Senja,
Adakalanya aku ingat tanganmu
yang mencengkeram pergelangan tanganku kuat kuat saat aku tersedak mendengar
leluconmu dan yang lainnya.
Adakalanya aku ingat caramu
mengikatkan pita di lengan kiriku sementara mulutmu penuh tersumpal roti selai
cokelat yang kubawakan buatmu.
Pada dasarnya kamu orang humoris.
Semua orang akan jatuh sayang padamu, Senja. Kontras dengan aku yang kata
orang-orang acuh seperti batu.
“Kata siapa? Kamu peduli dengan
banyak orang, kamu tulus, dan kamu dewasa,” ujarmu begitu kutanyakan perkara
“batu” ini padamu.
“Well, ini bukan caramu
mengatakan aku tua kan?” sahutku. Kamu tertawa keras.
“Tidak, Jingga. Bagiku kamu tidak
pernah tua, kamu dewasa,” pungkasmu.
****
“Kamu tahu, Jingga, aku suka
sepak bola,” ujarmu suatu pagi ketika kita kesiangan mencari warung bubur untuk
sarapan dan akhirnya memilih menyantap soto di pinggir lapangan.
“Lalu?”
“Hmm, aku ingin ikut klub sepak
bola lagi, seperti saat bersekolah dulu di Palembang,” ujarmu. “Sayangnya
terlalu banyak praktikum di MIPA yang merampas sore hingga petangku,”lanjutmu.
“Cinta selalu menemukan jalan pulang,
Senja,” aku menasihatimu hampir seolah kamu adikku sendiri.
“Hah?”
“Yah, kalau kamu cinta sepak
bola, mau sesibuk apapun kamu, kamu akan tetap bermain sepak bola. Kecuali kamu
tidak menginginkan bermain sepak bola lagi,” sahutku.
“Bagaimana rasanya, Jingga?”
“Apa?”
“Menjadi anak Sastra. Hidup
dengan buku-buku, puisi, novel, tidak ada praktikum menguras waktu,” tanyamu
lagi. Aku terkekeh.
“Luar biasa, hahaha,” sahutku.
“Aku harus banyak berterima kasih kepada Bapakku yang memperkenalkan aku dengan
buku, cinta pertama dan selamanya,”
“Kamu orang yang beruntung,”
“Amin. Kelak kamu mau jadi apa,
Senja?”
“Mmm, pengusaha,”
“Lah, kenapa tidak masuk Ekonomi
saja?”. Ganti kamu yang tertawa.
“Di MIPA aku belajar mengolah
hasil alam, menghargai alam. Aku ingin mengembangkan usahaku sendiri, produk
yang unik, rekayasa genetika dan inovasi teknologi mutakhir yang aman untuk
masyarakat sekaligus menguntungkan bagi pengusaha. Di Ekonomi menurutku aku
hanya akan belajar mengenai teori yang ideal, tidak belajar tentang inovasi dan
kreativitas seperti di MIPA,” terangmu panjang lebar.
Aku tersenyum, manggut-manggut,
dan menyeruput es teh manisku sampai tandas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar