Senin, 22 Juni 2015

Ramadhan Terakhir #1

Langit sore ini istimewa.
Mentari dengan megah bertahta di langit barat, bundar sempurna dengan semburat lembayung.

Sayup-sayup terdengar bacaan Al-Qur'an berkumandang.
Aih, ramadhan selalu indah.

"Capek hari ini?"
Ananta hanya mengangguk.
Kekasihku, yang beberapa hari lalu memberanikan diri menghadap orangtuaku untuk melamarku.
Aku tersenyum.

Ananta, seorang dokter muda.
Tinggi, putih, dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya.
Sahabat-sahabatku berkata, inilah laki-laki yang diimpikan semua perempuan untuk menjadi imamnya.
Aku hanya tersipu-sipu mendengar pujian mereka terhadap Ananta.
Ananta sendiri tidak pernah ambil pusing dengan pujian-pujian itu.

Tujuh tahun lebih aku mengenal laki-laki semampai ini.
Perkenalan biasa, kakak kelas di sekolah menengah atas yang menjadi idola semua siswa perempuan.
Yah dengan modal wajah manis, pintar, ditambah dengan penampilan sporty, Ananta sukses menyita perhatian anak-anak perempuan yang baru menginjak remaja.

"Cepatlah jadi dokter, Ranti, masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita," ujarnya tiba-tiba. Aku memandangnya terheran-heran.
"Kenyataan di lapangan tidak seindah teori di kampus, Ranti. Dengan mudah kita akan menjawab diare dapat ditangani dengan konsumsi oralit. Tapi faktanya Ranti, banyak bayi mati akibat diare hanya karena ibunya tidak memiliki pengetahuan memadai tentang ini semua," sambungnya.
Aku tersenyum mafhum.
Keterkejutan seorang dokter muda yang baru saja diterjunkan ke lapangan bukanlah hal yang baru.

"Tidak diberi penyuluhan, sayang?"
"Jangankan penyuluhan, dokter di Puskesmas saja sering datang sesuka hati. Jam 8 baru datang, jam 10 sudah pulang,". Kubantu ia melepas jas putihnya. "Tolong ingatkan aku jika kelak aku mulai kehilangan idealisme dan kemanusiaan. Jangan sampai aku bertindak sesuka hati begitu," sambungnya.

"Mandilah dulu sayang, biar sedikit segar. Mau mencari takjil sore ini?"
Ananta mengangguk. Kucium puncak kepalanya, barulah ia bangkit ke kamar mandi.
Kontrakanku sepi sore ini. Santi dan Liza belum pulang dari kampus. Mungkin mereka sekalian mencari makanan untuk berbuka puasa.

****

Kawasan lembah UGM ramai dipadati penjual makanan dan minuman untuk berbuka.
Ananta memarkirkan mobil di kantong parkir, lalu kami berjalan kaki.
"Mungkin ini menjadi ramadhan terakhir yang kita habiskan di sini Ranti,"
Aku terkesiap. Apa maksudnya?
"Aku ingin ramadhan tahun depan kuhabiskan bersamamu di rumah kita. Betapa menyenangkan membantumu menyiapkan berbagai makanan untuk berbuka," sambung Ananta.
Kucubit hidungnya gemas.
"Doakan blok terakhir lancar, sayang,"
"Insyaallah," sahut Ananta.

Kami duduk di pinggir sungai seberang masjid kampus.
Di tanganku sudah ada dua gelas es buah dan dua kebab kesukaan Ananta.
Maghrib sebentar lagi.
Kusandarkan kepalaku ke bahu Ananta.
Selamanya aku tidak mau kehilangan dia.

****

Jumat, 05 Juni 2015

Intelligence : An Opinion

Huft.
Yesterday is one of the most strangest day in my life.

Pertama kali aku ngakak nonton film bertema intelijen.
Emang lagi hits kali ya sekarang film tentang mata-mata, telik sandi, or whatever it's name dijadiin bercandaan.
Agak kelewatan kadang rasanya.
Walaupun aku nggak hidup dalam lingkup sesandian atau mata-mata, nggak kenal, apalagi kontak sama hal-hal begituan, tetep aja rasanya nggak etis menertawakan apa yang mereka lakukan sekonyol apa pun.

Btw, aku pribadi nggak percaya ada intel yang bodoh.
Helooow, mana ada orang bodoh dipercaya menjaga rahasia negara?
Kalau agen CIA, FBI segila yang diceritain di film, mana mungkin Amrik bisa dengan sukses menyusup dan mencampuri urusan rumah tangga negara lain?
Intelijen jelas harus punya kendali dan kuasa yang baik atas dirinya dan lingkungan di sekitarnya.
Intelijen adalah mata telinga pertama negara atau suatu pihak, sumber terpercaya.
Jadi sudah sejak awal aku nggak sepakat sama film yang menceritakan kekonyolan intelijen.

Yang kedua,
Aku masih inget wejangan ala militer dari Ibuk.
"Kalau kamu seorang prajurit, pilihanmu hanya menyerang atau kamu sendiri yang mati diserang,"
Aku amati lagi emang begitu keadaannya.
Intelijen juga prajurit, terlepas mereka bekerja untuk siapa.
Tanggungan mereka lebih berat, pilihan mereka lebih terbatas.
"Kalau kamu ketahuan musuh, kamu mati dibunuh musuh, atau mati di tangan komandanmu sendiri"
Yep. Nyawa mereka bergantung pada kemampuan mereka tetap tersembunyi.
Itu yang kubaca dari sekian banyak buku thriller dan berbau mata-mata.

Yang ketiga,
Mereka pasti punya perang batin.
Dari yang aku baca, seringkali apa yang mereka inginkan berbeda dengan perintah yang mereka dapatkan.
Sometimes they know "That's wrong!" tapi mereka tidak akan mungkin melawan perintah kalau nggak pengen mati.
Menghadapi konflik batin seperti itu nggak gampang (kayaknya).
Masih pantaskah pekerjaan mereka dijadikan lelucon?

Yang keempat,
Mereka mungkin punya keluarga. Dan mereka harus meninggalkan, minimal menyembunyikan keberadaannya dari keluarganya kalau nggak mau keluarganya celaka.
See?
Bayangin lah mereka hidup kayak apa,
kangen bapak, ibuk, kakak, adik, anak, istri, tapi nggak bisa dekat sama mereka.
Kayak begini masih dijadiin bercandaan ya?
Bisa gitu malah ada film yang ceritanya intelijennya ganteng, sampai tiap episode punya minimal satu simpanan seksi :"

Oke itu sangat subjektif dan belum tentu benar karena opini ini berkembang hanya dari beberapa buku dan film, bukan dari kenyataan.
Aku nggak tahu kehidupan intelijen itu kayak apa, pendidikan mereka gimana.
Tapi at least, dari membaca dan nonton film aku jadi bersimpati sama mereka.
Dengan pilihan dan kelonggaran hidup yang sangat terbatas dan risiko yang tidak terbatas, mereka tetap mau menjalankan perintah dan menyelesaikan misi mereka apapun risikonya.
Terlepas untuk siapa mereka bekerja, mau sekonyol apapun mereka ditokohkan, aku tetap akan bilang mereka superhero :)