Senin, 22 Desember 2014
Gugur Bunga
Kelopak mawar berjatuhan.
Merah, putih, kuning, biru.
Wangi. Kubiarkan wanginya meresap ke pori-pori jemariku.
Kutegakkan lagi bahuku.
Anak sulungku tak henti mengusap punggungku.
Sang ayah masih sibuk membereskan segala sesuatu.
Anastasia Wilhelmina.
31 Agustus, lima belas tahun lalu di bilik rumah bersalin sederhana aku berjuang membawanya melihat dunia.
Kunamai ia laiknya Ratu di Belanda sana.
Aku berharap kelak ia tumbuh menjadi wanita yang tinggi derajatnya, dihormati, dan dipuja banyak orang.
Dia sangat menyukai mawar.
Dengan telaten ia selalu mengganti jambangan di kamarnya dengan setangkai mawar segar setiap hari.
"Aku suka wanginya, Ibunda,"
Begitu jawabnya mengapa ia begitu menyukai mawar.
"Sama seperti Ibunda yang menyukai harum bunga sedap malam, dan kak Pertiwi menyukai melati," kicaunya.
Aku hanya tersenyum memahami.
Tiap orang berhak memilih apa yang mereka sukai.
Maka aku membiarkan kedua putriku yang gemilang memilih sendiri apapun yang mereka sukai, meskipun sesederhana bunga.
Anastasia Wilhelmina.
Tumbuh di dalam keluarga yang utuh dan menyenangkan, adalah hal yang patut disyukuri karena tak semua teman-temannya seberuntung dia.
Aku dan sang ayah berusaha sebaik-baiknya memenuhi kebutuhan kedua kembang kami.
Hasilnya mereka berdua tumbuh menjadi gadis-gadis yang cantik dan gemilang.
Senang rasanya doa-doa kami mewujud dalam diri anak-anak kami.
Pertiwi tumbuh menjadi gadis sederhana yang tenang dan santun, persis melati.
Ia harum dengan sendirinya tanpa harus menonjolkan diri berlebihan.
Anastasia tumbuh menjadi gadis yang riang, cerdas, dan menarik hati, laiknya mawar yang warna warni.
Anastasia Wilhelmina.
Sayangnya mawar kami tidak setegar mawar dengan duri-durinya.
Mawar kami takluk pada penyakit yang bahkan penyebabnya pun tak kasat mata.
Kanker hati.
Mawar kami yang riang berubah sendu, layu.
Kami tahu sekuat tenaga ia menjaga keceriaannya, kekuatannya, menunjukkan ia baik-baik saja.
Kami pun menunjukkan semua masih baik-baik saja, tak ada perlakuan yang berbeda terhadap Anastasia seperti sebelumnya.
Tapi sebagaimana kami tahu juga kalau ia tidak baik-baik saja.
Tak terkatakan hancurnya perasaan kami semua tiap kali mendengar Anastasia merintih kesakitan.
Sebisa mungkin kami sembunyikan tangis kami, kesedihan kami demi menjaga mawar kami tetap berseri.
Anastasia Wilhelmina.
"Ibunda,"
"Iya sayang?"
"Aku punya sesuatu untuk Ibunda," ujarnya lirih. Kubelai kepalanya yang kian tipis rambutnya akibat kemoterapi. Sekuat tenaga aku menahan airmata agar tidak tumpah.
"Wah, apa sayang?"
Anastasia mendorong kursi rodanya perlahan, mengambil entah apa di dalam lemari bajunya.
"Ini Ibunda, Ibunda terima ya hadiah dari Tasya," ujarnya tersenyum, mengulurkan sebuket sedap malam kepadaku.
"Ini.. Lho kan Bunda nggak lagi ulang tahun," sahutku pelan
"Nggak papa dong Ibunda, maaf ya Tasya cuma bisa kasih ini buat Ibunda. Ibunda udah baik banget sama Tasya, udah sayang banget sama Tasya. Maafin Tasya ya Bunda, Tasya udah selalu ngerepotin Bunda, Ayah, sama Kak Pertiwi. Maafin Tasya ya Bunda, Tasya nggak bisa jadi anak Bunda yang cantik, yang baik, lihat kan Bunda, bahkan rambut Tasya udah mulai habis,"
"Nak...,"
Sekali ini aku berhenti berusaha menahan tangis.
"Bunda, bilang juga ya sama ayah sama kak Pertiwi, jangan sedih lagi dong. Tasya tahu Ibunda, Ayah, dan Kak Pertiwi sering menangis di dalam sholat. Janji ya Bunda, jangan sedih-sedih lagi,"
Allah, pertanda apa ini?
"Iya nak, Bunda berjanji. Bunda juga akan bilang ke ayah dan kak Pertiwi biar nggak sedih lagi. Sudah malam nak, yuk Tasya istirahat biar cepat sembuh," ujarku terisak.
Anastasia mengangguk.
"Terima kasih Bunda,"
"Terima kasih juga nak atas hadiahnya, Bunda simpan di kamar Bunda ya,"
Kupandangi tubuh mungil putriku bergelung dalam remang lampu tidur.
Allah, aku ikhlas.
Anastasia Wilhelmina.
Subuh keesokan harinya aku mengguncang tubuhnya untuk sholat subuh berjamaah seperti hari-hari biasanya.
Mawar kami hanya terdiam.
Kuraba pergelangan tangannya. Tidak berdenyut.
Kusentuhkan punggung tanganku ke ujung hidungnya. Tidak ada hembusan nafas yang teraba.
Inalillahi wa inna illahi raji'un.
Kudekap tubuh mawar kecilku kuat kuat.
Ayah dan Pertiwi bergegas menyusul ke kamar Anastasia.
Prosesi pemakaman segera dimulai.
Kuciumi wajah putri kecilku untuk yang terakhir kalinya.
Lihat nak, Ibunda menepati janji, Ibunda tidak menangis lagi.
Pertiwi mengecup kening adiknya dengan khidmat.
Ayah sudah berdiri di liang lahat, menanti jenazah Anastasia diturunkan.
Ayah menyerukan adzan di telinga Anastasia.
Sama seperti lima belas tahun lalu ketika Ayah membopong tubuh mungilnya untuk pertama kalinya.
Allah, segala yang berasal dari-Mu akan kembali pula pada-Mu.
Gundukan tanah sempurna menutup tubuh mawar kecilku.
Kutaburkan mawar-mawar warna warni di atas pusaranya.
Mawar kami telah berbahagia, kembali pulang kepada Penciptanya, kembali ke tempat yang damai, bertemu dengan Ia Yang Maha.
Harum mawar menguar ke mana-mana.
Selamat berbahagia, Nak. Selamat berjumpa dengan Rabb-Mu. Tunggu kami semua di surga.
Magelang, 18 Desember 2014
Buat Ibuk :)
Dia nggak sempurna.
Bukan orang kaya, bukan orang paling cantik, bahkan bukan orang paling
baik sedunia.
Bukan orang paling pinter, bukan orang paling super.
Tapi kami sayang dia.
Dia,
Yang kokoh punggungnya, yang lapang dadanya, yang kuat lengannya.
Yang keras hatinya, yang tangguh jiwanya.
Yang tajam matanya, yang peka telinganya.
Yang lembut hatinya, yang terjaga kata-kata dan perilakunya.
Dia,
yang memilih terikat menjadi abdi, menjadi panutan, menjadi tameng,
saat dia punya pilihan berbahagia, merdeka dengan hidupnya.
Yang memilih menukar perhiasannya dengan susu dan popok kami.
Yang menolak makan sebelum kami semua kenyang.
Yang rela tidur di ranjang lapuk asal kami tidur nyenyak di kasur
empuk.
Yang bekerja menempuh puluhan kilometer agar kami tetap bisa sekolah.
Yang memilih membanjiri kami dengan buku alih-alih mengoleksi pakaian
dan sepatu.
Dia,
Yang tak jarang kami sakiti hatinya, kami lukai perasaannya, kami
korbankan egonya.
Yang diam-diam menangis dalam sholatnya, tetap menyebut nama kami dalam
doanya meski kami sering lalai atas kewajiban kami terhadapnya.
Dia,
Yang tidak pernah menuntut apa pun dari kami.
Yang membebaskan kami.
Yang memanusiakan kami.
Yang tidak pernah kehilangan cara mengasah akal budi kami.
Yang menanamkan mimpi-mimpi dalam hati kami.
Yang tidak pernah lelah menempa kami.
Yang menjadi pelita kami, penunjuk arah kami.
Dia,
Yang memanjakan kami bukan dengan harta,
bukan dengan pemenuhan semua keinginan,
Tidak akan ada yang kami dapat dengan kemalasan tanpa kerja keras.
bukan dengan elusan ketika kami luka,
Tidak ada tempat di dunia untuk orang yang lemah.
bukan dengan pelukan ketika kami menangis,
Tidak akan selesai masalah dengan air mata.
bukan dengan toleransi ketika kami salah,
Tidak ada pilihan kecuali bertanggung jawab atas setiap perbuatan.
bukan dengan uluran tangan ketika kami jatuh,
Tidak akan kemana-mana orang yang hanya bisa mengandalkan bantuan orang
lain.
Dia,
Yang tetap berlari di depan kami ketika kami ingin berhenti.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami tahu itu agar kami tidak pernah
berhenti mengejar tujuan kami.
Yang tetap melemparkan bola voli ke tangan kami, meminta kami mencoba
memukulnya berkali-kali lagi.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami tahu itu agar kami benar-benar
mengeluarkan kemampuan terbaik kami dalam berbagai kondisi.
Yang tetap menghukum kami berdiri seharian ketika kami sudah mengakui
kesalahan kami.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami mengerti, kami haruslah jadi ksatria
yang berani mengakui kesalahan dan menanggung konsekuensinya.
Selamat Hari Ibu, Ibuk yang kami sayang, yang kami banggakan.
Terima kasih untuk setiap perjuangan, setiap tetes keringat, setiap air
mata.
Kami sayang Ibuk :*
Kamis, 11 Desember 2014
Hanya saja kita nggak pernah tahu ke mana jalan kita menuju.
Begitu tiba di persimpangan kita pasti ragu, menimbang-nimbang kira-kira jalan mana yang paling baik untuk ditempuh. Jalan mana yang benar-benar menuju ke tujuan yang digariskan.
Apa keputusanmu?
Lama sekali berdiri mencoba menebak-nebak dan terjebak dalam ketidakpastian?
Atau mencoba menyusuri jalan itu satu-satu?
Konsekuensinya, nggak bisa balik arah karena begitu jalan dipilih, pintu di belakangmu tertutup selamanya.
Udah gedhe sekarang.
Masalah makin banyak.
Simpangan makin sering ditemui.
Dan sumpah bener-bener nggak gampang mau nentuin belok kanan, kiri, atau lempeng-lempeng aja.
Antara belajar, rapat, atau main-main nggak jelas.
Antara tidur, begadang, nulis, membaca.
Antara berani ambil risiko atau main aman.
Antara kamu, dia, dia, dia, dan entah siapa lagi.
Lupakan.
Langganan:
Postingan (Atom)

