Perlahan-lahan aku menarik diri dari kehidupan Yos.
Beberapa kali aku menolak ajakan Yos untuk makan bersama, pergi ke perpustakaan, makan es krim dan melakukan hal-hal lain yang sering kami lakukan bersama sebelumnya.
"Kamu sibuk sekali ya akhir-akhir ini Di," ujar Yos.
Aku mendengus. Sore ini aku dan Yos bertemu di perpustakaan dan akhirnya berbincang.
"Maaf Yos, kegiatan praktikum semester ini padat sekali," kilahku.
"Bahkan di akhir pekan?"
Aku mengangguk, ragu.
Aku yakin Yos cukup cerdas untuk menyadarinya.
"Besok Sabtu malam kita nonton bola yuk," ajak Yos.
"Ke mana?"
"Stadion lah, masa ke pasar?" jawab Yos sembari tertawa, mencoba bercanda.
"Cuma berdua?"
"Enggak sih, ramean. Sama kakakku, sekalian sama temenku dan adiknya," jawab Yos.
"Temanmu laki-laki?"
"Eh.. enggak, perempuan kok, jadi kamu nggak perempuan sendiri gitu nanti di sana,"
Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Yos tidak seterbuka biasanya.
"Temanmu eh anu, siapa namanya?"
"Sabrina, Sabrina Aulia. Besok kukenalkan kalian berdua,"
Dadaku sesak tiba-tiba.
"Oh, maaf ternyata aku sudah ada agenda Sabtu malam nanti jadi nggak bisa ikut. Kirim salam dariku untuk kakakmu, Sabrina dan adiknya. Selamat bersenang-senang kalian," ujarku.
Bergegas aku membereskan laptop dan buku yang berserakan di atas meja sebelum airmataku tumpah di depan Yos.
"Loh? Kamu mau ke mana Di?" tahan Yos
"Maaf Yos, aku buru-buru. Permisi," ujarku sembari menyentakkan tangannya dan berlari keluar dari gedung perpustakaan.
Airmataku tumpah seketika.
Nina benar.
Yos brengsek.
Yos jahat.
Mau-maunya aku dipermainkan.
Oh tidak! Tidak!
Yos tidak jahat, Yos bukan laki-laki brengsek.
Ini semua karena aku, karena kebodohanku.
Bagaimana bisa dengan bodohnya aku jatuh cinta pada Yos, mengira aku istimewa baginya, mengira aku satu-satunya di hatinya.
Bodoh!
Bodoh sekali!
Sialan!
Kenapa semua ini harus terjadi ketika aku bahkan baru menyadari perasaanku kepada Yos?
Tidak! Tidak!
Aku harus menjauh dari hidup Yos.
Aku harus membiarkan Yos bahagia bersama perempuan pilihannya.
Aku tidak boleh egois.
Yos tidak mencintaiku, aku tidak boleh memaksanya terus bersamaku, dan memperlakukannya seperti analgesik yang mengurangi rasa sakit.
Ini tidak benar.
Aku harus pergi dari hidup Yos.
****
"Kamu kenapa? Kenapa kamu jadi dingin begini? Aku salah apa sama kamu Di?" tanya Yos.
Ombak laut selatan Jawa menjilati kaki kami berdua.
Aku menoleh.
Ingin rasanya kukatakan semuanya, mendampratnya dengan segala kosa kata kasar yang kupunya, tapi yang keluar hanya gelengan kepala.
"Aku nggak papa Yos,"
"Bohong. Kita hampir tidak bicara selama sebulan, dan kamu bilang kamu baik-baik saja?"
"Betul, aku baik-baik saja,"
"Aku nggak paham sama kamu. Kamu punya masalah apa? Kenapa kamu nggak cerita ke aku? Kenapa kamu terkesan selalu menghindari aku?"
Masalahku itu kamu Yos. Aku mencintai kamu sementara kamu mencintai Sabrina. Bagaimana aku bisa menceritakan semua ini ke kamu Yos? Tolong!
"Diandra, please, aku bisa bantu apa? Tolong kasih tahu aku seandainya aku bisa membantu. Aku nggak pengen kamu kenapa-napa,"
"Yos, aku baik-baik aja. Mungkin aku hanya sedang lelah dengan kegiatan kuliah, praktikum dan organisasi yang kuikuti. Kamu jaga kesehatan ya," jawabku.
Di perjalanan pulang takut-takut kulingkarkan lenganku ke pinggang Yos.
Kusandarkan kepalaku ke punggungnya yang kokoh dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Jika aroma ini bisa kusimpan, maka aku ingin menyimpannya banyak-banyak.
Yos, aku pamit.
****
Itulah sore terakhirku bersama Yos.
enx'z poenya
My life is my journey...
Selasa, 21 Agustus 2018
Part 1-5
"Diandra, yang jemput kamu kemarin itu siapa?" tanya Kirana tiba-tiba saat kami sedang makan siang di kantin.
"Yosa. Temanku, anak Filsafat. Kenapa Ki?"
"Yosafat Bayu?"
Aku mengangguk. Dari mana Kirana tahu nama lengkap Yosa?
"Oh.."
"Kenapa memangnya Ki?"
"Enggak, enggak papa. Kalian pacaran?" tanya Kirana lagi.
Aku menggeleng. "Cuma temen," sahutku.
"Oh oke. Soalnya, Yosa lagi deket sama sahabat aku. Makanya aku nggak asing waktu dia jemput kamu kemarin, kayak pernah lihat gitu," jelas Kirana.
Aku terkejut.
Selama ini Yosa tidak pernah menyinggung kedekatannya dengan seseorang.
"Oh, oke. Tenang aja, kami nggak pacaran hehe. By the way siapa nama sahabatmu? Yos nggak pernah cerita sih, bisa jadi bahan buat godain nih hahaha," sahutku agak canggung.
Percakapan ini mulai terasa tidak menyenangkan.
"Sabrina Aulia," jawab Kirana.
Aku mengangguk dan pura-pura tertawa.
****
Nama Sabrina Aulia tidak pernah muncul dalam obrolanku dengan Yos, meskipun rasanya sudah di ujung lidah, aku tidak pernah sanggup untuk menyebut namanya.
Aku jadi bingung dengan diriku sendiri.
Seharusnya aku senang bukan?
Mengetahui sahabatku memiliki seseorang yang dekat dengannya, yang disukainya.
Tapi kenapa aku merasa tidak senang? Tidak terima?
Seolah-olah merasa tersisih.
Padahal Yos masih sering menyambangiku, makan bersamaku, membicarakan banyak hal denganku.
Aku cemburu?
Untuk apa aku cemburu?
Bukankah sejak awal aku sudah menyadari kalau sikap ramah dan perhatian Yos bukanlah sesuatu yang istimewa? Bukankah ia juga menunjukkan hal yang sama ke semua orang?
Kaget?
Bagaimana bisa aku kaget dan tidak menyangka Yos memiliki seseorang yang lain yang dekat dengannya? Mengapa aku mengira hanya aku satu-satunya teman perempuan yang dekat dengan Yos?
Astaga.
Aku jadi ingat perkataan Nina tempo hari.
Hanya ada satu penjelasan mengapa aku bisa bertingkah kekanakan seperti ini.
Aku jatuh cinta pada Yos.
Tanpa pernah kusadari dan kuakui sebelumnya.
Aku menangis sejadi-jadinya.
"Yosa. Temanku, anak Filsafat. Kenapa Ki?"
"Yosafat Bayu?"
Aku mengangguk. Dari mana Kirana tahu nama lengkap Yosa?
"Oh.."
"Kenapa memangnya Ki?"
"Enggak, enggak papa. Kalian pacaran?" tanya Kirana lagi.
Aku menggeleng. "Cuma temen," sahutku.
"Oh oke. Soalnya, Yosa lagi deket sama sahabat aku. Makanya aku nggak asing waktu dia jemput kamu kemarin, kayak pernah lihat gitu," jelas Kirana.
Aku terkejut.
Selama ini Yosa tidak pernah menyinggung kedekatannya dengan seseorang.
"Oh, oke. Tenang aja, kami nggak pacaran hehe. By the way siapa nama sahabatmu? Yos nggak pernah cerita sih, bisa jadi bahan buat godain nih hahaha," sahutku agak canggung.
Percakapan ini mulai terasa tidak menyenangkan.
"Sabrina Aulia," jawab Kirana.
Aku mengangguk dan pura-pura tertawa.
****
Nama Sabrina Aulia tidak pernah muncul dalam obrolanku dengan Yos, meskipun rasanya sudah di ujung lidah, aku tidak pernah sanggup untuk menyebut namanya.
Aku jadi bingung dengan diriku sendiri.
Seharusnya aku senang bukan?
Mengetahui sahabatku memiliki seseorang yang dekat dengannya, yang disukainya.
Tapi kenapa aku merasa tidak senang? Tidak terima?
Seolah-olah merasa tersisih.
Padahal Yos masih sering menyambangiku, makan bersamaku, membicarakan banyak hal denganku.
Aku cemburu?
Untuk apa aku cemburu?
Bukankah sejak awal aku sudah menyadari kalau sikap ramah dan perhatian Yos bukanlah sesuatu yang istimewa? Bukankah ia juga menunjukkan hal yang sama ke semua orang?
Kaget?
Bagaimana bisa aku kaget dan tidak menyangka Yos memiliki seseorang yang lain yang dekat dengannya? Mengapa aku mengira hanya aku satu-satunya teman perempuan yang dekat dengan Yos?
Astaga.
Aku jadi ingat perkataan Nina tempo hari.
Hanya ada satu penjelasan mengapa aku bisa bertingkah kekanakan seperti ini.
Aku jatuh cinta pada Yos.
Tanpa pernah kusadari dan kuakui sebelumnya.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Part 1-4
"Kamu pacaran sama mahasiswa nggak jelas itu?"
"Hah? Mahasiswa nggak jelas siapa?" tanyaku kaget.
Tanpa basa basi Nina memberondongku dengan pertanyaan mengejutkan itu.
"Itu yang gondrong. Ih ngaco kamu ya, anak magister kamu tolak, calon dokter kamu tolak, eh malah pacaran sama mahasiswa nggak jelas!"
Aku tertawa.
"Nggak jelas gimana maksudnya?"
"Iyalah nggak jelas. Jurusannya bikin bingung, prospek masa depannya belum jelas. Belum pergaulannya, pasti ngerokok kan dia? Gonta ganti pacar juga pasti, dia kan anak band. Ih kamu nih gimana sih, sayang banget tahu nggak kalau kamu pacaran sama orang kayak gitu. Aku nggak merestui titik." cerocos Nina.
Aku melongo dan tertawa.
Bagaimana bisa Nina yang hanya pernah bertemu Yos sekejap saja, tidak pernah ngobrol panjang lebar, tidak pernah mengikuti keseharian Yos, bisa selancar itu menyatakan prasangkanya.
"Kamu itu ngomong apa haha. Don't judge a book by its cover, okay?" tukasku.
"No, no. Aku tidak akan tertarik baca buku kalau covernya nggak meyakinkan," bantahnya. "Dan ini perkara hubungan Diandra, bukan sekadar pilih buku bacaan,"
Aku kembali tertawa.
"Okay, okay, coba aku kenalkan Yos padamu. Benar Yos mahasiswa Filsafat, tapi jangan dibilang nggak punya masa depan gitu dong, siapa yang bisa jamin coba? Yang kedua, Yos memang gondrong, tapi Yos rajin pergi ke salon untuk creambath, apalagi untuk sekadar cuci rambut pasti sering dia lakukan, nggak usah khawatir dia kutuan," aku tertawa.
"Benar Yos memang anak band, tapi Yos nggak merokok. Yos punya asma, kalau dia merokok sama saja bunuh diri. Tentang gonta ganti pacar, aku nggak tahu sih soal ini, nggak nanya.
Terakhir, kamu itu denger gosip dari mana sih? For your information, aku dan Yos tidak pacaran, kami hanya berteman dekat, itu saja. Jelas Karenina Sukoco?" jelasku.
"Ok ok baik, aku bersyukur kalau kamu nggak pacaran sama cowok nggak jelas itu. tapi Diandra, please, aku nggak bisa dibohongi. Ayo ngaku, kamu suka kan sama dia?"
Aku terdiam.
Menimbang perasaanku sendiri terhadap Yos.
Selama ini kami cukup dekat, sering menghabiskan waktu berdua, membicarakan banyak hal.
Yos sangat baik padaku, sangat perhatian.
Ia tidak pernah tidak ada saat aku membutuhkan bantuannya. Sampai-sampai ia pernah menjemputku tengah malam setelah aku selesai mengerjakan tugas di rumah teman.
Tentu saja banyak orang yang mengira kami memiliki hubungan khusus.
Tapi kurasa tidak, Yos baik dan ramah kepada semua orang.
Rasa-rasanya aku tidak boleh ke-geer-an menganggap memiliki hubungan istimewa dengan Yos.
"Sudah kubilang kami hanya berteman Nina," jawabku.
"Dengar Diandra, mungkin kamu belum mau mengakuinya sekarang, tapi kuperingatkan padamu, jatuh cinta tidak melulu indah. Kamu juga harus siap menerima kepahitan apabila perasaanmu tidak berbalas. Jangan jatuh cinta dengan cengeng. Tinggalkan ketika memang dia tidak baik untukmu. Kamu tahu aku menyayangimu, kamu terlalu berharga untuk disia-siakan," ujar Nina.
Aku tersenyum, terharu memiliki sahabat yang sangat peduli seperti Nina.
"Terima kasih Nin," hanya itu yang mampu kuucapkan sambil memeluknya.
"Hah? Mahasiswa nggak jelas siapa?" tanyaku kaget.
Tanpa basa basi Nina memberondongku dengan pertanyaan mengejutkan itu.
"Itu yang gondrong. Ih ngaco kamu ya, anak magister kamu tolak, calon dokter kamu tolak, eh malah pacaran sama mahasiswa nggak jelas!"
Aku tertawa.
"Nggak jelas gimana maksudnya?"
"Iyalah nggak jelas. Jurusannya bikin bingung, prospek masa depannya belum jelas. Belum pergaulannya, pasti ngerokok kan dia? Gonta ganti pacar juga pasti, dia kan anak band. Ih kamu nih gimana sih, sayang banget tahu nggak kalau kamu pacaran sama orang kayak gitu. Aku nggak merestui titik." cerocos Nina.
Aku melongo dan tertawa.
Bagaimana bisa Nina yang hanya pernah bertemu Yos sekejap saja, tidak pernah ngobrol panjang lebar, tidak pernah mengikuti keseharian Yos, bisa selancar itu menyatakan prasangkanya.
"Kamu itu ngomong apa haha. Don't judge a book by its cover, okay?" tukasku.
"No, no. Aku tidak akan tertarik baca buku kalau covernya nggak meyakinkan," bantahnya. "Dan ini perkara hubungan Diandra, bukan sekadar pilih buku bacaan,"
Aku kembali tertawa.
"Okay, okay, coba aku kenalkan Yos padamu. Benar Yos mahasiswa Filsafat, tapi jangan dibilang nggak punya masa depan gitu dong, siapa yang bisa jamin coba? Yang kedua, Yos memang gondrong, tapi Yos rajin pergi ke salon untuk creambath, apalagi untuk sekadar cuci rambut pasti sering dia lakukan, nggak usah khawatir dia kutuan," aku tertawa.
"Benar Yos memang anak band, tapi Yos nggak merokok. Yos punya asma, kalau dia merokok sama saja bunuh diri. Tentang gonta ganti pacar, aku nggak tahu sih soal ini, nggak nanya.
Terakhir, kamu itu denger gosip dari mana sih? For your information, aku dan Yos tidak pacaran, kami hanya berteman dekat, itu saja. Jelas Karenina Sukoco?" jelasku.
"Ok ok baik, aku bersyukur kalau kamu nggak pacaran sama cowok nggak jelas itu. tapi Diandra, please, aku nggak bisa dibohongi. Ayo ngaku, kamu suka kan sama dia?"
Aku terdiam.
Menimbang perasaanku sendiri terhadap Yos.
Selama ini kami cukup dekat, sering menghabiskan waktu berdua, membicarakan banyak hal.
Yos sangat baik padaku, sangat perhatian.
Ia tidak pernah tidak ada saat aku membutuhkan bantuannya. Sampai-sampai ia pernah menjemputku tengah malam setelah aku selesai mengerjakan tugas di rumah teman.
Tentu saja banyak orang yang mengira kami memiliki hubungan khusus.
Tapi kurasa tidak, Yos baik dan ramah kepada semua orang.
Rasa-rasanya aku tidak boleh ke-geer-an menganggap memiliki hubungan istimewa dengan Yos.
"Sudah kubilang kami hanya berteman Nina," jawabku.
"Dengar Diandra, mungkin kamu belum mau mengakuinya sekarang, tapi kuperingatkan padamu, jatuh cinta tidak melulu indah. Kamu juga harus siap menerima kepahitan apabila perasaanmu tidak berbalas. Jangan jatuh cinta dengan cengeng. Tinggalkan ketika memang dia tidak baik untukmu. Kamu tahu aku menyayangimu, kamu terlalu berharga untuk disia-siakan," ujar Nina.
Aku tersenyum, terharu memiliki sahabat yang sangat peduli seperti Nina.
"Terima kasih Nin," hanya itu yang mampu kuucapkan sambil memeluknya.
Part 1-3
"Diandra, aku ingin bicara serius denganmu," ujar Yos suatu hari.
Aku menatapnya sungguh-sungguh.
Kurasakan ada debaran yang berbeda saat Yos mengatakan ini.
"Aku ingin berbagi rahasia denganmu. Ini soal organisasi di Fakultasku," sambungnya.
Aku sedikit kecewa.
Kukira Yos akan mengatakan sesuatu seperti.. Ah sudahlah!
"Ada apa dengan organisasi fakultasmu?" tanyaku.
"Kamu tahu kan selama ini organisasi mahasiswa di fakultasku mati selama bertahun-tahun? Akibatnya, mahasiswa baru tidak terurus. Seluruh informasi penting dari Universitas maupun Fakultas selalu datang terlambat ke kami karena tidak ada yang mengkoordinasikan. Aku kesal sekali." ujarnya.
"Beberapa hari yang lalu aku berbincang dengan salah satu mahasiswa senior. Aku kaget ketika dia bilang bahwa dulu Filsafat pernah punya lembaga mahasiswa," sambungnya.
"Lalu kenapa sekarang tidak ada?" tanyaku.
"Orde baru. Tekanan terhadap lembaga-lembaga mahasiswa sangat besar," ujar Yos.
"Tapi kan sudah lama berlalu. Reformasi sudah berjalan lebih dari 10 tahun,"
"Itulah. Dengan tidak adanya lembaga mahasiswa yang resmi, otomatis tidak ada lembaga yang mengatur urusan mahasiswa. Kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk mendapatkan kekuasaan dan menjalankan aturan sesukanya. Aku tidak menyukai kondisi ini. Mementingkan diri sendiri tapi merugikan orang banyak," papar Yos.
"Lalu?"
"Aku sedang menggalang kekuatan bawah tanah untuk mendobrak kondisi ini. Aku berjanji padamu Diandra, akan kudirikan kembali lembaga mahasiswa di Fakultasku. Tidak Diandra, aku bukan ingin mencari kekuasaan, masa bodoh dengan itu. Tujuanku adalah membangun peradaban. Sudah terlalu lama mahasiswa Filsafat hidup sporadis, tidak terorganisir. Ini jelas ketertinggalan yang sangat jauh dibandingkan dengan fakultas lain bahkan universitas," papar Yos.
Aku bergidik. Merinding.
Mimpi mendirikan kembali lembaga mahasiswa yang sudah lebih dari 10 tahun mati suri ini diucapkan oleh seorang mahasiswa yang baru dua semester duduk di kursi universitas.
"Kamu pasti tahu ini tidak akan mudah. Banyak pihak yang akan dirugikan terutama yang sekarang berkuasa, pasti mereka tidak akan tinggal diam," sahutku.
"Aku tidak takut, Diandra, Aku menyuarakan kebaikan, mengusahakan kebaikan. Kupikir ini sudah jadi kebutuhan banyak orang. Aku yakin kebaikan pasti akan menang. Jika ini berhasil, akan besar manfaatnya. Jika gagal pun, aku tidak malu karena aku sudah berusaha. Aku berani mati sebagai martir," tegas Yos.
"Yosa," ujarku. "Semoga berhasil. Doaku bersamamu,"
Yos mengangguk dan tersenyum.
"Kamu tahu, kamu mengingatkanku pada ibuku. Hanya kamu perempuan yang bisa memahami aku selain ibuku,"
Aku tersenyum.
Kukira aku benar mengenai satu hal sejak pertama kali mengenal Yos.
Yos ibarat kotak yang penuh ide-ide menggelegak.
Hanya butuh kunci yang tepat untuk membukanya dan voila! Ide-ide dan semangatnya akan meletup keluar dengan sendirinya.
"Aku percaya kepadamu Yos," pungkasku.
Aku menatapnya sungguh-sungguh.
Kurasakan ada debaran yang berbeda saat Yos mengatakan ini.
"Aku ingin berbagi rahasia denganmu. Ini soal organisasi di Fakultasku," sambungnya.
Aku sedikit kecewa.
Kukira Yos akan mengatakan sesuatu seperti.. Ah sudahlah!
"Ada apa dengan organisasi fakultasmu?" tanyaku.
"Kamu tahu kan selama ini organisasi mahasiswa di fakultasku mati selama bertahun-tahun? Akibatnya, mahasiswa baru tidak terurus. Seluruh informasi penting dari Universitas maupun Fakultas selalu datang terlambat ke kami karena tidak ada yang mengkoordinasikan. Aku kesal sekali." ujarnya.
"Beberapa hari yang lalu aku berbincang dengan salah satu mahasiswa senior. Aku kaget ketika dia bilang bahwa dulu Filsafat pernah punya lembaga mahasiswa," sambungnya.
"Lalu kenapa sekarang tidak ada?" tanyaku.
"Orde baru. Tekanan terhadap lembaga-lembaga mahasiswa sangat besar," ujar Yos.
"Tapi kan sudah lama berlalu. Reformasi sudah berjalan lebih dari 10 tahun,"
"Itulah. Dengan tidak adanya lembaga mahasiswa yang resmi, otomatis tidak ada lembaga yang mengatur urusan mahasiswa. Kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk mendapatkan kekuasaan dan menjalankan aturan sesukanya. Aku tidak menyukai kondisi ini. Mementingkan diri sendiri tapi merugikan orang banyak," papar Yos.
"Lalu?"
"Aku sedang menggalang kekuatan bawah tanah untuk mendobrak kondisi ini. Aku berjanji padamu Diandra, akan kudirikan kembali lembaga mahasiswa di Fakultasku. Tidak Diandra, aku bukan ingin mencari kekuasaan, masa bodoh dengan itu. Tujuanku adalah membangun peradaban. Sudah terlalu lama mahasiswa Filsafat hidup sporadis, tidak terorganisir. Ini jelas ketertinggalan yang sangat jauh dibandingkan dengan fakultas lain bahkan universitas," papar Yos.
Aku bergidik. Merinding.
Mimpi mendirikan kembali lembaga mahasiswa yang sudah lebih dari 10 tahun mati suri ini diucapkan oleh seorang mahasiswa yang baru dua semester duduk di kursi universitas.
"Kamu pasti tahu ini tidak akan mudah. Banyak pihak yang akan dirugikan terutama yang sekarang berkuasa, pasti mereka tidak akan tinggal diam," sahutku.
"Aku tidak takut, Diandra, Aku menyuarakan kebaikan, mengusahakan kebaikan. Kupikir ini sudah jadi kebutuhan banyak orang. Aku yakin kebaikan pasti akan menang. Jika ini berhasil, akan besar manfaatnya. Jika gagal pun, aku tidak malu karena aku sudah berusaha. Aku berani mati sebagai martir," tegas Yos.
"Yosa," ujarku. "Semoga berhasil. Doaku bersamamu,"
Yos mengangguk dan tersenyum.
"Kamu tahu, kamu mengingatkanku pada ibuku. Hanya kamu perempuan yang bisa memahami aku selain ibuku,"
Aku tersenyum.
Kukira aku benar mengenai satu hal sejak pertama kali mengenal Yos.
Yos ibarat kotak yang penuh ide-ide menggelegak.
Hanya butuh kunci yang tepat untuk membukanya dan voila! Ide-ide dan semangatnya akan meletup keluar dengan sendirinya.
"Aku percaya kepadamu Yos," pungkasku.
Part 1-2
Ingatanku berputar kembali ke beberapa tahun lalu,
saat aku dan Yos pertama kali bertemu.
Sungguh, aku dan Yos bagaikan langit dan bumi.
Tidak ada ceritanya di dalam kamus hidupku aku akan jatuh sebegini dalam padanya.
Yos mahasiswa Filsafat.
Aku mahasiswa Kedokteran Gigi.
Yos dengan rambut gondrong dan brewoknya.
Aku setia dengan blouse dan minidress.
"Hai, salam kenal," sapanya saat itu.
Aku mengernyit. Tersenyum, mencoba membalas keramahannya.
"Salam kenal juga mas, saya Diandra, Kedokteran Gigi 2013"
"Yosa, nggak perlu pakai mas. Filsafat, 2013"
"Oh.. maaf mas, saya kira mas kakak angkatan saya," sahutku malu-malu.
Yos tertawa.
"Aku tahu, aku tahu. Pasti karena rambut gondrong dan kumisku kan? No problem. Senang berkenalan denganmu Diandra," ujar Yos sambil mengedipkan satu matanya dan bergegas berlalu.
Itu tiga tahun lalu, saat kami berdua sama-sama masih mahasiswa baru.
Waktu itu kami tidak sengaja bertemu di salah satu acara kepanitiaan kampus.
****
Kesan pertamaku atas diri Yos : menarik.
Aku tidak bisa mengidentifikasi apa sebenarnya yang membuat Yos tampak menarik di mataku.
Mungkin karena dia berbeda dari laki-laki di lingkunganku?
Mungkin karena sikap jaga jarak tapi ramah dengan semua orang?
Mungkin karena parasnya?
Entah.
Aku ingin menggali lebih jauh dari sekadar tatapan bening mata cokelat Yos.
Entah kenapa juga hubungan kami berlanjut usai pertemuan yang tidak disengaja itu.
Awalnya hanya sekadar saling meneruskan pesan dari kepanitiaan dan organisasi yang sama-sama kami ikuti.
Semakin hari percakapan melalui aplikasi pesan singkat kami mulai melebar ke mana-mana.
Tentang Yos.
Tentang aku.
Tentang kuliah Yos.
Tentang kuliahku.
Tidak bisa kupungkiri hadirnya Yos cukup membuatku senang.
Sehari saja aku tidak mendapatkan pesan darinya, rasanya kosong sekali.
"Kamu mau ikut kuliah di Fakultasku?" tanya Yos suatu hari.
Aku mengernyit.
"Memangnya bisa?"
Yos tertawa.
"Jawab saja mau atau tidak. Urusan bisa atau tidak itu urusanku nanti,"
Aku berpikir sejenak. Tawaran Yos cukup menarik. Kapan lagi coba aku bisa lepas dari rutinitas kuliah-praktikum sepanjang hari?
"Mau," jawabku.
Yos terkekeh.
"Oke, temui aku di kantin Filsafat besok Selasa pukul 10 pagi,"
Aku mengangguk.
"Oh, satu lagi, tolong berpakaian yang normal. Maksudku, please, nggak ada mahasiswa Filsafat yang kuliah dengan sepatu pantofel dan rok bunga-bunga. Jadi tolong berpakaianlah seperti mahasiswa pada umumnya. Paham kan?" imbuhnya.
Aku tertawa dan mengangguk.
Selasa pagi yang dijanjikan,
aku datang ke Fakultas Filsafat dengan kemeja ungu yang lengannya kugulung hingga siku, celana jeans belel dan sepatu keds.
Yos datang dan tertawa terbahak-bahak melihatku.
"Gila kamu ya! Beneran datang!" serunya.
Aku terkekeh.
"Kesempatan yang sama tidak datang dua kali. Jadi ya kenapa tidak?" tukasku.
Yos tertawa semakin kencang.
"Sebaiknya kuberitahu kamu sekarang sebelum terlambat. Tolong jangan dengarkan apapun yang teman-teman katakan ke kamu. Eh maksudku, bolehlah dengarkan, tapi kusarankan jangan kamu masukkan ke hati. Ok?"
Aku tidak paham. Memangnya apa yang akan dikatakan teman-teman Yos sampai aku tidak boleh memasukkan ke dalam hati?
Yos berhenti tertawa dan memandangi wajah bingungku.
"Ah sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri,"
Tak berapa lama kemudian aku mendapatkan jawabannya.
Seakan aku menjadi pusat perhatian ketika berjalan di sisi Yos, semua mata sibuk menatapku dan mencoba mengenaliku.
"Pacarmu Yos?" tanya seorang anak laki-laki sambil menghembuskan asap rokoknya. Yos tidak menjawab, hanya tertawa.
Pertanyaan itu muncul lagi dari orang yang kutemui di lorong depan kelas.
Frekuensinya semakin banyak ketika kami semakin mendekati kelas.
Muka Yos tampak santai menanggapi semua itu.
Sekarang aku mengerti kenapa Yos memintaku untuk tidak memasukkan semua pertanyaan itu ke dalam hati.
saat aku dan Yos pertama kali bertemu.
Sungguh, aku dan Yos bagaikan langit dan bumi.
Tidak ada ceritanya di dalam kamus hidupku aku akan jatuh sebegini dalam padanya.
Yos mahasiswa Filsafat.
Aku mahasiswa Kedokteran Gigi.
Yos dengan rambut gondrong dan brewoknya.
Aku setia dengan blouse dan minidress.
"Hai, salam kenal," sapanya saat itu.
Aku mengernyit. Tersenyum, mencoba membalas keramahannya.
"Salam kenal juga mas, saya Diandra, Kedokteran Gigi 2013"
"Yosa, nggak perlu pakai mas. Filsafat, 2013"
"Oh.. maaf mas, saya kira mas kakak angkatan saya," sahutku malu-malu.
Yos tertawa.
"Aku tahu, aku tahu. Pasti karena rambut gondrong dan kumisku kan? No problem. Senang berkenalan denganmu Diandra," ujar Yos sambil mengedipkan satu matanya dan bergegas berlalu.
Itu tiga tahun lalu, saat kami berdua sama-sama masih mahasiswa baru.
Waktu itu kami tidak sengaja bertemu di salah satu acara kepanitiaan kampus.
****
Kesan pertamaku atas diri Yos : menarik.
Aku tidak bisa mengidentifikasi apa sebenarnya yang membuat Yos tampak menarik di mataku.
Mungkin karena dia berbeda dari laki-laki di lingkunganku?
Mungkin karena sikap jaga jarak tapi ramah dengan semua orang?
Mungkin karena parasnya?
Entah.
Aku ingin menggali lebih jauh dari sekadar tatapan bening mata cokelat Yos.
Entah kenapa juga hubungan kami berlanjut usai pertemuan yang tidak disengaja itu.
Awalnya hanya sekadar saling meneruskan pesan dari kepanitiaan dan organisasi yang sama-sama kami ikuti.
Semakin hari percakapan melalui aplikasi pesan singkat kami mulai melebar ke mana-mana.
Tentang Yos.
Tentang aku.
Tentang kuliah Yos.
Tentang kuliahku.
Tidak bisa kupungkiri hadirnya Yos cukup membuatku senang.
Sehari saja aku tidak mendapatkan pesan darinya, rasanya kosong sekali.
"Kamu mau ikut kuliah di Fakultasku?" tanya Yos suatu hari.
Aku mengernyit.
"Memangnya bisa?"
Yos tertawa.
"Jawab saja mau atau tidak. Urusan bisa atau tidak itu urusanku nanti,"
Aku berpikir sejenak. Tawaran Yos cukup menarik. Kapan lagi coba aku bisa lepas dari rutinitas kuliah-praktikum sepanjang hari?
"Mau," jawabku.
Yos terkekeh.
"Oke, temui aku di kantin Filsafat besok Selasa pukul 10 pagi,"
Aku mengangguk.
"Oh, satu lagi, tolong berpakaian yang normal. Maksudku, please, nggak ada mahasiswa Filsafat yang kuliah dengan sepatu pantofel dan rok bunga-bunga. Jadi tolong berpakaianlah seperti mahasiswa pada umumnya. Paham kan?" imbuhnya.
Aku tertawa dan mengangguk.
Selasa pagi yang dijanjikan,
aku datang ke Fakultas Filsafat dengan kemeja ungu yang lengannya kugulung hingga siku, celana jeans belel dan sepatu keds.
Yos datang dan tertawa terbahak-bahak melihatku.
"Gila kamu ya! Beneran datang!" serunya.
Aku terkekeh.
"Kesempatan yang sama tidak datang dua kali. Jadi ya kenapa tidak?" tukasku.
Yos tertawa semakin kencang.
"Sebaiknya kuberitahu kamu sekarang sebelum terlambat. Tolong jangan dengarkan apapun yang teman-teman katakan ke kamu. Eh maksudku, bolehlah dengarkan, tapi kusarankan jangan kamu masukkan ke hati. Ok?"
Aku tidak paham. Memangnya apa yang akan dikatakan teman-teman Yos sampai aku tidak boleh memasukkan ke dalam hati?
Yos berhenti tertawa dan memandangi wajah bingungku.
"Ah sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri,"
Tak berapa lama kemudian aku mendapatkan jawabannya.
Seakan aku menjadi pusat perhatian ketika berjalan di sisi Yos, semua mata sibuk menatapku dan mencoba mengenaliku.
"Pacarmu Yos?" tanya seorang anak laki-laki sambil menghembuskan asap rokoknya. Yos tidak menjawab, hanya tertawa.
Pertanyaan itu muncul lagi dari orang yang kutemui di lorong depan kelas.
Frekuensinya semakin banyak ketika kami semakin mendekati kelas.
Muka Yos tampak santai menanggapi semua itu.
Sekarang aku mengerti kenapa Yos memintaku untuk tidak memasukkan semua pertanyaan itu ke dalam hati.
Selasa, 09 Mei 2017
Part 1-1
Yogya, Maret 2014.
Aku sudah memutuskan.
Retak ini terlanjur jadi patah sekarang.
Maafkan aku atas ketidaktahuanku,
maafkan kekurangajaranku
mencoba masuk ke hidupmu yang baru sebentar mengenalku
sementara tanpa aku tahu sebelumnya,
kamu telah berbahagia bersamanya.
Dia,
perempuan cantik yang coba kamu kenalkan padaku
berkali-kali.
Hingga akhirnya hari ini,
aku memilih undur diri.
*****
"Yos," desisku.
Dengan terburu-buru aku berbalik arah sebelum sesosok lelaki di depan sana menyadari kehadiranku.
Sudah lebih dari setahun kita tidak pernah bertemu dan bertukar sapa,
tapi entah aku masih belum lupa hari-hari singkat saat kita pernah bersama.
"Diandra!"
Celaka!
Kupercepat langkahku menghindarinya.
"Diandra tunggu Diandra!"
Cepat sekali ia berlari,
dalam sekejap saja ia sudah berdiri menahan langkahku.
Aku hanya diam dan menunduk.
"Diandra, kamu masih ingat aku kan?"
Aku mengangguk.
"Apa kabar Diandra?"
Aku terdiam.
"Kenapa kamu pergi sayang?"
Aku semakin diam.
Bagaimana bisa kamu menanyakan sesuatu yang jelas terang kamu tahu sebabnya Yos?
"Aku salah apa Diandra?"
Aku memutuskan angkat bicara.
"Tidak Yos, kamu tidak salah. Aku yang salah. Maaf aku harus pergi sekarang,"
Yos melepaskan tanganku.
Aku tidak pernah menoleh lagi,
meski aku ingin.
Ah Yos, sejujurnya aku rindu.
Aku... hanya masih berusaha menjaga agar tidak jatuh lagi untuk kesekian kalinya,
seperti dulu tiap kali aku menemukan matamu.
Kamis, 28 Juli 2016
Langganan:
Postingan (Atom)



