Kamis, 28 Februari 2013

Traktat

Saya seorang kakak.
Tanggungjawab saya meliputi adik saya dan orangtua saya.
Saya seorang anak.
Tanggungjawab saya meliputi orangtua saya dan adik saya.
Saya seorang manusia.
Tanggungjawab saya meliputi orang-orang yang saya kasihi.
Adik saya, orangtua saya.

Saya seorang kakak.
Sikap dan segala pilihan yang saya ambil pasti berimbas,
untuk ditiru, diukur, disesuaikan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Apapun yang saya lakukan pasti memiliki dampak,
menyenangkan, memberatkan, menyusahkan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Pertimbangan-pertimbangan saya pasti jadi penyebab,
kebaikan, keburukan, kemudahan, kesusahan.
Orangtua saya, adik saya.

Saya seorang kakak.
Aktris panggung yang bisa melakonkan cermin,
tulang punggung, perisai, penjaga, pelindung.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Tukang kebun yang menebar benih-benih,
harapan, cita-cita, masa depan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Nelayan yang menjaring dan jala,
meraup janji-janji kebaikan, kehidupan.
Orangtua saya, adik saya.

Saya seorang kakak.
Aktris panggung yang terkadang rapuh untuk melakonkan cermin,
tulang punggung, perisai, penjaga, pelindung.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Tukang kebun yang kadang alpa merawat benih-benih,
harapan, cita-cita, masa depan.
Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Nelayan yang kadang absen menjaring dan jala,
meraup janji-janji kebaikan, kehidupan.
Orangtua saya, adik saya.

Saya seorang kakak.
Yang semestinya berpikir, bertindak, 
sesuai rasio dan logika sederhana
untuk Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang anak.
Yang semestinya berjuang, berupaya,
sesuai yang saya punya, bisa
untuk Orangtua saya, adik saya.
Saya seorang manusia.
Yang semestinya menimbang, mengukur
sebelum memilih dan melakoni sesuatu
untuk Orangtua saya, adik saya.

Saya seorang kakak.
Maka saya tak boleh sekalipun membiarkan
Orangtua saya, adik saya
Melihat saya jatuh, rapuh, kalah
di hadapan mereka.
Saya seorang anak.
Maka saya tak boleh sekalipun lupa mengingat
Orangtua saya, adik saya
Menunggu balas budi saya, tanggungjawab, peran saya
terhadap masa depan mereka.
Saya seorang manusia.
Maka saya tak boleh sekalipun menjerumuskan
Orangtua saya, adik saya
dalam kesusahan, keterbatasan, keputusasaan
karena pilihan-pilihan egois saya.

Karena saya adalah kakak, anak, sekaligus manusia.
Yang harus bisa jadi cukup tangguh untuk menantang dunia
Yang harus bisa jadi cukup berkilau untuk menjadi mercusuar
Yang harus bisa jadi cukup jernih untuk menjadi cermin

Dengan menyebut nama Tuhan saya,
saya bersumpah.
Atas ijin Tuhan akan memenuhi kewajiban-kewajiban saya sebagai kakak, anak, dan manusia kepada orangtua dan adik saya terlebih dahulu sebelum saya memenuhi kewajiban-kewajiban saya terhadap orang lain.
Sebagai gantinya, saya meminta perlindungan, pertolongan, bimbingan, kekuatan, kesempatan, dan kemudahan bagi saya untuk memenuhi sumpah saya dan bagi orangtua saya dan adik saya untuk menjalani kehidupan dengan dan dalam kebaikan.

Sincerely,
Enggardini Rachma Hakim.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar