"Diandra, yang jemput kamu kemarin itu siapa?" tanya Kirana tiba-tiba saat kami sedang makan siang di kantin.
"Yosa. Temanku, anak Filsafat. Kenapa Ki?"
"Yosafat Bayu?"
Aku mengangguk. Dari mana Kirana tahu nama lengkap Yosa?
"Oh.."
"Kenapa memangnya Ki?"
"Enggak, enggak papa. Kalian pacaran?" tanya Kirana lagi.
Aku menggeleng. "Cuma temen," sahutku.
"Oh oke. Soalnya, Yosa lagi deket sama sahabat aku. Makanya aku nggak asing waktu dia jemput kamu kemarin, kayak pernah lihat gitu," jelas Kirana.
Aku terkejut.
Selama ini Yosa tidak pernah menyinggung kedekatannya dengan seseorang.
"Oh, oke. Tenang aja, kami nggak pacaran hehe. By the way siapa nama sahabatmu? Yos nggak pernah cerita sih, bisa jadi bahan buat godain nih hahaha," sahutku agak canggung.
Percakapan ini mulai terasa tidak menyenangkan.
"Sabrina Aulia," jawab Kirana.
Aku mengangguk dan pura-pura tertawa.
****
Nama Sabrina Aulia tidak pernah muncul dalam obrolanku dengan Yos, meskipun rasanya sudah di ujung lidah, aku tidak pernah sanggup untuk menyebut namanya.
Aku jadi bingung dengan diriku sendiri.
Seharusnya aku senang bukan?
Mengetahui sahabatku memiliki seseorang yang dekat dengannya, yang disukainya.
Tapi kenapa aku merasa tidak senang? Tidak terima?
Seolah-olah merasa tersisih.
Padahal Yos masih sering menyambangiku, makan bersamaku, membicarakan banyak hal denganku.
Aku cemburu?
Untuk apa aku cemburu?
Bukankah sejak awal aku sudah menyadari kalau sikap ramah dan perhatian Yos bukanlah sesuatu yang istimewa? Bukankah ia juga menunjukkan hal yang sama ke semua orang?
Kaget?
Bagaimana bisa aku kaget dan tidak menyangka Yos memiliki seseorang yang lain yang dekat dengannya? Mengapa aku mengira hanya aku satu-satunya teman perempuan yang dekat dengan Yos?
Astaga.
Aku jadi ingat perkataan Nina tempo hari.
Hanya ada satu penjelasan mengapa aku bisa bertingkah kekanakan seperti ini.
Aku jatuh cinta pada Yos.
Tanpa pernah kusadari dan kuakui sebelumnya.
Aku menangis sejadi-jadinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar