tahu.
Melihat tangga aneh yang bisa membawa orang yang menaikinya bergerak naik turun.
Itu eskalator namanya.
Ismail menatap bingung,
ah, sungguh nama yang asing di telinga.
Tapi tak urung, dijajalnya juga tangga ajaib itu,
menjajah rasa ingin tahunya,
memerdekakan penasarannya.
Satu, dua, tiga kali tak cukup jua,
melompat-lompat dia menaikinya.
Ismail hanya bocah desa,
yang bahagia hanya dengan menaiki tangga berjalan.
Kadang matanya memandang bingung.
Pada patung-patung tanpa kepala yang berbaju.
Pada perempuan-perempuan berdandan cantik,
yang menjaga patung-patung itu,
seolah tidak mengijinkan Ismail menyentuh satu barang pun.
Takut-takut Ismail berjalan menyusur lantai.
Menggandeng tangan agar tak sesat di belantara barang-barang.
Ah, celana yang bagus, kaos yang lucu, mainan yang sungguh keren.
Ah, tapi Mamaknya hanya penjual pakaian eceran,
yang pergi pagi pulang petang.
Yang kalau pulang akan marah jika rumah berantakan.
Apalagi jika Ismail berani minta mainan macam-macam.
Cukuplah baginya bersepeda bekas keliling kampung,
barang-barang ini terlalu tak tertebus.
Ismail hanya diam di perjalanan pulang.
Masih terbayang mainan-mainan impiannya.
Truk, bis, bahkan pesawat terbang ada.
Ah, jangan-jangan salah aku membawanya ke kota?
Hanya menimbulkan perasaan iri dan kecewa.
Ismail masih terdiam,
lama-lama matanya mengatup, ngantuk.
Semoga lah bukan iri dan kecewa yang termaktub di dadanya,
semoga mimpi indah menaiki pesawat terbang mainannya,
cita-cita yang lebih tinggi, wawasan yang lebih luas
yang menjadi oleh-oleh baginya dari perjalanan ke kota.
*kisah nyata. Ismail benar2 ada, umurnya kurang dari 3 tahun, tapi sangat dewasa mengurus diri sendiri karena ibunya single parent dan sibuk berdagang. Perjalanan ini terjadi hari Sabtu yang lalu. Sekarang tiap melihat Ismail aku jadi merasa agak berdosa dan was-was, kesan apa yang tertinggal setelah kami pulang ke rumah*
Akhir pekan yang indah.
Ah, Ismail tersenyum riang.
Berderai tawanya tertiup angin yang menyapu rambutnya.
Hari ini Ismail pergi ke kota,
kota yang katanya gemerlap, yang katanya penuh gedung indah.
Ismail hanya bocah desa,
berkubang lumpur tamasyanya,
berlarian, bersepeda bersama temannya.
Ismail ingin melihat kota.
Tawa renyahnya tersirap lalu lalang kendaraan.
Ah, takjub dia rupanya,
pada bis, truk, dan mobil yang berlarian.
Ismail hanya bocah desa,
hanya pernah melihat bis, truk, dan mobil di rak mainan taman kanak-kanak.
Ismail membayangkan dia yang gagah menaikinya.
Matanya menatap gedung tinggi megah bak istana.
Tempat apa ini?
Begitu banyak kendaraan terparkir di depannya,
begitu banyak manusia lalu lalang di dalamnya,
begitu riuh musik mengalun di telinga,
begitu harum roti-roti indah yang berderet di etalase.
Ismail hanya bocah desa,
belum pernah mendengar, apalagi melihat kata "Mall" sebelumnya.
Takjub dia dibuatnya,
tak pernah terbayang menginjakkan kaki di dalamnya.
Ismail hanya bocah lugu.
Memandang orang-orang berlalu, ingin tahu.
Melihat tangga aneh yang bisa membawa orang yang menaikinya bergerak naik turun.
Itu eskalator namanya.
Ismail menatap bingung,
ah, sungguh nama yang asing di telinga.
Tapi tak urung, dijajalnya juga tangga ajaib itu,
menjajah rasa ingin tahunya,
memerdekakan penasarannya.
Satu, dua, tiga kali tak cukup jua,
melompat-lompat dia menaikinya.
Ismail hanya bocah desa,
yang bahagia hanya dengan menaiki tangga berjalan.
Kadang matanya memandang bingung.
Pada patung-patung tanpa kepala yang berbaju.
Pada perempuan-perempuan berdandan cantik,
yang menjaga patung-patung itu,
seolah tidak mengijinkan Ismail menyentuh satu barang pun.
Takut-takut Ismail berjalan menyusur lantai.
Menggandeng tangan agar tak sesat di belantara barang-barang.
Ah, celana yang bagus, kaos yang lucu, mainan yang sungguh keren.
Ah, tapi Mamaknya hanya penjual pakaian eceran,
yang pergi pagi pulang petang.
Yang kalau pulang akan marah jika rumah berantakan.
Apalagi jika Ismail berani minta mainan macam-macam.
Cukuplah baginya bersepeda bekas keliling kampung,
barang-barang ini terlalu tak tertebus.
Ismail hanya diam di perjalanan pulang.
Masih terbayang mainan-mainan impiannya.
Truk, bis, bahkan pesawat terbang ada.
Ah, jangan-jangan salah aku membawanya ke kota?
Hanya menimbulkan perasaan iri dan kecewa.
Ismail masih terdiam,
lama-lama matanya mengatup, ngantuk.
Semoga lah bukan iri dan kecewa yang termaktub di dadanya,
semoga mimpi indah menaiki pesawat terbang mainannya,
cita-cita yang lebih tinggi, wawasan yang lebih luas
yang menjadi oleh-oleh baginya dari perjalanan ke kota.
*kisah nyata. Ismail benar2 ada, umurnya kurang dari 3 tahun, tapi sangat dewasa mengurus diri sendiri karena ibunya single parent dan sibuk berdagang. Perjalanan ini terjadi hari Sabtu yang lalu. Sekarang tiap melihat Ismail aku jadi merasa agak berdosa dan was-was, kesan apa yang tertinggal setelah kami pulang ke rumah*
Minggu, 14 Juli 2013
Ludira
Dumateng panjenenganipun, Jeng Pangeran, Kartikaningtyas.
sampun bangêt-bangêt madung pari niyaya kêpati.
adhuh kapriye wong bagus tan ana wêkasing karsi
dene bangêt têmên sira
cacat apa ingsun iki.
iki wong punapi
dhasar bagus atinya sawukir pêngkuh raseng dhiri wong abagus têrus
samana sang rêtna adi asupe purwa duksina ketang runtikireng galih
sang rêtna mungkur brantaning.
lah paran karsanira dene ngantya pan kadya puniki.
sun lalipur ing tyas kang wiyadi
nging mêksa katongton
salêlewa myang solahbawane.
riyêm-riyêm buwana esmu gri wangkawa kalêson
uwung-uwung kêmlayung sonare samurcane Dyan sêkaring bumi
udan riwis-riwis kadya ngungunngungun.
saya mangrês risang kawula
lêngêr-lêngêr cêlom lir jinait ing tyase
jwala kongas sêmune alindri lir sang kaduk riris netarja sumuluh
lah Gusti wong anom imbangana Gusti kawulane
sampun bangêt-bangêt madung pari niyaya kêpati.
adhuh kapriye wong bagus tan ana wêkasing karsi
dene bangêt têmên sira
cacat apa ingsun iki.
iki wong punapi
dhasar bagus atinya sawukir pêngkuh raseng dhiri wong abagus têrus
samana sang rêtna adi asupe purwa duksina ketang runtikireng galih
sang rêtna mungkur brantaning.
lah paran karsanira dene ngantya pan kadya puniki.
rêb-rêb sirêp giwangkara tuwin purnama acêlom
tara-tara lidhah sudamane thathit-thathit lir milu wiyadi
manuk-manuk muni tinon rangu-rangu.
lah paran karsanira dene ngantya pan kadya puniki.
**Terjemahan :
Kepadamu Pangeran, Sang Bintang di hati.
Meski telah kucoba menghibur diri,
namun tetap saja masih terbayang-bayang
sosok dan lakumu.
Dunia tampak remang, lesu dalam kesedihan
Langit redup sinarnya karena hilangnya Tuan yang menjadi bunga dunia.
Hujan rintik yang turun membuat rasa tercekam heran.
Semakin teriris sang hati,
hanya mampu terdiam, hatiku bagai dijahit
Sang Mata bersinar redup tanda memendam kesedihan.
"Tuanku, terimalah cinta dari hambamu ini,
janganlah kau menyiksa hambamu ini, Tuanku.
Duhai pria tampan, kapan ini semua akan berakhir?
mengapa engkau begitu keterlaluan memperlakukanku?
Apa sebenarnya yang menjadi cacatku?
Orang macam apa kau ini?
Kau memang tampan, namun kenapa hatimu setinggi gunung? Kau sangat angkuh."
Saat itu juga Sang Putri kehilangan kendali karena sangat marah,
menjauh sudah rasa cinta Sang Putri kepada dirinya.
Sebenarnya apa yang telah terjadi hingga semua menjadi seperti ini?
Matahari dan purnama bersinar kelam
Bintang-bintang, kilat, dan petir bagai turut berduka
Burung-burung berkicau penuh rasa ragu.
Ah, sebenarnya apa yang telah terjadi hingga semua menjadi seperti ini?
-Mengutip beberapa sajak Serat Gandakusuma-
Jumat, 05 Juli 2013
When I Fall in Love
Aku ingin mengirimkan tulisan ini padamu.
Ah, tapi mungkin belum sekarang saatnya.
Kak,
hari ini entah untuk yang ke berapa kalinya aku melumat Forgiven-mu.
Yang kemudian melayangkan ingatanku pada saat pertama aku bersentuhan dengannya.
Kak,
tahukah kau bagaimana aku menjadi begitu jatuh cinta pada guratmu?
Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA, di kelas yang penuh berisi anak-anak superior.
Mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi tanggungan kami di sekolah : Olimpiade Sains.
Kak, aku percaya penuh pada takdir.
Kami, siswa berotak kiri ini dikumpulkan di ruang perpustakaan sekolah.
Tujuannya jelas, agar kami lebih mudah mendapatkan referensi untuk menyiapkan materi.
Tapi aku bukan siswa berotak kiri.
Yang cinta pada logika, matematika, fisika, dan sejenisnya.
Aku hanya memandangi rekanku yang serius meladeni soal-soal latihannya.
Aku bosan.
Aku hanya menyusuri rak-rak fiksi perpustakaan.
Berkeliling berjam-jam.
Sampai kemudian takdir menyentuhkan tanganku dengan guratmu untuk pertama kalinya.
Kak,
tahukah kau, ilustrasi Champagne Supernova itu yang menyeretku untuk membuka lembar demi lembar guratmu.
Kak,
tahukah kau, kata pengantarmu dalam buku itu yang mendorongku melupakan sejenak Olimpiade Sains, meninggalkan berlembar-lembar soal yang belum kuselesaikan.
"Dan William Hakim; Indonesia memiliki banyak William Hakim muda di luar sana. Yang cerdas, berbakat dengan setumpuk prestasi di olimpiade sains dan penuh cita-cita. Yang mereka butuhkan cuma support. You never know what change they could make in the future" begitu tulismu.
Kata-kata itu, yang akhirnya tertanam kuat-kuat dalam benakku.
Tahukah kau kak,
aku belum pernah menjumpai kata pengantar yang seperti ini dalam buku-buku yang pernah kubaca.
Satu terima kasih untukmu atas kata pengantar indahmu :)
Kemudian aku mendapati siapa Will, siapa Karla, dan apa yang terjadi pada mereka.
Lingkungan sekolah mereka, pertemanan mereka.
Kak, entah aku yang kurang membaca atau bagaimana, tapi jarang kutemui tulisan yang mengangkat tema seperti ini.
Satu lagi terima kasihku untukmu kak,
kakak sudah memanusiakan William dan Nicolas Hakim. Juga anak-anak dengan nilai straight A di luar sana.
Karena banyak orang di sekitarku yang menganggap anak-anak seperti itu adalah manusia super, yang hebat, yang tahu segalanya, yang selalu bisa diandalkan, yang selalu mendapat nilai brilian, yang hanya tahu belajar, yang nanti hidupnya pasti akan sukses, yang tidak pernah memikirkan urusan sosialisasi dengan orang lain, apalagi percintaan.
Terima kasih kak, karena kakak menunjukkan sisi lain dari kehebatan mereka. Bahwa mereka juga manusia. Bahwa mereka bukan hanya robot pemikir tanpa emosi. Bahwa mereka bisa juga jatuh dan gagal.
Kurasa saat itulah aku memutuskan kalau aku jatuh cinta pada guratmu, kak.
Kuputuskan untuk memprioritaskan namamu dalam daftar pencarian ketika aku berkunjung ke toko buku.
Di guratmu selanjutnya kau banyak berkisah tentang Jogja, Semarang, Jakarta, dan Mesir.
Membuatku merasa dekat dengan apa yang kau tulis kak.
Saat itu aku belum memikirkan, apalagi memutuskan ke mana aku akan melanjutkan studiku kelak.
Universitas Gadjah Mada yang sering kau ceritakan entah bagaimana menjadi bayangan yang selalu terlintas di benakku ketika ditanya akan kemana aku setelah lulus nanti.
Kak, aku belum pernah ke UGM samasekali saat itu.
Aku hanya mengenal UGM dari tulisanmu.
Terima kasih lagi untukmu kak.
Ketika aku tahu gurat ketigamu lahir, aku sedang berada di Jogja.
Tersenyum senang akhirnya aku bisa menapakkan kaki ke tempat yang berkali-kali kubaca dalam tulisanmu.
Tahukah kau kak,
betapa bertambah senangnya aku ketika aku tahu yang kau jadikan tokoh utama di dalamnya adalah mahasiswi Kedokteran Gigi.
Seketika aku titip uang kepada temanku untuk segera membawakanku gurat barumu.
Aku semakin mencintai gurat-guratmu.
Rasanya girang sekali mendapati gambar-gambar seputaran kampus di dalam buku itu.
Terima kasih kak, sudah menginspirasi.
Terus berkarya ya kak, jangan bosan-bosan menulis.
Karena aku yakin banyak orang yang menantikan tulisan inspiratifmu. Seperti juga aku.
:)
Salam.
Enggardini R. Hakim
Ah, tapi mungkin belum sekarang saatnya.
Kak,
hari ini entah untuk yang ke berapa kalinya aku melumat Forgiven-mu.
Yang kemudian melayangkan ingatanku pada saat pertama aku bersentuhan dengannya.
Kak,
tahukah kau bagaimana aku menjadi begitu jatuh cinta pada guratmu?
Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA, di kelas yang penuh berisi anak-anak superior.
Mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi tanggungan kami di sekolah : Olimpiade Sains.
Kak, aku percaya penuh pada takdir.
Kami, siswa berotak kiri ini dikumpulkan di ruang perpustakaan sekolah.
Tujuannya jelas, agar kami lebih mudah mendapatkan referensi untuk menyiapkan materi.
Tapi aku bukan siswa berotak kiri.
Yang cinta pada logika, matematika, fisika, dan sejenisnya.
Aku hanya memandangi rekanku yang serius meladeni soal-soal latihannya.
Aku bosan.
Aku hanya menyusuri rak-rak fiksi perpustakaan.
Berkeliling berjam-jam.
Sampai kemudian takdir menyentuhkan tanganku dengan guratmu untuk pertama kalinya.
Kak,
tahukah kau, ilustrasi Champagne Supernova itu yang menyeretku untuk membuka lembar demi lembar guratmu.
Kak,
tahukah kau, kata pengantarmu dalam buku itu yang mendorongku melupakan sejenak Olimpiade Sains, meninggalkan berlembar-lembar soal yang belum kuselesaikan.
"Dan William Hakim; Indonesia memiliki banyak William Hakim muda di luar sana. Yang cerdas, berbakat dengan setumpuk prestasi di olimpiade sains dan penuh cita-cita. Yang mereka butuhkan cuma support. You never know what change they could make in the future" begitu tulismu.
Kata-kata itu, yang akhirnya tertanam kuat-kuat dalam benakku.
Tahukah kau kak,
aku belum pernah menjumpai kata pengantar yang seperti ini dalam buku-buku yang pernah kubaca.
Satu terima kasih untukmu atas kata pengantar indahmu :)
Kemudian aku mendapati siapa Will, siapa Karla, dan apa yang terjadi pada mereka.
Lingkungan sekolah mereka, pertemanan mereka.
Kak, entah aku yang kurang membaca atau bagaimana, tapi jarang kutemui tulisan yang mengangkat tema seperti ini.
Satu lagi terima kasihku untukmu kak,
kakak sudah memanusiakan William dan Nicolas Hakim. Juga anak-anak dengan nilai straight A di luar sana.
Karena banyak orang di sekitarku yang menganggap anak-anak seperti itu adalah manusia super, yang hebat, yang tahu segalanya, yang selalu bisa diandalkan, yang selalu mendapat nilai brilian, yang hanya tahu belajar, yang nanti hidupnya pasti akan sukses, yang tidak pernah memikirkan urusan sosialisasi dengan orang lain, apalagi percintaan.
Terima kasih kak, karena kakak menunjukkan sisi lain dari kehebatan mereka. Bahwa mereka juga manusia. Bahwa mereka bukan hanya robot pemikir tanpa emosi. Bahwa mereka bisa juga jatuh dan gagal.
Kurasa saat itulah aku memutuskan kalau aku jatuh cinta pada guratmu, kak.
Kuputuskan untuk memprioritaskan namamu dalam daftar pencarian ketika aku berkunjung ke toko buku.
Di guratmu selanjutnya kau banyak berkisah tentang Jogja, Semarang, Jakarta, dan Mesir.
Membuatku merasa dekat dengan apa yang kau tulis kak.
Saat itu aku belum memikirkan, apalagi memutuskan ke mana aku akan melanjutkan studiku kelak.
Universitas Gadjah Mada yang sering kau ceritakan entah bagaimana menjadi bayangan yang selalu terlintas di benakku ketika ditanya akan kemana aku setelah lulus nanti.
Kak, aku belum pernah ke UGM samasekali saat itu.
Aku hanya mengenal UGM dari tulisanmu.
Terima kasih lagi untukmu kak.
Ketika aku tahu gurat ketigamu lahir, aku sedang berada di Jogja.
Tersenyum senang akhirnya aku bisa menapakkan kaki ke tempat yang berkali-kali kubaca dalam tulisanmu.
Tahukah kau kak,
betapa bertambah senangnya aku ketika aku tahu yang kau jadikan tokoh utama di dalamnya adalah mahasiswi Kedokteran Gigi.
Seketika aku titip uang kepada temanku untuk segera membawakanku gurat barumu.
Aku semakin mencintai gurat-guratmu.
Rasanya girang sekali mendapati gambar-gambar seputaran kampus di dalam buku itu.
Terima kasih kak, sudah menginspirasi.
Terus berkarya ya kak, jangan bosan-bosan menulis.
Karena aku yakin banyak orang yang menantikan tulisan inspiratifmu. Seperti juga aku.
:)
Salam.
Enggardini R. Hakim
Senin, 03 Juni 2013
Episentrum
Ketika kita bisa kembali dipertemukan,
apa yang akan terjadi kemudian?
Ketika kita bisa kembali menginjak tanah yang sama,
apa yang bisa terjadi selanjutnya?
Ketika semua angan yang kurindukan
mengkristal menjadi kenyataan,
apa yang akan aku lakukan?
Ketika semua keringat, airmata, doa, pengharapan
yang tinggi kububungkan mengembun menjadi titik hujan yang menyentuh nyata
apa lagi yang bisa kupintakan?
Untuk apa semua ini?
Untuk dekat denganmu?
Untuk sejajar denganmu?
Untuk mimpi sederhana bertemu lagi denganmu?
Seberat ini?
Butuh dua tahun yang amaaat panjang.
Butuh dua tahun yang lebih banyak tangis daripada senyum mengenangmu.
Butuh semua usaha yang kupikir mustahi bisa kulakukan.
Butuh semua pencapaian yang rasanya sulit diterima logika.
Butuh semua pengakuan yang padahal aku pun tidak merasa punya dan bisa.
Kemudian jika mimpiku hanya singgah sementara,
kemudian angin berhasil membawanya lari,
apa yang bisa kulakukan?
Menangisimu lagi untuk waktu yang lebih lama?
Menyesali segala yang sudah dilakukan?
Berhenti berharap, bermimpi, dan terjebak di kabutmu?
Melihatmu dengan mata nanar ketika jerujimu membelengguku darimu
padahal kita hanya berjarak beberapa meter?
Aku tidak pernah berani berharap lebih sebelumnya.
Lebih mudah ketika aku jauh darimu.
Karena aku percaya Tuhan menjagamu, untukku agar aku mau berjuang.
Karena aku tidak perlu tahu apakah kau bisa ada untukku.
Sebaliknya ketika mata kita akhirnya dipertemukan di satu lingkup.
Karena aku bisa langsung melihatmu
Karena aku pasti bisa langsung tahu apakah kau memang tidak pernah ada untukku.
Yang membuat ini jadi pelik adalah,
kau sudah menyeretku hingga ke titik yang menentukan hidupku sampai mati nanti.
Ketika asaku atasmu kemudian gugur, tidak bisa semudah itu melepas dunia baruku nanti.
Ada beban tanggungjawab di sini.
Semoga ada akhir bahagia di cerita tanpa ujung ini.
Semoga ada kekuatan yang selalu bisa menyokongku.
Semoga itu tetaplah kamu, D.
apa yang akan terjadi kemudian?
Ketika kita bisa kembali menginjak tanah yang sama,
apa yang bisa terjadi selanjutnya?
Ketika semua angan yang kurindukan
mengkristal menjadi kenyataan,
apa yang akan aku lakukan?
Ketika semua keringat, airmata, doa, pengharapan
yang tinggi kububungkan mengembun menjadi titik hujan yang menyentuh nyata
apa lagi yang bisa kupintakan?
Untuk apa semua ini?
Untuk dekat denganmu?
Untuk sejajar denganmu?
Untuk mimpi sederhana bertemu lagi denganmu?
Seberat ini?
Butuh dua tahun yang amaaat panjang.
Butuh dua tahun yang lebih banyak tangis daripada senyum mengenangmu.
Butuh semua usaha yang kupikir mustahi bisa kulakukan.
Butuh semua pencapaian yang rasanya sulit diterima logika.
Butuh semua pengakuan yang padahal aku pun tidak merasa punya dan bisa.
Kemudian jika mimpiku hanya singgah sementara,
kemudian angin berhasil membawanya lari,
apa yang bisa kulakukan?
Menangisimu lagi untuk waktu yang lebih lama?
Menyesali segala yang sudah dilakukan?
Berhenti berharap, bermimpi, dan terjebak di kabutmu?
Melihatmu dengan mata nanar ketika jerujimu membelengguku darimu
padahal kita hanya berjarak beberapa meter?
Aku tidak pernah berani berharap lebih sebelumnya.
Lebih mudah ketika aku jauh darimu.
Karena aku percaya Tuhan menjagamu, untukku agar aku mau berjuang.
Karena aku tidak perlu tahu apakah kau bisa ada untukku.
Sebaliknya ketika mata kita akhirnya dipertemukan di satu lingkup.
Karena aku bisa langsung melihatmu
Karena aku pasti bisa langsung tahu apakah kau memang tidak pernah ada untukku.
Yang membuat ini jadi pelik adalah,
kau sudah menyeretku hingga ke titik yang menentukan hidupku sampai mati nanti.
Ketika asaku atasmu kemudian gugur, tidak bisa semudah itu melepas dunia baruku nanti.
Ada beban tanggungjawab di sini.
Semoga ada akhir bahagia di cerita tanpa ujung ini.
Semoga ada kekuatan yang selalu bisa menyokongku.
Semoga itu tetaplah kamu, D.
Jumat, 31 Mei 2013
Selamat Malam
31 Mei 2013.
Kamar Kos, NKL 84.
Selamat malam.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku akan sudah menyelesaikan masa SMA-ku.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku akan sudah menyelesaikan fase pupa-ku.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku sudah harus melepas kenyamanan yang dulu.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku sudah harus beranjak ke fase hidup selanjutnya.
Selamat malam.
Esok pagi kuselesaikan perjuangan 3 tahunku di sini.
Perjuangan yang jangan dipikir mudah.
Justru bagiku sangat tidak pernah mudah.
Esok pagi kututup lembar-lembar yang tiga tahun kutoreh dalam biografiku.
Bukan, bukan untuk dilupakan.
Namun untuk melanjutkan cerita ke lembaran berikutnya.
Selamat malam.
Salam perpisahan dariku untuk medan areaku.
Belum genap sulit sempurna memang.
Belum genap menang juga tentunya.
Tapi kuharap cukuplah yang sudah kubukukan.
Selamat malam.
Puji syukur semoga senantiasa menaungi langkahku keluar dari Kurusetra-ku.
Kerendahan hati, diri, dan pikiran semoga selalu memayungi derap pacuku.
Keteguhan karang, ketenangan samudra, dan kobar api
Semoga senantiasa bisa kupegang teguh dalam genggamanku.
Selamat malam.
Catatan-catatan yang terserak di medan yang lalu semoga selalu bisa mengingatkan anyir darah,
basah peluh keringat dan airmata.
Jejak-jejak yang pernah kubenamkan semoga menuju kebaikan bagiku, bagi orang-orang sesudahku.
Selamat malam.
Kini aku purna sudah mengemban satu fase amanat hidup.
Kini aku miwiti tugas yang lain yang semakin berat di pundakku.
Selamat malam.
Kamar Kos, NKL 84.
Selamat malam.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku akan sudah menyelesaikan masa SMA-ku.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku akan sudah menyelesaikan fase pupa-ku.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku sudah harus melepas kenyamanan yang dulu.
Tinggal menghitung putaran jam saja maka aku sudah harus beranjak ke fase hidup selanjutnya.
Selamat malam.
Esok pagi kuselesaikan perjuangan 3 tahunku di sini.
Perjuangan yang jangan dipikir mudah.
Justru bagiku sangat tidak pernah mudah.
Esok pagi kututup lembar-lembar yang tiga tahun kutoreh dalam biografiku.
Bukan, bukan untuk dilupakan.
Namun untuk melanjutkan cerita ke lembaran berikutnya.
Selamat malam.
Salam perpisahan dariku untuk medan areaku.
Belum genap sulit sempurna memang.
Belum genap menang juga tentunya.
Tapi kuharap cukuplah yang sudah kubukukan.
Selamat malam.
Puji syukur semoga senantiasa menaungi langkahku keluar dari Kurusetra-ku.
Kerendahan hati, diri, dan pikiran semoga selalu memayungi derap pacuku.
Keteguhan karang, ketenangan samudra, dan kobar api
Semoga senantiasa bisa kupegang teguh dalam genggamanku.
Selamat malam.
Catatan-catatan yang terserak di medan yang lalu semoga selalu bisa mengingatkan anyir darah,
basah peluh keringat dan airmata.
Jejak-jejak yang pernah kubenamkan semoga menuju kebaikan bagiku, bagi orang-orang sesudahku.
Selamat malam.
Kini aku purna sudah mengemban satu fase amanat hidup.
Kini aku miwiti tugas yang lain yang semakin berat di pundakku.
Selamat malam.
Faith Hill-There You'll Be (OST Pearl Harbor)
Setelah semua urusan jaman SMA selesai nih,
udah nggak tahu lagi gimana cara menunjukkan terima kasih.
Buat Tuhan, buat bapak ibuk, buat D, buat temen-temen, buat semua yang udah ada buat dorong aku.
Aku suka lagu ini.
Bener-bener pernyataan terima kasih setulus yang aku bisa.
Bener-bener pernyataan terima kasih dan penghormatan kepada kalian semua.
When I think back on these times
And the dreams we left behind
I'll be glad 'cause I was blessed to get
To have you in my life
When I look back on these days
I'll look and see your face
You were right there for me
In my dreams I'll always see you soar above the sky
In my heart there will always be a place for you for all my life
I'll keep a part of you with me
And everywhere I am there you'll be
And everywhere I am there you'll be
Well you showed me how it feels
To feel the sky within my reach
And I always will remember all the strength you gave to me
Your love made me make it through
Oh, I owe so much to you
You were right there for me
n my dreams I'll always see you soar above the sky
In my heart there will always be a place for you for all my life
I'll keep a part of you with me
And everywhere I am there you'll be
And everywhere I am there you'll be
'Cause I always saw in you my light, my strength
And I want to thank you now for all the ways
You were right there for me
You were right there for me
For always
In my dreams I'll always see you soar above the sky
In my heart there will always be a place for you for all my life
I'll keep a part of you with me
And everywhere I am there you'll be
And everywhere I am there you'll be
There you'll be
Jumat, 10 Mei 2013
Aku Butuh Tahu!!
Ehemm, mau ngomong. Tapi nggak enak juga.
Tapi kalo nggak ngomong makin parah nggak enaknya.
Aduh, keputusan berat ketika aku putuskan nge-post yang satu ini.
Gimana ya?
Nggak tahu mulainya darimana.
Yang jelas, ada yang nggak pada tempatnya di sini.
Mau nangis aja gitu entah kenapa.
Sejujurnya merasa berdosa.
Tapi entah kepada siapa, dan atas apa.
Absurd ya?
Iya, soalnya aku masih nggak ngerti gimana caranya cerita.
Karena aku nggak tahu juga ini bener apa salah di pihak lawan.
Aku pengen tahu!
Udah, itu aja intinya.
Lalu kalau udah tahu gimana?
Aku nggak tahu!
Aku takut.
Ngeri.
Rasanya aku udah kayak pistol yang penuh selongsong peluru.
Tapi nggak akan terjadi apa-apa kan kalau pelatuknya nggak ditarik?
Nah, aku butuh penarik pelatuk itu!
Siapa yang tahu kalau nggak dicoba.
Ngeri aja meninggalkan sesuatu di belakang dengan ketidaktahuan.
Ngeri aja meninggalkan sesuatu di belakang dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, tapi nggak pernah terjadi karena nggak tahu.
Semakin dekat aku akan segera meninggalkan, bawaannya pengen nangis mulu.
Bahkan malam-malam terakhir ini penuh mimpi yang penuh penyesalan.
Aku nggak tahu!
Masa iya aku yang harus mencari tahu?
Nggak bisakah aku yang diberitahu?
Tolong, plis, udah hampir mencapai limit.
Intinya, aku butuh tahu!
Udah, gitu aja.
Asal yang kumaksud tahu, sejujurnya aku pengen nangis di bahumu.
Trims.
Segini aja curhatnya.
Ini pun udah penuh airmata.
P.S : I always remember when you played 'A thousand years' beautifully :"
Tapi kalo nggak ngomong makin parah nggak enaknya.
Aduh, keputusan berat ketika aku putuskan nge-post yang satu ini.
Gimana ya?
Nggak tahu mulainya darimana.
Yang jelas, ada yang nggak pada tempatnya di sini.
Mau nangis aja gitu entah kenapa.
Sejujurnya merasa berdosa.
Tapi entah kepada siapa, dan atas apa.
Absurd ya?
Iya, soalnya aku masih nggak ngerti gimana caranya cerita.
Karena aku nggak tahu juga ini bener apa salah di pihak lawan.
Aku pengen tahu!
Udah, itu aja intinya.
Lalu kalau udah tahu gimana?
Aku nggak tahu!
Aku takut.
Ngeri.
Rasanya aku udah kayak pistol yang penuh selongsong peluru.
Tapi nggak akan terjadi apa-apa kan kalau pelatuknya nggak ditarik?
Nah, aku butuh penarik pelatuk itu!
Siapa yang tahu kalau nggak dicoba.
Ngeri aja meninggalkan sesuatu di belakang dengan ketidaktahuan.
Ngeri aja meninggalkan sesuatu di belakang dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, tapi nggak pernah terjadi karena nggak tahu.
Semakin dekat aku akan segera meninggalkan, bawaannya pengen nangis mulu.
Bahkan malam-malam terakhir ini penuh mimpi yang penuh penyesalan.
Aku nggak tahu!
Masa iya aku yang harus mencari tahu?
Nggak bisakah aku yang diberitahu?
Tolong, plis, udah hampir mencapai limit.
Intinya, aku butuh tahu!
Udah, gitu aja.
Asal yang kumaksud tahu, sejujurnya aku pengen nangis di bahumu.
Trims.
Segini aja curhatnya.
Ini pun udah penuh airmata.
P.S : I always remember when you played 'A thousand years' beautifully :"
Mars SMA 3 :)
Kami ini Satria Ganesha.
Siap abdi nusa, bangsa, negara.
Pegang teguh Dasa Prasetya Ganesha Muda
Tuk meraih cita-cita.
Tempat b'lajar dan menuntut ilmu.
Tuk menjadi seorang satria.
Inilah SMA kebanggaan kami,
SMA Negeri 3 Semarang.
Junjung tinggi budaya bangsa,
serta cinta pada sesama.
Berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45
Kami ini Satria Ganesha.
Siap abdi nusa, bangsa, negara.
Pengabdian tulus, jujur, dan wibawa
bagi jaya Indonesia.
SMA 3 SLALU BERJAYA!
Siap abdi nusa, bangsa, negara.
Pegang teguh Dasa Prasetya Ganesha Muda
Tuk meraih cita-cita.
Tempat b'lajar dan menuntut ilmu.
Tuk menjadi seorang satria.
Inilah SMA kebanggaan kami,
SMA Negeri 3 Semarang.
Junjung tinggi budaya bangsa,
serta cinta pada sesama.
Berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45
Kami ini Satria Ganesha.
Siap abdi nusa, bangsa, negara.
Pengabdian tulus, jujur, dan wibawa
bagi jaya Indonesia.
SMA 3 SLALU BERJAYA!
Pamit
Hai. (aneh rasanya memulai suatu curhatan/tulisan/obrolan tanpa nyapa duluan)
Aku bukan lagi murid SMA.
Secara de jure sih masih, tapi faktanya aku nggak lagi berkeliaran di sekolah,
nggak lagi belajar di sekolah, nggak lagi pake putih-abu-abu.
Hiks.
Aneh ya?
Dulu banyak-banyak doa buruan lulus, buruan mengakhiri "kebiadaban" ini.
Begitu udah selesai, haha, aduduh rasanya.
Tiga tahun itu nggak lama, tapi juga nggak sebentar.
Walaupun sejujurnya aku nggak terlalu inget apa-apa aja yang udah aku kerjain di tiga tahun itu, hihi.
Yang jelas, tiga tahunku pastilah berkesan.
Kalau nggak, mana mungkin meninggalkan "sesuatu" ketika aku mengakhirinya.
Yah cuma mau bilang,
Makasih buat temen-temen yang udah berjuang bersama melewati "hari-hari maut"
Makasih buat saudara-saudara yang udah selalu ada buat cerita, buat saling menguatkan, buat keberanian dan kebersamaan menantang dunia, buat rasa percayanya, buat air matanya, buat harunya, buat senengnya, buat seeegaaaalaaanya.
Makasih buat guru-guru, karyawan, semuanya, yang udah pada baik banget berbagi ilmu, pengalaman, pelayanannya.
Yah, makasih lah buat semuanya.
Maaf juga kalau aku meninggalkan kesan yang nggak enak selama SMA.
Maklum ya kalau labil maksimal. Maklumlah, aku masih abege.
Kekekek.
Udah deh pamitnya.
Doain lulus UN dgn nilai yang baik. Kuliah di tempat yang diinginkan dan digratiskan.
Amin.
Sukses buat semuanyaaa :*
Aku bukan lagi murid SMA.
Secara de jure sih masih, tapi faktanya aku nggak lagi berkeliaran di sekolah,
nggak lagi belajar di sekolah, nggak lagi pake putih-abu-abu.
Hiks.
Aneh ya?
Dulu banyak-banyak doa buruan lulus, buruan mengakhiri "kebiadaban" ini.
Begitu udah selesai, haha, aduduh rasanya.
Tiga tahun itu nggak lama, tapi juga nggak sebentar.
Walaupun sejujurnya aku nggak terlalu inget apa-apa aja yang udah aku kerjain di tiga tahun itu, hihi.
Yang jelas, tiga tahunku pastilah berkesan.
Kalau nggak, mana mungkin meninggalkan "sesuatu" ketika aku mengakhirinya.
Yah cuma mau bilang,
Makasih buat temen-temen yang udah berjuang bersama melewati "hari-hari maut"
Makasih buat saudara-saudara yang udah selalu ada buat cerita, buat saling menguatkan, buat keberanian dan kebersamaan menantang dunia, buat rasa percayanya, buat air matanya, buat harunya, buat senengnya, buat seeegaaaalaaanya.
Makasih buat guru-guru, karyawan, semuanya, yang udah pada baik banget berbagi ilmu, pengalaman, pelayanannya.
Yah, makasih lah buat semuanya.
Maaf juga kalau aku meninggalkan kesan yang nggak enak selama SMA.
Maklum ya kalau labil maksimal. Maklumlah, aku masih abege.
Kekekek.
Udah deh pamitnya.
Doain lulus UN dgn nilai yang baik. Kuliah di tempat yang diinginkan dan digratiskan.
Amin.
Sukses buat semuanyaaa :*
Jumat, 22 Maret 2013
Pelecehan Seksual terhadap Anak
Hei, ini topik agak berat nih,
jadi sekarang aku pengen cerita tentang pelecehan seksual terhadap anak.
Maaf ya kalau agak gimana gitu, tapi ini bukan hal yang tabu untuk diungkap.
Aku nggak buta, aku udah gede, dan aku udah cukup umur deh buat ngomong beginian.
Jujur aja aku sendiri risi dengan maraknya kasus ini, makanya aku pengen setidaknya aku berbagi cerita
Siapa tahu bisa ikut membuat kalian ngerti dampak buruk kasus ini terhadap perkembangan anak.
Nah, sebelumnya aku jelasin dulu apa itu pelecehan seksual terhadap anak.
Menurut wikipedia, pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan kepada anak dengan cara menjadikan anak sebagai objek rangsangan seksual.
Bentuk-bentuk pelecehan seksual terhadap anak misalnya menekan anak untuk melakukan aktivitas seksual, menampilkan pornografi di depan anak, melakukan hubungan seksual dengan anak atau menjadikan anak sebagai subjek pornografi.
Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apa dampaknya untuk perkembangan anak di masa mendatang?
Pertanyaan yang pertama.
Sebagian besar pelaku kasus ini adalah orang yang dekat atau dikenal oleh anak.
Sekitar 30% adalah keluarga dari si anak, paling sering adalah saudara laki-laki, ayah, paman, atau sepupu; sekitar 60% adalah kenalan lainnya seperti 'teman' dari keluarga, pengasuh, atau tetangga, orang asing adalah pelanggar sekitar 10% dalam kasus penyalahgunaan seksual anak
Itu menjadi salah satu sebab mengapa kasus ini lebih "hening" dan terkesan ditutupi dari publik.
Ya iyalah, siapa sih yang mau aib keluarga diangkat ke publik?
Faktor orang dekat ini juga yang menyebabkan anak patuh saja dengan kemauan pelaku, di samping karena belum mengertinya anak mengenai masalah seksual dan apa yang pelaku lakukan terhadapnya.
Anak adalah objek yang mudah untuk mematuhi keinginan pelaku.
Karena anak sejatinya polos, lugu, belum dapat membela diri sendiri, dan mudah dipengaruhi iming-iming hadiah.
Kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak biasanya terbongkar setelah terjadi beberapa kali,
itupun setelah orangtua anak menyadari keganjilan yang tampak pada anak mereka.
Jarang sekali kasus yang terbongkar atas inisiatif anak sendiri.
Ya itu tadi, si anak tidak mengerti apa yang sudah terjadi dan tidak mengerti apa yang sudah pelaku perbuat terhadapnya.
Selain itu, setelah melakukan tindakan pelecehan, pelaku biasanya memberikan ancaman kepada si anak atau malah memberi hadiah agar anak mau tutup mulut.
Kondisi ini semakin parah jika pelakunya adalah orang yang dekat dan dikenal anak.
Kemungkinan kasus ini terjadi berulang kali semakin terbuka.
Tidak selamanya kasus ini terjadi pada anak dengan latar belakang lingkungan yang buruk.
Kasus ini dapat terjadi di manapun, kapanpun, terhadap siapapun.
Dulu, ketika saya berusia 8 tahun, saya sudah dilatih untuk pulang sendiri naik angkot.
Latar belakang keluarga saya baik, saya bersekolah di tempat yang baik, lingkungan keluarga saya juga baik.
Akan tetapi, bermula dari pulang sendiri tadi,
kebetulan saya menaiki angkot yang sepi, dan tidak ada kernet.
Saya duduk di sebelah kakek-kakek.
Sepanjang perjalanan, si kakek terus saja memegang paha saya dan mengelusnya.
Tentu saja saya takut, ngeri.
Tapi mau bagaimana? Saya tidak mungkin turun di tengah jalan.
Kasus kedua,
saya menunggu jemputan bapak di depan perumahan saya.
Kebetulan di sana ada banyak tukang becak.
Nah, raba-raba paha pun terjadi lagi. Sekarang ditambah colek-colek pipi dan dagu.
Saya lebih ngeri lagi. Mau teriak takut, ngelawan nggak bisa, mau lapor bapak juga nggak enak dan takut malah menimbulkan masalah dengan si abang becak.
Setelah sepuluh tahun, kejadian-kejadian itu masih jelas membekas dalam ingatan saya.
Coba bayangkan dampak apa yang ditimbulkan pada korban perlakuan yang lebih parah!
Menjawab pertanyaan kedua,
selain dampak trauma seperti yang udah aku sebut tadi, dampak psikologis lainnya misalnya perubahan perangai si anak.
Anak menjadi tertutup, malu. Bisa jadi anak berubah kasar, pemarah, akibat perlakuan yang diterimanya.
Dampak lainnya adalah depresi, kegelisahan, gangguan identitas diri, perubahan perilaku seksual, masalah sekolah/belajar; dan masalah perilaku termasuk penyalahgunaan narkoba, perilaku menyakiti diri sendiri, kekejaman terhadap hewan, kriminalitas ketika dewasa dan bunuh diri.
Selain dampak psikologis, dampak fisik yang mungkin terjadi antara lain cedera, infeksi, tertular penyakit menular seksual, kerusakan neurologis dsb.
Pencegahan kasus ini sangat diperlukan mengingat angkanya terus saja meningkat.
Orangtua sebaiknya lebih mengawasi pergaulan si anak dengan lingkungannya, jangan membiarkan anak sendirian dalam waktu yang lama dan tanpa pengawasan.
Bangun kedekatan dengan anak, sehingga anak mau bercerita apa-apa saja yang terjadi padanya kepada orangtua.
Beri pengetahuan yang sewajarnya mengenai perilaku pelecehan, beri pengertian yang mendidik untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan.
Tanamkan juga keberanian untuk melawan seandainya dia menjadi korban, tanamkan nilai-nilai religi dan keimanan anak.
Jangan mencemooh anak, berikan dukungan kepada anak yang telah menjadi korban untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan dan bergaul dengan normal, jangan tekan anak sehingga anak merasa rendah diri, jangan mengingat-ingat lagi peristiwa yang menyebabkan trauma anak di depan si anak.
Yah, kasus begini emang sulit dihentikan, sulit dicegah juga karena faktor-faktor tadi.
Setidaknya, kita berusaha mengurangi kemungkinan terjadi pada anak-anak yang dekat dengan kita.
Tumbuh kembang anak sebenarnya sudah dijamin dan dilindungi negara (UUD 45 Pasal 28B), meski realitanya masih jauh dari yang kita inginkan.
Tanggungjawab ada pada kita sendiri, tidak bisa hanya mengandalkan tindak represif negara.
Semangat! Bersama-sama kita perangi kasus pelecehan dan kejahatan lainnya terhadap anak!!
jadi sekarang aku pengen cerita tentang pelecehan seksual terhadap anak.
Maaf ya kalau agak gimana gitu, tapi ini bukan hal yang tabu untuk diungkap.
Aku nggak buta, aku udah gede, dan aku udah cukup umur deh buat ngomong beginian.
Jujur aja aku sendiri risi dengan maraknya kasus ini, makanya aku pengen setidaknya aku berbagi cerita
Siapa tahu bisa ikut membuat kalian ngerti dampak buruk kasus ini terhadap perkembangan anak.
Nah, sebelumnya aku jelasin dulu apa itu pelecehan seksual terhadap anak.
Menurut wikipedia, pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan kepada anak dengan cara menjadikan anak sebagai objek rangsangan seksual.
Bentuk-bentuk pelecehan seksual terhadap anak misalnya menekan anak untuk melakukan aktivitas seksual, menampilkan pornografi di depan anak, melakukan hubungan seksual dengan anak atau menjadikan anak sebagai subjek pornografi.
Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apa dampaknya untuk perkembangan anak di masa mendatang?
Pertanyaan yang pertama.
Sebagian besar pelaku kasus ini adalah orang yang dekat atau dikenal oleh anak.
Sekitar 30% adalah keluarga dari si anak, paling sering adalah saudara laki-laki, ayah, paman, atau sepupu; sekitar 60% adalah kenalan lainnya seperti 'teman' dari keluarga, pengasuh, atau tetangga, orang asing adalah pelanggar sekitar 10% dalam kasus penyalahgunaan seksual anak
Itu menjadi salah satu sebab mengapa kasus ini lebih "hening" dan terkesan ditutupi dari publik.
Ya iyalah, siapa sih yang mau aib keluarga diangkat ke publik?
Faktor orang dekat ini juga yang menyebabkan anak patuh saja dengan kemauan pelaku, di samping karena belum mengertinya anak mengenai masalah seksual dan apa yang pelaku lakukan terhadapnya.
Anak adalah objek yang mudah untuk mematuhi keinginan pelaku.
Karena anak sejatinya polos, lugu, belum dapat membela diri sendiri, dan mudah dipengaruhi iming-iming hadiah.
Kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak biasanya terbongkar setelah terjadi beberapa kali,
itupun setelah orangtua anak menyadari keganjilan yang tampak pada anak mereka.
Jarang sekali kasus yang terbongkar atas inisiatif anak sendiri.
Ya itu tadi, si anak tidak mengerti apa yang sudah terjadi dan tidak mengerti apa yang sudah pelaku perbuat terhadapnya.
Selain itu, setelah melakukan tindakan pelecehan, pelaku biasanya memberikan ancaman kepada si anak atau malah memberi hadiah agar anak mau tutup mulut.
Kondisi ini semakin parah jika pelakunya adalah orang yang dekat dan dikenal anak.
Kemungkinan kasus ini terjadi berulang kali semakin terbuka.
Tidak selamanya kasus ini terjadi pada anak dengan latar belakang lingkungan yang buruk.
Kasus ini dapat terjadi di manapun, kapanpun, terhadap siapapun.
Dulu, ketika saya berusia 8 tahun, saya sudah dilatih untuk pulang sendiri naik angkot.
Latar belakang keluarga saya baik, saya bersekolah di tempat yang baik, lingkungan keluarga saya juga baik.
Akan tetapi, bermula dari pulang sendiri tadi,
kebetulan saya menaiki angkot yang sepi, dan tidak ada kernet.
Saya duduk di sebelah kakek-kakek.
Sepanjang perjalanan, si kakek terus saja memegang paha saya dan mengelusnya.
Tentu saja saya takut, ngeri.
Tapi mau bagaimana? Saya tidak mungkin turun di tengah jalan.
Kasus kedua,
saya menunggu jemputan bapak di depan perumahan saya.
Kebetulan di sana ada banyak tukang becak.
Nah, raba-raba paha pun terjadi lagi. Sekarang ditambah colek-colek pipi dan dagu.
Saya lebih ngeri lagi. Mau teriak takut, ngelawan nggak bisa, mau lapor bapak juga nggak enak dan takut malah menimbulkan masalah dengan si abang becak.
Setelah sepuluh tahun, kejadian-kejadian itu masih jelas membekas dalam ingatan saya.
Coba bayangkan dampak apa yang ditimbulkan pada korban perlakuan yang lebih parah!
Menjawab pertanyaan kedua,
selain dampak trauma seperti yang udah aku sebut tadi, dampak psikologis lainnya misalnya perubahan perangai si anak.
Anak menjadi tertutup, malu. Bisa jadi anak berubah kasar, pemarah, akibat perlakuan yang diterimanya.
Dampak lainnya adalah depresi, kegelisahan, gangguan identitas diri, perubahan perilaku seksual, masalah sekolah/belajar; dan masalah perilaku termasuk penyalahgunaan narkoba, perilaku menyakiti diri sendiri, kekejaman terhadap hewan, kriminalitas ketika dewasa dan bunuh diri.
Selain dampak psikologis, dampak fisik yang mungkin terjadi antara lain cedera, infeksi, tertular penyakit menular seksual, kerusakan neurologis dsb.
Pencegahan kasus ini sangat diperlukan mengingat angkanya terus saja meningkat.
Orangtua sebaiknya lebih mengawasi pergaulan si anak dengan lingkungannya, jangan membiarkan anak sendirian dalam waktu yang lama dan tanpa pengawasan.
Bangun kedekatan dengan anak, sehingga anak mau bercerita apa-apa saja yang terjadi padanya kepada orangtua.
Beri pengetahuan yang sewajarnya mengenai perilaku pelecehan, beri pengertian yang mendidik untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan.
Tanamkan juga keberanian untuk melawan seandainya dia menjadi korban, tanamkan nilai-nilai religi dan keimanan anak.
Jangan mencemooh anak, berikan dukungan kepada anak yang telah menjadi korban untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan dan bergaul dengan normal, jangan tekan anak sehingga anak merasa rendah diri, jangan mengingat-ingat lagi peristiwa yang menyebabkan trauma anak di depan si anak.
Yah, kasus begini emang sulit dihentikan, sulit dicegah juga karena faktor-faktor tadi.
Setidaknya, kita berusaha mengurangi kemungkinan terjadi pada anak-anak yang dekat dengan kita.
Tumbuh kembang anak sebenarnya sudah dijamin dan dilindungi negara (UUD 45 Pasal 28B), meski realitanya masih jauh dari yang kita inginkan.
Tanggungjawab ada pada kita sendiri, tidak bisa hanya mengandalkan tindak represif negara.
Semangat! Bersama-sama kita perangi kasus pelecehan dan kejahatan lainnya terhadap anak!!
Langganan:
Postingan (Atom)




