Minggu, 24 Mei 2015

Euforia


Dua hari lalu, rasanya kayak terlempar ke dunia lain bertahun-tahun yang lalu.
Sportarium UMY dipadati anak-anak berseragam putih-abu, berbaju batik rapi.
Bis bis antre memasuki gerbang universitas.
Di dalamnya anak-anak paling cerdas (menurutku) dari seluruh Indonesia berkumpul.
Yippi! Closing ceremoni Olimpiade Sains Nasional.

Setelah semua bis masuk, anak-anak dan guru pendampingnya keluar.
Menyandang gelar prestisius sebagai finalis ajang paling bergengsi di Indonesia tidak membuat mereka tampak berbeda.
Sama seperti anak remaja pada umumnya hehe, yang ingin tahu ini, teriak teriak gaje, jalan ke sana kemari.

Melihat mereka rasanya menyenangkan.
Masa muda yang tidak semua orang bisa rasakan.
Jalan-jalan dengan fasilitas negara, masuk ke laboratorium paling canggih di Indonesia, bahkan jaminan pendidikan tinggi sudah mereka dapatkan.

Lalu aku ingat seseorang (yang nggak perlu diingat ingat juga pasti bakal ingat wkwk)

Lebih dari 3 tahun yang lalu, aku bertemu dengan beberapa orang hebat.
Pemegang medali Olimpiade Sains Internasional, dan sederet prestasi lainnya.
Masih jelas rasanya jadi orang paling bodoh di antara orang-orang jenius, haha, sampai nggak paham mereka ini ngomong apa sebenernya.
Tapi Tuhan Maha Baik, dikirimlah malaikat penyelamat makhluk-makhluk terbelakang ini, haha
Emm, walaupun aku tetep nggak bisa menyamai kejeniusan orang-orang ini, tapi berkat malaikat ini seenggaknya aku jadi lebih paham mereka ini ngomong apa.
Malaikat itu dikirim Tuhan dalam wujud bocah laki-laki sederhana yang pendiam dan lumayan cakep (oke ini subjektif)
Sabaaaaaaaaaaaarrrr banget ngajarin beberapa rakyat jelata miskin pengetahuan ini.
Padahal dia sama jeniusnya dengan anak-anak yang lain.
Sabaaaaaaaaaaaarrrr banget ngadepin adek-adek yang banyak-tingkah-dan-banyak-maunya-tapi-dikit-usahanya
Malaikat buat kami semua lah pokoknya wkwk

Singkat cerita, camp berakhir, semua orang kembali ke peran masing-masing.
Orang-orang jenius menghadapi Olimpiade Sains.
Rakyat jelata kembali ke kehidupan normal.
Bisa ditebak hasil Olimpiade Sains kayak apa.
Orang-orang jenius (termasuk Malaikat) pulang dengan medali terkalung di leher mereka.

Time flies..

Tiga tahun kemudian, nggak ada angin nggak ada hujan, nggak ngerti juga gimana ceritanya,
aku dan malaikat ketemu lagi. Di tempat dan suasana yang agak aneh buat reuni.
Pusat Grosir Solo. Hahahaha..
100 hari meninggalnya simbah.

Malaikat tetep malaikat mau ketemu di deretan kios baju juga tetep malaikat hahaha.
Tetep sederhana, simpel, diam, sabar, dan baik hati.
Satu yang berubah : He grows up.
Bocah laki-laki yang aku temui bertahun-tahun sebelumnya sudah berkembang jadi laki-laki menjelang kepala dua.
Terlihat lebih dewasa (apa karena lama banget nggak ketemu terus akunya yang gumun ya nggak tahu juga).

Back to Closing Ceremony OSN :)

Nama-nama peraih medali dipanggil maju ke atas panggung.
Ada yang sujud syukur, ada yang menangis, ada yang jejingkrakan, ada juga yang tetep stay cool.
Hihi, sempat membayangkan gimana ya dulu waktu nama si malaikat dipanggil ke depan?
Jejingkrakan? Kok kayaknya impossible. Nangis? Kok alay bener. Hahaha.

Ada sedikit penyesalan kenapa dulu aku nggak sejenius ataupun berjuang sekeras teman-teman yang lain sehingga bisa menyaksikan malaikat maju ke atas panggung dan menerima medalinya,
lalu menjabat tangannya dan mengucapkan "Selamat,".
Aku sudah melewatkan salah satu momen paling berharga di hidupnya.

Ada juga haru yang datang melihat anak-anak muda yang luar biasa ini.
Betapa beruntung aku pernah mengenal beberapa orang di antara mereka walaupun cuma beberapa saat.
Mereka yang membawa nama Indonesia sampai dikenal dunia.
Salah satu generasi emas di bidang pengetahuan.

Terjadilah percakapan ini :

A (Aku)
M (Malaikat)

A : Dulu kamu gimana e waktu nerima medali?
M : Saya jalan berwibawa
A : ....... (ngakak)
M : Re : Bingung. Udah nangis duluan waktu nggak disebut di medali perunggu
A : ALAAAAAAAAAAAAAAYYYYY!! wkwk
*percakapan selanjutnya bukan konsumsi publik, wakakak*

Yah udah gitu aja sih, haha..
OSN itu salah satu momen paling berkesan.
Apa ya, momen yang bikin aku mengimani takdir dengan lebih lebih lagi.
Nggak ada yang namanya kebetulan. Semua kejadian ada ujung pangkalnya, ada kaitannya, dan ada hikmahnya.
Mungkin nggak kerasa di saat itu juga, tapi someday Tuhan pasti kasih bocoran kenapa semua hal itu harus terjadi hehe.

Cerita lain dari sudut pandang lain tentang OSN mungkin aku tulis juga nanti (kalau sempet dan inget) hehehe..