Sudah pernahkah aku cerita kalo aku cintaaaaaa banget sama film yang judulnya "Pearl Harbor"?
Kayaknya belum sih,
yaudah sini aku ceritain! :))
Jadi, suatu ketika aku kelas 5 SD kalo nggak salah, aku dapet materi tentang PD II.
Nah, suatu hari di tahun yang sama, ada iklan film yang sinopsisnya nyangkut-nyangkut ke urusan PD II.
Berhubung aku suka sama materi itu, dan yang namanya baru dapet ilmu baru, aku penasaran lah, jelas.
Aku berjanji bakalan nonton tuh film.
Hari pemutaran film itu di TV akhirnya dateng juga.
Judulnya Pearl Harbor ternyata.
Yaudah, aku pantengin.
Wiiiihhh, jatuh hati bangetngetngetnget sama tuh film.
Cerita filmnya berkisah tentang seorang perawat cantik dan baik dan dua pilot terbaik Amerika dengan setting tahun 1941 di Pearl Harbor, Hawaii.
Dua orang pilot ini emang udah sobatan sejak kecil, sampe udah kayak sodara sendiri.
Mereka berdua daftar jadi pilot Angkatan Darat AS.
Pilot 1, Danny, lolos.
Pilot 2, Rafe, terkendala buta aksara.
Nah, dari sinilah kisah unyu dimulai.
Evelyn, perawat penjaga pos tes kesehatan mata (membaca) awalnya nggak mau nge-lolosin Rafe.
Tapi Rafe ngemis-ngemis sama Evelyn dan bilang "Yang dibutuhin seorang pilot bukan cuma kemampuan baca, plis lolosin aku, aku pilot terbaik di Amerika,"
Singkat cerita, Rafe lolos.
Evelyn-Rafe saling jatuh cinta
Di Eropa, suasana perang lebih kentara, terutama antara Nazi-Inggris.
Oleh karena itu, Inggris minta bantuan Amerika buat ngirim prajurit-prajurit terbaiknya.
Rafe termasuk salah satunya.
Evelyn sedih, jelas. Tapi dia juga bagian militer yang ngerti apa maknanya tugas, perintah.
Berat hati mereka berdua berpisah.
Rafe nitipin Evelyn ke Danny karena udah saling percaya.
Hari-hari saat Rafe pergi, dia dan Evelyn selalu bertukar kabar.
Sampai suatu ketika pesawat Rafe tertembak musuh.
Rafe dikabarkan meninggal.
Evelyn-Danny sama-sama hancur, kehilangan Rafe.
Tapi justru dari situ mereka mulai deket.
Singkatnya, mereka menjalin hubungan.
Di sisi lain, Amerika secara sepihak menghentikan ekspor BBM ke Jepang.
Kontan hal ini menimbulkan kemarahan Jepang.
Mereka mulai menyusun rencana untuk menyerang Pusat Latihan Militer AS di Pearl Harbor secara diam-diam ketika dua negara masih berunding.
Di saat genting begitu, Rafe tiba-tiba nongol di depan asrama perawat.
Evelyn nyaris mati berdiri.
Bukannya seneng Rafe kembali, Evelyn justru merasa bersalah setengah mati.
Pasalnya, dia sedang mengandung anak Danny, dan tidak diketahui Danny.
Jelas, Rafe benci Danny, Danny merasa berdosa sama Rafe.
Sobatan mereka hancur.
Desember 1941
Tanpa babibu Jepang menyerang Pearl Harbor pagi-pagi buta.
Kekalahan di pihak Amerika.
Yang paling tragis adalah tenggelamnya Kapal Arizona, kebanggaan AS.
Amerika segera menyusun serangan balasan.
Prajurit-prajurit terbaik dilatih untuk misi balas dendam.
Rafe dan Danny termasuk di dalamnya.
April 1942
Amerika menyerang Tokyo tanpa perbekalan yang memadai karena adanya serangan mendadak di pangkalan laut AS.
Serangan ini cukup mengejutkan Jepang.
Tapi, akibat kehabisan bahan bakar, prajurit AS tidak bisa kembali.
Mereka akhirnya berhadapan langsung dengan tentara Jepang.
Dalam kondisi payah, Rafe dan Danny juga berjuang.
Mereka kembali saling melindungi.
Naas, Danny tertembak ketika berusaha melindungi Rafe.
R : "Danny, ayo bertahan, kamu pasti kuat"
D : "Aku kedinginan Rafe,"
R : "Jangan.. Ayo bertahan, kamu bakal jadi seorang ayah Danny,"
D : "Bukan aku.. kamu.."
Danny menghembuskan nafas terakhir di pelukan Rafe.
Rafe pulang dengan membawa peti mati Danny.
Evelyn kontan histeris. Dia sudah menguatkan hati untuk memilih Danny, sekarang dia kembali kehilangan orang yang dia cintai.
Akhir cerita ditutup dengan Evelyn dan Rafe yang hidup bahagia dengan Danny Jr yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.
P.S : Sejak saat itu, aku meneguhkan hati jadi tim medis tentara kayak Evelyn :)
Senin, 28 Januari 2013
Wishes
Maaf tidak sopan saya mengetuk pintuMu malam-malam.
Tapi bukankah Engkau tak pernah tidur, Tuhan?
Tapi bukankah Engkau selalu terjaga, tahu, dan mendengar Tuhan?
Sekali ini, mohon dengarkan saya..
Terima kasih, untuk segala kebaikan yang sudah Engkau limpahkan selama 17 tahun hidup saya.
Terima kasih, untuk segala kesusahan yang sudah Engkau susun untuk saya.
Terima kasih, untuk segala rintangan, uji, dan coba yang sudah Engkau anyam untuk saya.
Terima kasih, untuk segala bantuan, kemudahan, kelancaran yang kadang tak terduga.
Terima kasih, untuk segala doa dan pinta yang Engkau dengar dan terima.
Sekali ini, mohon dengarkan saya..
Sekali ini saya minta,
Selalu tundukkan kepala saya, hati saya, nurani saya, pikiran saya.
Selalu rapatkan mulut saya, pikiran saya, hati saya untuk keburukan.
Selalu katupkan tangan saya, kaki saya untuk ketidakbaikan.
Sekali ini saya minta,
Selalu ingatkan saya, tegur saya, nasihati saya ketika saya salah arah.
Selalu beri saya, pikiran saya, nurani saya lentera untuk melangkah mendekati kebaikan.
Selalu gandeng tangan saya, tuntun saya, tunjukkan saya ketika saya buta dan dibutakan.
Sekali ini saya minta,
Jangan siapkan saya hanya untuk selalu berbahagia
Jangan siapkan saya hanya untuk selalu meminta
Jangan siapkan saya hanya untuk selalu dimanja
Sekali ini saya minta,
Jangan jadikan saya lupa asal usul saya apapun yang terjadi
Jangan jadikan saya lupa siapa yang Engkau beri amanah membesarkan saya
Jangan jadikan saya lupa siapa yang menuntun saya hingga sejauh ini
Jangan jadikan saya lupa siapa yang memberikan sedikit ilmunya untuk saya
Jangan jadikan saya lupa siapa yang menyokong saya sehingga bisa berdiri
Jangan jadikan saya lupa siapa yang pernah memberi bahagia untuk saya
Dan jangan jadikan saya lupa siapa saya, identitas saya, status saya
di hadapanMu, makhlukMu.
Sehingga saya juga siap menerima kesedihan
Sehingga saya juga siap memberikan
Sehingga saya juga siap berjuang
Sehingga saya tetap mencintai Negara saya
Sehingga saya tetap menghormati orangtua saya,
saudara saya, guru-guru saya, teman-teman saya, orang-orang terkasih dan mengasihi saya.
Sehingga saya akan menunduk malu untuk kesombongan saya.
Sehingga saya akan menyesali keburukan saya.
Sehingga saya berusaha menjauhi ketidakbaikan.
Sehingga saya mensyukuri dan ikhlas dengan apa yang sudah Engkau pilihkan untuk saya.
Maaf tidak sopan saya meminta panjang lebar.
Terima kasih sudah mendengarkan pinta saya.
Tidak akan pernah segan saya kembali mengetuk, karena memang sudah seharusnya saya membutuhkanMu
Tapi bukankah Engkau tak pernah tidur, Tuhan?
Tapi bukankah Engkau selalu terjaga, tahu, dan mendengar Tuhan?
Sekali ini, mohon dengarkan saya..
Terima kasih, untuk segala kebaikan yang sudah Engkau limpahkan selama 17 tahun hidup saya.
Terima kasih, untuk segala kesusahan yang sudah Engkau susun untuk saya.
Terima kasih, untuk segala rintangan, uji, dan coba yang sudah Engkau anyam untuk saya.
Terima kasih, untuk segala bantuan, kemudahan, kelancaran yang kadang tak terduga.
Terima kasih, untuk segala doa dan pinta yang Engkau dengar dan terima.
Sekali ini, mohon dengarkan saya..
Sekali ini saya minta,
Selalu tundukkan kepala saya, hati saya, nurani saya, pikiran saya.
Selalu rapatkan mulut saya, pikiran saya, hati saya untuk keburukan.
Selalu katupkan tangan saya, kaki saya untuk ketidakbaikan.
Sekali ini saya minta,
Selalu ingatkan saya, tegur saya, nasihati saya ketika saya salah arah.
Selalu beri saya, pikiran saya, nurani saya lentera untuk melangkah mendekati kebaikan.
Selalu gandeng tangan saya, tuntun saya, tunjukkan saya ketika saya buta dan dibutakan.
Sekali ini saya minta,
Jangan siapkan saya hanya untuk selalu berbahagia
Jangan siapkan saya hanya untuk selalu meminta
Jangan siapkan saya hanya untuk selalu dimanja
Sekali ini saya minta,
Jangan jadikan saya lupa asal usul saya apapun yang terjadi
Jangan jadikan saya lupa siapa yang Engkau beri amanah membesarkan saya
Jangan jadikan saya lupa siapa yang menuntun saya hingga sejauh ini
Jangan jadikan saya lupa siapa yang memberikan sedikit ilmunya untuk saya
Jangan jadikan saya lupa siapa yang menyokong saya sehingga bisa berdiri
Jangan jadikan saya lupa siapa yang pernah memberi bahagia untuk saya
Dan jangan jadikan saya lupa siapa saya, identitas saya, status saya
di hadapanMu, makhlukMu.
Sehingga saya juga siap menerima kesedihan
Sehingga saya juga siap memberikan
Sehingga saya juga siap berjuang
Sehingga saya tetap mencintai Negara saya
Sehingga saya tetap menghormati orangtua saya,
saudara saya, guru-guru saya, teman-teman saya, orang-orang terkasih dan mengasihi saya.
Sehingga saya akan menunduk malu untuk kesombongan saya.
Sehingga saya akan menyesali keburukan saya.
Sehingga saya berusaha menjauhi ketidakbaikan.
Sehingga saya mensyukuri dan ikhlas dengan apa yang sudah Engkau pilihkan untuk saya.
Maaf tidak sopan saya meminta panjang lebar.
Terima kasih sudah mendengarkan pinta saya.
Tidak akan pernah segan saya kembali mengetuk, karena memang sudah seharusnya saya membutuhkanMu
Langganan:
Postingan (Atom)
