Life.
Hidup di IGD seminggu mendidik dan mengubah sudut pandang banyak hal.
Menemukan hidup yang "hidup", manusia yang manusiawi, sampai profesi sejawat yang perlu diapresiasi.
Hidup yang "hidup"
Kapan terakhir kali mensyukuri hidup?
Hal-hal kecil dalam hidup ternyata bermakna besar.
Sederhana saja, buang air kecil atau pipis, kita lebih sering masa bodo dan menganggap pipis ya memang naturally happen, bayi pun bisa pipis.
Ternyata pipis pun dinanti, diobservasi, layaknya barang berharga.
Kentut dan BAB, identik dengan benda kotor jorok berbau.
Bersyukurlah yang masih bisa kentut dan BAB. Karena itu artinya badan kita masih normal, masih berfungsi sebaik baiknya.
Bernafaslah sepuas-sepuasnya, syukuri sebanyak-banyaknya karena Tuhan tidak meminta sepeser pun untuk udara yang kita hirup tiap detik.
Di sini, kehidupan nyaris dimulai dari nol.
Bernafas, membuka mata, bangun dan sadar, lalu belajar menggerakkan badan, belajar duduk, belajar berdiri, sampai akhirnya bisa jalan kaki.
Bersyukurlah sebanyak-banyaknya atas hidup yang sudah diberikan cuma-cuma.
Karena tiap detik mendengar dengung mesin penyambung hidup, detak mesin yang menunjukkan denyut kehidupan menyadarkan bahwa kematian begitu dekat. Ia, tidak pandang bulu dan tidak akan menunda kapanpun ia diperintahkan datang.
Mendengar erangan kesakitan dan lolongan kehilangan nyaris sepanjang hari juga memberi pesan, bahwa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ia Sang Pemberi Hidup, Sang Pemilik Hidup masih memberi kesempatan kita menikmati hidup sekecil apapun.
Hidup adalah hal luar biasa yang patut disyukuri, dan Tuhan begitu baiknya sampai tidak bisa diungkapkan, sementara manusia hanyalah makhluk, selemah-lemah makhluk (Rabb, aku berserah diri atas segala hal padaMu).
Manusia yang manusiawi.
Di era urban saat ini, rasanya menemukan kata "maaf", "terima kasih" dan keikhlasan berbagi sama sulitnya dengan menemukan populasi harimau sumatera.
Tapi di sini, manusia kembali kepada hakikatnya, pada fitrahnya.
Berbagi, dalam kesulitan yang sama. Hal paling sederhana adalah senyum. Memang bukan apa-apa tapi bisa sangat membantu menentramkan.
Saling mengunjungi, saling berbagi keluh kesah para penunggu pasien. Bukan apa-apa, hanya berempati dan berbagi beban yang sama.
Berbagi roti, air mineral, buah, untuk sesama pasien, penunggu, perawat, karyawan dan dokter. Hanya karena sama-sama tahu semua menanggung beban dan tanggungjawab yg tidak ringan, dan fitrahnya manusia butuh teman untuk berbagi.
Rekan sejawat, yang sungguh-sungguh saya hormati sekarang.
Perawat yang siaga 24 jam, tidak pernah sedikitpun mengeluh di depan pasien. Wajahnya lelah, tapi selalu ada senyum yang membingkai.
Mengurus semua orang, dari pasang infus, obat, hingga mengganti sprai pasien dilakukan dengan cekatan tanpa ada keluh sedikitpun.
Dokter, yang aku sedikit banyak tahu lelahnya minta ampun, stresnya minta ampun tiap hari berjam-jam menghadapi orang-orang yang jelas tidak baik-baik saja. Pendarahan, patah tulang, pasien yang meraung-raung, dan aneka rupa keluhan.
Semuanya ingin cepat ditangani, ingin cepat sembuh, segera.
Caci maki pasien yang tidak sabaran, keluarga yang merasa tidak mendapat pelayanan, tentu menyakitkan hati. Tapi tim dokter tetap bekerja tanpa peduli semua itu. Menangani orang banyak bukan pekerjaan mudah. Kebutuhan penanganannya pun berbeda-beda.
Tanpa mengeluh, selalu tersenyum dan bertanya ramah, semua berusaha diselesaikan sebaik-baiknya. Karena ya memang begitu tugasnya.
Nutrisionis yang dengan telaten menyediakan makanan semua orang 3× sehari.
Pihak farmasi yang menyediakan obat dengan teliti.
Sampai cleaning service yang telaten membersihkan bangsal tiap pagi.
Tanpa kerja tim yang baik, pelayanan pasti akan kacau balau.
Saya pribadi sejujurnya luar biasa terharu atas keikhlasan semua anggota tim rumah sakit. Semoga Allah membalas kebaikan rekan-rekan semua :)
Terima kasih Tuhan sudah mengirim saya dan keluarga ke salah satu sekolah hidup terbaik.
Terima kasih atas kesempatan belajar jadi manusia lagi.
Terima kasih atas kesempatan melihat lebih dalam, mendengar lebih tajam, merasa lebih peka.
Terima kasih teguran atas niat belajar yang mungkin keliru. Belajar asal bisa, asal lulus asal selesai.
Terima kasih sudah membukakan mata, kalau kami dibutuhkan. Nyawa seseorang terlalu sayang untuk disia-siakan.
Alhamdulillah.
Terima kasih buat semuanya. Mohon doanya segera baik-baik lagi. Biar bisa belajar lagi, mengabdi lagi.
Bismillah, luruskan niat, lillah.
IGD RSUP Dr. Sardjito, Februari 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar