Kamis, 28 Juli 2016

Surga




"Surga"

Minggu, 20 Maret 2016

Case closed

Tepat 1 bulan sudah.
Dua puluh tahun hidup rasanya nggak pernah sakit nggak bisa ngapa-ngapain selama ini.
Disyukuri aja wkwk, itung-itung liburan dulu lah ya..

Seminggu belakangan ini banyakan rawat jalan daripada rawat inap.
Kali ini belajar lagi,
"Kasih anak sepanjang galah, kasih orangtua sepanjang jalan"
Mmm.. didikan semi militer di rumah emang seringkali memunculkan keluhan.
Waktu kecil dulu, saat temen-temen aku jatuh dari sepeda, orangtuanya menenangkan, mengobati. Sementara aku justru disuruh bangun sendiri, dijewer kalau nangis.
Saat temen-temen aku dipuji setinggi langit kalau berprestasi, orangtuaku justru menasihati "nggak selamanya hidup manusia ada di atas. Jangan terlena, jangan kaget kalau kamu jatuh suatu saat,"
Sejak kami memilih Sekolah Dasar, sejak itu pula kami mulai dilepas, dituntut konsekuen dengan pilihan apapun yg kami buat.
Dulu sih ngerasa aku ini anak apaan ya, seakan2 orangtua ga peduli di sekolah aku jungkir balik kayak apa. Nilai bagus kek, jelek kek, nggak ada bedanya.
Anaknya curhat meriang di rantau, alih-alih dijenguk, yang ada malah dimarahin wkwk.
Tapi agak gedean dikit ngerti sih esensi didikan orangtua, dikit-dikit, hehe.

Sebenernya sakit sebulan ini seharusnya bukan sakit yg berat.
Temen aku 2 hari udah bisa aktivitas seperti biasa.
Tapi apalah daya badan sudah terlanjur bobrok, delay lah kesembuhannya.
Sebulan ini juga melihat sisi lain orangtua.
Bapak yg hampir sebulan penuh jagain di kos siang malem.
Makan seadanya, tidur di atas kasur tipis ala kos, kamar mandi gantian.
Padahal seumur-umur Bapak nggak pernah ngekos dan paling nggak bisa hidup semuanya sembarangan.
Ibuk, makhluk paling militeristik di rumah, ngalahin ga jadi ikut study tour cuma buat nengok anaknya di rumah sakit.
Lihat Ibuk yang biasanya kuat, galak gitu tetiba nangis, tetiba tambah kurus itu mengerikan rasanya.
Di umur kepala dua ini aku masih dimandiin Ibuk, dicebokin Ibuk, disuapin Bapak.
Duh rasanya apa banget dulu ngeluh-ngeluh, ngerasa nggak disayang, nggak diperhatiin.

Emang kasih anak sepanjang galah doang, setinggi-tingginya paling se pohon mangga.
Banyak nggak bersyukurnya.
Banyak nggak nurutnya sama orangtua.

Kasih orangtua sepanjang jalan.
Nggak peduli jalannya ke mana, nggak ada ujungnya.

Butuh berapa galah coba buat menyamai panjangnya jalan?
Rasanya nggak akan pernah terbalas sempurna.
Cuma bisa berlaku sebaik-baiknya, berusaha berbakti, ada masanya akulah yang wajib mengurus kedua orangtuaku.
Semoga setiap tetes keringat dan air mata Bapak Ibuk diganti dengan tetesan air sungai di surga.
Semoga panas gerah yang dirasakan di dunia diganti dengan kesejukan di padang mahsyar.
Semoga rumah kecil Bapak Ibuk di dunia diganti istana indah di surga.
Barakallah, hanya Allah yang bisa membalas kasih sayang Bapak Ibuk.

Minggu, 13 Maret 2016

Giving

Here again.
Terlentang tak berdaya, menikmati satu satu hela nafas dan denyut jantung.

Sekolah lagi, belajar lagi.
Pagi ini tentang memberi.
Tidak selalu berwujud materi.
Bisa ilmu, bisa waktu, bisa kesempatan.
Sakit, satu sisi memang jadi kerepotan tersendiri.
Tapi di sisi lain, sakit juga berarti memberi.
Memberi tantangan baru, memberi jalan terbukanya pengetahuan baru baik untuk dokter maupun si sakit, bahkan mungkin masyarakat.
Memberi peluang; kesempatan belajar, untuk dokter dan si sakit.

Semogalah yang sedikit ini bisa jadi ladang amal dan kebaikan.

Bangsal C, RSUP Dr Sardjito, Maret 2016

Sabtu, 05 Maret 2016

Life

Life.

Hidup di IGD seminggu mendidik dan mengubah sudut pandang banyak hal.
Menemukan hidup yang "hidup", manusia yang manusiawi, sampai profesi sejawat yang perlu diapresiasi.

Hidup yang "hidup"
Kapan terakhir kali mensyukuri hidup?
Hal-hal kecil dalam hidup ternyata bermakna besar.
Sederhana saja, buang air kecil atau pipis, kita lebih sering masa bodo dan menganggap pipis ya memang naturally happen, bayi pun bisa pipis.
Ternyata pipis pun dinanti, diobservasi, layaknya barang berharga.
Kentut dan BAB, identik dengan benda kotor jorok berbau.
Bersyukurlah yang masih bisa kentut dan BAB. Karena itu artinya badan kita masih normal, masih berfungsi sebaik baiknya.
Bernafaslah sepuas-sepuasnya, syukuri sebanyak-banyaknya karena Tuhan tidak meminta sepeser pun untuk udara yang kita hirup tiap detik.
Di sini, kehidupan nyaris dimulai dari nol.
Bernafas, membuka mata, bangun dan sadar, lalu belajar menggerakkan badan, belajar duduk, belajar berdiri, sampai akhirnya bisa jalan kaki.
Bersyukurlah sebanyak-banyaknya atas hidup yang sudah diberikan cuma-cuma.
Karena tiap detik mendengar dengung mesin penyambung hidup, detak mesin yang menunjukkan denyut kehidupan menyadarkan bahwa kematian begitu dekat. Ia, tidak pandang bulu dan tidak akan menunda kapanpun ia diperintahkan datang.
Mendengar erangan kesakitan dan lolongan kehilangan nyaris sepanjang hari juga memberi pesan, bahwa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ia Sang Pemberi Hidup, Sang Pemilik Hidup masih memberi kesempatan kita menikmati hidup sekecil apapun.
Hidup adalah hal luar biasa yang patut disyukuri, dan Tuhan begitu baiknya sampai tidak bisa diungkapkan, sementara manusia hanyalah makhluk, selemah-lemah makhluk (Rabb, aku berserah diri atas segala hal padaMu).

Manusia yang manusiawi.
Di era urban saat ini, rasanya menemukan kata "maaf", "terima kasih" dan keikhlasan berbagi sama sulitnya dengan menemukan populasi harimau sumatera.
Tapi di sini, manusia kembali kepada hakikatnya, pada fitrahnya.
Berbagi, dalam kesulitan yang sama. Hal paling sederhana adalah senyum. Memang bukan apa-apa tapi bisa sangat membantu menentramkan.
Saling mengunjungi, saling berbagi keluh kesah para penunggu pasien. Bukan apa-apa, hanya berempati dan berbagi beban yang sama.
Berbagi roti, air mineral, buah, untuk sesama pasien, penunggu, perawat, karyawan dan dokter. Hanya karena sama-sama tahu semua menanggung beban dan tanggungjawab yg tidak ringan, dan fitrahnya manusia butuh teman untuk berbagi.

Rekan sejawat, yang sungguh-sungguh saya hormati sekarang.
Perawat yang siaga 24 jam, tidak pernah sedikitpun mengeluh di depan pasien. Wajahnya lelah, tapi selalu ada senyum yang membingkai.
Mengurus semua orang, dari pasang infus, obat, hingga mengganti sprai pasien dilakukan dengan cekatan tanpa ada keluh sedikitpun.
Dokter, yang aku sedikit banyak tahu lelahnya minta ampun, stresnya minta ampun tiap hari berjam-jam menghadapi orang-orang yang jelas tidak baik-baik saja. Pendarahan, patah tulang, pasien yang meraung-raung, dan aneka rupa keluhan.
Semuanya ingin cepat ditangani, ingin cepat sembuh, segera.
Caci maki pasien yang tidak sabaran, keluarga yang merasa tidak mendapat pelayanan, tentu menyakitkan hati. Tapi tim dokter tetap bekerja tanpa peduli semua itu. Menangani orang banyak bukan pekerjaan mudah. Kebutuhan penanganannya pun berbeda-beda.
Tanpa mengeluh, selalu tersenyum dan bertanya ramah, semua berusaha diselesaikan sebaik-baiknya. Karena ya memang begitu tugasnya.
Nutrisionis yang dengan telaten menyediakan makanan semua orang 3× sehari.
Pihak farmasi yang menyediakan obat dengan teliti.
Sampai cleaning service yang telaten membersihkan bangsal tiap pagi.
Tanpa kerja tim yang baik, pelayanan pasti akan kacau balau.
Saya pribadi sejujurnya luar biasa terharu atas keikhlasan semua anggota tim rumah sakit. Semoga Allah membalas kebaikan rekan-rekan semua :)

Terima kasih Tuhan sudah mengirim saya dan keluarga ke salah satu sekolah hidup terbaik.
Terima kasih atas kesempatan belajar jadi manusia lagi.
Terima kasih atas kesempatan melihat lebih dalam, mendengar lebih tajam, merasa lebih peka.
Terima kasih teguran atas niat belajar yang mungkin keliru. Belajar asal bisa, asal lulus asal selesai.
Terima kasih sudah membukakan mata, kalau kami dibutuhkan. Nyawa seseorang terlalu sayang untuk disia-siakan.

Alhamdulillah.
Terima kasih buat semuanya. Mohon doanya segera baik-baik lagi. Biar bisa belajar lagi, mengabdi lagi.

Bismillah, luruskan niat, lillah.

IGD RSUP Dr. Sardjito, Februari 2015.