Beginilah jika hujan salah musim.
Apa-apa yang harusnya tak tumbuh,
tumbuhlah jua tanpa tahu sebab.
Namaku Reneta,
kekasih Erlang.
Dan aku benci hujan.
Beginilah jika hujan salah musim,
apa-apa yang seharusnya tumbuh,
kikis juga oleh derasnya.
Gugur kelopak melati satu-satu.
Mengapa?
Hai, karena hujan sudah berlaku sangat kejam,
sangat tidak adil padaku.
Pada untaian melati yang susah payah kurangkai,
untuk kukalungkan pada Erlang kelak.
Beginilah jika hujan salah musim.
Kebun melati justru tak berbunga,
kalah saing dengan ilalang.
Hei, siapa kamu gadis berparas teduh berpayung bening?
Mengapa di balik teduhmu menyimpan begitu banyak petaka?
Mengapa di balik tenangmu menyimpan sembilu yang menyakitkan?
Mengapa mendungmu justru menutupkan mata kekasihku akan matahari?
Ini hujan salah musim.
Gugur melati.
Gugur bunga gugur kelopak gugur pula wanginya.
Padam purnama padam pula terangnya.
"Aku tidak buta, Erlang. Siapa dia yang tiba-tiba datang?"
"Dia.. Garis nasib yang tiba-tiba ditautkan padaku tanpa kutahu muasalnya," jawab Erlang.
"Berhentilah berpuisi!"
"Apa lagi yang bisa kukatakan Reneta? Kenapa kau berpikir sebegini janggalnya?"
"Janggal katamu Erlang? Janggal kah kekasih yang bertanya tentang seorang yang tiba-tiba menelusup ruang hati kekasihnya? Janggal kah itu Erlang?"
Erlang hanya membisu.
Aku semakin beku.
April, dan hujan sesekali masih menderasi bumi.
Empat warsa kuhabiskan bersama Erlang.
Bagaimana aku tidak paham betul perangainya?
Erlang, yang begitu kucintai.
Erlang, yang bahunya sanggup menopang beribu-ribu ton masalah dan pikiran.
Erlang, yang di kedalaman matanya aku berani berharap.
Erlang, yang untuknya aku berjuang meronce namaku bersama harum melati.
Lalu rusak sudah.
Hujan menyapu semuanya tentang Erlang dariku,
bersama dengan Gadis Berpayung Bening.
Dia, yang tiba-tiba ada di mobil Erlang ketika Erlang menjemputku pulang.
Dia, yang sketsanya dengan tidak sadar selalu dilukis Erlang.
Gadis berpayung transparan di tengah rerimbun hujan.
Bukan lagi gadis dengan senyum cemerlang diterpa cahaya mentari.
"Erlang, kumohon, jujurlah,"
"Aku ingin berteduh Reneta. Berlari bersama hujan. Aku ingin menciptakan pelangi, Reneta,"
"Tidakkah kau suka pada kehangatan matahari, Erlang?"
"Ada masanya, Reneta, ketika aku harus menepi dari matahari. Bumi pun perlu hujan untuk meredakan kemarau,"
"Erlang, sungguh aku membenci hujan!"
"Kemarilah Reneta. Cinta kasih yang sama kukalungkan untukmu. Jangan benci hujan karena aku. Jangan pula karena payung transparan milikku. Bukan salahnya, Reneta. Kumohon jangan salahkan hujan atas pilihan yang aku ambil,"
"Aku benci hujan! Aku benci hujan yang membasuh segala tentangku di hadapanmu, yang melebur empat tahunku bersamamu, yang membilas habis mimpi yang kubangun denganmu!"
Lalu yang kutahu hanyalah hangat.
Hanyalah air yang meleleh di kemeja Erlang.
Hanyalah tangan Erlang yang membelai rambutku.
Hanyalah bibir Erlang yang terasa lama sekali melebur di bibirku.
Hanyalah nafas berat entah Erlang entah aku yang satu-satu.
Sungguh, ini hujan salah musim.
Tahu hancur hati menggenggam melati,
tetapi kenanga anggrek yang didapati.
Sungguh, aku benci hujan salah musim!
Jumat, 27 Desember 2013
Selasa, 10 Desember 2013
Selamat Tidur
Justru aku takut kalau kamu masih menyediakan ruang kosong untukku.
Itu milikku, dulu.
Sekarang udah beda cerita.
Kamu saudaraku, kakakku.
Selain itu, tunggu.
Aku senang.
Seringan gelembung berbincang denganmu.
Aku itu saudaramu, adikmu.
Hanya nyaman.
Lega saja ketika sadar aku bisa berbicara denganmu seperti dulu.
Kamu kakakku, aku adikmu.
Ruang kosong buatmu lebur kakakku,
masih saja istimewa, tapi tidak kubiarkan melompong begitu.
Lebih baik kugeser tempatnya, bukan lagi sepetak di sudut,
tetapi berbaur dengan saudara-saudaraku yang lain.
Sehat kakakku?
Kadang ada juga waktunya aku ingin istirahat di ruangan kecilmu,
tapi kubilang sudah kuleburkan bersama ruang-ruang milik saudaraku yang lain.
Kasih sayang itu universal kakakku,
dan untukmu masih sama sebesar dulu.
Hanya lain wujud.
Begitu pula kasih sayang Bapak Ibu, tidaklah berkurang jatahnya untukmu kakakku,
melainkan berlipat ganda.
Kau itu Kartika.
Kartika yang selalu disayang, yang selalu dinanti pulang.
Selaksa doa yang sejak dulu kurangkaikan untukmu tak pernah surut kakakku.
Tidak ada yang berubah setelah bertahun-tahun.
Sejak kita masih sama-sama lugu.
Hingga kini saat kita sudah dirubah waktu.
Tidak ada yang berubah kakakku.
Hanya pergeseran posisi.
Sudut milikmu itu kini kosong lagi, entah siapa yang akan mengisinya nanti.
Betapa aku gadis beruntung kakakku,
terikat persaudaraan denganmu yang jauh lebih abadi ketimbang tali apapun yang pernah kita anyam dulu.
Selamat tidur.
Itu milikku, dulu.
Sekarang udah beda cerita.
Kamu saudaraku, kakakku.
Selain itu, tunggu.
Aku senang.
Seringan gelembung berbincang denganmu.
Aku itu saudaramu, adikmu.
Hanya nyaman.
Lega saja ketika sadar aku bisa berbicara denganmu seperti dulu.
Kamu kakakku, aku adikmu.
Ruang kosong buatmu lebur kakakku,
masih saja istimewa, tapi tidak kubiarkan melompong begitu.
Lebih baik kugeser tempatnya, bukan lagi sepetak di sudut,
tetapi berbaur dengan saudara-saudaraku yang lain.
Sehat kakakku?
Kadang ada juga waktunya aku ingin istirahat di ruangan kecilmu,
tapi kubilang sudah kuleburkan bersama ruang-ruang milik saudaraku yang lain.
Kasih sayang itu universal kakakku,
dan untukmu masih sama sebesar dulu.
Hanya lain wujud.
Begitu pula kasih sayang Bapak Ibu, tidaklah berkurang jatahnya untukmu kakakku,
melainkan berlipat ganda.
Kau itu Kartika.
Kartika yang selalu disayang, yang selalu dinanti pulang.
Selaksa doa yang sejak dulu kurangkaikan untukmu tak pernah surut kakakku.
Tidak ada yang berubah setelah bertahun-tahun.
Sejak kita masih sama-sama lugu.
Hingga kini saat kita sudah dirubah waktu.
Tidak ada yang berubah kakakku.
Hanya pergeseran posisi.
Sudut milikmu itu kini kosong lagi, entah siapa yang akan mengisinya nanti.
Betapa aku gadis beruntung kakakku,
terikat persaudaraan denganmu yang jauh lebih abadi ketimbang tali apapun yang pernah kita anyam dulu.
Selamat tidur.
Minggu, 08 Desember 2013
Bening Payung (Hujan)
Ini sudah bulan Februari.
Dan hujan masih saja ngeyel belum mau berhenti.
"Bete deh, kalau hujan begini terus kan aku harus berangkat lebih pagi. Belum lagi kalau banjir, menyiksa," keluh Reneta panjang pendek.
Reneta, kekasihku.
"Simpan keluh kesahmu sayang, mukamu aneh kalau cemberut begitu," gurauku.
Kian maju sajalah manyun bibir Reneta. Kian deraslah tawaku.
"Kamu ini kenapa sih? Udah bete begini masih juga dibercandain," sungut Reneta.
"Lho, justru kamu ini yang kenapa, bukannya hujan begini malah jadi sejuk? Hujan kan rejeki juga Reneta,"
"Iya, rejeki kalau di saat yang tepat. Tapi kalau tiap hari begini susah juga kita,"
Aku tersenyum. Renetaku yang manja.
Kalau sudah begini mending aku diam saja.
Kuantarkan Reneta sampai depan pintu kantornya.
Pak Sugeng, satpam kantor Reneta melambai padaku.
Kubalas lambaiannya dengan senyum hangat.
"Senyum dulu dong sayang, bisa-bisa bosmu pun akan takut melihatmu begitu," godaku.
Renata memukul lenganku. Tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
"Jam 5 yaa," ujarnya seraya membuka pintu mobil.
Aku mengacungkan ibu jari dan membiarkan Reneta memasuki kantornya.
Ah, sungguh tidak pas gadis secerah Reneta berada di tengah background muram hujan begini.
Payung-payung berseliweran membentuk pelangi di sepanjang trotoar jalan.
Aih, merah, kuning, hijau, sungguh cerah seperti gadisku.
Tapi, hey, ada payung transparan menyembul di situ.
Bening. Tidak memancarkan warna apapun.
Tapi hey, justru bertambah elok dia diapit beragam warna.
Ah, kembali aku ke kedai kopi hampir setahun berselang.
Ketika duduk di depanku gadis sedingin subuh.
Dan tentu saja, buram.
Lucunya, kami hanya saling bertukar pandang tanpa melempar bilah-bilah pertanyaan yang menggantung memenuhi kepala kami.
Sampai akhirnya meluncur kata-kata "Kacamatamu basah" dari mulutnya.
Pembukaan yang aneh.
Gadis sebeku mendung.
Tapi sekaligus teduh kalau boleh aku bilang.
Reneta adalah Matahari yang menyala, terang, menawan.
Sementara gadis entah siapa itu tak ubahnya mendung yang mengembun.
Sejuk.
Ah, ya, bagaimana bisa aku justru memberikan payung teduhku untuknya?
Kukira sederhana saja.
Aku cemburu.
Pada titik-titik air hujan yang menciumi tubuhnya sebelum dia menepi dan duduk di hadapanku.
Aih, aku iri pada tetes-tetes mendung yang bebas melebur di bibirnya, merayapi pipinya, dan melingkupi jemarinya yang cantik.
Bagaimana bisa aku begitu memperhatikan?
Tidak tahu.
Yang kutahu aku hanya cemburu.
Sudah hampir setahun.
Dan aku masih mengulum senyum.
Aku tahu payung beningku ada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.
Dan hujan masih saja ngeyel belum mau berhenti.
"Bete deh, kalau hujan begini terus kan aku harus berangkat lebih pagi. Belum lagi kalau banjir, menyiksa," keluh Reneta panjang pendek.
Reneta, kekasihku.
"Simpan keluh kesahmu sayang, mukamu aneh kalau cemberut begitu," gurauku.
Kian maju sajalah manyun bibir Reneta. Kian deraslah tawaku.
"Kamu ini kenapa sih? Udah bete begini masih juga dibercandain," sungut Reneta.
"Lho, justru kamu ini yang kenapa, bukannya hujan begini malah jadi sejuk? Hujan kan rejeki juga Reneta,"
"Iya, rejeki kalau di saat yang tepat. Tapi kalau tiap hari begini susah juga kita,"
Aku tersenyum. Renetaku yang manja.
Kalau sudah begini mending aku diam saja.
Kuantarkan Reneta sampai depan pintu kantornya.
Pak Sugeng, satpam kantor Reneta melambai padaku.
Kubalas lambaiannya dengan senyum hangat.
"Senyum dulu dong sayang, bisa-bisa bosmu pun akan takut melihatmu begitu," godaku.
Renata memukul lenganku. Tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
"Jam 5 yaa," ujarnya seraya membuka pintu mobil.
Aku mengacungkan ibu jari dan membiarkan Reneta memasuki kantornya.
Ah, sungguh tidak pas gadis secerah Reneta berada di tengah background muram hujan begini.
Payung-payung berseliweran membentuk pelangi di sepanjang trotoar jalan.
Aih, merah, kuning, hijau, sungguh cerah seperti gadisku.
Tapi, hey, ada payung transparan menyembul di situ.
Bening. Tidak memancarkan warna apapun.
Tapi hey, justru bertambah elok dia diapit beragam warna.
Ah, kembali aku ke kedai kopi hampir setahun berselang.
Ketika duduk di depanku gadis sedingin subuh.
Dan tentu saja, buram.
Lucunya, kami hanya saling bertukar pandang tanpa melempar bilah-bilah pertanyaan yang menggantung memenuhi kepala kami.
Sampai akhirnya meluncur kata-kata "Kacamatamu basah" dari mulutnya.
Pembukaan yang aneh.
Gadis sebeku mendung.
Tapi sekaligus teduh kalau boleh aku bilang.
Reneta adalah Matahari yang menyala, terang, menawan.
Sementara gadis entah siapa itu tak ubahnya mendung yang mengembun.
Sejuk.
Ah, ya, bagaimana bisa aku justru memberikan payung teduhku untuknya?
Kukira sederhana saja.
Aku cemburu.
Pada titik-titik air hujan yang menciumi tubuhnya sebelum dia menepi dan duduk di hadapanku.
Aih, aku iri pada tetes-tetes mendung yang bebas melebur di bibirnya, merayapi pipinya, dan melingkupi jemarinya yang cantik.
Bagaimana bisa aku begitu memperhatikan?
Tidak tahu.
Yang kutahu aku hanya cemburu.
Sudah hampir setahun.
Dan aku masih mengulum senyum.
Aku tahu payung beningku ada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.
Sekar Megananda
Sembah Gusti ingkang Maha Suci
Maha Asih mring para manungsa
Tiyang titah salawase
Sembah sujud kula tutur
Bocah bajang Megananda lair
Duh putra ilingana
Dadyo Satrya kang luhur
Dadyo manungsa utama
Anjangkepi
Bektimu mring Ibu Pertiwi
Duh putra mulya sira
Langganan:
Postingan (Atom)


