Selasa, 17 September 2013

Jawab Jujur yaa!

Oke, ayo kita mulai.

Pagi lalu, kelasku dapet materi Pancasila.
Trus apa masalahnya?

Sebelumnya, aku ceritain dulu deh kelasku kayak apa.

Aku melanjutkan sekolah di salah satu PTN di Indonesia. Nah, lingkupnya sudah bukan lagi kedaerahan, tetapi nasional, bahkan internasional.
Kelasku berisi 82 anak.
Asal daerah kami berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke. Di antara kami, ada 10 orang dari Malaysia yang juga belajar bersama kami di sini.
Mereka ini yang mau aku ceritain.

Mau tanya dulu deh,
masih inget nggak sih sama Pancasila?
Jangan-jangan udah nggak ngeh, asing banget sama istilah "Pancasila", dan lebih akrab sama istilah-istilah berbahasa Inggris atau Korea hehe.
Tapi aku percaya kok, masih banyak yang hafal, minimal tahu Pancasila. Kalau nggak, hmm, perlu dipertanyakan setiap upacara sejak TK unyu-unyu sampai sekarang ngapain aja.

Terus, tanya lagi deh,
siapa yang bisa nyanyiin Indonesia Raya?
siapa yang tahu lagu-lagu perjuangan?
Padamu Negeri?
Tanah Air?
Hari Merdeka?
Merasa bangga lah kalian yang tahu dan bisa menyanyikannya, bahkan merenunginya.

Nah, di kelas Pancasila tadi, kami semua ditanya,
"Sejak kapan bangsa Indonesia ada?"
"Apa sebenarnya yang menjadi pemersatu kita?"

Kami lalu dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk mendiskusikannya.
Di tengah diskusi, teman Malaysia kami bertanya, "kalian tahu kan mengenai bangsa kalian sendiri?"
Kami diam.
Kami pura-pura sibuk, menulis, searching. Sementara kami sibuk dengan teori-teori, dia keluar dengan pertanyaan yang paling substansial.
Dia kemudian membacakan artikel yang dia temukan mengenai kelahiran bangsa Indonesia, nenek moyang kita.
Dia menemukan Majapahit dan Sriwijaya.
"Sultan pertama di negara saya berasal dari Sriwijaya," ujarnya bangga.

Kami membahas Sumpah Pemuda.
Kembali dia bertanya, "apa itu Sumpah Pemuda?"
Lalu kami bacakan.
Dia menirukan. Berusaha menghafalkan.

Secara spontan dia melanjutkan dengan Pancasila.
Tertatih-tatih dia menghafal.
Tapi dia paham maksud tiap sila-nya.
Aku cuma bisa mlongo, takjub.

Lalu di sepanjang pelajaran pagi itu, dia dengan riang menyenandungkan Indonesia Raya.
Dengar, Indonesia Raya!

Di akhir pelajaran, kami semua diminta menyanyikan lagu "Hari Merdeka"
Coba tebak apa yang terjadi..

Ada lirik yang terbalik-balik.
Ada di antara kami yang hanya lipsync.
Ada yang hanya diam.
Ada pula yang disambi tertawa-tawa, bermain ponsel.
Bahkan ada yang menguap bosan.


Duh Bunda, betapa aku malu dengan diriku sendiri saat itu.
Malu, malu sekali aku berhadapan dengan putra tetangga sebagai putra Bunda, tapi kami sendiri tidak paham tentang Bunda. Kami tidak menunjukkan kecintaan kami kepada Bunda.
Lagu Ulang Tahun Bunda kami tak hafal.
Bahkan kami bosan melantunkannya.
Lagu yang seharusnya menjadi kebanggaan kami semua kepada Bunda, tak pernah lagi kami nyanyikan.
Pancasila, Bunda, yang menjadi pijakan kami melangkah, bahkan kami tidak hafal. Padahal kami mengenalnya sejak kami membuka mata. Sejak kami dilahirkan dari rahim Bunda.
Malu, Bunda, aku malu.
Teman kami dari negeri tetangga lebih paham mengenai Bunda, daripada kami.
Saudara kami itu menyanyikan Indonesia Raya dengan bangga. Memahami Pancasila dengan khidmat. Bangga atas tali persaudaraan sedarah dengan Bunda.
Malah kami, anak kandung Bunda, memilih diam, memilih acuh, memilih pura-pura sibuk.
Aku malu Bunda.

Paham nggak sih betapa sakit hati Bunda dengan kelakuan kita yang kayak gitu?
Betapa malu Bunda sama tingkah laku kita yang nggak punya rasa cinta, nggak bangga sama Bunda.
Sejelek apapun, Bunda lah yang membesarkan kita di pangkuannya. Yang nantinya, ketika kita mati pun akan tetap dipeluknya.
Sudah tahu Bunda sedang susah, jangan ditambah lagi susahnya. Kalau mau Bunda kita baik, Bunda kita cantik lagi, jangan lakukan hal-hal yang sama dengan yang dilakukan orang-orang yang tidak mencintai Bundanya sendiri.

Cintai Bunda seperti mencintai Ibu kita sendiri.
Bunda punya sejarah panjang untuk berdiri. Banyak putra-putra terbaiknya yang sudah gugur karenanya. Tugas kita lebih ringan, kita "hanya" harus merawat Bunda.
Ayo tunjukin kalau kita bisa, kalau kita juga termasuk salah satu putra terbaik Bunda :)

Jumat, 06 September 2013

Eftirsjá

Sekip Utara, Jogjakarta.

Aku memandang gerbang Fakultas Kedokteran Gigi dengan takzim.
Masih segar rasanya melangkah keluar dari gerbang Sekolah Menengah. Menentukan mimpi.
Aku memandang rerimbunan pakis yang menaungi jalanannya.
Subuh suatu saat dulu aku pernah takut takut menerobos gelap jalannya, berlari-lari dalam kelompok-kelompok menggendong tas karung goni. Sewarna dengan jas almamater kami.
Aku menelusuri gang-gang perumahan dosen di seberangnya.
Ah, itu rumahmu. Dulu.

Aku pulang.
Ke kota impian kita berdua, yang tertancap dalam-dalam di hati dan pikiran kita.
Yang kita berdua kejar, jatuh bangun. Bergantian tangan kita, semangat kita menyangga satu sama lain.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Di tempat segala batas bisa tersamarkan, di mana jarak hanya menjadi satu titik kecil di antara kaki-kaki kita.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Kamu di kampusmu yang megah, mentereng, prestisius.
Aku di sebelah kampusmu, yang keras tanpa ampun mendidik kami di dalamnya.
Kita harus berjumpa lagi di sini.

Masih teringat ketika aku dan kamu dibariskan bersama di jalan yang membelah kampusmu dan kampusku. Sama-sama menunduk takut. Sama-sama mengkerut ciut.
Berlari-lari menembus selongsong bentakan yang mengiringi.
Lalu kita terpisahkan di kampus masing-masing.
Masih sempat kita melambai.
Ah sudah lama sekali semua itu.
Sudah usang. Lapuk mungkin.

Ini kota impian kita.
Tempat harapan, asa, cita-cita kita semburkan setinggi yang kita bisa.
Tempat kita membentang rencana-rencana hidup kita yang terbentang panjang.
Tempat kita tertawa, mengerutkan dahi.
Tempat kita juga dihadang masalah.
Kuliah tak pernah semudah yang kita bayangkan.

Ini kota pemersatu kita.
Tempat kita pergi siang bolong ke kedai es krim favorit kita.
Malam-malam yang kita habiskan di angkringan seputaran Malioboro, berputar-putar di Tugu Jogja, terkikik bersama melihat kereta api melintas di atas kita.
Menyusuri selokan Mataram yang panjang itu, kita lapar, setelah segala tetek bengek urusan sekolah.
Praktikum yang semakin sulit, kegiatan BEM yang membelit.
Dan yang sudah jadi kebiasaan kita, saling bersandar dan menghirup secangkir teh hangat cukup meluruhkan lelah.
Kita sahabat dekat. Sangat dekat.

Kamu.
Yang mendengarkan aku ngoceh ngalor ngidul dengan suara parau saat awal-awal kuliah. Homesick.
Yang selalu siap sedia mengantarku ke mana pun aku mau. Membantuku menyelesaikan tugas-tugasku. Memandang setengah iba setengah frustasi kepadaku yang tak kunjung mengerti juga konsep Fisika yang kamu jelaskan.
Memintaku selalu tampil rapi ke mana pun pergi.
"Kamu ini pekerja medis, mana ada pasien yang percaya kalau kamu saja berantakan begini,"
selalu katamu.
Aku tertawa.

Aku.
Yang cerewet merepet memintamu menjaga pola makan.
Yang selalu meneleponmu pagi-pagi agar kamu bangun dan tak lupa sembahyang.
Memandang antara takjub dan geli kepadamu yang tiba-tiba berbicara soal musik dan seni di antara dominansi otak kirimu.
Memintamu untuk menjaga kesehatan tubuhmu.
"Kamu ini pekerja medis, mana bisa mengobati pasien kalau kamu saja sakit begini,"
selalu tiruku.
Kamu tertawa.

Bertahun yang lalu.

Dan sekarang aku memandang perih pada lampu-lampu jalan di pertigaan tempat kamu pertama kali mencium bibirku.
Yang berlanjut di hari-hari selanjutnya setiap menemaniku pulang ke rumahku.
Kamu tahu tidak pernah mudah bagiku berbohong.
Kamu yang bilang sendiri aku tak cocok masuk teater, "Nggak ada bakat akting," katamu.
Kukira kamu tahu.

Kemudian kamu pergi.
Sudah. Begitu saja.
Tak pernah lagi mengangkat teleponku padahal nomor ponselmu tak pernah ganti.
Tak pernah lagi menjawab pesanku sepenting apapun.
Rumahmu yang selalu melompong ketika kujenguk.
Aku tidak pernah bisa menemuimu lagi.
Dan kamu tidak pernah bisa menjelaskan apapun.

Jalan Kaliurang yang membentang panjang, melewati bulevar Universitas, yang biasanya selalu padat mendadak terasa kosong.
Telingaku tak lagi bisa mendengar. Mataku tak bisa lagi melihat.
Suarku sudah hilang.
Aku lulus lebih cepat darimu. Kamu tak pernah datang ke yudisiumku. Dan aku tidak pernah bisa menemuimu mengucapkan selamat tinggal.
Kota Impian kita koyak sudah.
Berhamburan segala mimpi, harapan, doa, cita-cita yang kita tanam di dalamnya.
Aku melarikan diri dari kejarannya.

Berapa tahun terlewat, Sayang?

"Aku tak pernah berani mengatakan padamu Purnama, sejak bertahun lalu. Sejak kita bersama menyusun mimpi-mimpi kita, bukan secara fragmentis, tapi kolektif. Aku terlalu pengecut, Purnama. Menggandengmu ke mana-mana, berusaha melindungimu, tapi malah menyakitimu.
Aku tidak pernah lupa, Purnama, saat kita naik ke Grha Sabha sesaat setelah kita resmi jadi mahasiswa. Menatap tegak menjulang puncak Merapi. Senyummu Purnama, membuatku puas atas kerja kerasku. Membawaku dan kamu terus melaju di pusaran waktu. Tidak mudah Purnama. Tapi senyum banggamu dulu itu membuatku mati-matian menjadi yang terbaik.
Lalu aku menarik diri dari hidupmu. Kita sudah di tahun akhir kuliah. Kau tahu apa artinya sebuah hubungan di tahun kritis itu. Aku sadar aku memonopolimu. Ke mana pun kamu bersamaku, tapi tak pernah sekali pun kuutarakan niatku memintamu mendampingiku. Rasanya salah aku egois begitu. Kamu tentu berhak memilih calon pendampingmu, tidak hanya berkutat denganku. Aku tahu kau sayang padaku, Purnama. Tapi aku takut itu karena hanya aku yang selalu ada di hidupmu. Aku ingin kau bisa memilih Purnama, walaupun aku tetap ingin jadi pilihan utamamu.
Sungguh maafkan aku, Purnama, atas tahun-tahun terakhir itu. Kau tahu, sulit sekali mengabaikan teleponmu, pesanmu. Apalagi menghindar darimu. Kau lulus lebih cepat dariku, Purnama. Aku sedang terbang saat itu. Aku hanya menemukan serakan sampah dan bunga yang berbaur di Grha Sabha ketika aku tiba. Aku tahu kau sangat cinta mawar, Purnama. Seikat penuh di tanganku tak pernah sampai ke tanganmu. Aku terlambat.
Aku lulus setahun berselang, Purnama. Hanya kekosongan yang bisa kulihat di deret bangku-bangku undangan yudisiumku. Bukan senyum banggamu. Hatiku hancur, Purnama. Gerhana menelan Purnamaku. Sungguh menyesal aku tak pernah berani mengatakan padamu seberapa besar aku menyayangimu. Jika surat ini sampai ke tanganmu, Purnama, segeralah pulang ke kota impian kita. Aku menantimu."

Aku menengadah, mencegah airmataku tumpah.

Suratmu terlambat datang, Satria.

Ku elus perutku yang membuncit.
Aku pulang.