Minggu, 18 Mei 2014

Lalu yang Manakah yang Bisa Saya Sebut Kekasih?

Kekasih,
entah kepada siapa gurat ini nanti akan berlabuh.

Mungkin untukmu, kekasih,
yang nun jauh di pojok dunia.
Atau untukmu, kekasih,
yang begitu dekat hingga nyaris tak berjarak.

Rumput yang dipisahkan setapak.

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?

Kamu?
Yang harum badannya menghinggapi hidungku pagi siang sore
Yang menuntun bukan menuntut
Yang setia mendengar keluh
Yang tetap ada untuk membasuh peluh
Yang sesekali mengeluh tapi tidak mengijinkanku jatuh

Atau kamu?
Yang tangannya selalu siap merengkuh
Bahunya selalu siap memeluk
Dadanya selalu siap untukku berlabuh
Hatinya selalu menjadikan teduh
Hasrat berpikirnya melompat jauh

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?

Yang sekali lalu membuatku jatuh hati?
Yang menanti lama dengan resiko patah hati?
Yang ada tahu dan mengerti tapi juga tidak mengakui?
Yang lebih memilih diam dan mengamati?
Yang dalam diam setia menyimpan tanya?

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?

Satu lubang kutembus, lalu menyedotku dalam-dalam.
Topeng seribu yang mungkin harus kukenakan lekat-lekat.
Alpa.
Tidak sengaja merusak segalanya.

Tidaklah mungkin satu dibagi.

Mungkin harus kulepas melati dari genggaman.
Biar saja angin membawanya jauh.
Biar saja kemudian jatuh.
Ke pangkuanmu.

Lalu hidu harumnya.
Katakan padaku kalau kau sudah menerimanya.
Sampaikan melalui gemuruh samudra, gemintang dan hujan.

Aku mencintai ketiganya.

Tapi tidak mungkin aku menggenggam ketiganya bersamaan.

Gemuruh samudra kadang terlalu menakutkan.
Aku mencintai semangatnya, hangatnya, tulusnya.
Tapi aku ciut di tengah-tengahnya.

Gemintang terlihat sebegitu jauhnya,
sebegitu indahnya,
sekaligus sebegitu tidak mungkinnya.
Aku mencintainya, tapi aku tidak punya sayap untuk merengkuhnya.

Hujan kadang datang dengan dinginnya.
Aku mencintai sejuknya, sabarnya, ikhlasnya.
Tapi aku takut menyelami rahasia-rahasianya.

Lalu yang manakah yang bisa kusebut kekasih?






Tidak ada komentar:

Posting Komentar