Jumat, 06 September 2013

Eftirsjá

Sekip Utara, Jogjakarta.

Aku memandang gerbang Fakultas Kedokteran Gigi dengan takzim.
Masih segar rasanya melangkah keluar dari gerbang Sekolah Menengah. Menentukan mimpi.
Aku memandang rerimbunan pakis yang menaungi jalanannya.
Subuh suatu saat dulu aku pernah takut takut menerobos gelap jalannya, berlari-lari dalam kelompok-kelompok menggendong tas karung goni. Sewarna dengan jas almamater kami.
Aku menelusuri gang-gang perumahan dosen di seberangnya.
Ah, itu rumahmu. Dulu.

Aku pulang.
Ke kota impian kita berdua, yang tertancap dalam-dalam di hati dan pikiran kita.
Yang kita berdua kejar, jatuh bangun. Bergantian tangan kita, semangat kita menyangga satu sama lain.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Di tempat segala batas bisa tersamarkan, di mana jarak hanya menjadi satu titik kecil di antara kaki-kaki kita.
Kita harus berjumpa lagi di sini.
Di kota impian kita.
Kamu di kampusmu yang megah, mentereng, prestisius.
Aku di sebelah kampusmu, yang keras tanpa ampun mendidik kami di dalamnya.
Kita harus berjumpa lagi di sini.

Masih teringat ketika aku dan kamu dibariskan bersama di jalan yang membelah kampusmu dan kampusku. Sama-sama menunduk takut. Sama-sama mengkerut ciut.
Berlari-lari menembus selongsong bentakan yang mengiringi.
Lalu kita terpisahkan di kampus masing-masing.
Masih sempat kita melambai.
Ah sudah lama sekali semua itu.
Sudah usang. Lapuk mungkin.

Ini kota impian kita.
Tempat harapan, asa, cita-cita kita semburkan setinggi yang kita bisa.
Tempat kita membentang rencana-rencana hidup kita yang terbentang panjang.
Tempat kita tertawa, mengerutkan dahi.
Tempat kita juga dihadang masalah.
Kuliah tak pernah semudah yang kita bayangkan.

Ini kota pemersatu kita.
Tempat kita pergi siang bolong ke kedai es krim favorit kita.
Malam-malam yang kita habiskan di angkringan seputaran Malioboro, berputar-putar di Tugu Jogja, terkikik bersama melihat kereta api melintas di atas kita.
Menyusuri selokan Mataram yang panjang itu, kita lapar, setelah segala tetek bengek urusan sekolah.
Praktikum yang semakin sulit, kegiatan BEM yang membelit.
Dan yang sudah jadi kebiasaan kita, saling bersandar dan menghirup secangkir teh hangat cukup meluruhkan lelah.
Kita sahabat dekat. Sangat dekat.

Kamu.
Yang mendengarkan aku ngoceh ngalor ngidul dengan suara parau saat awal-awal kuliah. Homesick.
Yang selalu siap sedia mengantarku ke mana pun aku mau. Membantuku menyelesaikan tugas-tugasku. Memandang setengah iba setengah frustasi kepadaku yang tak kunjung mengerti juga konsep Fisika yang kamu jelaskan.
Memintaku selalu tampil rapi ke mana pun pergi.
"Kamu ini pekerja medis, mana ada pasien yang percaya kalau kamu saja berantakan begini,"
selalu katamu.
Aku tertawa.

Aku.
Yang cerewet merepet memintamu menjaga pola makan.
Yang selalu meneleponmu pagi-pagi agar kamu bangun dan tak lupa sembahyang.
Memandang antara takjub dan geli kepadamu yang tiba-tiba berbicara soal musik dan seni di antara dominansi otak kirimu.
Memintamu untuk menjaga kesehatan tubuhmu.
"Kamu ini pekerja medis, mana bisa mengobati pasien kalau kamu saja sakit begini,"
selalu tiruku.
Kamu tertawa.

Bertahun yang lalu.

Dan sekarang aku memandang perih pada lampu-lampu jalan di pertigaan tempat kamu pertama kali mencium bibirku.
Yang berlanjut di hari-hari selanjutnya setiap menemaniku pulang ke rumahku.
Kamu tahu tidak pernah mudah bagiku berbohong.
Kamu yang bilang sendiri aku tak cocok masuk teater, "Nggak ada bakat akting," katamu.
Kukira kamu tahu.

Kemudian kamu pergi.
Sudah. Begitu saja.
Tak pernah lagi mengangkat teleponku padahal nomor ponselmu tak pernah ganti.
Tak pernah lagi menjawab pesanku sepenting apapun.
Rumahmu yang selalu melompong ketika kujenguk.
Aku tidak pernah bisa menemuimu lagi.
Dan kamu tidak pernah bisa menjelaskan apapun.

Jalan Kaliurang yang membentang panjang, melewati bulevar Universitas, yang biasanya selalu padat mendadak terasa kosong.
Telingaku tak lagi bisa mendengar. Mataku tak bisa lagi melihat.
Suarku sudah hilang.
Aku lulus lebih cepat darimu. Kamu tak pernah datang ke yudisiumku. Dan aku tidak pernah bisa menemuimu mengucapkan selamat tinggal.
Kota Impian kita koyak sudah.
Berhamburan segala mimpi, harapan, doa, cita-cita yang kita tanam di dalamnya.
Aku melarikan diri dari kejarannya.

Berapa tahun terlewat, Sayang?

"Aku tak pernah berani mengatakan padamu Purnama, sejak bertahun lalu. Sejak kita bersama menyusun mimpi-mimpi kita, bukan secara fragmentis, tapi kolektif. Aku terlalu pengecut, Purnama. Menggandengmu ke mana-mana, berusaha melindungimu, tapi malah menyakitimu.
Aku tidak pernah lupa, Purnama, saat kita naik ke Grha Sabha sesaat setelah kita resmi jadi mahasiswa. Menatap tegak menjulang puncak Merapi. Senyummu Purnama, membuatku puas atas kerja kerasku. Membawaku dan kamu terus melaju di pusaran waktu. Tidak mudah Purnama. Tapi senyum banggamu dulu itu membuatku mati-matian menjadi yang terbaik.
Lalu aku menarik diri dari hidupmu. Kita sudah di tahun akhir kuliah. Kau tahu apa artinya sebuah hubungan di tahun kritis itu. Aku sadar aku memonopolimu. Ke mana pun kamu bersamaku, tapi tak pernah sekali pun kuutarakan niatku memintamu mendampingiku. Rasanya salah aku egois begitu. Kamu tentu berhak memilih calon pendampingmu, tidak hanya berkutat denganku. Aku tahu kau sayang padaku, Purnama. Tapi aku takut itu karena hanya aku yang selalu ada di hidupmu. Aku ingin kau bisa memilih Purnama, walaupun aku tetap ingin jadi pilihan utamamu.
Sungguh maafkan aku, Purnama, atas tahun-tahun terakhir itu. Kau tahu, sulit sekali mengabaikan teleponmu, pesanmu. Apalagi menghindar darimu. Kau lulus lebih cepat dariku, Purnama. Aku sedang terbang saat itu. Aku hanya menemukan serakan sampah dan bunga yang berbaur di Grha Sabha ketika aku tiba. Aku tahu kau sangat cinta mawar, Purnama. Seikat penuh di tanganku tak pernah sampai ke tanganmu. Aku terlambat.
Aku lulus setahun berselang, Purnama. Hanya kekosongan yang bisa kulihat di deret bangku-bangku undangan yudisiumku. Bukan senyum banggamu. Hatiku hancur, Purnama. Gerhana menelan Purnamaku. Sungguh menyesal aku tak pernah berani mengatakan padamu seberapa besar aku menyayangimu. Jika surat ini sampai ke tanganmu, Purnama, segeralah pulang ke kota impian kita. Aku menantimu."

Aku menengadah, mencegah airmataku tumpah.

Suratmu terlambat datang, Satria.

Ku elus perutku yang membuncit.
Aku pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar