Justru aku takut kalau kamu masih menyediakan ruang kosong untukku.
Itu milikku, dulu.
Sekarang udah beda cerita.
Kamu saudaraku, kakakku.
Selain itu, tunggu.
Aku senang.
Seringan gelembung berbincang denganmu.
Aku itu saudaramu, adikmu.
Hanya nyaman.
Lega saja ketika sadar aku bisa berbicara denganmu seperti dulu.
Kamu kakakku, aku adikmu.
Ruang kosong buatmu lebur kakakku,
masih saja istimewa, tapi tidak kubiarkan melompong begitu.
Lebih baik kugeser tempatnya, bukan lagi sepetak di sudut,
tetapi berbaur dengan saudara-saudaraku yang lain.
Sehat kakakku?
Kadang ada juga waktunya aku ingin istirahat di ruangan kecilmu,
tapi kubilang sudah kuleburkan bersama ruang-ruang milik saudaraku yang lain.
Kasih sayang itu universal kakakku,
dan untukmu masih sama sebesar dulu.
Hanya lain wujud.
Begitu pula kasih sayang Bapak Ibu, tidaklah berkurang jatahnya untukmu kakakku,
melainkan berlipat ganda.
Kau itu Kartika.
Kartika yang selalu disayang, yang selalu dinanti pulang.
Selaksa doa yang sejak dulu kurangkaikan untukmu tak pernah surut kakakku.
Tidak ada yang berubah setelah bertahun-tahun.
Sejak kita masih sama-sama lugu.
Hingga kini saat kita sudah dirubah waktu.
Tidak ada yang berubah kakakku.
Hanya pergeseran posisi.
Sudut milikmu itu kini kosong lagi, entah siapa yang akan mengisinya nanti.
Betapa aku gadis beruntung kakakku,
terikat persaudaraan denganmu yang jauh lebih abadi ketimbang tali apapun yang pernah kita anyam dulu.
Selamat tidur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar