Someday we'll meet again.
Entah di sini, di situ, di sana.
Jemari kita akan kembali bertemu.
Entah esok, lusa, atau windu.
Diana memuntir cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya.
Tak henti-hentinya dia menyumpah-nyumpah.
Andai dia bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan.
Andai dia tahu rahasia-rahasia apa yang menantinya di luar sana.
Benda mungil di jarinya itu kini terasa berat luar biasa. Sejak tadi Diana gatal ingin melepas dan melemparnya keluar hingga remuk dilindas roda kereta.
***
Marcell menekan tombol redial berkali-kali. Hasilnya sama, suara perempuan memberitahukan nomor yang ia tuju tidak aktif terdengar berkali-kali.
Sejak tadi Marcell frustasi ingin membanting ponselnya hingga tak berbentuk lagi.
Ke mana kekasihnya pergi?
***
Drian menenggak isi cangkirnya sekali lagi.
Sudah lebih dari 3 gelas kopi hitam pahit ludes dihirupnya. Kali ini aroma dan cita rasa legit kopi tidak cukup ampuh menghalau gelisahnya.
Apa yang telah ia lakukan?
Tiap detik bertambah pula campur aduk pikiran dan perasaannya.
Cemas, tapi juga tak sabar.
Tak suka, tapi toh senang juga.
Sepertinya ia akan menghabiskan lebih banyak cangkir kopi malam ini.
***
Halo Jogja!
Diana seakan bisa menghirup bau tanahnya, dan tentu saja kenangannya.
Jakarta bukan tempat asing bagi Diana. Kota kelahirannya. Meskipun Diana tidak pernah benar-benar tinggal di sana. Sebentar bukan berarti tidak berbekas.
Hari ini Diana kembali ke sana untuk mengambil kembali apa yang dulu ia pernah tinggalkan.
Dengan malas Diana merogoh sakunya dan menemukan ponselnya.
Sengaja ia mengganti SIMcardnya untuk sementara menghilang dari kehidupannya di Jakarta. Nama Marcell berkelebat di pikirannya. Diana memaki untuk kesekian kalinya. Marcell adalah hal terakhir yang ingin diingatnya di Jogja.
***
Drian tersentak mendengar jeritan ponselnya. Ia memaki begitu melihat jam di layar ponselnya. Ia sukses tertidur di kafe 24 jam yang ia kunjungi sejak semalam.
"Halo," ujarnya dengan suara serak. Serabutan ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Pasti baru bangun tidur," sahut suara di seberang teleponnya. Jantung Drian seketika melompat tak karuan. Ia tak yakin ini karena efek kafein atau karena suara yang barusan didengarnya.
"Hmm,"
"Jemput aku sekarang," ujar suara itu lagi. Drian berjalan menuju meja kasir sembari mendengarkan instruksi dari rekan bicaranya di ujung telepon.
Lima menit kemudian mobil sedan Drian sudah meluncur ke Lempuyangan.
***
Diana dan Drian sama-sama terpaku di tempat mereka berdiri.
Cincin di jari manis Diana terasa semakin berat. Refleks ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jaketnya.
Drian bingung harus mengawali semua ini dari mana. Dia, Diananya, sekarang berdiri di depannya. Diam-diam ia mencubit lengannya sendiri untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah benar-benar bangun tidur.
"Hai," sapa Diana dengan canggung. Dulu ia pasti akan langsung menghambur memeluk laki-laki di depannya ini. Tapi lagi-lagi, cincin di jari manisnya terasa seperti borgol yang menahannya untuk tetap di tempatnya.
"Hai juga. Maaf lama," sahut Drian.
Diana tersenyum. "Berantakan," ujarnya sembari mengacak rambut Drian. Seperti yang selalu dilakukannya dulu. Diana memalingkan muka, berharap Drian tidak melihatnya berkaca-kaca.
***
"Maaf kalau rumahku kurang nyaman, tapi please, anggap saja rumahmu sendiri," ujar Drian. Diana manggut-manggut saja. Hawa sejuk Kaliurang terasa lebih bersahabat ketimbang panasnya Jakarta.
"Mau ke mana?"
"Ngantor,"
"Jam segini? Jangan bercanda!"
Drian meraup muka frustasi. Ia memang benar-benar tak pandai berbohong, apalagi di depan Diana.
"Kita jalan-jalan saja Drian. Tapi tunggu sebentar, aku mandi dulu," usul Diana. Drian mengangguk saja, pasrah.
***
Sepanjang jalan Diana banyak bercerita, dengan Drian yang menyimak dengan khidmat.
Diana bekerja di perusahaan farmasi ternama di Jakarta, sementara Drian tetap di Jogja melanjutkan karirnya di bidang perhotelan.
Matahari sudah semakin condong ke barat. Seharian ini mereka berdua sudah mengelilingi berbagai tempat di Jogja. Dari mampir ke kantin sekolah mereka dulu, hingga akhirnya sore ini terduduk di tepi Samudra Hindia.
"Andai Doraemon benar-benar nyata, aku akan minta mesin pembeku waktu," ujar Diana. Drian menoleh, memandangi rambut Diana yang kemilau terkena cahaya senja. "Kenapa?" tanya Drian.
"Karena aku mau terus begini, ada di sini denganmu. Sudah lama sekali aku tidak merasa damai begini," sahut Diana
"Diana, apa yang kamu cari di sini?" tanya Drian tiba-tiba. Ia bukan tak melihat kilau cincin perak di jari Diana. Setengah mati ia menahan diri untuk tidak membahasnya, tapi pernyataan Diana barusan semakin membuatnya kacau.
"Keputusan," sahut Diana mantap.
"Atas?"
"Drian, dengar, bukan tidak ada artinya cincin ini ada di jari manisku. Seminggu yang lalu Marcell datang melamarku,"
"Dan kamu menerimanya. Tidak perlu kamu jelaskan juga aku tahu, Diana," potong Marcell pahit. "Apa yang kamu cari di sini?" ulang Drian.
"Jawab dengan jujur Drian, maukah kamu, suatu hari nanti menyematkan cincin di jariku?"
Di luar dugaan, Drian tertawa. Bahkan Drian pun tak mengerti mengapa ia justru tertawa mendengar pertanyaan Diana.
"Kembalilah ke Jakarta dan kirimkan undangan pernikahanmu secepatnya. Aku janji akan datang, hahaha," sahut Drian. Sakit sekali rasanya. Ia tahu tiap kata-katanya adalah kebohongan yang mengoyak hatinya sendiri. Tapi ia sudah kalah, ia tahu ia tidak akan bisa merengkuh Diananya kembali. Dengan dongkol ia merutuki dirinya sendiri. Bahkan setelah bertahun-tahun ia tak kunjung mampu mengungkapkan betapa sayang ia pada gadis di depannya ini.
Diana ikut tertawa sampai menangis. Atau ia menangis di dalam tawanya. Entahlah, ia juga tak peduli. Keyakinannya atas Drian ternyata salah. Apa yang ia angankan dari perjalanan ratusan kilometer ini tidak pernah tercapai.
"Baiklah Drian, ayo kita pulang. Aku akan pulang malam ini juga," ujar Diana masih dengan isak di sela tawanya.
***
"Halo,"
"Hai, syukurlah akhirnya kamu mengangkat teleponku. Ke mana saja kamu ini? Aku sudah siap menelepon polisi kalau kamu tidak juga menghubungiku hari ini,". Diana menarik nafas panjang.
"Jemput aku di bandara malam ini,"
Telepon pun ditutup. Diana memandangi cincinnya sekali lagi dan menangis tanpa henti. Ia akan menikah dengan Marcell.
Langit Jogja mendung malam ini.
