Selasa, 29 Juli 2014

Maka Selayaknya Kita Bersyukur

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Segala puji bagi Allah, Tuhanku, Tuhan seru sekalian alam.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Gebyar kembang api menerangi sepanjang jalan.
Berderet-deret lampu kendaraan memenuhi jalanan.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Seru sukacita dikumandangkan.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Nun jauh di belahan bumi, bukan suara kembang api yang terdengar.
Bukan pula gebyarnya yang membelah langit malam.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Segala puji bagiMu Allah, Tuhanku, Tuhan seru sekalian alam.
Bersipongang dalam lengang yang mencekam.
Maafkan kami duhai Sang Maha Welas Asih.
Takbir kami kalah dengan geram meriam, letupan syukur kami kalah dengan ledakan bom dan misil.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Sembah sujud kami padaMu Sang Maha Perkasa.
Tangan-tangan kami, tubuh-tubuh kami tidak lagi berdaya mempertahankan rumahMu untuk tetap tegak di hari yang suci ini.
Ampuni kami wahai Engkau Yang Maha Mengetahui
Bahwa di dalam hati kami tidak sepenuhnya sukacita, malah lebih banyak duka di hari ini.
Bahwa hari ini, di dalam hati kami terselip ketakutan di luar syukur kami padaMu.
Maka lihatlah Allah, Tuhanku, dengan gagah berani kami songsong kematian
Lebur dalam sujud, syukur, takbir, dan tasbih.
Dengar seruan kami Tuhanku!
Sesungguhnya kami percaya Engkau begitu dekat.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Di belahan bumi yang lain, bukan berderet-deret kendaraan yang mengantre,
melainkan berderet mayat bocah-bocah yang berserak, yang mati kelaparan.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 
  

Sembah sujud kami padaMu Sang Maha Pemberi Rahmat
Di tanah tandus, gersang ini telah Engkau berikan nikmat Fitrah.
Setelah kami diwajibkan sebulan berpuasa.
Wahai Engkau Yang Maha dari Segala Maha,
sesungguhnya tanpa turun perintahMu pun kami tiap hari berpuasa, mengikat perut kami menahan lapar dan dahaga, melihat anak-anak kami yang menyerah berjuang dan akhirnya tinggal tulang berserak di tanah.
Hampir setiap hari.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Betapa beruntung saudara-saudara kami yang menikmati malam Fitri ini.
Betapa bahagia saudara-saudara kami yang dengan tenang mengumandangkan takbir dan bersujud kepadaMu
Betapa menyenangkan melihat senyum kanak-kanak yang membawa permen dan berlarian di halaman.
Betapa teduh menyaksikan anak-anak yang menciumi tangan orangtuanya
Betapa nikmat orang-orang yang diberikan kesempatan berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan sehat.
Sementara kami bergumul dengan bencana, kelaparan, roket, tank, misil, bom, senapan, dan maut yang siap menjemput kami kapan saja.
Sementara kami bersujud di reruntuhan masjid, di bawah todongan senjata
Sementara kami meratapi jenazah anak-anak kami, handai taulan kami, di balik puing-puing rumah kami yang masih tersisa
Tidak ada permen untuk anak-anak kami.
Tidak ada kembang apai di langit kota kami.
 
 Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.

 
Surakarta, 28 Juli 2014
 

Kamis, 24 Juli 2014

Catatan Hati Seorang Calon Dokter Gigi

Judulnya alay bett ya?

Sekarang jam 2 pagi di kampung halaman.
Tapi mata, hati, nggak mau kompromi buat tidur sebentar.

Lama ya aku nggak cerita tentang aku tanpa pakai nama orang lain? Wkwk.

Btw, kenapa judulnya begitu?
Karena ceritanya begitu.

Aku baru melepas semester 2 di FKG.
Baru dua semester aku kuliah, tapi rasanya udah entahlah.
Seneng kok seneng aku dikasih kesempatan belajar, tanya, baca apaaa aja yang aku mau.
Tapi ngeluh juga sih kadang.

"Kenapa kuliah harus seberat ini?"
"Karena kamu ambil jurusan aneh-aneh, pakai embel-embel 'kedokteran'. Mana ada sekolah kedokteran enteng,"
"Bahkan aku ngerasa materi kuliahku nggak nyambung sama kerjaan aku besok. Bayangin deh, aku kan mau jadi dokter gigi, ngapain juga aku harus belajar Sosiologi, Demografi, Penyakit Mata, Penyakit Saraf, Kulit dan Kelamin, Kesehatan Jiwa, ngehafalin segitu banyak nama tulang belulang, otot, saraf, sampai sedetail-detailnya?"

Percakapan di atas sering muncul di kehidupan sehari-hari aku.

Kemudian aku baca Laskar Pelangi.
Kemudian aku dengar cerita anak-anak dan keluarga serba kekurangan di kampung halaman.
Kemudian aku lihat orang-orang korban perang dan bencana.

Satu pertanyaan yang muncul :
"Kenapa kamu pilih mau jadi dokter?"

"Kalau kamu hanya ingin kaya, ngapain kamu susah-susah menempuh kuliah, belajar penyakit-penyakit entah apa itu, bayar kuliah mahal-mahal. Kalau kamu hanya ingin kaya, gampang. Kumpulin tuh duit kuliahmu buat modal, buka usaha, kelar deh. Atau kalau mau yang lebih gampang lagi, berhenti kuliah, uang untukmu kuliah ditimbun ajalah, ntar kan kaya sendiri,"

"Kalau kamu hanya ingin dapat sanjungan, ngapain repot-repot praktikum sampai tengah malem di kampus, belajar sampai nggak pernah tidur. Kalau hanya ingin disanjung, gampang. Lakukan saja 1 kebaikan di depan orang lain, maka sanjungan udah bakal mampir kok ke namamu,"

Lalu pagi ini rasanya nggak sanggup kalau aku harus menyandang gelar dokter gigi.

Rasanya julukan itu kayak kutukan, mantra, apalah, pokoknya menakutkan buat aku.

"Lho kan padahal enak jadi dokter gigi, tinggal tambal, cabut, dapet duit deh,"

Pengen kugaplok rasanya orang yang ngomong kayak gitu.

Tugas utama seorang dokter itu bukan cari duit guys, tetapi entah gimana caranya seorang dokter harus bisa membuat orang dan lingkungan sekitarnya hidup layak. Minimal sehat.

Kenapa ngerasa nggak sanggup?

Satu.
Sering aku pergi, dan ketemu orang-orang yang sama sekali asing. Hampir semuanya bertanya sedang kuliah apa. Kujawab jujur. Kemudian jadilah aku tempat konsultasi berbagai macam keluhan kesehatan mereka.
Sekarang aku masih semester 2, ada alasan buat ngeles ketika aku nggak bisa menjawab keluhan mereka : "Saya baru masuk, Bu, belum belajar tentang itu,"
Lama-lama mikir juga, mau sampai kapan ngeles kayak gitu terus?
Gimana nanti kalau udah beneran kerja, mau ngeles juga?

Dua.
Suatu hari nanti aku akan kerja.
Dan kerjaku sama manusia, bukan boneka praktikum di lab.
Objek kerjaku nyawa, bukan cuma barang kecil yang tertanam di gusi.
Mau kayak apa aku nanti.
Ngehafalin nama, letak saraf aja ngeluh mulu, gimana bisa aku mengenali lokasi mana aja yang harus aku bius. Salah-salah aku kena sangkaan malpraktik dan bikin nyawa orang hilang gitu aja akibat ulah tanganku.
Aku nggak sanggup menanggung dosa sebesar itu.

Tiga.
Aku sadar sepenuhnya kalau tempatku sama sekali bukan di kota.
Aku seharusnya ada di pelosok-pelosok negeri yang belum terjamah fasilitas kesehatan, atau di daerah rawan bencana dan darurat perang.
Kewajiban dokter melayani, bukan ongkang-ongkang di rumah nunggu pasien dateng sendiri.
Dengan latar tempat kerja yang seperti itu, jauh dari fasilitas yang memadai, maka dokter yang memilih bekerja di tempat seperti ini dituntut punya empati, fleksibel, siap setiap waktu dalam segala kondisi.
Jangankan sakit gigi, bisa saja aku pun dimintai tolong mengobati sawar, ayan, bahkan kesurupan.
Bisa jadi aku dimintai tolong membantu persalinan ibu-ibu, memandikan bayi, mengobati malaria, melakukan operasi darurat, merawat patah tulang, dan sebagainya.
Mungkin aku harus bisa menanam jagung sendiri, mengolah sagu, menyuling air, mengemudikan perahu, hingga menggunakan senjata untuk menopang hidupku sendiri.
Rasanya kuliah seumur hidup pun masih kurang untuk mengisi otakku yang melompong dengan segala pengetahuan itu.

Hehe, jadi dokter nggak gampang ya? Nggak seindah kata orang-orang.

Sebenernya kembali ke niat. Suatu hari aku pernah didamprat Ibuk. Perkaranya, aku berandai-andai kalau  hidupku mapan, maka aku tidak perlu membuka praktik sendiri.

"Lalu kamu akan membiarkan orang-orang yang membutuhkan pertolongan di luar jam kerjamu? Gimana kalau mereka nggak bisa pergi ke rumah sakit padahal rumahmu hanya sepelemparan batu tapi kamu nggak mau buka praktik? Kamu melanggar kewajibanmu! Mungkin kelak di akhirat akan dipertanyakan apa guna pendidikanmu, profesimu, gelarmu untuk orang-orang di sekitarmu,"

Inilah catatan hati seorang calon dokter gigi yang cuma bisa terus belajar dan berdoa untuk menghadapi ke-nggak-kuat-annya sendiri. Mohon doanya juga biar aku mau terus belajar, sanggup menerima tantangan dan risiko atas pilihanku, dan benar-benar jadi "dokter" yang diinginkan semua orang.

Setakut, se-nggak-yakin, se-nggak-kuat, se-nggak-sanggup apapun, aku memilih nggak mau mundur. Kalaupun suatu ketika aku merasa nggak berdaya lagi, semoga perasaan itu justru membuat aku mau lebih giat berusaha memantaskan diri.

Trims udah baca curhatannya, wkwk.

Kamis, 03 Juli 2014

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono (1989)

Rabu, 02 Juli 2014

Memoar #12

Yogyakarta, Desember 2013

Aku masih terjaga di kamar penginapan Dipta. Aku bisa mendengar degup jantungnya di punggungku. 
Begitu banyak tahun-tahun terlewati, begitu banyak kisah yang tidak kuketahui. Kudapati wajah Dipta yang tenang ketika terlelap. Wajah yang kukenang bertahun silam. Wajah yang kukira hilang.

“Ada apa sayang?”
“Tidak, tidak ada apa-apa. Tidurlah lagi,” bisikku sembari mengelus pipinya.
“Hmm? Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Semuanya Dipta. Di mana kamu selama ini?”

“Kamu tahu kekerasan yang dialami warga Tionghoa kan? Orangtuaku yang tahu aku sedang di Jakarta, malam itu juga menjemputku. Kukira mereka hanya memintaku pulang dan singgah di Bandung. Aku mulai merasa janggal ketika Papa tidak melewati jalan menuju Bandung,”
Dipta menciumiku sejenak sebelum akhirnya melanjutkan.

“Kami terbang ke Singapura. Aku tidak pernah tahu rencana ini. Terang saja aku mengamuk, memberontak tidak mau ikut. Orangtuaku mengakui memang hal ini tidak direncanakan sebelumnya. Mengingat kondisi yang tidak lagi aman untuk tinggal di Indonesia, sementara waktu kami akan tinggal di Singapura, kata mereka,”

“Kukira sebentar hanya 1 atau 2 bulan, tapi ternyata bertahun-tahun. Aku tidak tahu apa-apa tentang ini semua, bahkan surat kepindahanku dari Fakultas sudah diurus Papa. Aku kembali melanjutkan studi di sana,”

“Kenapa kamu tidak mencoba mengabari kami?”
“Tidak bisa, Papa melarangku berhubungan lagi dengan Indonesia. Tidak aman,”
Aku hanya bisa diam. 

Keesokan harinya setelah Presiden mundur, rombongan kami langsung bertolak ke Yogya dengan kereta api. Kami semua bingung dengan hilangnya Dipta dari rombongan. Aku sempat histeris mengingat tragedi beberapa hari yang lalu.

Aku berharap Dipta hanya bangun kesiangan, lalu dia akan berlari menyusul kami di stasiun. Hingga kereta akan berangkat aku masih diam di peron, berharap Dipta akan datang dengan rambut acak-acakan dan senyum tanpa dosa. Kemudian aku akan menjitak kepalanya dan berjanji akan marah padanya.

Tapi Dipta tidak pernah datang.

Di Yogya, setiap hari aku menanti di gerbang Fakultas Kedokteran, berharap melihat mobilnya melintas atau berpapasan langsung dengannya. Setiap sore aku menyambangi sekre, berharap Dipta duduk di situ, berdiskusi dengan yang lain. 

Tapi Dipta tak kunjung datang.

Berangkat dan pulang kuliah aku memilih melewati kos Dipta meski jalannya memutar untuk mengecek apakah mobilnya sudah terparkir di sana, atau mungkin mendapati Dipta dengan kaos oblong sedang bermain gitar di teras. 

Tapi Dipta tidak pernah ada.

Setiap kali kami makan bersama, aku selalu menyiapkan seporsi lebih untuk Dipta, berharap dia tiba-tiba datang dan menyantap masakanku dengan lahapnya. Aku selalu menyiapkan kursi lebih bila anak-anak Kastrat mampir ke kosku.

“Lia, berhenti menunggu. Kita semua tidak tahu Dipta di mana, terimalah kenyataan dia tak lagi ada di antara kita,” ujar Christine suatu ketika.
“Tidak. Dipta pasti pulang, dia sudah berjanji,” sahutku mantap. Seketika Christine memelukku.
“Ikhlaskan dia Lia!” pintanya sekali lagi
“Kamu berkata seolah dia pergi selamanya. Dipta akan datang, Christine. Mungkin besok sore ketika kita rapat, atau mungkin malam ini dia akan datang ke kosku dan berteriak ‘kejutan’”
Akhirnya toh orang-orang membiarkanku melakukan kebiasaan-kebiasaan itu. Bahkan hingga yudisium, aku masih menanti Dipta di luar membawa sebuket mawar dan meledekku. Hingga semua orang pulang sore itu, 

Dipta tak juga muncul.

“Aku membuatmu terluka ya sayang?”
Aku menggeleng kuat-kuat. Airmataku sudah terlanjur tumpah. Aku senang ternyata Dipta memang baik-baik saja. Aku senang karena keyakinanku benar.
“Aku merindukanmu, Lia, setiap hari. Aku berharap bisa segera pulang, ke Yogya, menemuimu, menemui kawan-kawan kita,”

“Kapan kamu kembali ke Indonesia?”

“Akhir 2001, kami sekeluarga pulang ke Indonesia. Di bandara kami sudah disambut keluarga Tionghoa juga, keluarga istriku,”
Aku menahan nafas. Sakit sekali rasanya mendengar kata “istri” keluar dari mulut Dipta.

“Kami dijodohkan sejak kecil rupanya. Dan lagi-lagi aku tidak pernah tahu. Lia,sayangku,”
Aku hanya diam, tidak mau membalik badan dan membiarkan Dipta melihatku menangis.

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf, Lia,”
“Sudah Dipta, aku senang kamu berbahagia dengan keluarga kecilmu. Yang lalu sudah biarkan berlalu,”sahutku.
“Aku membuatmu menangis..,”
“Sudahlah Dipta!”
“Kamu tahu, Lia, aku mencintaimu,”

Dipta mendekapku semakin erat. 
Airmataku mengalir semakin deras.