Minggu, 20 Desember 2015

Senja #Part 4

Senja,
Adakalanya aku ingat tanganmu yang mencengkeram pergelangan tanganku kuat kuat saat aku tersedak mendengar leluconmu dan yang lainnya.
Adakalanya aku ingat caramu mengikatkan pita di lengan kiriku sementara mulutmu penuh tersumpal roti selai cokelat yang kubawakan buatmu.
Pada dasarnya kamu orang humoris. Semua orang akan jatuh sayang padamu, Senja. Kontras dengan aku yang kata orang-orang acuh seperti batu.
“Kata siapa? Kamu peduli dengan banyak orang, kamu tulus, dan kamu dewasa,” ujarmu begitu kutanyakan perkara “batu” ini padamu.
“Well, ini bukan caramu mengatakan aku tua kan?” sahutku. Kamu tertawa keras.
“Tidak, Jingga. Bagiku kamu tidak pernah tua, kamu dewasa,” pungkasmu.

****
“Kamu tahu, Jingga, aku suka sepak bola,” ujarmu suatu pagi ketika kita kesiangan mencari warung bubur untuk sarapan dan akhirnya memilih menyantap soto di pinggir lapangan.
“Lalu?”
“Hmm, aku ingin ikut klub sepak bola lagi, seperti saat bersekolah dulu di Palembang,” ujarmu. “Sayangnya terlalu banyak praktikum di MIPA yang merampas sore hingga petangku,”lanjutmu.
“Cinta selalu menemukan jalan pulang, Senja,” aku menasihatimu hampir seolah kamu adikku sendiri.
“Hah?”
“Yah, kalau kamu cinta sepak bola, mau sesibuk apapun kamu, kamu akan tetap bermain sepak bola. Kecuali kamu tidak menginginkan bermain sepak bola lagi,” sahutku.
“Bagaimana rasanya, Jingga?”
“Apa?”
“Menjadi anak Sastra. Hidup dengan buku-buku, puisi, novel, tidak ada praktikum menguras waktu,” tanyamu lagi. Aku terkekeh.
“Luar biasa, hahaha,” sahutku. “Aku harus banyak berterima kasih kepada Bapakku yang memperkenalkan aku dengan buku, cinta pertama dan selamanya,”
“Kamu orang yang beruntung,”
“Amin. Kelak kamu mau jadi apa, Senja?”
“Mmm, pengusaha,”
“Lah, kenapa tidak masuk Ekonomi saja?”. Ganti kamu yang tertawa.
“Di MIPA aku belajar mengolah hasil alam, menghargai alam. Aku ingin mengembangkan usahaku sendiri, produk yang unik, rekayasa genetika dan inovasi teknologi mutakhir yang aman untuk masyarakat sekaligus menguntungkan bagi pengusaha. Di Ekonomi menurutku aku hanya akan belajar mengenai teori yang ideal, tidak belajar tentang inovasi dan kreativitas seperti di MIPA,” terangmu panjang lebar.

Aku tersenyum, manggut-manggut, dan menyeruput es teh manisku sampai tandas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar