Jumat, 22 Maret 2013

Pelecehan Seksual terhadap Anak

Hei, ini topik agak berat nih,
jadi sekarang aku pengen cerita tentang pelecehan seksual terhadap anak.
Maaf ya kalau agak gimana gitu, tapi ini bukan hal yang tabu untuk diungkap.
Aku nggak buta, aku udah gede, dan aku udah cukup umur deh buat ngomong beginian.
Jujur aja aku sendiri risi dengan maraknya kasus ini, makanya aku pengen setidaknya aku berbagi cerita
Siapa tahu bisa ikut membuat kalian ngerti dampak buruk kasus ini terhadap perkembangan anak.

Nah, sebelumnya aku jelasin dulu apa itu pelecehan seksual terhadap anak.
Menurut wikipedia, pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan kepada anak dengan cara menjadikan anak sebagai objek rangsangan seksual.
Bentuk-bentuk pelecehan seksual terhadap anak misalnya menekan anak untuk melakukan aktivitas seksual, menampilkan pornografi di depan anak, melakukan hubungan seksual dengan anak atau menjadikan anak sebagai subjek pornografi.

Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apa dampaknya untuk perkembangan anak di masa mendatang?

Pertanyaan yang pertama.
Sebagian besar pelaku kasus ini adalah orang yang dekat atau dikenal oleh anak.
Sekitar 30% adalah keluarga dari si anak, paling sering adalah saudara laki-laki, ayah, paman, atau sepupu; sekitar 60% adalah kenalan lainnya seperti 'teman' dari keluarga, pengasuh, atau tetangga, orang asing adalah pelanggar sekitar 10% dalam kasus penyalahgunaan seksual anak
Itu menjadi salah satu sebab mengapa kasus ini lebih "hening" dan terkesan ditutupi dari publik.
Ya iyalah, siapa sih yang mau aib keluarga diangkat ke publik?
Faktor orang dekat ini juga yang menyebabkan anak patuh saja dengan kemauan pelaku, di samping karena belum mengertinya anak mengenai masalah seksual dan apa yang pelaku lakukan terhadapnya.

Anak adalah objek yang mudah untuk mematuhi keinginan pelaku.
Karena anak sejatinya polos, lugu, belum dapat membela diri sendiri, dan mudah dipengaruhi iming-iming hadiah.
Kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak biasanya terbongkar setelah terjadi beberapa kali,
itupun setelah orangtua anak menyadari keganjilan yang tampak pada anak mereka.
Jarang sekali kasus yang terbongkar atas inisiatif anak sendiri.
Ya itu tadi, si anak tidak mengerti apa yang sudah terjadi dan tidak mengerti apa yang sudah pelaku perbuat terhadapnya.
Selain itu, setelah melakukan tindakan pelecehan, pelaku biasanya memberikan ancaman kepada si anak atau malah memberi hadiah agar anak mau tutup mulut.
Kondisi ini semakin parah jika pelakunya adalah orang yang dekat dan dikenal anak.
Kemungkinan kasus ini terjadi berulang kali semakin terbuka.

Tidak selamanya kasus ini terjadi pada anak dengan latar belakang lingkungan yang buruk.
Kasus ini dapat terjadi di manapun, kapanpun, terhadap siapapun.
Dulu, ketika saya berusia 8 tahun, saya sudah dilatih untuk pulang sendiri naik angkot.
Latar belakang keluarga saya baik, saya bersekolah di tempat yang baik, lingkungan keluarga saya juga baik.
Akan tetapi, bermula dari pulang sendiri tadi,
kebetulan saya menaiki angkot yang sepi, dan tidak ada kernet.
Saya duduk di sebelah kakek-kakek.
Sepanjang perjalanan, si kakek terus saja memegang paha saya dan mengelusnya.
Tentu saja saya takut, ngeri.
Tapi mau bagaimana? Saya tidak mungkin turun di tengah jalan.
Kasus kedua,
saya menunggu jemputan bapak di depan perumahan saya.
Kebetulan di sana ada banyak tukang becak.
Nah, raba-raba paha pun terjadi lagi. Sekarang ditambah colek-colek pipi dan dagu.
Saya lebih ngeri lagi. Mau teriak takut, ngelawan nggak bisa, mau lapor bapak juga nggak enak dan takut malah menimbulkan masalah dengan si abang becak.
Setelah sepuluh tahun, kejadian-kejadian itu masih jelas membekas dalam ingatan saya.
Coba bayangkan dampak apa yang ditimbulkan pada korban perlakuan yang lebih parah!

Menjawab pertanyaan kedua,
selain dampak trauma seperti yang udah aku sebut tadi, dampak psikologis lainnya misalnya perubahan perangai si anak.
Anak menjadi tertutup, malu. Bisa jadi anak berubah kasar, pemarah, akibat perlakuan yang diterimanya.
Dampak lainnya adalah depresi, kegelisahan, gangguan identitas diri, perubahan perilaku seksual, masalah sekolah/belajar; dan masalah perilaku termasuk penyalahgunaan narkoba, perilaku menyakiti diri sendiri, kekejaman terhadap hewan, kriminalitas ketika dewasa dan bunuh diri.
Selain dampak psikologis, dampak fisik yang mungkin terjadi antara lain cedera, infeksi, tertular penyakit menular seksual, kerusakan neurologis dsb.

Pencegahan kasus ini sangat diperlukan mengingat angkanya terus saja meningkat.
Orangtua sebaiknya lebih mengawasi pergaulan si anak dengan lingkungannya, jangan membiarkan anak sendirian dalam waktu yang lama dan tanpa pengawasan.
Bangun kedekatan dengan anak, sehingga anak mau bercerita apa-apa saja yang terjadi padanya kepada orangtua.
Beri pengetahuan yang sewajarnya mengenai perilaku pelecehan, beri pengertian yang mendidik untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan.
Tanamkan juga keberanian untuk melawan seandainya dia menjadi korban, tanamkan nilai-nilai religi dan keimanan anak.
Jangan mencemooh anak, berikan dukungan kepada anak yang telah menjadi korban untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan dan bergaul dengan normal, jangan tekan anak sehingga anak merasa rendah diri, jangan mengingat-ingat lagi peristiwa yang menyebabkan trauma anak di depan si anak.

Yah, kasus begini emang sulit dihentikan, sulit dicegah juga karena faktor-faktor tadi.
Setidaknya, kita berusaha mengurangi kemungkinan terjadi pada anak-anak yang dekat dengan kita.
Tumbuh kembang anak sebenarnya sudah dijamin dan dilindungi negara (UUD 45 Pasal 28B), meski realitanya masih jauh dari yang kita inginkan.
Tanggungjawab ada pada kita sendiri, tidak bisa hanya mengandalkan tindak represif negara.
Semangat! Bersama-sama kita perangi kasus pelecehan dan kejahatan lainnya terhadap anak!!