Selasa, 27 Mei 2014

Memoar #1

Yogjakarta, Desember 1997.

Jalanan seputar Sekip mulai lengang.
Maklumlah, sudah lewat senja. Bukan waktu yang wajar bagi mahasiswa berkeliaran di jalan. Senja begini biasanya para mahasiswa sudah berada di kamar kost masing-masing, menyiapkan makan malam, atau malah sedang mengerjakan tugas dan persiapan ujian.

Sendiri, takut-takut aku berjalan melewati kampus Kedokteran Gigi yang perlahan dinaungi gelap. Hari yang melelahkan. Diskusi panjang selama berhari-hari yang tak kunjung membuahkan hasil. Aku ingat kata-kata Josephine, kampus bukan lagi tempat yang aman untuk berdiskusi, intel-intel mulai berkeliaran di seputaran kampus. Walhasil, semakin hari kami semakin merunduk. Diskusi sore yang biasa kami lakoni terpaksa harus kami lakukan berbisik. Sekretariat kami di Gelanggang seketika sunyi.

Mentari mulai ikut bersembunyi.
Hari yang melelahkan. Sebaiknya aku segera pulang dan mempersiapkan bahan praktikum besok pagi.

Yogyakarta, Januari 1998.

Angin musim penghujan memang tidak bersahabat.
Setiap pagi dan sore aku harus bersusah payah menangani alergi dingin yang menyerbu. Kalau sudah begini, biasanya aku harus terburu-buru ke kampus dengan bersin-bersin sepanjang jalan.

"Lia!"
"Ya?"
"Kudengar situasi kampus mulai tidak aman. Ada apa sebenarnya?"
Aku mendengus. Lagi-lagi.
"Memang benar. Tapi kurasa tidak sampai mengganggu kegiatan akademik kita. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, yah semua orang tahu. Harga sembako mulai melonjak, orang-orang di atas sana bertingkah semakin gila saja,"
"Lalu? Apa sikap BEM? Kudengar sekretariat juga dimata-matai,"
"Entahlah, kami hanya berusaha bersikap wajar. Kami masih mendiskusikan apa yang sebaiknya kita lakukan. Situasi di kampus lain sudah semakin panas, Rendra. Kurasa itu yang menyebabkan pihak pemerintah memasang mata-mata di kampus,"
"Ehm, Rendra, sebaiknya pembicaraan seperti ini tidak terjadi secara terbuka begini. Kalau kau mau, gabung saja dengan kami, sampaikan pendapatmu juga. Hubungi aku kalau kau memang ingin datang. Ayo, anatomi sudah menunggu!"

Bangka, Desember 2013.

"Saya buru-buru Pak Darmanto! Serahkan saja tugas ini ke dokter Sabrina, Pak. Lagipula saya sudah jauh-jauh hari mengajukan cuti tujuh hari ke depan, dan Bapak sudah setuju,"
"Mohon maaf sebelumnya Bu Lia, pemeberitahuan supervisi dari Dinas Kesehatan ini memang mendadak. Makanya saya meminta Ibu untuk membantu mempersiapkan segalanya,"
"Pak, berkas-berkas saya sudah saya siapkan di atas meja saya. Silakan Bapak ambil sesuai kebutuhan. Mohon maaf sekali Pak Darmanto, bukan saya tidak mau membantu, tetapi saya memang harus pergi Pak. Dokter Sabrina juga sudah mengerti apa-apa saja yang mesti dilakukan,"
"Tapi Bu,"
"Maaf pak, penerbangan saya satu jam lagi, saya harus segera ke bandara. Permisi,"
"Bu Lia!"
Masa bodoh. Aku hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.

Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang.

Mendadak perutku mulas. Mulas yang, hmm, biasa muncul ketika aku dicekam cemas dan grogi.
Berapa belas tahun? Tiga belas?
Masih samakah semuanya?
Kalaupun berbeda, sejauh apa?

Perlahan cemas, rindu, haru, sedih menyerbu menghantamku.
Seorang sahabat pernah berkata kepadaku, Yogya bukan sekedar bagian kecil di peta, tapi Yogya adalah sesuatu yang hidup. Menghembuskan nafas cinta ke setiap orang yang berdiam di dalamnya, membisikkan rindu ke telinga semua orang yang pernah singgah di sana.

Ah iya, Yogya, tanah penuh kenangan.

Pertama kali menginjakkan kaki di sana tahun 1995.
Menyandang predikat Mahasiswa Baru Universitas Gadjah Mada, predikat yang setengah mati dibanggakan bapak dan ibuku, seorang Sekar Amalia berangkat ke kota kecil ini.
Masih kuingat saat aku berurai airmata, takut hidup berjauhan dengan orangtuaku. Maklum saja, aku anak semata wayang mereka. Kami bukan keluarga berada, tapi cukuplah orangtuaku memenuhi segala inginku.
"Belajar yang temen ya Nduk! Susah payah kami menyekolahkanmu, jangan sia-siakan itu!"ujar Bapak.
Ibu hanya manggut-manggut sembari mengelus kepalaku. "Senengnya hati Ibu kalau kamu kelak pulang sebagai dokter gigi. Dokter gigi pertama di Desa, Nduk! Aih, belum-belum Ibu sudah bangga sekali membayangkannya!"
Mau tak mau aku tersenyum mendengar ucapan Ibu. "Jangan lupa sholat! Jaga diri baik-baik di sana!" pungkas Bapak. Aku mengangguk. "Assalamualaikum," ujarku lirih. Salamku bersambut. Bersama Lik Kaji aku berangkat menuju Yogya, meninggalkan Bapak, Ibu, dan kampung halamanku.

Tiba di Yogya, destinasi pertamaku adalah sepetak kamar kos sederhana yang nyaman, yang sudah jauh-jauh hari dipesankan ibu untukku melalui Lik Kaji. Ukuran kamar kos yang cukup mewah pada jaman itu. Tapi ibu bilang semua ini untuk membuatku nyaman belajar. Aku menurut saja.
Kutahu kos ini rata-rata dihuni mahasiswa Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Beberapa adalah calon kakak kelasku. Semua orang sepertinya menyenangkan. Mereka menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka.
"Asalnya dari mana Dek?"
"Saya dari Semarang, Mbak. Mbak Raras sendiri dari mana?"
"Aku dari Jakarta, Dek. Kalau ada apa-apa boleh lho main ke kamarku,". Aku tersenyum sopan.
"Iya mbak, terima kasih"

Kosku ada di ujung jalan.
Di sebelah kosku ada sebuah kos putri juga. Selang satu rumah adalah kos putra. Aku cekikikan sendiri membayangkan anak laki-laki harus nge-kos, harus hidup sendiri, masak sendiri, bersih-bersih sendiri.

Hari pertama Ospek.
Hari pertama aku sungguh-sungguh bersinggungan dengan kehidupan kampusku, dengan orang-orang di dalamnya. Tak pernah ada dalam bayanganku hari ini juga hari aku berkenalan dengan kehidupan yang akan mengubah hidupku bertahun-tahun ke depan.

Minggu, 18 Mei 2014

Lalu yang Manakah yang Bisa Saya Sebut Kekasih?

Kekasih,
entah kepada siapa gurat ini nanti akan berlabuh.

Mungkin untukmu, kekasih,
yang nun jauh di pojok dunia.
Atau untukmu, kekasih,
yang begitu dekat hingga nyaris tak berjarak.

Rumput yang dipisahkan setapak.

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?

Kamu?
Yang harum badannya menghinggapi hidungku pagi siang sore
Yang menuntun bukan menuntut
Yang setia mendengar keluh
Yang tetap ada untuk membasuh peluh
Yang sesekali mengeluh tapi tidak mengijinkanku jatuh

Atau kamu?
Yang tangannya selalu siap merengkuh
Bahunya selalu siap memeluk
Dadanya selalu siap untukku berlabuh
Hatinya selalu menjadikan teduh
Hasrat berpikirnya melompat jauh

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?

Yang sekali lalu membuatku jatuh hati?
Yang menanti lama dengan resiko patah hati?
Yang ada tahu dan mengerti tapi juga tidak mengakui?
Yang lebih memilih diam dan mengamati?
Yang dalam diam setia menyimpan tanya?

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?

Satu lubang kutembus, lalu menyedotku dalam-dalam.
Topeng seribu yang mungkin harus kukenakan lekat-lekat.
Alpa.
Tidak sengaja merusak segalanya.

Tidaklah mungkin satu dibagi.

Mungkin harus kulepas melati dari genggaman.
Biar saja angin membawanya jauh.
Biar saja kemudian jatuh.
Ke pangkuanmu.

Lalu hidu harumnya.
Katakan padaku kalau kau sudah menerimanya.
Sampaikan melalui gemuruh samudra, gemintang dan hujan.

Aku mencintai ketiganya.

Tapi tidak mungkin aku menggenggam ketiganya bersamaan.

Gemuruh samudra kadang terlalu menakutkan.
Aku mencintai semangatnya, hangatnya, tulusnya.
Tapi aku ciut di tengah-tengahnya.

Gemintang terlihat sebegitu jauhnya,
sebegitu indahnya,
sekaligus sebegitu tidak mungkinnya.
Aku mencintainya, tapi aku tidak punya sayap untuk merengkuhnya.

Hujan kadang datang dengan dinginnya.
Aku mencintai sejuknya, sabarnya, ikhlasnya.
Tapi aku takut menyelami rahasia-rahasianya.

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?