Mentari dengan megah bertahta di langit barat, bundar sempurna dengan semburat lembayung.
Sayup-sayup terdengar bacaan Al-Qur'an berkumandang.
Aih, ramadhan selalu indah.
"Capek hari ini?"
Ananta hanya mengangguk.
Kekasihku, yang beberapa hari lalu memberanikan diri menghadap orangtuaku untuk melamarku.
Aku tersenyum.
Ananta, seorang dokter muda.
Tinggi, putih, dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya.
Sahabat-sahabatku berkata, inilah laki-laki yang diimpikan semua perempuan untuk menjadi imamnya.
Aku hanya tersipu-sipu mendengar pujian mereka terhadap Ananta.
Ananta sendiri tidak pernah ambil pusing dengan pujian-pujian itu.
Tujuh tahun lebih aku mengenal laki-laki semampai ini.
Perkenalan biasa, kakak kelas di sekolah menengah atas yang menjadi idola semua siswa perempuan.
Yah dengan modal wajah manis, pintar, ditambah dengan penampilan sporty, Ananta sukses menyita perhatian anak-anak perempuan yang baru menginjak remaja.
"Cepatlah jadi dokter, Ranti, masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita," ujarnya tiba-tiba. Aku memandangnya terheran-heran.
"Kenyataan di lapangan tidak seindah teori di kampus, Ranti. Dengan mudah kita akan menjawab diare dapat ditangani dengan konsumsi oralit. Tapi faktanya Ranti, banyak bayi mati akibat diare hanya karena ibunya tidak memiliki pengetahuan memadai tentang ini semua," sambungnya.
Aku tersenyum mafhum.
Keterkejutan seorang dokter muda yang baru saja diterjunkan ke lapangan bukanlah hal yang baru.
"Tidak diberi penyuluhan, sayang?"
"Jangankan penyuluhan, dokter di Puskesmas saja sering datang sesuka hati. Jam 8 baru datang, jam 10 sudah pulang,". Kubantu ia melepas jas putihnya. "Tolong ingatkan aku jika kelak aku mulai kehilangan idealisme dan kemanusiaan. Jangan sampai aku bertindak sesuka hati begitu," sambungnya.
"Mandilah dulu sayang, biar sedikit segar. Mau mencari takjil sore ini?"
Ananta mengangguk. Kucium puncak kepalanya, barulah ia bangkit ke kamar mandi.
Kontrakanku sepi sore ini. Santi dan Liza belum pulang dari kampus. Mungkin mereka sekalian mencari makanan untuk berbuka puasa.
****
Kawasan lembah UGM ramai dipadati penjual makanan dan minuman untuk berbuka.
Ananta memarkirkan mobil di kantong parkir, lalu kami berjalan kaki.
"Mungkin ini menjadi ramadhan terakhir yang kita habiskan di sini Ranti,"
Aku terkesiap. Apa maksudnya?
"Aku ingin ramadhan tahun depan kuhabiskan bersamamu di rumah kita. Betapa menyenangkan membantumu menyiapkan berbagai makanan untuk berbuka," sambung Ananta.
Kucubit hidungnya gemas.
"Doakan blok terakhir lancar, sayang,"
"Insyaallah," sahut Ananta.
Kami duduk di pinggir sungai seberang masjid kampus.
Di tanganku sudah ada dua gelas es buah dan dua kebab kesukaan Ananta.
Maghrib sebentar lagi.
Kusandarkan kepalaku ke bahu Ananta.
Selamanya aku tidak mau kehilangan dia.
****
