Minggu, 20 Desember 2015

Senja #Part 6

Satu tahun Senja, kita membangun jarak, susah payah menambal compang camping di hati kita masing-masing, mencoba menutupi apa yang tak perlu ditutupi.
Jingga seperti enggan menyapa senja.
Dan senja begitu kehilangan warna.

Tapi di bawah pohon Bodhi ini toh akhirnya sekarang aku berdiri.
Bersorak sorai, bergemuruh untukmu yang berlari lincah menggocek bola.
Sedetik, yang kembali aku memohon bisa membekukan waktu, kutemukan matamu, kamu temukan mataku, dan senyum kanak-kanakmu.
Matahari menggelincir dengan sempurna ke pelukan malam.
Senja kembali genap dengan semburat Jingga.
****
Yogya, 30 November 2015

Untuk Senja

Senja #Part 5

Suatu ketika aku ingin memohon pada Tuhan agar diberi kekuatan membekukan waktu, atau menahan matahari tetap di tempatnya, dan bumi sejenak berhenti berputar.
Salah satunya, satu senja, di mana aku menyelipkan di saku bajumu sebatang cokelat sebagai kado ulang tahunmu yang tertunda.
Dan kamu,
Menyisipkan jemarimu tanpa ragu di sela jemariku.
Berdiri di depanku bagai tameng yang kukuh, menuntun jalanku.
Atau berdiri di belakangku, dan sesekali mengecupi puncak kepalaku, melindungiku dari desakan penonton konser yang lainnya.
Kemudian menghabiskan malam menonton serial TV yang baru selesai kamu unduh, di kedai 24 jam.
Katamu, bukan pertama kali kamu tidak pulang ke asrama dan bermalam di kedai 24 jam,
Tapi ini pertama kali bagimu menghabiskan malam bersama perempuan, dengan cara begini absurd.
Aku merasa seperti pendosa, yang tertangkap basah. Padahal rasanya tidak ada yang salah.
Aku Jingga, dan kamu Senja.
****
Senja,
Adakalanya aku merasa kelimpungan, merasa begitu rapuh, dan telanjang.
Ada hal-hal yang tidak bisa aku ungkapkan dengan terbuka.
Senja,
Sadarkah kamu, tanpa mentari, senja tak akan jadi jingga?
Seperti pagi itu, saat Edwita sahabat kita, tanpa peringatan mengirimiku pesan singkat penuh pertanyaan. Semuanya tentang kamu. Tentang kita. Lalu siang itu juga kujemput paksa kamu dari asramamu.
“Katakan sesuatu, Senja,” tuntutku.
“Apa?”
Kutunjukkan pesan singkat Edwita. Pesan yang mencemaskan.
“Masih perlu kah kujawab semua itu, Jingga?” katamu gemas. Matamu, mata kanak-kanak yang benderang itu menatapku lurus-lurus, sampai aku tidak tahu lagi harus bersembunyi di mana.
“Senja, tanpa mentari senja tak akan jadi jingga. Jingga bukan milikmu seorang,”
“Lalu?”
“Menyayangi seseorang bukan hal yang salah, tapi menyayangi milik seseorang itu hal yang berbeda,” desisku.
Salahku juga membiarkan semua ini menjalar ke mana-mana. Ada sengatan tak kentara yang menimbulkan sesak, kemudian panas dan kabur di pelupuk mata. Kamu tampak berpikir keras.
“Aku tidak peduli dengan matahari. Yang kutahu, aku tetap butuh Jingga untuk menjadi Senja,” pungkasmu.

Itu terakhir kali aku melihat wajahmu. Tanpa binar mata kanak-kanakmu. Tanpa senyum istimewamu. Sekaligus tanpa kemarahan atau penghakiman atasku.

Senja #Part 4

Senja,
Adakalanya aku ingat tanganmu yang mencengkeram pergelangan tanganku kuat kuat saat aku tersedak mendengar leluconmu dan yang lainnya.
Adakalanya aku ingat caramu mengikatkan pita di lengan kiriku sementara mulutmu penuh tersumpal roti selai cokelat yang kubawakan buatmu.
Pada dasarnya kamu orang humoris. Semua orang akan jatuh sayang padamu, Senja. Kontras dengan aku yang kata orang-orang acuh seperti batu.
“Kata siapa? Kamu peduli dengan banyak orang, kamu tulus, dan kamu dewasa,” ujarmu begitu kutanyakan perkara “batu” ini padamu.
“Well, ini bukan caramu mengatakan aku tua kan?” sahutku. Kamu tertawa keras.
“Tidak, Jingga. Bagiku kamu tidak pernah tua, kamu dewasa,” pungkasmu.

****
“Kamu tahu, Jingga, aku suka sepak bola,” ujarmu suatu pagi ketika kita kesiangan mencari warung bubur untuk sarapan dan akhirnya memilih menyantap soto di pinggir lapangan.
“Lalu?”
“Hmm, aku ingin ikut klub sepak bola lagi, seperti saat bersekolah dulu di Palembang,” ujarmu. “Sayangnya terlalu banyak praktikum di MIPA yang merampas sore hingga petangku,”lanjutmu.
“Cinta selalu menemukan jalan pulang, Senja,” aku menasihatimu hampir seolah kamu adikku sendiri.
“Hah?”
“Yah, kalau kamu cinta sepak bola, mau sesibuk apapun kamu, kamu akan tetap bermain sepak bola. Kecuali kamu tidak menginginkan bermain sepak bola lagi,” sahutku.
“Bagaimana rasanya, Jingga?”
“Apa?”
“Menjadi anak Sastra. Hidup dengan buku-buku, puisi, novel, tidak ada praktikum menguras waktu,” tanyamu lagi. Aku terkekeh.
“Luar biasa, hahaha,” sahutku. “Aku harus banyak berterima kasih kepada Bapakku yang memperkenalkan aku dengan buku, cinta pertama dan selamanya,”
“Kamu orang yang beruntung,”
“Amin. Kelak kamu mau jadi apa, Senja?”
“Mmm, pengusaha,”
“Lah, kenapa tidak masuk Ekonomi saja?”. Ganti kamu yang tertawa.
“Di MIPA aku belajar mengolah hasil alam, menghargai alam. Aku ingin mengembangkan usahaku sendiri, produk yang unik, rekayasa genetika dan inovasi teknologi mutakhir yang aman untuk masyarakat sekaligus menguntungkan bagi pengusaha. Di Ekonomi menurutku aku hanya akan belajar mengenai teori yang ideal, tidak belajar tentang inovasi dan kreativitas seperti di MIPA,” terangmu panjang lebar.

Aku tersenyum, manggut-manggut, dan menyeruput es teh manisku sampai tandas.

Senja #Part 3

Kamu tahu, Jingga selalu menjadi warna Senja.
Itu yang pernah kamu ucapkan suatu senja di selasar perpustakaan.
Sejak awal aku merasa ada yang tidak beres dengan nama kita. Jingga yang bertemu Senja, mungkin terdengar konyol, tapi yah, ada geletar halus tiap kali nama kita disebut secara simultan.

Sejak mula kutemukan matamu, mata kanak-kanak yang menyala, yang penuh rasa ingin tahu, haus pengetahuan. Mata cerdas, kalau kata Ibuku. Sangat sangat saintek. Ada yang melompat lompat liar di dalam diriku, seolah ingin keluar dan mengisi keingintahuan di matamu.

Aku tidak pernah ingat detail sesuatu.
Itu juga berlaku atas bagaimana kita berdua bisa duduk berhadapan di meja perpustakaan, atau berjalan beriringan di pelataran kampus.
Yang kutahu, aku Jingga, dan kamu Senja.

“Jingga, kamu tahu bagian laut yang mana yang paling asin airnya?” tanyamu tiba-tiba dan tidak terduga, sambil mengaduk es jeruk –minuman kesukaanmu, yang selalu konsisten kamu pesan di mana pun kamu makan-.
“Mmm… mungkin bagian dasar laut?” jawabku sekenanya.
“Benar, dasar laut. Lihat es jeruk ini. Laut tidak ada bedanya dengan segelas es jeruk. Lihat, gulanya terkonsentrasi di dasar gelas, bagian dasar adalah bagian termanis dari es jeruk ini, lalu semakin ke atas semakin jadi tidak manis. Laut pun begitu,” jawabmu. Aku manggut-manggut, sok mengerti persoalan ilmu alam seperti ini.
“Baca buku apa?” tanyamu lagi.
“Madilog, Tan Malaka,” sahutku.
“Kamu anak Sastra kan? Bukan anak Fisip kan? Ngapain kamu baca begituan?” tanyamu berentetan. Aku tertawa.
“Memangnya hanya anak Fisip yang boleh baca buku ini? Memangnya hanya anak MIPA yang boleh belajar ilmu alam?”
“Itu lain,”
“Apa yang lain?”
“Itu, ilmu alam. Semua orang pasti belajar ilmu alam, karena bagaimana pun kita manusia belajar dari alam,” sahutmu.
“Ya ya, jawaban yang cukup bijak dari orang yang lebih muda setahun daripada aku, haha,”
Percakapan yang berakhir dengan cubitan-cubitan kecil di lenganku.

****
Well, sulit menceritakan ulang semua ini tanpa melibatkan banyak nama.
Dewa, Riska, Feby, Amir, orang-orang baru yang kutemui dulu; Edwita, Galuh, dan Cahaya, sahabatmu yang segera juga jadi sahabatku.
Penyusunan kurikulum penyambutan mahasiswa baru berbuntut panjang. Tidak bisa sehari selesai seperti perkiraanku semula. Butuh sekitar dua bulan, yah seminggu dua kali tatap muka, sampai akhirnya kurikulum rampung dikerjakan. Dua bulan, dua kali seminggu itulah kita semua bertemu, sejak jam 8 hingga jam 4 petang.
Di sela itu, kita semua akhirnya sering makan bersama, berlibur bersama (sesuatu yang seumur hidup belum pernah aku lakukan), mengenal satu sama lain lebih dekat.

“Aku bukan Jawa, seperti yang kalian semua lihat. Aku separuh Palembang, Sumatera. Pantang pulang sebelum menang,” ujar Senja suatu malam di warung bakmi. 
“Aku Jawa, tulen. Tapi aku juga nggak mau kalah sama orang Sumatera, hahaha,” timpal Amir. 
Kami semua tertawa.

Senja #Part 2

Riuh rendah tahun ajaran baru mulai terasa.
Semarak penyambutan mahasiswa baru di mana-mana. Ada yang memakai caping warna warni, ada yang memanggul tas karung goni.
Jauh sebelum itu semua, aku kembali dikirimkan ketua senat fakultas untuk menyusun kurikulum bersama di Universitas.
“Kenapa aku lagi sih, Bima?” ujarku separuh jengkel. Ada lebih dari 30 anak di senat, kenapa aku yang selalu harus mewakilinya ke mana-mana.
“Karena kamu yang bertugas berhubungan dengan pihak di luar senat,” sahut Bima.
“Ya tapi nggak urusan penyambutan mahasiswa baru juga, aku nggak paham apa-apa Bim. Kenapa nggak Laily? Kan dia bagian kaderisasi,” ujarku bersikukuh menolak.
“Ya justru itu, Laily tidak bisa pergi, karena dia harus mengurus penyambutan mahasiswa baru di Jurusan,” tandas Bima.
Aku mendengus pasrah.
Dan pagi ini aku kembali terdampar di tengah-tengah orang yang tidak kukenal, dan membicarakan hal yang asing sama sekali buatku. Ah sudahlah, diam dan catat saja apa kata pemateri dan peserta lain. Setelah itu makan siang, pulang, dan laporan.
****
Aku sempat berkenalan dengan beberapa orang selama beberapa jam yang monoton ini. Dewa dari Teknik, Riska dari Kedokteran, Feby dari Psikologi, dan Amir dari Ekonomi. Sejujurnya anomali juga aku ditempatkan di bagian humas, mengingat aku tidak terlalu pandai bergaul dan membuka pembicaraan. Aku lebih asyik dengan buku Pramoedya Ananta Toer yang kuselipkan di laci mejaku daripada mendengar teman-temanku berbasa basi.
Setelah berjam-jam habis mendengarkan dan mencatat paparan pembicara –ibu-ibu gemuk dari Fakultas Peternakan-, akhirnya tiba saatnya istirahat dan makan siang. Kuikuti langkah teman-teman baruku keluar ruangan menuju meja besar untuk makan.
“Namamu bagus, Jingga,” ujar Feby. Aku terkekeh.
“Tidak tahu kenapa orangtuaku menamaiku begitu. Jingga identik dengan Senja, saat istirahat. Kenapa mereka tidak memilih nama warna yang lebih mengundang semangat aku juga tidak tahu,” sahutku. Ganti Feby yang terkekeh.
“Kamu tahun ke berapa Jingga?”
“Tahun ketiga. Kamu sendiri?”
“Wah seharusnya aku memanggilmu kakak, hahaha, aku baru tahun kedua,” jawab Feby.
“Wah, jangan, panggil saja Jingga, tanpa kakak. Panggilan kakak hanya akan membuatku merasa sekian tahun lebih tua,” sahutku. Tiba-tiba aku merasa haus. “aku ambil minuman dulu ya Feb,” lanjutku.

Saat itu aku kembali menemukan matamu.

Senja #Part 1

Aku jatuh cinta pada Senja. 
Aku mengaguminya dari kejauhan. 
Sebelumnya tidak pernah aku bertanya, “kenapa senja berwarna merah?”

“Pagi tak pernah benar-benar mencintai Senja, Malam tak pernah meninggalkan Eleanor Sang Bintang. Lalu siapa yang menurutmu paling terluka?” tanya Kala
“Senja, menjadi alat balas dendam yang percuma,” jawab Luna.
“Kamu tahu apa warna darah?”
Merah.
****
Ada yang ganjil ketika sore tadi aku kembali menemukan tawa lepas dan tulus kanak-kanak pada tawamu.
Ada yang tidak biasa ketika kutemukan lagi sinar gemilang mata kanak-kanak yang seolah enggan tumbuh dewasa.
Mau tak mau aku tertawa.
Sudah berapa lama kita tidak bersua?
Tidak pernah ada kata marah atau emosi yang keluar dari mulutmu.
Tapi aku tahu dari bungkammu dan bayanganmu yang semakin susut dari pandanganku.
Goblok juga waktu itu aku tidak berusaha memperpanjang durasi narasi kita.
Tapi pilihan apa lagi yang aku punya?
****
Di bawah pohon Bodhi semua bermula.
Celingukan aku merasa tersesat di kampus sendiri. Hutan di sisi utara kampus seperti dunia lain yang tidak pada tempatnya, tidak pada zamannya, saking kontrasnya dengan bangunan tinggi di kanan kirinya.
Mana?
Ketua senat mengirimku ke forum lembaga mahasiswa antar fakultas.
“Aku tidak bisa hadir, Jingga, tolong wakilkan,”
Sore itu, pulang kuliah, aku memutar bola mata gemas. Bisa apa aku ini sebagai bawahan?
****
“Mbak, mencari siapa?” tegur seorang laki-laki berambut cepak dengan kemeja hitam. Mungkin dia anak menwa yang ditugaskan menjaga acara forum lembaga.
“Saya dari Sastra Indonesia mas, ditugaskan untuk hadir dalam forum lembaga, tapi saya tidak tahu ruangannya di mana,” sahutku.
“Oh, ruangannya ada di lantai 2 mbak. Kalau tidak keberatan, mari saya antarkan,” ujarnya.
Aku tersenyum berterima kasih.
Ruangan forum lembaga sudah hampir terisi penuh, menyisakan beberapa deret bangku di bagian belakang yang belum terisi. Mas Menwa tadi, yang ku tahu bernama Jaya, berpamitan keluar ruangan. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Ini awal semester, awal periode lembaga mahasiswa. Sepertinya kemahasiswaan merasa perlu mengumpulkan kami semua untuk menyeragamkan visi dan misi lembaga atau organisasi kami dengan visi misi Universitas. Dalam hati aku tertawa, macam Orde Baru saja kampusku ini.
Lima belas menit setelah acara dimulai, catatanku buyar oleh langkah kaki setengah diseret setengah berlari. Seorang mahasiswa laki-laki dengan rambut awut-awutan, masih dengan jas praktikumnya tergopoh-gopoh masuk ruangan.
“Hai, saya Senjaya, panggil saja Senja. Dari MIPA,” ujarnya begitu pantatnya menyentuh kursi di sampingku.

Aku menjabat uluran tangannya. “Jingga, Sastra Indonesia,”.

Amanah

"Amanah nggak akan pernah salah memilih. Nggak usah dikejar. Tapi kalau dia datang, terimalah dengan lapang, selesaikanlah sebaik-baiknya,"
Nasihat seseorang di akhir masa jabatan.

Salah satu wahana pembelajaran terbaik yang pernah aku singgahi.
Awal mulanya, hanya keinginan sederhana untuk menjalin komunikasi dengan rekan-rekan di fakultas lain.
Tanpa kemampuan mumpuni, tanpa pengalaman di bidang public speaking memadai, dan tanpa pengalaman internasional yang berarti, nekat saya terjun ke Departemen ini.

Nggak ada pikiran sama sekali untuk mengepalai Departemen sebesar ini (walaupun lingkupnya hanya fakultas).
Di antara banyak sekali orang hebat di sekeliling saya, nggak ngerti kenapa amanah ini justru mendarat di pundak saya.
Mau gimana lagi, yasudah, istiqomah, pelan-pelan saya dayung perahu ini bersama dengan 13 partner saya yang lain.

Satu periode.
Enam belas program kerja skala internal fakultas, universitas, regional, nasional, hingga internasional akhirnya dapat terlaksana.
Harus diakui, saya bukan tipe pemimpin yang asyik.
Menghabiskan separuh umur dalam didikan semi militer di satu sisi membuat saya tidak mentolerir kata "tidak bisa", dan membuat pola pikir lebih ke praktis lapangan, bukan konseptual.
Perlu adaptasi lumayan juga di awal bagi saya dan tim untuk bisa saling menyesuaikan dan mendayung perahu ke tujuan.
Lebih-lebih, saya tidak punya pengalaman memimpin organisasi besar apapun.
Kendala pasti ada, banyak malah, hahaha.
Lingkungan kampus yang cenderung tertutup, rutinitas kuliah-praktikum 12 jam non stop sering jadi benturan di sana sini.

Lelah, iya lelah.
Jam kerja nambah, dari 12 jam jadi 18-20 jam sehari.
Waktu pulang ke rumah makin berkurang.
Pacaran juga disambi rapat sana sini, bahkan di merger yang sana ikut rapat sini, yang sini ikut rapat sana.
Tapi toh saya nggak sendirian.
Semua orang di perahu ini juga pasti merasakan hal yang sama.
Dan semua orang di sini saling merangkul, saling menjaga agar laju kami tetap seimbang sampai akhir.

Well,
Di penghujung lajunya, perahu kami diganjar sesuatu yang tidak terbayangkan.
Dua penghargaan event terbaik.
Satu program exchange terbaik di Jepang.
Satu program penyuluhan kesehatan terbaik se-Asia Pasifik.

Nggak bisa nggak terharu.
Nggak bisa nggak bangga sama tim ini.

Akhirnya, Jumat 18 Desember 2015, perahu kami merapat ke dermaga.
Telah sampai kami pada peraduan.
Saatnya kemudi berpindah tangan.
Bukan lagi di tangan renta kami, melainkan ke tangan-tangan muda yang telah banyak belajar selama pelayaran satu periode penuh.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan belajar tiada duanya, yang melapangkan hati kami, yang menguatkan punggung-punggung kami.
Terima kasih kepada Bapak, Ibuk, Adek yang mendukung penuh dan begitu percaya saya bisa melabuhkan perahu ini dengan selamat.
Terima kasih untuk Kakakku, Kekasihku, yang dengan rela hati bertukar pikiran, beradu argumen, memberikan banyak kritik saran dan bimbingan untuk adek kecilnya ini.
Terima kasih kepada jajaran Dekanat atas kepercayaan dan kerjasamanya.
Terima kasih kepada jajaran BPH yang selama setahun penuh menjadi mentor dan tutor sebaya.
Terima kasih juga untuk alumni Dept.Jaringan atas ilmu, saran, dan kritiknya.
Tidak lupa kepada seluruh pihak yang turut membantu terlaksananya berbagai proker Jaringan.
Daaaaaaannnn... terima kasih sebesar-besarnya untuk Elis, Dian, Gita, Faluth, Nada, Hasna yang berjuang dari awal di Jaringan. Kalian partner yang luar biasa!
Untuk Laxmi, Rifqa, Dina, Imas, Dinda, Arum, Tata, Fathur, Ira, Popit, Laksmi, Athaya, Elma, Himma, terima kasih sudah banyak berkontribusi untuk Jaringan, semoga dimudahkan segalanya bagi kalian.
Sekarang kemudi perahu ini ada di tangan kalian.
Kami percaya perahu ini akan melaju lebih jauh, lebih pesat di tangan kalian.

Perahu ini harus terus berlayar.
Perlahan layarnya hanya tinggal titik di kejauhan.
Emak pamit anak-anak, cinta kasih selamanya untuk kalian.
Semoga tetap eksis dan mendunia!

Selasa, 10 November 2015

Heroes

Pagi ini, 10 November 2015, kena tamparan luar biasa kerasnya.
"Kami sudah pernah menjadi kalian, tapi kalian belum pernah menjadi kami"
Kalimat bijaksana seorang senior mencuat kembali.

Mahasiswa.
Siapa sih mahasiswa yang nggak ngedumel, udah dibela-belain bangun pagi, dandan rapi, eh sampai kelas ternyata kosong karena dosennya nggak bisa ngisi?
Siapa sih mahasiswa yang nggak dongkol,
pagi-pagi ban motor kempes, harus dorong sampai bengkel terdekat, eh sampai kampus diusir dari kelas karena telat.
Siapa sih mahasiswa yang nggak sebel,
tugas seabrek, laporan praktikum bertumpuk-tumpuk, eh begitu minta acc malah dimarahin karena nggak bisa jawab pertanyaan dosen.

Terus apa yang dilakukan?
Ngedumel di belakang dosen, ngomongin yang jelek-jelek,
tapi kalau ketemu beliaunya sok-sokan senyum, manggut-manggut.
Hahaha.

Pagi ini, seorang dosen senior masuk ke kelas dan sukses menampar mahasiswanya.
Bukan dengan marah atau hukuman, tapi dengan kisah dan bukti nyata.
Tentang penelitian yang beliau lakukan.
Tentang paten yang beliau hasilkan.
Tentang proyek nasional yang sedang beliau kerjakan.
Alat implan jantung produksi Indonesia.
Pertama kalinya, dan baru satu-satunya.
Dalam kurun waktu 3 tahun penelitian.

Bayangkan.
Penelitian, terutama kesehatan harus melalui proses panjang, dari in vitro, in vivo, hingga clinical trial
Karena aku juga pernah melakukan penelitian kecil-kecilan, aku tahu waktu tiga tahun terlalu singkat untuk bisa sampai ke sebuah produk yang siap digunakan.
Bayangkan,
selama ini alat-alat kesehatan yang digunakan di Indonesia semuanya barang impor
Itulah kenapa biaya perawatan kesehatan di Indonesia sangat tinggi.
Bayangkan,
bila alat-alat itu mampu diproduksi sendiri oleh anak bangsa,
nyawa yang terselamatkan akan lebih banyak, biaya yang harus dikeluarkan lebih sedikit.

Terima kasih Prof.
Berkat tamparan anda, kami bisa bangun.
Ada sudut pandang lain yang kami abaikan saat kami menilai anda.

Terima kasih Prof,
sudah bersedia meluangkan 1 atau 2 jam anda yang sangat berarti untuk bertemu dan berbagi ilmu dengan kami.
Walaupun kami tidur,
walaupun kami makan di kelas,
walaupun kami asyik berbicara sendiri,
walaupun kami sibuk dengan gadget kami sendiri,
tapi anda tetap ikhlas menjalankan kewajiban anda.

Maaf kami lupa, kami alpa,
bahwa kamilah yang butuh berguru pada anda semua.

Dibalik kesuksesan seseorang pastilah ada pahlawan yang mendukungnya.
Orangtua kami, guru-guru kami, keluarga kami.

Selamat hari Pahlawan :)



   

Skripsh*t? Skripsheet? Skripsweet?

Well,
Menghitung hari.

Kurang dari seminggu lagi mengantarkan someone melepas gelar mahasiswa dan naik kelas jadi ko-asisten.
Allahu akbar.

Hampir setahun nemenin, ngerasain suka duka mahasiswa tingkat akhir.
Skripsi yang kukira segampang penelitian jaman SMA ternyata riweuh juga yah :"
Yang ngerjain stres, yang nemenin ikutan stres.

Lucu banget kalau diinget-inget.
Ribut KKN.
Dari mulai milih tempat sampai nyiapin logistik.

Masuk periode skripsian,
Milih bagian, milih tema yang bahkan aku nggak paham itu apaan.
Milih judul yang kira-kira relevan, gampang, murah dan cepat dikerjakan, malem-malem di warung ramen KW. Haha.
Jadi proof reader proposal
Stres masukin proposal.
Ikut-ikutan berdoa dan deg-degan, walaupun waktu itu masih anak bau kencur yang nggak ngerti apa-apa soal skripsi.
Lolos. Hahaha.

Eh belum bahagia,
ternyata dosen pembimbingnya paling killer seantero FK, wkwkwk.
Sok-sokan ngasih motivasi, padahal diri sendiri aja nggak ngerti
Jadi proof reader lagi tiap bab.
Sok-sokan corat coret, kritik-kritik, hahaha.

Seminar proposal.
Mampus, di tengah kuliah gedubrakan, mikir yang di sana gimana kabarnya.
Ngebut beli bunga, ke stasiun.
Berdiri gelantungan desek-desekan karena pas jam sibuk.
Sampai sana nggak ngerti harus naik apa ke kampus.
Nggak tahu juga ruangan sidangnya di sebelah mana.
Yah udah akhirnya sampai juga.

Baru ngomong "selamat ya,",
udah ditanggapin "revisian aku ditunggu jam 6 sore ini, soalnya besok harus langsung mulai penelitian"
Mampus.
Makan kilat. Ke mana-mana nenteng laptop.
Pft.
Tapi kelaparan setengah hari terbayar martabak sampai mabok, hahaha

Syalala,
di tengah sibuknya ngurusin proker, skripsi tetep jalan.
Blog penuh postingan asdfghjkl soal skripsh*t, huahaha
Pasti lelah kali ya yang ngejalanin, orang yang cuma ngeliatin aja lelah wkwkwk
Dan taraaaa...
One step closer! Yeay!
Nggak ada satu semester.
Satu dari beberapa anak yang akan lulus lebih cepat dari angkatannya.

Giliran saya,
"Wah keren ya kakakmu, kamu kapan dong?"
Yaelah praktikum aja belum beres..
"Gimana, mau skripsi di mana?"
Emm, target saya nggak remed dulu dah semester ini.
Hahaha, derita jadi rakyat jelata sok-sokan nemenin makhluk superior
*sepertinya aku harus bekerja sangat keras*

Anyway, congraduation Kak :)
Hasil mah nggak pernah selingkuh dari usaha dan doa, hahaha.
Selamat menempuh hidup baru.
Seiring jas putih yang melekat di badanmu besok, tanggung jawab yang diemban semakin besar.
Good luck sidangnya cadok, doa kami bersamamu.
Ganbatte!


Senin, 20 Juli 2015

Belum Berjudul (Part 2.3)

Kendal, 19 Juli 2015

"Sumur air itu masih digunakan penduduk rupanya," gumamku. Mas Aji melirik ke kanan jalan sebentar untuk melihat kebenaran gumamanku.
"Memang dulu untuk apa?"
"Ya untuk mengambil air, Yah. Sangat sulit mendapatkan air di Kartika Jaya. Dulu, kami bocah-bocah bersepeda setiap sore untuk mengambil air di sana," jawabku tersenyum. Teringat suka duka aku dan kawan-kawan di desa ini.
"Naik sepeda? Sebegini jauh?" tanya Mas Aji masih terheran-heran.
Aku mengangguk dan tertawa. Abi dan Lola masih tertidur.
Dulu aku lebih beruntung, mengambil air dengan Papa naik motor, sementara teman-temanku menaiki sepeda dengan dua jerigen terikat di boncengan belakangnya. Sesekali aku ikut menemani Siti, membonceng di belakang, berlomba cepat dengan anak lainnya.

****
Kendal, 1979

Beberapa hari aku tinggal di sini aku sudah mendapatkan berbagai informasi.
Yang pertama, semua orangtua kami di sini adalah veteran, atau pensiunan tentara dari berbagai penjuru di Indonesi.
Yang kedua, sulit mendapat air bersih di sini.
Yang ketiga, setiap malam minggu diadakan pentas keroncong di Balai Desa. Pentas ini ramai sekali. Semua orang, orangtua dan anak-anak, berduyun-duyun pergi ke Balai Desa demi menikmati alunan keroncong yang dibawakan Karang Taruna desa.
Dan yang keempat, informasi yang baru aku tahu hari ini, hanya ada satu orang yang memiliki benda ajaib yang disebut televisi di seantero desa. Dia adalah Kepala Desa kami. Sepulang mengambil air di sumur desa, anak-anak akan berkumpul di rumah Pak Kades untuk menikmati "keajaiban" selama 30 menit.

Sore ini aku sudah berjanji pada Siti menemaninya mengambil air lalu menonton kartun di rumah Pak Kades. Ijin Papa dan Mama sudah aku kantongi. Pertama kalinya seumur hidupku aku akan pulang malam.

"Reni!" panggil Siti dari depan halaman rumah. Pukul tiga sore. Papa dan Mama mempersilakan Siti masuk.
Siti tidak sendirian, dia bersama seorang kakaknya, tetapi menaiki sepeda yang berbeda. Boncengan sepeda kakak Siti terikat dua jerigen air. Sementara itu boncengan sepeda Siti kosong, disediakan untukku. Sepeda itu adalah sepeda yang digunakan untuk sekolah Siti dan dua kakaknya.

Takut takut aku menaiki boncengan sepeda Siti. Alamak, tinggi sekali!
"Siti,"
"Iya Reni?"
"Kamu yakin kamu bisa membonceng aku dengan sepeda setinggi ini?" aku berbisik pada Siti. Kakaknya melirik kami yang begitu lama. Siti tertawa.
Kami pun melaju menyusuri jalan, mengikuti kakaknya dan kawan-kawan kami lainnya keluar desa.

****

Sumur pompa tempat kami mengambil air sudah sangat ramai. Perjalanan yang kami tempuh lebih jauh dari jarak rumahku ke sekolah. Kasihan Siti, aku harus belajar naik sepeda supaya besok lagi aku yang memboncengnya ke sini.

Siti membantu kakaknya memompa air ke jerigen. Sepertinya sangat berat. Kakaknya saja berkeringat begitu.
Dua jerigen sudah terisi penuh. Saatnya kami pulang dan bergegas ke rumah Pak Kades.

"Assalamualaikum!" teriak Siti begitu kami sampai di rumahnya.
Ibu Siti sedang menyapu di halaman. Kami bertiga segera turun dari sepeda dan mencium tangannya. Dari dalam rumah Mas Somat bergegas membantu Mas Subki menurunkan jerigen air dan membawanya masuk.

Tak lama, kami bertiga sudah siap. Mas Somat ikut bergabung, membonceng Mas Subki menuju ke rumah Pak Kades.

Kami tidak langsung ke sana, tetapi menghampiri satu per satu rumah teman-teman kami. Rombongan kami menjadi ramai sekali. Ada Ika, Lilis, Budi, Agung, dan teman-teman lain yang turut serta ke rumah Pak Kades.

Pukul 17.30 kami sampai di rumah Pak Kades.
Seperti sudah maklum, beliau segera membukakan pintu untuk kami semua dan menyalakan televisi 12 inch miliknya.
Rumah Pak Kades yang tadinya sepi sontak menjadi ramai dengan tawa kami menyaksikan tokoh kartun di TVRI berlarian ke sana kemari.
Beberapa menit setelah televisi dinyalakan, aku merasa ada yang aneh pada TV-nya. Atau mataku yang mulai sakit?

"Siti,"
"Ya?"
"Kenapa gambar kartunnya semakin lama semakin kecil?" tanyaku polos.
Mas Subki yang duduk di sebelah Siti tertawa. Aku semakin heran. Mas Somat mengingatkan Mas Subki untuk diam.
"Itu artinya setrum akinya mau habis," jawab Mas Somat.
"Aki itu apa?" tanyaku lagi.
"Aki itu tenaga untuk menyalakan TV-nya, Reni. Cara kerjanya seperti baterai. Kalau akinya habis, maka TV ini tidak dapat menyala lagi," terang Mas Subki. Aku manggut-manggut.

Desa kami memang belum ada listrik. Penerangan jalan mengandalkan lampu-lampu minyak yang dipasang warga di sepanjang pagar rumahnya. Aku pun belajar diterangi lampu petromaks. Di rumahku di Manado dulu juga belum ada listrik. Hanya sekolahku yang sudah memiliki lampu dan kipas angin.

Adzan maghrib berkumandang. Kartun sudah selesai. Acara nonton bareng pun bubar.
Aku senang. Seumur hidup baru kali ini aku menonton acara kartun di TV.
Anak-anak laki-laki bergegas memakai sarung dan menuju mushola. Anak-anak perempuan mengikuti di belakangnya.
Aku pun mengikuti Siti ke mushola. Duduk di teras mushola, menjaga sepeda sambil menunggu mereka semua sholat.

****

Belum Berjudul (Part 2.2)

Lonceng tanda istirahat berbunyi.
Teman sekelasku berhamburan keluar. Ke mana? Sekolah jelek ini punya kafetaria juga?

"Reni, kamu tidak ikut beli jajan?"
Anak perempuan kawan sebangkuku mencoba mengajakku keluar kelas. Aku menggeleng.
"Kamu tidak lapar Reni?"
Aku menggeleng lagi.
"Baiklah, kutinggal beli jajan dulu ya," ujarnya akhirnya.
Aku terpekur sendirian di dalam kelas.

Tidak ada kipas angin.
Bangkunya pun kotor oleh coretan anak-anak.
Teman sebangkuku namanya Siti. Ibu guru tadi namanya Bu Patmi. Nama yang lucu.
Baru dua orang itu yang kukenal hari ini.

Tak lama, Siti sudah kembali ke kelas.
"Ini buatmu," ujarnya, mengangsurkan makanan seperti permen berbentuk bunga kepadaku.
"Ini apa?"
"Ini namanya gulali. Rasanya manis, enak. Mas Somat kakakku membelikan ini untuk kita berdua,"
"Terima kasih," sahutku.
Ragu-ragu aku mencicipi gulali yang dibawakan Siti. Mmm, enak..
"Beli di mana?"
"Itu.." Siti menunjukkan abang penjual jajanan di lapangan sekolah yang kini dikerubuti anak-anak berseragam putih merah. Mama pasti akan marah-marah kalau tahu aku makan jajan sembarangan.

"Kakakmu sekolah di sini juga?" tanyaku pada Siti
"Iya. Aku, kakak nomer 4 dan nomer 5,"
"Hah? Memang kakakmu ada berapa?"
"Kakakku ada 5. Mbak Sulis nomer satu, Mbak Salmah nomer dua, Mas Sabar nomer tiga, Mas Somat nomer empat, dan Mas Subki nomer lima," ujar Siti bangga.
Aku terkejut bukan main. Siti punya lima kakak? Berarti orangtuanya punya enam anak? Bagaimana bisa? Mereka tinggal di sini semua? Dengan rumah sekecil rumah kami sekarang?
"Oh.." aku hanya menyimpan keterkejutanku dalam hati.

Lonceng tanda masuk berbunyi.
Teman-temanku yang lain berlarian berebut masuk kelas.
Uh, bau kelas sangat tidak enak, dipenuhi bau keringat teman-teman laki-laki yang tadi bermain bola. Baju mereka pun kotor tidak karuan.

Kata Siti tinggal satu pelajaran lagi lalu kami boleh pulang.

"Kamu pulang naik apa Reni?" tanya Siti begitu jam sekolah selesai.
"Dijemput Papa. Kamu bagaimana?"
"Naik sepeda dengan dua kakakku. Nah itu mereka datang. Aku pulang dulu ya!"
Aku melambaikan tangan.

Kuamati dua orang laki-laki berboncengan sepeda unta. Siti dinaikkan ke pundak kakaknya yang di depan. Sepeda itu pun bergerak perlahan.
Papa belum juga datang.
Teman-temanku yang lain tak jauh beda dengan Siti. Pulang naik sepeda atau jalan kaki. Dengan kakaknya atau teman sekelas.

Well, hari pertama sekolah berakhir dengan berbagai hal-hal yang mengejutkan.

Belum Berjudul (Part 2.1)

Kendal, 19 Juli 2015

"Mommy," si kecil Lola terbangun dari tidurnya. "Sudah sampai?" tanyanya.
"Belum sayang, sebentar lagi," sahutku.
Aku seumur Lola dulu ketika pertama kali menginjak tanah Jawa, di Kendal lebih tepatnya.
Anak kecil yang kebingungan mendapati kenyataan tak sesuai dengan fantasinya.
Renee kecil terlanjur percaya bahwa Jawa memiliki banyak gedung tinggi dan mobil. Memang semua itu kutemui di Jakarta. Tapi tidak demikian dengan Kendal, kota kecil yang akan kami tempati.
Saat itu aku nyaris tidak percaya kota ini masih bagian dari pulau Jawa.

****

Kendal, Juli 1979

"Renee, ayo bangun nak, saatnya sekolah," ujar Mama lembut sembari menggoyang-goyang badanku. Aku pura-pura masih tertidur.
"Renee!" kali ini suara Papa yang memanggil namaku.
Oo, kali ini aku harus membuka mata daripada menerima pukulan sapu kasur dari Papa.

"Bangun! Mandi segera, hari ini kau harus pergi sekolah," ujar Papa lagi.
"Renee tak mau sekolah!" teriakku.
"Jangan jadi anak nakal Renee!" suara Mama yang lembut berubah tajam.
"Tak ada teman Renee di sini! Rumah kita jelek, jalanannya becek, Renee tak mau di sini, Renee mau pulang ke Manado!" rengekku.
Papa segera mengambil sapu di dekatnya. "Jangan jadi anak manja kau Renee. Dalam hitungan ketiga kau tidak bangun ke kamar mandi, sapu ini mendarat di pantatmu!"
Aku masih kukuh memberontak.
"Satu!" suara bariton Papa menggema di kamarku.
"Dua!" jeri juga aku membayangkan pantatku lebam-lebam kena pukulan sapu. Bergegas aku berlari ke kamar mandi, melewati Papa yang kukuh berdiri dengan sapu di tangannya.

****

Sekolahku terletak di ujung desa. Jauuuuuuuh sekali dari rumahku. Tidak seperti sekolahku di Manado, sekolahku yang baru tidak menyediakan bus sekolah untuk mengantar jemput siswa. Sebagai gantinya Papa mengantarku dengan motor butut dari Koramil, memastikan aku masuk gerbang sekolah dan ikut berbaris dengan anak-anak lainnya.

Hari ini hari Senin.
Seragamku berubah menjadi putih merah, dasi laki-laki dan topi. Jelek.
Dulu seragamku putih dengan rok dan rompi biru serta dasi kupu-kupu untuk siswa perempuan. Kami pun tidak dijemur mengikuti upacara bendera seperti ini tetapi masuk ke aula dan menyanyikan lagu rohani setiap pagi.

Aku menempati kelas 3, seperti seharusnya di Manado sana.
"Selamat pagi anak-anak," seru seorang perempuan yang kuduga guru di depan kelas.
"Selamat pagi bu Guru!" seru teman-teman sekelasku, dengan 'u' yang sangat panjang di akhir kalimat.
"Hari ini kita kedatangan seorang teman baru. Ayo Renee, maju ke depan dan perkenalkan diri," ujar Bu Guru sambil menatapku dengan lembut.
Kuseret kakiku ke depan kelas dengan malas.
"Nama saya Renee. Saya dari Manado. Terima kasih," ujarku singkat.
"Nah, ayo anak-anak ucapkan selamat datang kepada Renee," perintah Bu Guru
"Selamat datang Reni!"seru teman-temanku.
"Nama saya Renee, bukan Reni!" seruku, merasa tersinggung mereka salah menyebutkan namaku. Kelas menjadi sunyi kembali. Bu Guru memintaku duduk di bangkuku lagi, kuturuti ia dengan bibir monyong menahan kesal.

Resmi sudah aku menyandang status sebagai siswa SD Kartika Jaya.

****

Minggu, 19 Juli 2015

Belum Berjudul (Part 1.2)

Sebulan yang kukira singkat ternyata lama juga.
Setiap hari selepas bangun tidur kuberi tanda silang tanggal hari ini.
Mama dan Papa seolah tidak peduli soal pergi ke Jawa ini.

"Kau akan pergi ke Jawa Renee? Sungguh kah?!" teriak Kristin bersemangat begitu kuceritakan rencana kami sekeluarga pergi ke Jawa. Aku mengangguk tak kalah semangatnya. "Wow, aku ingin ikut serta denganmu boleh Renee?" tanyanya lagi.
"Mmm.. mungkin boleh.. kan selama ini tidak masalah kau ikut denganku pergi ke pantai juga toh? Nanti kutanyakan pada Mamaku," jawabku yakin.
Mama pasti akan mengijinkan. Selama ini toh Kristin sering ikut bila keluarga kami berpergian ke pantai. Ikut ke Jawa apa bedanya?

****

"Mama!" seruku gusar. Ini sudah tiga hari menjelang sebulan kalenderku kucoret-coret, dan Mama ataupun Papa masih saja bungkam soal pergi ke Jawa ini. Padahal Kristin terus saja menagih ijin ikut denganku ke Jawa.
"Ada apa Renee?"
Kupandangi Mamaku yang ayu. Kulitnya putih, hidungnya mancung. Kata Mama, kakek adalah orang Belanda, makanya raut muka Mama mirip dengan orang Eropa, berbeda dengan Mama teman-temanku.
"Kudengar kita akan ke Jawa. Benarkah itu Mama?" tanyaku pelan. Bagaimana pun aku takut dianggap kurang ajar karena menguping pembicaraan Mama dan Papa.
"Benar sayang," jawab Mama lembut.
"Kapan Ma?"
"Sebentar lagi Renee,"
"Kristin boleh ikut?"
Kali ini Mama tidak langsung menjawab, malah menatapku terheran-heran.
"Kali ini Kristin tidak ikut sayang,"
"Kenapa Ma? Kan Kristin tidak pernah nakal kalau kita ajak pergi berwisata,"
"Mm, karena kita ke Jawa bukan berwisata sayang,"
Kali ini aku yang kebingungan.
"Lalu untuk apa kita ke Jawa Ma?"
"Kita akan pindah ke Jawa sayang, tinggal di sana, bersekolah di sana,"
"Bersekolah di sana? Lalu sekolahku di sini bagaimana? Berapa lama kita di Jawa Ma? Besok kubuat ijin kepada Bapa Guru,"
Mama tersenyum. "Pindah itu artinya menetap di sana. Kita tidak akan ke Manado lagi,"
Aku terkejut. Tidak pernah terlintas di pikiranku kalau aku tidak akan kembali ke Manado.
"Jadi aku tidak akan bertemu Kristin lagi? Bapa Guru? Teman-temanku?" rengekku.
Mama mengusap kepalaku. "Kalian tetap bisa berkirim kabar lewat surat,"

Aku melangkah lunglai ke kamarku.
Pergi ke Jawa tidak lagi terdengar menyenangkan.

****

Belum Berjudul (Part 1.1)

Manado, 1979

"Renee, sudah bisa kau jawab pertanyaan di papan tulis itu?"
Pertanyaan mudah. Soal penjumlahan tiga susun. Kulihat teman-temanku masih sibuk mencorat coret buku tulis mereka. Aku sudah menemukan jawabannya sejak sepuluh menit yang lalu.
"Bisa, Bapa Guru," jawabku yakin. Bapa Guru pun mempersilakan aku maju ke depan. Dalam sekejap kelas menjadi lengang, tidak ada lagi teman-temanku yang mencoret-coret buku atau berkasak kusuk bertanya pada teman sebangku.
Dengan tenang aku mengerjakan soal hitungan di papan tulis.
Yep, kupandangi jawabanku untuk memastikan kembali apakah ada yang kurang tepat. Setelah yakin dengan jawabanku, kukembalikan kapur pada Bapa Guru dan kembali ke tempat duduk.
Bapa Guru meneliti jawabanku dengan seksama.
"Jawaban Renee benar anak-anak! Beri tepuk tangan!" seru beliau.
Kelas yang tadinya lengang mendadak kembali riuh dengan tepuk tangan teman-temanku. Aku merasa puas. Hari ini sangat menyenangkan.

****

"Ma, Renee di mana?" sayup-sayup kudengar suara bariton Papa di ruang tengah.
"Sedang mengerjakan PR di kamarnya," sahut Mama.
"Baiklah. Ma, ada hal penting yang harus Papa bicarakan,"
Hal penting? Kuletakkan pensil kayuku. Pembicaraan ini mungkin lebih menarik dibandingkan PR Matematika dari Bapa Guru.

"Bulan depan kan Papa pensiun, Ma,..."
Kelanjutan percakapan Papa dan Mama seperti menghilang ditelan pikiranku sendiri. Papa pensiun? Bulan depan Papa tidak lagi menjadi tentara dengan seragam lorengnya yang gagah? Kupasang telinga lebar-lebar untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.
"Bagaimana menurutmu Ma, apakah kita terima saja tawaran ke Jawa ini?" suara berat Papa kembali terdengar.
"Terserah padamu saja bagaimana baiknya," kali ini terdengar suara halus Mama.
"Aku rasa ada baiknya kita terima tawaran itu. Di Jawa sudah disediakan rumah dan sawah untuk kita dengan cuma-cuma, kita bisa hidup bertani untuk menambah penghasilan pensiun Papa. Renee masih perlu sekolah hingga sarjana. Di sini kita hanya bergantung pada uang pensiun saja," terang Papa.

Wow, kami akan ke Jawa! Bapa Guru pernah bercerita tentang Jawa. Tanahnya subur, banyak hewan dan tanaman indah di sana. Jalanannya pun mulus, banyak dilalui mobil. Astaga mobil! Belum lagi gambar gedung-gedung tinggi yang Bapa Guru bawakan dari rekanannya di Jakarta. Sepertinya Jawa sangat menyenangkan!

"Bagaimana dengan sekolah Renee di sini?" ujar Mama lagi.
"Satu bulan cukup untuk mengurus kepindahan bukan?" sahut Papa.
"Tapi apakah ada sekolah Kristen juga di sana?" kudengar sedikit rasa cemas pada suara Mama.
"Sekolah Dasar Negeri tidak terlalu menjadi masalah kan?" sahut Papa lagi.
Kurasa Mama sudah sepakat dengan Papa karena tidak ada lagi suara-suara mereka yang kudengar. Aku kembali menekuri buku Matematikaku. Ah tidak sabar rasanya kuceritakan kabar ini pada teman-temanku. Aku akan ke Jawa!

****

Belum Berjudul (Prolog)

19 Juli 2015

"Mommy, where we will go?" sungut Lola, putri kecilku, masih malas bangkit dari tempat tidurnya.
"Kita akan pergi ke tempat masa kecil Mommy,"
"Rumah Nenek? Kan kemarin kita sudah ke sana, Mommy," sahut Lola
"Bukan. Suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi, tapi Mommy yakin kamu akan senang berpetualang di sana,"
"Berpetualang?"
"Yup. Siap berpetualang, Lola?" ujarku tersenyum. Bungsuku memang sangat suka petualangan. Aku yakin dengan sedikit pancingan sebentar lagi dia akan segera melesat ke kamar mandi.
"Aye Captain!" serunya bersemangat.
Benar saja, dengan bersemangat Lola berlari menuju kamar mandi.

"Mana Abi, Yah?" ujarku sembari mengecup lembut puncak kepala suamiku. Ia menutup korannya dan menoleh. "Sedang mandi, Bunda," sahutnya sambil tersenyum. "Baiklah, akan kusiapkan bekal untuk mereka," ujarku, beranjak ke dapur.

****

"Mommy, apakah aku perlu membawa teropong pengintai?" seru Lola dari kamarnya.
"Tidak perlu sayang, bawa barangmu secukupnya saja!"
"Pelampung, Mommy?" serunya lagi.
"Tidak perlu, Lola. Kalau kamu tidak bergegas turun dan sarapan, kamu bisa ketinggalan petualangan!" ancamku,
"Okay Mommy, 5 minutes!" teriaknya. Aku geleng-geleng. Kulihat Abi dan ayahnya sudah duduk manis di meja makan. Abi, si sulung, tidak se-rewel Lola dalam berkemas.
"Hai guys, kita tunggu Lola ya sebelum sarapan," sapaku pada mereka.
"Hai Mommy. Mmm.. nasi gorengnya terlihat lezat," goda Abi. Aku dan ayahnya terkekeh. Lima menit kemudian Lola sudah siap di meja makan dengan kostum favoritnya : celana jeans belel, kemeja, lengkap dengan topi koboinya.
"Kamu kira kita akan pergi ke mana Lola?" seru Abi setelah puas tertawa melihat barang bawaan adiknya.
"Mommy bilang kita akan berpetualang, jadi kubawa semua peralatan petualanganku," sungut Lola membela diri. Abi tertawa lagi.
"Sudah, ayo cepat dihabiskan sarapannya. Semakin lama kalian makan, semakin banyak yang akan kalian lewatkan," sahutku. Abi dan Lola kembali tekun mengaduk-aduk sarapan mereka.

****

Mobil sewaan kami bergoyang-goyang seperti menyeimbangkan diri dengan kondisi jalan yang bergelombang. Di bangku belakang Abi dan Lola duduk terkantuk-kantuk. Penerbangan singkat Jakarta-Semarang di pagi hari dan perjalanan darat ini cukup membuat mereka lelah.

"Sudah berapa belas tahun ya Bunda kita tidak ke sini," ujar Mas Aji. Aku tersenyum. Mengenangkan jaman-jaman saat kami berpacaran dulu.
"Kendal tidak banyak berubah ya Yah," sahutku.
"Benar. Masih sama saja, sejak kita belum menikah sampai beranak dua,". Aku tertawa. Deretan kebun tebu di tepian tanggul Sungai Bodri membuat siang menjadi lebih sejuk. Di malam hari pastilah tidak ada orang yang berani melewati jalan ini karena tidak ada penerangan yang memadai sampai saat ini. Kebun tebu pun tampak mengancam.

Hari ini kupenuhi undangan reuni dari teman-teman lamaku di Facebook. Setelah menikah dan mengikuti Mas Aji menetap di Sydney, praktis aku tidak lagi berkontak dengan teman-temanku di Indonesia. Baru setahun belakangan ini aku bersua kembali dengan teman-temanku melalui Facebook. Dari sinilah kemudian kami menggagas reuni kecil-kecilan di kampung masa kecil kami, bertepatan dengan momen Idul Fitri.
Aku terkekeh sendiri. Ingatanku melayang ke puluhan tahun yang lalu.

Senin, 22 Juni 2015

Ramadhan Terakhir #1

Langit sore ini istimewa.
Mentari dengan megah bertahta di langit barat, bundar sempurna dengan semburat lembayung.

Sayup-sayup terdengar bacaan Al-Qur'an berkumandang.
Aih, ramadhan selalu indah.

"Capek hari ini?"
Ananta hanya mengangguk.
Kekasihku, yang beberapa hari lalu memberanikan diri menghadap orangtuaku untuk melamarku.
Aku tersenyum.

Ananta, seorang dokter muda.
Tinggi, putih, dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya.
Sahabat-sahabatku berkata, inilah laki-laki yang diimpikan semua perempuan untuk menjadi imamnya.
Aku hanya tersipu-sipu mendengar pujian mereka terhadap Ananta.
Ananta sendiri tidak pernah ambil pusing dengan pujian-pujian itu.

Tujuh tahun lebih aku mengenal laki-laki semampai ini.
Perkenalan biasa, kakak kelas di sekolah menengah atas yang menjadi idola semua siswa perempuan.
Yah dengan modal wajah manis, pintar, ditambah dengan penampilan sporty, Ananta sukses menyita perhatian anak-anak perempuan yang baru menginjak remaja.

"Cepatlah jadi dokter, Ranti, masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita," ujarnya tiba-tiba. Aku memandangnya terheran-heran.
"Kenyataan di lapangan tidak seindah teori di kampus, Ranti. Dengan mudah kita akan menjawab diare dapat ditangani dengan konsumsi oralit. Tapi faktanya Ranti, banyak bayi mati akibat diare hanya karena ibunya tidak memiliki pengetahuan memadai tentang ini semua," sambungnya.
Aku tersenyum mafhum.
Keterkejutan seorang dokter muda yang baru saja diterjunkan ke lapangan bukanlah hal yang baru.

"Tidak diberi penyuluhan, sayang?"
"Jangankan penyuluhan, dokter di Puskesmas saja sering datang sesuka hati. Jam 8 baru datang, jam 10 sudah pulang,". Kubantu ia melepas jas putihnya. "Tolong ingatkan aku jika kelak aku mulai kehilangan idealisme dan kemanusiaan. Jangan sampai aku bertindak sesuka hati begitu," sambungnya.

"Mandilah dulu sayang, biar sedikit segar. Mau mencari takjil sore ini?"
Ananta mengangguk. Kucium puncak kepalanya, barulah ia bangkit ke kamar mandi.
Kontrakanku sepi sore ini. Santi dan Liza belum pulang dari kampus. Mungkin mereka sekalian mencari makanan untuk berbuka puasa.

****

Kawasan lembah UGM ramai dipadati penjual makanan dan minuman untuk berbuka.
Ananta memarkirkan mobil di kantong parkir, lalu kami berjalan kaki.
"Mungkin ini menjadi ramadhan terakhir yang kita habiskan di sini Ranti,"
Aku terkesiap. Apa maksudnya?
"Aku ingin ramadhan tahun depan kuhabiskan bersamamu di rumah kita. Betapa menyenangkan membantumu menyiapkan berbagai makanan untuk berbuka," sambung Ananta.
Kucubit hidungnya gemas.
"Doakan blok terakhir lancar, sayang,"
"Insyaallah," sahut Ananta.

Kami duduk di pinggir sungai seberang masjid kampus.
Di tanganku sudah ada dua gelas es buah dan dua kebab kesukaan Ananta.
Maghrib sebentar lagi.
Kusandarkan kepalaku ke bahu Ananta.
Selamanya aku tidak mau kehilangan dia.

****

Jumat, 05 Juni 2015

Intelligence : An Opinion

Huft.
Yesterday is one of the most strangest day in my life.

Pertama kali aku ngakak nonton film bertema intelijen.
Emang lagi hits kali ya sekarang film tentang mata-mata, telik sandi, or whatever it's name dijadiin bercandaan.
Agak kelewatan kadang rasanya.
Walaupun aku nggak hidup dalam lingkup sesandian atau mata-mata, nggak kenal, apalagi kontak sama hal-hal begituan, tetep aja rasanya nggak etis menertawakan apa yang mereka lakukan sekonyol apa pun.

Btw, aku pribadi nggak percaya ada intel yang bodoh.
Helooow, mana ada orang bodoh dipercaya menjaga rahasia negara?
Kalau agen CIA, FBI segila yang diceritain di film, mana mungkin Amrik bisa dengan sukses menyusup dan mencampuri urusan rumah tangga negara lain?
Intelijen jelas harus punya kendali dan kuasa yang baik atas dirinya dan lingkungan di sekitarnya.
Intelijen adalah mata telinga pertama negara atau suatu pihak, sumber terpercaya.
Jadi sudah sejak awal aku nggak sepakat sama film yang menceritakan kekonyolan intelijen.

Yang kedua,
Aku masih inget wejangan ala militer dari Ibuk.
"Kalau kamu seorang prajurit, pilihanmu hanya menyerang atau kamu sendiri yang mati diserang,"
Aku amati lagi emang begitu keadaannya.
Intelijen juga prajurit, terlepas mereka bekerja untuk siapa.
Tanggungan mereka lebih berat, pilihan mereka lebih terbatas.
"Kalau kamu ketahuan musuh, kamu mati dibunuh musuh, atau mati di tangan komandanmu sendiri"
Yep. Nyawa mereka bergantung pada kemampuan mereka tetap tersembunyi.
Itu yang kubaca dari sekian banyak buku thriller dan berbau mata-mata.

Yang ketiga,
Mereka pasti punya perang batin.
Dari yang aku baca, seringkali apa yang mereka inginkan berbeda dengan perintah yang mereka dapatkan.
Sometimes they know "That's wrong!" tapi mereka tidak akan mungkin melawan perintah kalau nggak pengen mati.
Menghadapi konflik batin seperti itu nggak gampang (kayaknya).
Masih pantaskah pekerjaan mereka dijadikan lelucon?

Yang keempat,
Mereka mungkin punya keluarga. Dan mereka harus meninggalkan, minimal menyembunyikan keberadaannya dari keluarganya kalau nggak mau keluarganya celaka.
See?
Bayangin lah mereka hidup kayak apa,
kangen bapak, ibuk, kakak, adik, anak, istri, tapi nggak bisa dekat sama mereka.
Kayak begini masih dijadiin bercandaan ya?
Bisa gitu malah ada film yang ceritanya intelijennya ganteng, sampai tiap episode punya minimal satu simpanan seksi :"

Oke itu sangat subjektif dan belum tentu benar karena opini ini berkembang hanya dari beberapa buku dan film, bukan dari kenyataan.
Aku nggak tahu kehidupan intelijen itu kayak apa, pendidikan mereka gimana.
Tapi at least, dari membaca dan nonton film aku jadi bersimpati sama mereka.
Dengan pilihan dan kelonggaran hidup yang sangat terbatas dan risiko yang tidak terbatas, mereka tetap mau menjalankan perintah dan menyelesaikan misi mereka apapun risikonya.
Terlepas untuk siapa mereka bekerja, mau sekonyol apapun mereka ditokohkan, aku tetap akan bilang mereka superhero :)

Minggu, 24 Mei 2015

Euforia


Dua hari lalu, rasanya kayak terlempar ke dunia lain bertahun-tahun yang lalu.
Sportarium UMY dipadati anak-anak berseragam putih-abu, berbaju batik rapi.
Bis bis antre memasuki gerbang universitas.
Di dalamnya anak-anak paling cerdas (menurutku) dari seluruh Indonesia berkumpul.
Yippi! Closing ceremoni Olimpiade Sains Nasional.

Setelah semua bis masuk, anak-anak dan guru pendampingnya keluar.
Menyandang gelar prestisius sebagai finalis ajang paling bergengsi di Indonesia tidak membuat mereka tampak berbeda.
Sama seperti anak remaja pada umumnya hehe, yang ingin tahu ini, teriak teriak gaje, jalan ke sana kemari.

Melihat mereka rasanya menyenangkan.
Masa muda yang tidak semua orang bisa rasakan.
Jalan-jalan dengan fasilitas negara, masuk ke laboratorium paling canggih di Indonesia, bahkan jaminan pendidikan tinggi sudah mereka dapatkan.

Lalu aku ingat seseorang (yang nggak perlu diingat ingat juga pasti bakal ingat wkwk)

Lebih dari 3 tahun yang lalu, aku bertemu dengan beberapa orang hebat.
Pemegang medali Olimpiade Sains Internasional, dan sederet prestasi lainnya.
Masih jelas rasanya jadi orang paling bodoh di antara orang-orang jenius, haha, sampai nggak paham mereka ini ngomong apa sebenernya.
Tapi Tuhan Maha Baik, dikirimlah malaikat penyelamat makhluk-makhluk terbelakang ini, haha
Emm, walaupun aku tetep nggak bisa menyamai kejeniusan orang-orang ini, tapi berkat malaikat ini seenggaknya aku jadi lebih paham mereka ini ngomong apa.
Malaikat itu dikirim Tuhan dalam wujud bocah laki-laki sederhana yang pendiam dan lumayan cakep (oke ini subjektif)
Sabaaaaaaaaaaaarrrr banget ngajarin beberapa rakyat jelata miskin pengetahuan ini.
Padahal dia sama jeniusnya dengan anak-anak yang lain.
Sabaaaaaaaaaaaarrrr banget ngadepin adek-adek yang banyak-tingkah-dan-banyak-maunya-tapi-dikit-usahanya
Malaikat buat kami semua lah pokoknya wkwk

Singkat cerita, camp berakhir, semua orang kembali ke peran masing-masing.
Orang-orang jenius menghadapi Olimpiade Sains.
Rakyat jelata kembali ke kehidupan normal.
Bisa ditebak hasil Olimpiade Sains kayak apa.
Orang-orang jenius (termasuk Malaikat) pulang dengan medali terkalung di leher mereka.

Time flies..

Tiga tahun kemudian, nggak ada angin nggak ada hujan, nggak ngerti juga gimana ceritanya,
aku dan malaikat ketemu lagi. Di tempat dan suasana yang agak aneh buat reuni.
Pusat Grosir Solo. Hahahaha..
100 hari meninggalnya simbah.

Malaikat tetep malaikat mau ketemu di deretan kios baju juga tetep malaikat hahaha.
Tetep sederhana, simpel, diam, sabar, dan baik hati.
Satu yang berubah : He grows up.
Bocah laki-laki yang aku temui bertahun-tahun sebelumnya sudah berkembang jadi laki-laki menjelang kepala dua.
Terlihat lebih dewasa (apa karena lama banget nggak ketemu terus akunya yang gumun ya nggak tahu juga).

Back to Closing Ceremony OSN :)

Nama-nama peraih medali dipanggil maju ke atas panggung.
Ada yang sujud syukur, ada yang menangis, ada yang jejingkrakan, ada juga yang tetep stay cool.
Hihi, sempat membayangkan gimana ya dulu waktu nama si malaikat dipanggil ke depan?
Jejingkrakan? Kok kayaknya impossible. Nangis? Kok alay bener. Hahaha.

Ada sedikit penyesalan kenapa dulu aku nggak sejenius ataupun berjuang sekeras teman-teman yang lain sehingga bisa menyaksikan malaikat maju ke atas panggung dan menerima medalinya,
lalu menjabat tangannya dan mengucapkan "Selamat,".
Aku sudah melewatkan salah satu momen paling berharga di hidupnya.

Ada juga haru yang datang melihat anak-anak muda yang luar biasa ini.
Betapa beruntung aku pernah mengenal beberapa orang di antara mereka walaupun cuma beberapa saat.
Mereka yang membawa nama Indonesia sampai dikenal dunia.
Salah satu generasi emas di bidang pengetahuan.

Terjadilah percakapan ini :

A (Aku)
M (Malaikat)

A : Dulu kamu gimana e waktu nerima medali?
M : Saya jalan berwibawa
A : ....... (ngakak)
M : Re : Bingung. Udah nangis duluan waktu nggak disebut di medali perunggu
A : ALAAAAAAAAAAAAAAYYYYY!! wkwk
*percakapan selanjutnya bukan konsumsi publik, wakakak*

Yah udah gitu aja sih, haha..
OSN itu salah satu momen paling berkesan.
Apa ya, momen yang bikin aku mengimani takdir dengan lebih lebih lagi.
Nggak ada yang namanya kebetulan. Semua kejadian ada ujung pangkalnya, ada kaitannya, dan ada hikmahnya.
Mungkin nggak kerasa di saat itu juga, tapi someday Tuhan pasti kasih bocoran kenapa semua hal itu harus terjadi hehe.

Cerita lain dari sudut pandang lain tentang OSN mungkin aku tulis juga nanti (kalau sempet dan inget) hehehe..

Minggu, 22 Maret 2015

Siapa Kalian?

Siapa kalian, mahasiswa?
Yang mengepalkan tangan dan berteriak lantang di sepanjang jalan?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang tiap hari datang ke kampus megah dan duduk di kelasnya yang mewah?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang bercokol di sekretariat organisasi mengkaji isu korupsi, absennya subsidi, hingga harga beras yang melangit?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang berdiam di laboratorium berusaha menemukan formula anti kuman paling manjur?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang senang turun ke jalan dan mengkritisi apapun kata mereka yang di atas sana?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang memilih menyusuri rak perpustakaan dengan tekun dan memperdebatkan pendapat Plato atau Hipocrates?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang menggulung lengan jas almamaternya dan meneriakkan “Hidup Rakyat Indonesia!” ?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang memilin kerah kemejanya, menyematkan jas almamaternya dengan bangga di bahunya di kompetisi karya ilmiah tingkat Internasional?
Jika,
Mahasiswa hanyalah kalian yang setia “membela” kepentingan rakyat dengan semangat yang berkobar,
berteriak hingga suara serak,
mengepalkan tangan kuat-kuat,
Meraung.
Mengaum.
Menyalak galak pada pihak-pihak yang kalian bilang tidak pro rakyat.
Kami adalah pembela rakyat, kata kalian.
Kami adalah agen perubahan, itu yang kalian sampaikan.
Kalau bukan kami, mahasiswa yang peduli pada kepentingan rakyat, lalu siapa lagi?
Jika,
Mahasiswa hanyalah kalian yang duduk manis di kelas dan mendengarkan kuliah yang kadang menjemukan,
Tekun belajar hingga larut malam,
Mengumpulkan medali dari berbagai kompetisi,
Aktif mengikuti diskusi, simulasi sidang dan konferensi hingga lintas benua.
Kami adalah intelektual muda bangsa, kata kalian.
Kami adalah generasi emas bangsa, itu yang kalian sampaikan.
Kalau bukan kami, cendekiawan muda yang mengharumkan nama bangsa ke kancah dunia, lalu siapa lagi?
Jika demikian,
Maka siapakah teman-teman kalian,
Yang aktif menulis di berbagai media massa menyuarakan ide-idenya tanpa harus berpeluh berdebu
Yang meluangkan waktu mereka mendampingi anak-anak jalanan agar tidak putus pendidikan
Yang sepulang kuliah harus turut membantu ibunya menggoreng pisang untuk dijual sore nanti
Yang menebar bunga ke pengguna jalan untuk sekedar mengingatkan agar hati-hati di jalan
Yang membuka konsultasi kesehatan gratis di rumah-rumah warga miskin
Yang menyuapkan nasi, berbagi tawa, menuntun langkah mereka yang tidak sempurna
Yang hitam terpanggang matahari pantai demi menyemai bibit-bibit bakau
Yang bersusah payah menapaki jalan terjal berbatu demi mengibarkan merah putih di puncak tertinggi dunia
Yang berkreasi dan berinovasi, mengumpulkan pundi-pundi dengan tangan sendiri
Yang menyusuri tiap jengkal tanah pertiwi dan membagikan gambar keindahannya agar seluruh dunia tahu
Yang dengan suaranya, goresan tangannya di kanvas, lenggok badannya, membuka mata dunia bahwa ada bagian dunia bernama Indonesia
Tidakkah mereka bagian dari kalian, mahasiswa?
Benarkah diam berarti tidak berbuat apa-apa?
Benarkah yang tampak tidak bergerak berarti juga tidak bertindak?
Benarkah yang tidak mengepalkan tangan berarti tidak membela rakyat?
Perjuangan bukan hanya dengan kepal tangan, bambu runcing dan senjata
Perjuangan bukan sekedar dengan pikiran dan ide-ide cemerlang
Kecintaan kepada rakyat, bangsa, dan negara tidak hanya milik mereka yang mengharumkan nama bangsa di kancah dunia
Perjuangan adalah hak, dan yang terpenting adalah kewajiban kita semua
Vertikal, horizontal, diagonal, atau apalah caranya
Karena kita mahasiswa, segelintir orang yang beruntung mencecap pendidikan tinggi negeri ini,
Kaum terpelajar yang seyogyanya sudah adil sejak dalam pikiran, perkataan bahkan perbuatan
Kita bergerak disebabkan, berdasarkan, dan hanya untuk kebenaran.
Hidup Mahasiswa Indonesia!
Hidup Rakyat Indonesia!
Yogya, tengah malam yang kacau, 2015

Rabu, 28 Januari 2015

Ikhlas

Kalau ini benar, kenapa rasanya begitu menyakitkan?

Luka.
Hari ini semua terluka.
Bukan hanya kamu, tapi juga aku, juga dia.

Obat selalu pahit di awal bukan?
Tapi kalau dengan menelan pahitnya aku bisa membuat segalanya lebih baik tentu akan kulakukan.

Tidak pernah ada niat menyakiti.
Tuhan sendiri bilang tiap perbuatan akan dibalas setimpal meskipun hanya sebesar zarrah.
Aku tidak ingin disakiti, maka pantang menyakiti.
Aku ingin bahagia, maka aku harus mengusahakan semua orang bahagia.
Tapi hidup adalah pilihan.
Tidak mungkin aku menggenggam kalian dalam satu hati toh?
Dan demi Tuhan memilih itu tidaklah mudah.
Keharusan memilih merobekku, merobekmu, merobeknya, , merobek kita semua.

Kalau dengan wajah yg begini aku justru melukai banyak orang, sungguh akan lebih baik bila wajahku berubah.
Jika dengan kebaikan hati justru aku menyakiti, mungkin aku harus belajar berperan antagonis.

Tidak ada yang salah, sayang, tidak ada.
Waktu yang membawaku padamu dan membawamu padaku.
Tapi waktu juga yang merenggutmu dariku, merenggutku darimu.
Tidak ada yang keliru, sayang, tidak ada.
Hanya angin sudah berubah arah.
Bukan lagi menujumu aku berlabuh.
Tidak ada yang bisa kupaksakan, sayang, tidak ada.
Sekalipun aku ingin memaksakan semua baik-baik saja.

Sakit tidak hanya milikmu.
Tapi pun milikku dan miliknya.

Selamanya kita tahu kita tidak akan lupa.
Kita semua harus belajar saling mengikhlaskan.