Minggu, 28 Oktober 2012

Lomba Empat-Huruf

Lomba Empat-Huruf

Nggak pernah nyebut-nyebut lomba ini ya sebelumnya?
Hehe, sebenarnya memang bukan jadi target hidupku 3 tahun ini,
tapi yah, aku terseret arus juga ke sana.

Jadi, Lomba Empat-Huruf ini adalah adiknya Lomba Tiga-Huruf.
Many people said that they're same.
Tapi buat aku, mereka berdua benar-benar dua hal yang jauuuuuuuh beda.

Oke, mereka sama level.
Tapi itu cuma berlaku di tingkat teratas.
Untuk step dan kesulitan, jelas Lomba Tiga-Huruf juaranya.
Lomba Empat-Huruf nggak seribet Lomba Tiga-Huruf pelaksanaannya.
Nggak ada tuh tingkat Kota, Prov (ini ada sih, tapi nggak berkesinambungan).
Langsung Nas.

Masa iya nggak seribet Lomba Tiga-Huruf?
iya, dalam hal pelaksanaan.
Tapiiii, Lomba Empat-Huruf ini kan tentang penelitian,
jadi, tingkat keribetan dan perjuangannya ya masing-masing orang yang menentukan.

Nyangka nggak lolos jadi finalis Lomba Empat-Huruf?
ENGGAK!

Sumpah, niatan ikutan juga cuma gara-gara mau ngelunasin utang penelitian.
Aku sudah cukup sadar usia dan kelas, hehehe..
Ditambah fakta aku bener-bener down di Lomba Tiga-Huruf
Jadi, aku jalanin dengan nggak terlalu minat, tapi terpaksa total juga.

Aku nggak sendiri, aku kerja bareng rekananku,
yang ujung-ujungnya sering banget aku repotin, hehe *maafkan akuu*
Dia salah satu faktor yang bikin aku mau total juga sih, hehe

Awalnya semuanya terlalu datar, terlalu biasa kalo nggak mau dibilang terlalu mulus
Harusnya bersyukur kan ya?
Tapi, nggak! Justru aku bingung dengan keadaan yang seperti itu.
Ngerasa percuma ikutan kalo terlalu mulus.
Kenapa?
Karena itu artinya hasilnya nggak bakalan bagus.
Karena hasil adalah cerminan perjuangan.
Karena kalau terlalu mulus, perjuangan kami pun berarti minim sekali.
Ngerti? Nah!

Lolos.
Rasanya seakan-akan semuanya berkonspirasi meloloskan kami.
Nyangka?
Sebenernya biasa aja sih, udah "dibocorin" sebelumnya.
Tapi yah, seneng juga.

Ternyata perjuangan baru dimulai setelah tahu kami lolos.
Mulai deh kami repot, nangis, saling marah, ngeluh.
But, I love that!
Itu tandanya kami berjuang, kami berusaha, dan aku mulai yakin hasil kami baik.

Kemudian saatnya tiba kami berhadapan dengan takdir.
Kami sudah memberikan yang terbaik yang kami mampu.
Tinggal takdir menuntun kami ke mana.

Akhirnya, pengalungan medali.
Kaget?
ENGGAK.
Kok bisa?
Ya iyalah, orang yang duduk di depan kami nenteng rekap nilai dan keliatan sama kami.
Sebelumnya pun, aku rasa aneh kalau kami nggak dapet medali yang itu.
Bukan sombong, realitas itu.
Kenapa aku bisa seyakin itu, nggak pantas lah dibagi di forum umum begini.

Tapi aku sedih dapet medali itu.
Padahal aku kira aku bakalan girang bukan main.
Aku justru nangis sedih.
Ada begitu banyak yang aku sesali.
Ada begitu besar kecewa yang aku harus telan bulat-bulat.

Ada apa?

Aku ingat rasanya 3 tahun lalu aku mendapatkan momen begini dalam Lomba Tiga-Huruf.
Semakin sedih rasanya ketika aku merasa aku seharusnya berusaha lebih buat mendapatkan momen seperti itu lagi tahun ini. Dan aku terlambat menyadari.
Semakin kecewa rasanya ketika aku ingat dia yang beberapa bulan lalu mendapat persis sepertiku dalam Lomba Tiga-Huruf.
Ahh, sedih, nyesek, jengkel, marah, kecewa.

Kekanakan. Emang.
Tapi tidakkah kalian mengerti rasanya?
Jalan memang bisa berbelok, tapi belum tentu kan kita mau mengikuti belokan itu
Tapi ya sudahlah, mungkin memang ini yang sudah diputuskan untukku.
Dan, yah, siapa yang tahu sih?
Keyakinanku semua tidak terjadi secara kebetulan dan hanya akan jadi sia-sia.
Selalu ada maksud dibalik semua peristiwa.
Aku yakin ada banyak hal tersembunyi dibalik terseretnya aku ke Lomba Empat-Huruf.

Semoga Tuhan menuntun dan memberikan yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar