Senin, 18 November 2013

Cerita Fina (Hujan)

Sabtu malam yang basah.
Diam-diam aku menertawakan derita muda mudi yang batal keluar untuk bercengkrama.
Sebaliknya denganku,
hujan justru membawa teduh yang luar biasa untukku.

"Aku juga suka hujan, Tania," ujar Fina ketika suatu saat kami duduk bersama di bangku taksi yang nyaman, menembus hujan yang tiba-tiba turun di siang bolong.
"Kenapa?"
"Oma pernah bercerita,
dahulu kala, hidup seorang Putri di negara antah berantah. Tetapi tidak seperti putri-putri lain di dalam dongeng, putri yang satu ini amat buruk rupa. Hal ini membuatnya malu bahkan untuk sekedar keluar dari kamarnya.Tentulah hal ini membuat Raja dan Ratu amat berduka,"
Fina mengambil nafas sejenak.
Hmm, kemacetan semakin parah.

"Sampai akhirnya sang putri berusia 17 tahun. Dia tetap tumbuh menjadi gadis pemurung dan tertutup. Akan tetapi, suatu hari, entah apa gerangan yang melangkahkan kakinya ke hutan di belakang Istana. Sang Putri menghirup udara di luar istana untuk pertama kalinya. Terkagum-kagum dia memandang sekeliling. Bunga-bunga mekar, suara burung ramai bersahutan. Gerangan apa yang membuat kecantikan semacam ini? Tanyanya dalam hati.
Namun, tak lama kemudian rintik hujan mulai turun,"

Aku mulai memperhatikan cerita Fina.
Lumayan juga untuk mengalihkan perhatian dari macet yang semakin menggila.
Warna-warni pelangi payung semakin ramai menjejali pinggir jalan.
Ah, tidak sadar aku menyentuh payung transparan miliknya yang kubawa ke mana-mana.
Sudah hampir setahun yang lalu.

"Begitu seterusnya. Setiap senja sang putri masuk ke hutan, kemudian bercengkrama dengan bebungaan hingga hujan turun. Ah, mengapa hujan selalu saja mengganggu cengkramaku? Tidakkah hujan tahu betapa senang aku akhirnya bisa menghirup udara bebas? Selalu begitu rutuknya setiap kali dia terpaksa pulang karena hujan,"

"Setengah revolusi bumi berlalu. Memasuki musim kemarau, hujan tak lagi mengganggu cengkerama sang putri di hutan. Tentu saja hal ini membuat sang putri senang.
Namun, kerajaan dilanda kemarau panjang. Kekeringan menyebabkan gagal panen di mana-mana, kematian akibat kelaparan meningkat, endemik penyakit meluas.
Raja dan Ratu kelimpungan. Sang Putri juga merasa hutan kecilnya berubah. Air sungainya yang jernih kini menyusut perlahan-lahan. Suara burung-burung kini mulai sepi. Daun-daun menguning dan rontok dengan lesu. Bebungaan, jangankan mekar, yang tersisa hanyalah kelopaknya yang kering dan kisut.

"Sang Putri tahu ada yang hilang. Apa yang salah berbulan-bulan ini? Sedekah bumi masih taat kami lakukan, sembahyang tak pernah kami tinggalkan, apa yang salah? Gumam Sang Putri yang sedang berpikir keras. Kemudian dia ingat apa yang tak lagi dia lakukan : merutuki hujan. Ya, dia tidak lagi merutuki hujan karena hujan sudah tiada. Ya, Hujan! Pekiknya.

Sang Putri perlahan memikirkan kembali semuanya. Dia merutuki hujan, padahal hujanlah yang membuat hutan kecilnya benderang. Dia mengusir hujan, padahal hujanlah yang membawa anugerah untuk negerinya. Maka sang putri memutuskan untuk berdamai dengan hujan. Dengan setia dia memanggil nama Hujan di tepi hutan kecilnya. Berharap hujan akan segera datang,"

"Kau tahu Tania, kadang kita sering acuh terhadap orang-orang yang selalu membantu kita dan menyayangi kita dengan diam-diam. Seringkali kita hanya melihat keburukan yang ditimbulkan, bukan kebaikan yang bahkan jauh lebih besar," ujar Fina. Aku mengangguk. Fina kembali melanjutkan cerita.

"Tubuh Sang Putri mulai melemah saking seringnya dia lupa untuk makan. Sungguh, dia berharap hujan segera datang. O hujan, sebegini besar sesalku, mengapa pula kau tak kunjung menghampiriku? O hujan mulia, tidakkah kau lihat penderitaan yang timbul selepas pergimu? Tegakah engkau wahai hujan?! serunya,"

"Suatu senja, tubuh Sang Putri benar-benar lemas, dia bahkan tak lagi bisa menggerakkan bibirnya untuk menyeru hujan. Tetapi hujan justru turun membanjir di matanya. Datanglah hujan, segera.. Mata sang Putri terpejam.
Hujan sebenarnya tidak pernah acuh terhadap panggilan Sang Putri, hujan melihat, hujan mendengar. Hujan bukan tidak ingin berdamai dengan Sang Putri, hujan tidak pernah menyimpan dendam. Tetapi hujan juga tidak bisa selamanya berada di sana. Keberadaannya justru akan menimbulkan petaka. Hujan harus terus berganti tempat untuk memakmurkan bumi. Perlahan, hujan turun dari langit mengecupi tubuh sang Putri yang beku. Mencumbui kembali tanah kerajaan yang telah lama ditinggalkannya. Semua orang berseri, semua orang berbahagia menyambut kembalinya hujan."

"Kau tahu Tania, diperlukan pengorbanan untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar. Aku suka hujan, Tania, yang tidak pernah mendendam, yang mau mendengar, yang tetap menunaikan tanggungjawab sesuai porsinya, yang tidak egois, yang memberikan berkah dalam diam. Dan ketika dia pergi, orang-orang baru sadar betapa berarti keberadaannya," pugkas Fina.

Aku tersenyum. Berterima kasih atas cerita Fina.

Hujan di luar sana,
seseorang yang kurindukan pasti sedang berada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.

Minggu, 10 November 2013

Matahari

Kepada seseorang, yang meninggalkan kesan mendalam
bahkan ketika pertama kali jumpa.

Salam sejahtera untukmu di sana,
semoga Tuhan melapangkan jalanmu menuju cita-citamu,
semoga Tuhan menguatkanmu menapaki jalanmu,
Matahari.

Lalu bingung mau nulis apa.

Awal ketemu?
Ospek.
Nggak ding, cuma denger suaranya doang.
Panggungnya jauh sih, dan aku terjepit di antara 10000 orang.

Kesan pertama?
Ya biasalah, seperti anak buah yang memang harus menghormati pimpinannya.
Seperti junior yang memang harus menghormati seniornya.

Ketemu lagi kapan?
Kemarin malam.

Apa yang terjadi?
Matahari berbagi cerita.
Banyaaaaaak sekali cerita

Ada yang menarik dari Matahari.
Caranya memandang suatu masalah barangkali.
Atau mungkin cara menyikapi masalah itu.
Mungkin juga apa saja yang sudah dibacanya.
Berapa banyak dia bisa mengambil makna dari bacaannya,
atau peristiwa yang dialaminya.
Bisa jadi cara bicaranya.
Bisa juga cerdasnya.
Atau jujurnya?
Yah pokoknya ada yang menarik entah bagian mananya.

Ceritanya kalau ditulisin itu novelik bangeeettt.
Menimbulkan naluri untuk berbagi, mendengarkan gitu.

Kayaknya bakal merindukan cerita-ceritanya lagi deh.
Sayangnya ketemu pas menjelang terbenam di belahan bumi tempat aku berpijak.
Matahari harus pergi.
Tapi bukan untuk mati,
melainkan menyinari dan menghangatkan bagian bumi yang lain lagi.

Ya udah, intinya aku menghormati dan mengagumi Matahari.
Suatu saat nanti aku pengen denger nama Matahari berhasil membawa kebaikan yang lebih besar.
Suatu saat nanti aku pengen lihat Matahari sukses menempuh garis edarnya.

Matahari itu tugasnya menyinari, menghangatkan bumi.
Matahari tidak dapat mendekati bumi, karena bumi akan hangus karenanya.
Begitu juga sebaliknya, kalau Matahari pergi, bumi akan mati.
Tugas Matahari hanya memandang dari jauh, memastikan semua baik-baik saja.
Dari kejauhan.

Jumat, 08 November 2013

Seandainya Takdir tak Sekejam Ini pada Kami

Duhai Kakanda yang aku kasihi,
bukan, bukan aku yang meminta jadi begini.
Oo, Dewata, kejam sekali takdir mempermainkan perasaan.

Namaku Drupadi, Putri Pancala.

Nama yang bukan sembarang nama.
Yang pada masanya menjadi pertaruhan, sayembara harga diri para Ksatria.

Namaku Drupadi, Putri Pancala.

Hari ini aku bersumpah,
kelak di Kurusetra, aku akan keramas darah Dursasana!

Oo, kakanda yang aku kasihi,
Oo, Dewata yang mombolak balikkan hati.

Belum cukupkah pengabdianku sebagai seorang istri?
Sehingga layak dibagi-bagi,
bahkan di atas meja judi.

Oo, kakanda yang aku kasihi, yang selalu bersinar tanpa cela,
Ingatkah kanda pada dinding-dinding Pancala yang hening bersaksi,
kepada siapa hati ini kemudian menjatuhkan diri.
Bukan kanda, bukan karena kau seorang ksatria,
ingatkah kau pada jubah brahmana yang kau kenakan sebagai mimikri?
Bukan kanda, bukan aku tidak tahu apa-apa,
lakumu jelas menyiratkan siapa kau sesungguhnya.
Tapi benar kanda, aku tahu aku akan mengabdikan hidupku sepenuhnya untukmu.

Oo, kakanda yang aku kasihi, Baratasresta,
yang patuh kepada Ibunda.
Kau tahu kanda, hanya tubuhku yang bersedia kubagi dengan para saudaramu.
Karena titahmu kanda, yang membaktikan diri seutuhnya pada Ibunda.
Tapi bukan hatiku,
bukan pula hasrat berpikirku.
Namaku Drupadi, kanda, nama yang bukan sembarang nama.

Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Jisnu,
Yang hebat ketika marah.
apa dayamu kanda?
Melihat wanita tak berdaya ini begitu saja pasrah dipermainkan di meja judi.
Setengah mati aku mendaras kanda, agar yang telah kuserahkan padamu sepenuh hati tidaklah dapat menjadi orang lain di atas meja judi ini.
Namaku Drupadi, kanda, yang bersumpah akan keramas darah Dursasana!

Oo, kakanda yang aku kasihi, Purusaresaba,
kurang apa aku berbakti kanda?
Bahkan ketika aku tahu kau membagi hati.
Bukan kanda, bukan aku yang meminta begini.
Kau sendiri yang tak pernah membela diri,
merelakan Drupadi yang kau kasihi menjadi milik kakak-adikmu semua.
Bukan kanda, sungguh kalau Dewata menghendaki, aku memilih membagi hidup hanya denganmu seorang.
Duhai kakanda, sembah sujudku sebagai seorang istri yang senantiasa melaksanakan bakti.
Meski sakit rasanya melihatmu membagi hati.

Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Bibatsu,
tidakkah kau malu melihat wanitamu menitikkan airmata di hadapanmu?

Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Dananjaya,
tidak bisakah kau cabut saja anak-anak panahmu dan melesatkannya pada Sata Kurawa ini?
Tidakkah kau ingin melindungi wanitamu, kanda?
Aku bersumpah, andai kau bukan orang yang kupilih untuk membaktikan diri,
niscaya aku juga akan mencerabut jantung dari dadamu seperti halnya yang kulakukan pada Dursasana kelak.

Namaku Drupadi, kanda.
Nama yang bukan sembarang nama.
Nama yang hanya padamu aku bersumpah mendedikasikan diri.
Nama yang hanya untukmu menjatuhkan hati.
Ingat namaku kanda, di sela tapa dan tidurmu, dengan siapapun di sisimu.
Namaku Drupadi.

Tuan Payung (Hujan)

Akhir-akhir ini langit seperti muntab,
tanpa ampun mengguyur kami-kami di bumi dengan limpahan airnya.
Mungkin membalaskan dendam kemarau berkepanjangan tahun ini.
Sudah menginjak akhir tahun lagi.
Semestinya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, musim hujan akan datang di akhir bulan begini,
semestinya payung selalu siap sedia menemani.
Tapi tidak denganku.

Berapa kali aku terpaksa harus berlarian menembus hujan karena lalai yang sederhana ini.
Berapa kali pula aku harus berteduh, rehat sejenak akibat alpa yang sederhana ini.

Seperti juga hari itu.
Awal jumpa yang lucu.
Kita.
Dua manusia yang diderasi hujan.
Sama-sama menepi, sebelum kemudian bertukar sapa dengan cokelat hangat.
Memilin senyum dengan tanda tanya.
Siapa?
Yang malah tertukar dengan gumam "Kacamatamu basah"

Kamu yang dengan santai kemudian menoleh heran.
Kemudian mengambil dan mengelap kacamatamu dengan santai.
"Kan hujan," sahutmu.
"Lalu?"
"Hujan itu air. Apapun yang terkena air akan basah," jawabmu lagi.
Kembali berkutat dengan cokelat hangatmu.
Aku ikut menunduk menekuri gelas cokelat panasku.
Sepasang muda-mudi dengan payung biru tua lewat di depan kedai kami berteduh.
Tertawa.

"Kuliah?" tanyamu.
Aku menoleh kaget. Kemudian mengangguk sesopan mungkin.
"Kelihatan kok," ujarmu lagi.
"Lalu kenapa bertanya?"
"Pertanyaan penting untuk membuktikan hipotesamu,"
"Oh ya? Hipotesa apa lagi yang kamu punya tentang aku?"
"Kenapa kamu mengira aku punya hipotesa lain tentang kamu?"
"Memangnya tidak ada?"
"Hmm, mungkin ada. Mungkin juga tidak,"
Aku mengangkat bahu.

Pengunjung kedai kian ramai.
Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda hendak reda.
"Hujan begini akan lama redanya," gumammu lagi.
Aku memandang heran.
"Kau ini pawang hujan? Atau peramal cuaca?" sahutku jengah.
"Bukan keduanya. Begini ini namanya membaca alam. Tuhanku meminta umatNya untuk membaca, apapun," ujarmu. Kali ini disertai senyum.
Ada diastema di geligi kiri atasmu. Lesung pipit tetiba terbit di dua belah pipimu.
Aih, mata kanak-kanak yang bersinar.
Aku mengangguk sepakat.

"Lihat, awannya putih, bukan hitam gelap. Kalau putih begini tandanya hujan akan lama, kalau hitam gelap hujan biasanya deras, tapi sekaligus langsung selesai,"
Aku hanya menggut-manggut.
Cokelat panasku tinggal beberapa tetes saja.
"Kamu harus belajar untuk lebih memperhatikan lagi," ujarmu masih dengan senyum menggemaskan itu.
Mau tak mau aku ikut tersenyum.
Kami lalu diam untuk waktu yang entah bagaimana lama sekali merangkak.

Sampai kemudian kamu mencangklong ranselmu.
"Hujan mulai reda. Aku harus pergi," ujarmu.
Aku menilik ke luar jendela. Masih ada sisa-sisa gerimis yang tertinggal.
"Tapi kau tak boleh pergi tanpa payung!" perintahmu.
Aku melongo.
Memangnya siapa kau? Ah, bahkan namamu siapa saja aku tidak tahu.
"Pilihlah salah satu, pakai payung ini atau tinggal di sini sampai hujan benar-benar reda," ujarmu sebelum aku sempat membantah apapun.
Payung transparan tergeletak di atas mejaku.
Aku kembali bingung dibuatnya.

"Ah, aku buru-buru! Apapun keputusanmu, payung itu milikmu, pakailah sesukamu. Aku pergi dulu! Terima kasih bincang-bincangnya sore ini," ujarmu sembari tersenyum sekilas lalu beranjak keluar dari kedai.

Hanya senyummu yang kuingat.
Merembes masuk ke memoriku bersama dengan gerimis yang pelan-pelan membasahi bumi, membasuh kemarau yang kering.
Ah, siapa namamu Tuan Payung?

Sabtu, 02 November 2013

Nostalgia-Magelang

November.
Sudah mulai memasuki penghujan.
Dingin.

Malam ini aku terlambat pulang.
Pekerjaan yang menumpuk,
menghambat lajuku pulang,
membuat aku terjebak di kota ini malam ini.
Sekali lagi.

Terminal Tidar sepi.
Malam yang terus merangkak naik tak menggubris gigil yang ditimbulkan serangkaian gerimis sejak pagi hingga malam ini.
Hmm, harum basah tanah Magelang yang amat aku rindukan menguar.
Yang kuingat dari terminal ini adalah dulu sekali aku berlarian bersama Ibu,
turun dari bus antarkota yang membawa kami pulang ke haribaan tanah ksatrian ini,
kemudian mencari angkot biru yang akan membawa kami pulang ke rumah.
Ah, ingatan usang yang entah bagaimana tidak pernah hilang.

Malam ini aku pulang.

Magelang tetap sama.
Dari rahim Tidar-nya lahir beribu ksatria, tunas-tunas pemimpin bangsa.
Tidar yang tenang, tidak pernah grusa grusu.
Wangi jalannya masih sama.
Mawar, kenanga, sedap malam, yang selalu menjadi favorit Ibu.
Juga favoritku.

Ah, apalagi ketika pagi datang.
Aku selalu suka dialektika masyarakatnya yang asih, santun.
Tidak pernah sedikitpun aku berburuk sangka pada orang-orang di dalamnya.
Kegiatan pasar lebih dari sekedar memesona.
Selalu menyenangkan berada di tengah hiruk pikuk percakapan bahasa Jawa dari ibu-ibu berkebaya.
Senyum-senyum simpul dan bungkukan terima kasih pedagang kepada para pembelinya.
Pun salam yang selalu tersampaikan tiap bertemu orang lain.

Dulu aku senang sekali berjalan digandeng nenek dan ibu,
menyusuri gang-gang pasar Kebonpolo.
Menarik-narik baju ibu, merengek meminta jepit rambut kupu-kupu.
Getuk Magelang dan salak pondoh adalah dua hal wajib yang harus ada dalam daftar belanjaan.

Taman-taman bermain di tengah kota masih ada, masih sama.
Dengan ayunan dan patung-patung aneka rupa binatang,
yang aku ingat sering kunaiki dan meminta Bapak mengambil gambarnya.
Museum Sudirman masih berdiri di belakang taman itu.
Aku ingat dulu aku ternganga takjub melihat tandu yang membawa Sang Jenderal Besar bergerilya keluar masuk rimba.
Ada manusia setangguh itu.
Lalu patung Diponegoro yang banyak kutemui di sepanjang jalan menuju rumah.
Aku ingat dulu aku sempat bertanya mengapa Diponegoro yang dijadikan simbol militer Jawa Tengah, bukan Sudirman.

Hijau di sepanjang jalan menuju rumah.
Kompleks-kompleks perumahan militer yang elegan tapi tetap garang.
Gerbang Akademi Militer yang tegak menjulang, dengan pedang emasnya.
Jujur sekali, tanpa tedeng aling-aling menyiratkan kawah candradimuka yang siap menelurkan jiwa-jiwa pembela kedaulatan Republik.
Kemudian menuju rumah akan melewati salah satu sekolah terbaik yang namanya terus didengungkan di telingaku bahkan sebelum aku masuk sekolah.
Taruna Nusantara.
Yang ibu bilang itu sekolah istimewa, tempat putra putri terbaik Indonesia berkumpul belajar bersama di dalamnya.
Yang bapak bilang itu sekolah istimewa, hanya anak-anak terbaik Indonesia yang bisa masuk ke dalamnya.
Itu yang didengungkan terus menerus di telingaku sejak aku belum juga merasakan bangku sekolahan.
Dan akhirnya terngiang terus sampai sekarang. Bahkan ketika beragam regulasi berubah.

Rumah tempatku pulang termasuk kompleks militer dulunya.
Sekarang setahuku sudah banyak dihuni sipil.
Rumah yang sejuk.
Dengan pohon rambutan (yang selalu dipanjat oleh kakak-kakakku ketika lebaran) di depannya, dan bunga-bunga cantik yang rajin dirawat nenek.
Sekilas aku bisa mengingat nama kawan-kawan mainku di sana.
Apa kabar kakak cantik yang rumahnya di ujung jalan?
Apa kabar juga anak laki-laki sebayaku yang tinggal di rumah seberang?
Dulu cat rumah ini kuning muda, dengan gorden merah bermotif angsa-angsa terbang.
Sekarang, setelah dipindah tangan, cat-nya menjadi putih, dan penuh stiker di jendelanya.
Pohon rambutan itu masih ada, tapi tidak dengan bebungaannya.
Panggung di dekat gerbang masuk masih ada.
Selalu saja tertawa kalau ingat dulu pernah mencoba melompat dari atas panggung dan kemudian meninggalkan jejak luka di kaki dan sikuku.
Masjid kompleks, yang sama dengan masjid di semua kompleks militer lain, masih utuh, bercat hijau khas militer.
Ada dua beringin kembar di kanan kiri jalan masuknya.
Kata ibu, beringin itu ditanam pada tahun yang sama nenek meninggalkan Magelang.
Beringin itu sudah besar sekarang.
Akar-akar gantungnya sudah lebat menyentuh tanah.
Benar-benar menjadi penanda berapa lama aku tidak pulang.

Ada beberapa bagian Magelang yang berubah, terkena dampak modernisasi.
Pusat-pusat perbelanjaan pun didirikan.
Aku tak ingat tempat apa itu sebelumnya.
Sudah terlalu lama aku tidak pulang.

Magelang mulai panas kurasa.

Tapi tetap aku rindukan.
Tetap ada denyar yang berbeda tiap melewati gerbangnya.

Malam ini aku pulang ke kota penuh Harapan.

*Terminal Tidar, Magelang, 1 November 2013*