Saya seorang kakak.
Tanggungjawab saya meliputi adik saya dan orangtua saya.
Saya seorang anak.
Tanggungjawab saya meliputi orangtua saya dan adik saya.
Saya seorang manusia.
Tanggungjawab saya meliputi orang-orang yang saya kasihi.
Adik saya, orangtua saya.
Saya seorang kakak.
Sikap dan segala pilihan yang saya ambil pasti berimbas,
untuk ditiru, diukur, disesuaikan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Apapun yang saya lakukan pasti memiliki dampak,
menyenangkan, memberatkan, menyusahkan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Pertimbangan-pertimbangan saya pasti jadi penyebab,
kebaikan, keburukan, kemudahan, kesusahan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang kakak.
Aktris panggung yang bisa melakonkan cermin,
tulang punggung, perisai, penjaga, pelindung.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Tukang kebun yang menebar benih-benih,
harapan, cita-cita, masa depan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Nelayan yang menjaring dan jala,
meraup janji-janji kebaikan, kehidupan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang kakak.
Aktris panggung yang terkadang rapuh untuk melakonkan cermin,
tulang punggung, perisai, penjaga, pelindung.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Tukang kebun yang kadang alpa merawat benih-benih,
harapan, cita-cita, masa depan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Nelayan yang kadang absen menjaring dan jala,
meraup janji-janji kebaikan, kehidupan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang kakak.
Yang semestinya berpikir, bertindak,
sesuai rasio dan logika sederhana
untuk Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Yang semestinya berjuang, berupaya,
sesuai yang saya punya, bisa
untuk Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Yang semestinya menimbang, mengukur
sebelum memilih dan melakoni sesuatu
untuk Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang kakak.
Maka saya tak boleh sekalipun membiarkan
Orangtua saya, adik saya
Melihat saya jatuh, rapuh, kalah
di hadapan mereka.
Saya seorang anak.
Maka saya tak boleh sekalipun lupa mengingat
Orangtua saya, adik saya
Menunggu balas budi saya, tanggungjawab, peran saya
terhadap masa depan mereka.
Saya seorang manusia.
Maka saya tak boleh sekalipun menjerumuskan
Orangtua saya, adik saya
dalam kesusahan, keterbatasan, keputusasaan
karena pilihan-pilihan egois saya.
Karena saya adalah kakak, anak, sekaligus manusia.
Yang harus bisa jadi cukup tangguh untuk menantang dunia
Yang harus bisa jadi cukup berkilau untuk menjadi mercusuar
Yang harus bisa jadi cukup jernih untuk menjadi cermin
Dengan menyebut nama Tuhan saya,
saya bersumpah.
Atas ijin Tuhan akan memenuhi kewajiban-kewajiban saya sebagai kakak, anak, dan manusia kepada orangtua dan adik saya terlebih dahulu sebelum saya memenuhi kewajiban-kewajiban saya terhadap orang lain.
Sebagai gantinya, saya meminta perlindungan, pertolongan, bimbingan, kekuatan, kesempatan, dan kemudahan bagi saya untuk memenuhi sumpah saya dan bagi orangtua saya dan adik saya untuk menjalani kehidupan dengan dan dalam kebaikan.
Sincerely,
Enggardini Rachma Hakim.
Kamis, 28 Februari 2013
Sabtu, 09 Februari 2013
Coldplay-Fix You
When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
High up above or down below
When you too in love to let it go
If you never try you will never know
Just what your worth
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I..
Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I..
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
High up above or down below
When you too in love to let it go
If you never try you will never know
Just what your worth
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I..
Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I..
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Someone Special :)
Selamat sore!
Hari ini, akan saya kenalkan kalian dengan salah satu orang yang insyaallah akan selalu saya cintai dan hormati selama eksistensi saya.
Laki-laki zenit dan nadir.
Hm, seorang laki-laki yang bisa dibilang mungil.
Tingginya hanya sama seperti saya.
Berat badannya bahkan kurang dari saya.
Tapi yang saya tahu, hatinya lebih luas daripada lapangan bola.
Tapi yang saya tahu, pikirannya lebih jauh daripada jarak bumi ke planet Mars.
Hanya sesosok pribadi yang sederhana.
Pendiam.
Nggak juga ding, dia bisa juga ceriwis.
Tapi di tempat, saat, dan orang yang tepat.
Serius.
Tapi nggak juga ding, dia bisa jadi sosok yang humoris.
Tapi tidak banyak yang tahu sisi humorisnya ini.
Kecil-kecil begitu entah kenapa dia bisa sangat disegani.
Hampir semua orang, bahkan yang lebih tua menaruh hormat padanya.
Tapi dia bisa bergaul dengan siapa saja.
Golongan elit pejabat, tukang becak, pegawai, dan lain-lain.
Dia diam,
tapi ramah dengan semua orang.
Dia irit senyum,
tapi selalu senyum buat orang-orang di sekitarnya.
Dia diam.
Tapi ketika bicara semua orang mendengarkan dan memperhatikan.
Dia tidak pernah blak-blakan.
Tutur katanya lembut, halus, bahkan ketika sedang marah.
Eh, dia bahkan tidak pernah terlihat benar-benar marah.
Kalau dia tidak suka, dia tidak mengatakannya langsung,
Hanya satire.
Tapi cukup mengena dan membuat orang menyadari kesalahannya.
Dia tipe anak yang sangat patuh terhadap orangtua dan kakak-kakaknya.
Dia tipe kakak yang sangat sayang terhadap adik-adiknya.
Dia tipe laki-laki yang bisa diandalkan.
Dia bukan tipe laki-laki yang mendewakan gengsi di atas segalanya.
Dia tipe laki-laki yang sangat menghormati perempuan.
Lucu.
Malu-malu, bahkan dia mengaku minder berhadapan dengan perempuan.
Tanyakan perkara loyalitas.
Bagi saya, dialah contoh nyatanya.
Dia mencintai apa yang dilakukannya.
Dia mencintai pemberi rezekinya,
meski pernah dia ditawarkan lebih tinggi dari yang dia punya.
Dia tidak pernah menuntut.
Dia hanya menyuarakan saran,keinginan.
Tapi dia tidak pernah meminta.
Dia membebaskan setiap orang memilih jalannya, menyatakan pendapatnya,
tetapi akan mengingatkan ketika menurutnya melenceng.
Dia bisa saya bilang tahu banyak tentang dunia.
Dia tidak membatasi pikirannya, tidak membatasi pengetahuannya
Dia orang yang kuat sekali prinsipnya.
Tanya tentang tanggungjawab,
dia bahkan tidak pernah mau meninggalkan tugasnya
kecuali untuk hal-hal yang benar-benar mendesak dan membutuhkan kehadirannya.
Dia tidak pernah setengah-setengah melakukan sesuatu.
Hidupnya sederhana.
Tidak pernah silau dengan apa yang dia punya,
apalagi mendongak iri dengan apa yang orang lain punya.
Tidak pernah mengeluh dengan apa yang dia punya,
apalagi meratapi apa yang dia tak punya.
Selalu mencari jalan terbaik untuk banyak hal.
Saya mengaguminya sepanjang eksistensi saya.
Laki-laki cemara.
Yang tegak prinsip hidupnya.
Yang lembut perangainya.
Yang tidak pernah bisa marah apalagi menyalahkan.
Yang berwibawa dalam badan kecilnya.
Yang banyak melihat, mendengar, sedikit bicara
Yang mengajarkan banyak sekali hal kepada saya.
Tanyakan siapa dia.
Dengan takzim saya akan menjawab, "Dia Bapak saya,"
Hari ini, akan saya kenalkan kalian dengan salah satu orang yang insyaallah akan selalu saya cintai dan hormati selama eksistensi saya.
Laki-laki zenit dan nadir.
Hm, seorang laki-laki yang bisa dibilang mungil.
Tingginya hanya sama seperti saya.
Berat badannya bahkan kurang dari saya.
Tapi yang saya tahu, hatinya lebih luas daripada lapangan bola.
Tapi yang saya tahu, pikirannya lebih jauh daripada jarak bumi ke planet Mars.
Hanya sesosok pribadi yang sederhana.
Pendiam.
Nggak juga ding, dia bisa juga ceriwis.
Tapi di tempat, saat, dan orang yang tepat.
Serius.
Tapi nggak juga ding, dia bisa jadi sosok yang humoris.
Tapi tidak banyak yang tahu sisi humorisnya ini.
Kecil-kecil begitu entah kenapa dia bisa sangat disegani.
Hampir semua orang, bahkan yang lebih tua menaruh hormat padanya.
Tapi dia bisa bergaul dengan siapa saja.
Golongan elit pejabat, tukang becak, pegawai, dan lain-lain.
Dia diam,
tapi ramah dengan semua orang.
Dia irit senyum,
tapi selalu senyum buat orang-orang di sekitarnya.
Dia diam.
Tapi ketika bicara semua orang mendengarkan dan memperhatikan.
Dia tidak pernah blak-blakan.
Tutur katanya lembut, halus, bahkan ketika sedang marah.
Eh, dia bahkan tidak pernah terlihat benar-benar marah.
Kalau dia tidak suka, dia tidak mengatakannya langsung,
Hanya satire.
Tapi cukup mengena dan membuat orang menyadari kesalahannya.
Dia tipe anak yang sangat patuh terhadap orangtua dan kakak-kakaknya.
Dia tipe kakak yang sangat sayang terhadap adik-adiknya.
Dia tipe laki-laki yang bisa diandalkan.
Dia bukan tipe laki-laki yang mendewakan gengsi di atas segalanya.
Dia tipe laki-laki yang sangat menghormati perempuan.
Lucu.
Malu-malu, bahkan dia mengaku minder berhadapan dengan perempuan.
Tanyakan perkara loyalitas.
Bagi saya, dialah contoh nyatanya.
Dia mencintai apa yang dilakukannya.
Dia mencintai pemberi rezekinya,
meski pernah dia ditawarkan lebih tinggi dari yang dia punya.
Dia tidak pernah menuntut.
Dia hanya menyuarakan saran,keinginan.
Tapi dia tidak pernah meminta.
Dia membebaskan setiap orang memilih jalannya, menyatakan pendapatnya,
tetapi akan mengingatkan ketika menurutnya melenceng.
Dia bisa saya bilang tahu banyak tentang dunia.
Dia tidak membatasi pikirannya, tidak membatasi pengetahuannya
Dia orang yang kuat sekali prinsipnya.
Tanya tentang tanggungjawab,
dia bahkan tidak pernah mau meninggalkan tugasnya
kecuali untuk hal-hal yang benar-benar mendesak dan membutuhkan kehadirannya.
Dia tidak pernah setengah-setengah melakukan sesuatu.
Hidupnya sederhana.
Tidak pernah silau dengan apa yang dia punya,
apalagi mendongak iri dengan apa yang orang lain punya.
Tidak pernah mengeluh dengan apa yang dia punya,
apalagi meratapi apa yang dia tak punya.
Selalu mencari jalan terbaik untuk banyak hal.
Saya mengaguminya sepanjang eksistensi saya.
Laki-laki cemara.
Yang tegak prinsip hidupnya.
Yang lembut perangainya.
Yang tidak pernah bisa marah apalagi menyalahkan.
Yang berwibawa dalam badan kecilnya.
Yang banyak melihat, mendengar, sedikit bicara
Yang mengajarkan banyak sekali hal kepada saya.
Tanyakan siapa dia.
Dengan takzim saya akan menjawab, "Dia Bapak saya,"
Kamis, 07 Februari 2013
Edisi Galau SNMPTN :F
Akhirnya.. buka blog juga :)
Ini blog udah kayak diary aja, semuamuamua aja aku ceritain :D
Yah gimana lagi, kemana aku akan mengadu kalau bukan ke sini?
Aku mau cerita.
Cita-cita?
Iya, semua orang punya cita-cita.
Dari kecil pun sudah dididik buat punya cita-cita.
Nggak percaya?
Tanya noh adek-adek kecil imut umumu di sekitar kalian,
"Dek, kalau udah gede mau jadi apa?"
Dijamin mereka punya jawaban.
Cita-cita?
Ah, ya, cita-cita
Yang menjadi abstrak ketika beranjak dewasa
Yang seakan cuma bayangan maya dari dunia antah berantah
Yang kian menjadi tangisan semakin beranjak usia
Yang menjadi momok, mimpi buruk, dan tak bisa lagi diraba
Yang tak dipahami mengapa kadang tak bisa sejalan dan terpenuhi
Cita-cita?
Ah, ya, cita-cita.
Apa artinya?
Tujuan hidup?
Suatu hal yang ingin dicapai?
Niat hidup?
Atau cuma gengsi?
Pengen cepet kaya?
Nurutin orangtua?
Atau apa?
Cita-cita
Apa yang salah dengan cita-cita?
Kami yang memilihnya,
atau sistem yang mempersulitnya?
Atau pola pikir kami yang hanya setempurung kelapa?
Bahwa cita-cita harus istimewa,
Bahwa kalau tidak itu dan di sana berarti tidak bisa
Bahwa kalau angka-angka kami rendah maka kami hanya bisa pasrah
Bahwa kami harus menyerah bercita-cita
Mundur melangkah dan salah menentukan arah.
Yang penting aman.
Yang penting masuk sana.
Tidakkah terpikir yang terpenting bukan tempatnya?
Tidakkah terpikir yang terpenting justru prosesnya?
Tidakkah terpikir yang terpenting tujuan akhirnya?
Mau jadi apa kita?
Mau jadi siapa kita?
Mampukah kita sungguh-sungguh menjalaninya?
Sanggupkah kita menyusurinya tanpa takut jatuh dan menoleh ke belakang?
Apa yang dicari dari sebuah cita-cita?
Hidup mewah?
Jadi orang terpandang?
Dibanggakan orangtua?
Tapi bukan menjadi diri sendiri.
Apa gunanya?
Kalau nggak berguna untuk orang lain,
Kalau nggak bermanfaat dan nggak diamalkan buat kebaikan.
Terakhir nih,
serahkan sama Tuhan.
Dia yang paling tahu apa mau kita,
kemampuan kita, jalan hidup kita.
Ya udahlah sih ya, kita udah usaha, yang nentuin Dia.
Pegang teguh aja cita-cita kita,
suarakan kepadaNya.
Dia nggak pernah tidur.
Yakin aja, Dia selalu punya stok segala yang terbaik buat kita :)
Tetep semangat ya semua temen-temen seperjuangan,
yang lagi galau SNMPTN,
galau nentuin satu langkah buat seribu langkah ke depan.
Semoga sukses buat semuanya!
Ini blog udah kayak diary aja, semuamuamua aja aku ceritain :D
Yah gimana lagi, kemana aku akan mengadu kalau bukan ke sini?
Aku mau cerita.
Cita-cita?
Iya, semua orang punya cita-cita.
Dari kecil pun sudah dididik buat punya cita-cita.
Nggak percaya?
Tanya noh adek-adek kecil imut umumu di sekitar kalian,
"Dek, kalau udah gede mau jadi apa?"
Dijamin mereka punya jawaban.
Cita-cita?
Ah, ya, cita-cita
Yang menjadi abstrak ketika beranjak dewasa
Yang seakan cuma bayangan maya dari dunia antah berantah
Yang kian menjadi tangisan semakin beranjak usia
Yang menjadi momok, mimpi buruk, dan tak bisa lagi diraba
Yang tak dipahami mengapa kadang tak bisa sejalan dan terpenuhi
Cita-cita?
Ah, ya, cita-cita.
Apa artinya?
Tujuan hidup?
Suatu hal yang ingin dicapai?
Niat hidup?
Atau cuma gengsi?
Pengen cepet kaya?
Nurutin orangtua?
Atau apa?
Cita-cita
Apa yang salah dengan cita-cita?
Kami yang memilihnya,
atau sistem yang mempersulitnya?
Atau pola pikir kami yang hanya setempurung kelapa?
Bahwa cita-cita harus istimewa,
Bahwa kalau tidak itu dan di sana berarti tidak bisa
Bahwa kalau angka-angka kami rendah maka kami hanya bisa pasrah
Bahwa kami harus menyerah bercita-cita
Mundur melangkah dan salah menentukan arah.
Yang penting aman.
Yang penting masuk sana.
Tidakkah terpikir yang terpenting bukan tempatnya?
Tidakkah terpikir yang terpenting justru prosesnya?
Tidakkah terpikir yang terpenting tujuan akhirnya?
Mau jadi apa kita?
Mau jadi siapa kita?
Mampukah kita sungguh-sungguh menjalaninya?
Sanggupkah kita menyusurinya tanpa takut jatuh dan menoleh ke belakang?
Apa yang dicari dari sebuah cita-cita?
Hidup mewah?
Jadi orang terpandang?
Dibanggakan orangtua?
Tapi bukan menjadi diri sendiri.
Apa gunanya?
Kalau nggak berguna untuk orang lain,
Kalau nggak bermanfaat dan nggak diamalkan buat kebaikan.
Terakhir nih,
serahkan sama Tuhan.
Dia yang paling tahu apa mau kita,
kemampuan kita, jalan hidup kita.
Ya udahlah sih ya, kita udah usaha, yang nentuin Dia.
Pegang teguh aja cita-cita kita,
suarakan kepadaNya.
Dia nggak pernah tidur.
Yakin aja, Dia selalu punya stok segala yang terbaik buat kita :)
Tetep semangat ya semua temen-temen seperjuangan,
yang lagi galau SNMPTN,
galau nentuin satu langkah buat seribu langkah ke depan.
Semoga sukses buat semuanya!
Langganan:
Postingan (Atom)
