"Diandra, aku ingin bicara serius denganmu," ujar Yos suatu hari.
Aku menatapnya sungguh-sungguh.
Kurasakan ada debaran yang berbeda saat Yos mengatakan ini.
"Aku ingin berbagi rahasia denganmu. Ini soal organisasi di Fakultasku," sambungnya.
Aku sedikit kecewa.
Kukira Yos akan mengatakan sesuatu seperti.. Ah sudahlah!
"Ada apa dengan organisasi fakultasmu?" tanyaku.
"Kamu tahu kan selama ini organisasi mahasiswa di fakultasku mati selama bertahun-tahun? Akibatnya, mahasiswa baru tidak terurus. Seluruh informasi penting dari Universitas maupun Fakultas selalu datang terlambat ke kami karena tidak ada yang mengkoordinasikan. Aku kesal sekali." ujarnya.
"Beberapa hari yang lalu aku berbincang dengan salah satu mahasiswa senior. Aku kaget ketika dia bilang bahwa dulu Filsafat pernah punya lembaga mahasiswa," sambungnya.
"Lalu kenapa sekarang tidak ada?" tanyaku.
"Orde baru. Tekanan terhadap lembaga-lembaga mahasiswa sangat besar," ujar Yos.
"Tapi kan sudah lama berlalu. Reformasi sudah berjalan lebih dari 10 tahun,"
"Itulah. Dengan tidak adanya lembaga mahasiswa yang resmi, otomatis tidak ada lembaga yang mengatur urusan mahasiswa. Kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk mendapatkan kekuasaan dan menjalankan aturan sesukanya. Aku tidak menyukai kondisi ini. Mementingkan diri sendiri tapi merugikan orang banyak," papar Yos.
"Lalu?"
"Aku sedang menggalang kekuatan bawah tanah untuk mendobrak kondisi ini. Aku berjanji padamu Diandra, akan kudirikan kembali lembaga mahasiswa di Fakultasku. Tidak Diandra, aku bukan ingin mencari kekuasaan, masa bodoh dengan itu. Tujuanku adalah membangun peradaban. Sudah terlalu lama mahasiswa Filsafat hidup sporadis, tidak terorganisir. Ini jelas ketertinggalan yang sangat jauh dibandingkan dengan fakultas lain bahkan universitas," papar Yos.
Aku bergidik. Merinding.
Mimpi mendirikan kembali lembaga mahasiswa yang sudah lebih dari 10 tahun mati suri ini diucapkan oleh seorang mahasiswa yang baru dua semester duduk di kursi universitas.
"Kamu pasti tahu ini tidak akan mudah. Banyak pihak yang akan dirugikan terutama yang sekarang berkuasa, pasti mereka tidak akan tinggal diam," sahutku.
"Aku tidak takut, Diandra, Aku menyuarakan kebaikan, mengusahakan kebaikan. Kupikir ini sudah jadi kebutuhan banyak orang. Aku yakin kebaikan pasti akan menang. Jika ini berhasil, akan besar manfaatnya. Jika gagal pun, aku tidak malu karena aku sudah berusaha. Aku berani mati sebagai martir," tegas Yos.
"Yosa," ujarku. "Semoga berhasil. Doaku bersamamu,"
Yos mengangguk dan tersenyum.
"Kamu tahu, kamu mengingatkanku pada ibuku. Hanya kamu perempuan yang bisa memahami aku selain ibuku,"
Aku tersenyum.
Kukira aku benar mengenai satu hal sejak pertama kali mengenal Yos.
Yos ibarat kotak yang penuh ide-ide menggelegak.
Hanya butuh kunci yang tepat untuk membukanya dan voila! Ide-ide dan semangatnya akan meletup keluar dengan sendirinya.
"Aku percaya kepadamu Yos," pungkasku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar