Minggu, 28 Oktober 2012

Tentang Sepotong Cokelat

(ini tulisan lama, maafkan kalau bikin ceritaku nggak runtut)

 Jumat, 31 Agustus 2012

Rasanya memang hari yang sangat sulit dilupakan.
Hari dimana aku dibuat seneng, pusing, sedih, marah, jengkel, kecewa, galau setengah mati.

Tentang sepotong cokelat.

Unyu kan ya?
Cewek mana sih yang nggak meleleh dapet kiriman cokelat dari cowok yang dia suka?
Cewek mana sih yang nggak berbunga-bunga dapet kiriman cokelat dari orang yang dia puja?
Seneng. Pasti.
Tapi tunggu dulu.

Sepotong cokelat dan selembar surat.
Cewek mana sih yang nggak deg-degan setengah mati dapet kiriman kayak gitu dari cowok yang dia suka?
Cewek mana sih yang nggak pucat pasi menebak-nebak isi surat itu?
Deg-degan. Pasti.
Aku sampai bisa lari lompat tangga dua-dua ke kelas.

Aku jadi membayangkan kamu yang lagi beli cokelat dan nulis surat.
Apalagi kamu yang nyisipin surat ke cokelat dan nitipin ke adekku.
Hahaha, terima kasih atas kerelaan dan apa yang anda lakukan.

Anda memang LUAR BIASA!
Bisa-bisanya anda memberi harapan sekaligus mematahkannya sekali waktu.
Keren kan?
Jarang-jarang ada orang kayak gini lho!

Oke deh ya, aku emang nggak mengharapkan apa-apa dari kamu.
Kenapa?

Karena aku merasa cukup tahu diri.
Emangnya siapa aku? Siapa kamu?
Karena aku cukup tahu tujuan hidupmu, prinsipmu, cita-citamu, targetmu, kedudukanmu, institusimu, tanggungjawabmu.
Aku tetap bukan apa-apa dibanding kamu. Yakin.


Aku bingung sama kamu, aku nggak tahu cara ngadepin kamu, baca pikiranmu, maksudmu, bedain mana yang serius, bercanda, bohong.
Karena, tahukah kamu, aku selalu menganggap nggak ada segalanya yang terasa menyenangkan dari kamu.
Sejujurnya aku ingin tahu yang sebenarnya.
Tapi aku nggak pernah siap denger jawaban iya atau enggak dari kamu.


Aku menyayangimu.
Makanya aku cukup tahu buat nggak maksain keberuntunganku membuat kamu menoleh sejenak ke aku, memikirkan dan mencoba tahu beberapa detail hidupku. Itu nggak kurang kok.
Makanya aku berusaha buat nggak merenggut cita-citamu, ambisimu, hidupmu, masa depanmu hanya gara-gara perasaan nggak penting macam ini. Apalagi menghancurkan karier dan nama baik yang kamu rintis.

Kamu minta aku fokus dan manfaatin waktu sebaik mungkin?
Oke, siap. Karena aku juga punya prioritas.
Aku juga punya tujuan hidup, cita-cita, masa depan
Atau itu cuma bahasa halus dari “ayolah, berhenti naksir aku, karena aku nggak naksir kamu dan kamu gangguin hidupku. Alihin aja pikiranmu dari hal sia-sia ini ke hal-hal yang lebih berguna,” ? 
Hm?

Kalau emang itu maksudmu, TERIMA KASIH KAMU SUDAH MENYAMPAIKAN DENGAN CARA YANG BAIK SEKALI TANPA SEDIKITPUN MELUKAI HATI, MALAH REPOT-REPOT NGASIH PENAWAR SAKITNYA SEKALIAN.

*sesenggukan waktu baca dan nge-post tulisan yang lama mengendap di pc ini*


Andromeda


Firasat..
Irama ketuk sepatu berderap derap
Ramai sekali pagi ini,
Matahari belumlah muncul, mengapa ya?
Adakah mentari belum bangun dari lelapnya?
Namun mengapa bulan sudah beri ucap perpisahan jika begitu?
Sudahkah para simbok menumbuk lesung membangunkan si  jago?
Yah,
Atau hanya orang orang yang terbangun terlalu dini?
Hmm, ada apa ya?

Andromeda telah dibebaskan! Jerit orang orang..
Dia bukan lagi gadis tawanan Perseus
Informasi yang melegenda itu ternyata salah kawan,
Tadi malam para bintang berkisah padaku,
Yang membentang panjang di cakrawala itu adalah selendang Andromeda
Andromeda meninggalkannya supaya pengawal Perseus tertipu!

Mimpi rupanya..
Ujung pedang menyentuh kulitku,
Cih, Andromeda masih jadi tawanan, begitu pula aku
Harusnya aku tahu!
Tiada mungkin pengawal Perseus tertipu dengan selembar selendang!
Ini hanya mimpi, hanya mimpi..