"Aku memilihmu,"
Aku tertegun. Masih terdiam menggenggam buku-buku diktat yang luar biasa beratnya.
Aku menggeleng dan melanjutkan berjalan.
"Tania!"
Aku kembali beku.
Beku di Juni yang menyengat.
Sudah tidak ada lagi hujan yang memayungiku.
Ah, tapi sesungguhnya aku pun lelah menghadapi hujan tahun ini.
Terlalu banyak cerita yang entah harus kusikapi dengan perasaan bagaimana.
"Kukembalikan payungmu Erlang, jika sungguh ini hanya membawa kesakitan untukmu dan Reneta,"
Aku membalikkan badan dan menyerahkan payung bening miliknya.
"Aku memilihmu, Tania. Sudah selesai ceritaku dan Reneta,"
"Perbaikilah Erlang! Reneta gadis terbaik yang pernah aku temui, dan kurasa dia juga yang terbaik untukmu,"
"Siapa yang tahu Tania? Empat tahun yang lalu hingga belakangan ini mungkin begitu. Tapi toh akhirnya kurasa bukan dia yang terbaik untukku,"
"Kenapa aku?"
"Karena kau teduh,"
"Kalau aku sudah tidak lagi teduh? Hilang segala alasanmu memilihku," sahutku jengah. Sungguh aku muak berbicara tanpa makna seperti ini. Akan lebih mudah jika aku mengiyakan saja. Tapi, lebih baik tidak.
"Atau semua pertanyaanmu ini hanya alasan? Mengapa Tania?"
Jika kau tanyakan padaku mengapa, justru aku tidak bisa menjawabnya.
Tuan Payung.
Namanya Erlang.
Kami bertemu lagi sekitar 3 bulan yang lalu.
Aku baru keluar dari kampus, menunggu taksi yang biasanya ramai.
Sore yang cerah.
Tapi kemudian datang badai ketika Erlang datang dan menyuruhku naik.
Kemudian perutku bergolak dan wajahku pias ketika kami menuju kantor kekasih Erlang.
Gadis Matahari.
Namanya Reneta.
Cantik luar biasa, periang, dan berbahagia bersama Erlang.
Terang saja aku mengaguminya.
Aku yang kata orang sebeku mendung, iri dengan kehangatan matahari Reneta.
Tapi kemudian matahari itu disaput mendung ketika melihatku duduk di kursi belakang mobil Erlang.
"Musim sudah berubah Erlang," jawabku melantur. Tapi memang ini yang ingin aku ucapkan.
"Lalu?"
"Lebih baik payungmu kukembalikan. Aneh rasanya berjalan dengan payung di musim panas," sahutku lagi.
Oh Tuhan, jangan tersenyum Erlang! Tidak tahukah kau senyum itu yang membuatku berdoa dalam hujan agar suatu hari aku dipertemukan lagi denganmu?
Kumohon jangan tersenyum Erlang, kau begitu bercahaya saat senyum itu terbit.
"Kau itu lucu, Tania. Di musim panas begini orang pun akan mencari teduh dengan payung. Tidak pernah lihat?"
"Pernah. Tapi dengan payung bening begini panas matahari tetap akan menembusnya,"
"Hahaha, perlukah kuganti payungku? Dengan warna pink barangkali?" candanya.
Mau tak mau aku tertawa.
"Tidak usah, norak!"
Erlang kian sumringah.
Payung pink. Itu sungguh gagasan paling konyol di antara urusan ruwet bersama Erlang.
Lalu kami diam.
Inilah yang lebih sering terjadi saat aku bersama Erlang.
Aku diam (memang aku tidak suka bicara), dan Erlang ikut diam.
"Kau ini aneh, Erlang. Sudah memeluk matahari, malah memilih muram bersama hujan,"
"Tidak, tidak aneh. Kalau aku memeluk matahari, aku tidak akan bisa melukis pelangi. Aku ingin membiaskan hujan menjadi pelangi," sahut Erlang tersenyum.
Baiklah.
Aku mengerti.
Tak selamanya hujan itu buram, kelabu.
Dengan cahaya, hujan bisa terbias menjadi pelangi.
"Kau masih malu berpayung saat musim panas, Tania?"
Aku menoleh.
"Kemarilah, kutemani kau jadi orang aneh yang berjalan dengan payung bening di musim panas,"
Aku tertawa.
"Gara-gara kau Erlang, kita jadi 2 makhluk aneh yang berjalan berdempetan di bawah payung bening di musim panas,"
Mungkin aku bisa mengerti perasaan Erlang.
Mungkin aku bisa berhenti merasa bersalah menjadi mendung yang menutupi matahari.
Mungkin aku bisa berhenti iri pada kehangatan matahari.
Dan sungguh aku berhenti memikirkan apapun ketika tangan Erlang bersama tanganku menggenggam tangkai payung bening ini.

