Tepat 1 bulan sudah.
Dua puluh tahun hidup rasanya nggak pernah sakit nggak bisa ngapa-ngapain selama ini.
Disyukuri aja wkwk, itung-itung liburan dulu lah ya..
Seminggu belakangan ini banyakan rawat jalan daripada rawat inap.
Kali ini belajar lagi,
"Kasih anak sepanjang galah, kasih orangtua sepanjang jalan"
Mmm.. didikan semi militer di rumah emang seringkali memunculkan keluhan.
Waktu kecil dulu, saat temen-temen aku jatuh dari sepeda, orangtuanya menenangkan, mengobati. Sementara aku justru disuruh bangun sendiri, dijewer kalau nangis.
Saat temen-temen aku dipuji setinggi langit kalau berprestasi, orangtuaku justru menasihati "nggak selamanya hidup manusia ada di atas. Jangan terlena, jangan kaget kalau kamu jatuh suatu saat,"
Sejak kami memilih Sekolah Dasar, sejak itu pula kami mulai dilepas, dituntut konsekuen dengan pilihan apapun yg kami buat.
Dulu sih ngerasa aku ini anak apaan ya, seakan2 orangtua ga peduli di sekolah aku jungkir balik kayak apa. Nilai bagus kek, jelek kek, nggak ada bedanya.
Anaknya curhat meriang di rantau, alih-alih dijenguk, yang ada malah dimarahin wkwk.
Tapi agak gedean dikit ngerti sih esensi didikan orangtua, dikit-dikit, hehe.
Sebenernya sakit sebulan ini seharusnya bukan sakit yg berat.
Temen aku 2 hari udah bisa aktivitas seperti biasa.
Tapi apalah daya badan sudah terlanjur bobrok, delay lah kesembuhannya.
Sebulan ini juga melihat sisi lain orangtua.
Bapak yg hampir sebulan penuh jagain di kos siang malem.
Makan seadanya, tidur di atas kasur tipis ala kos, kamar mandi gantian.
Padahal seumur-umur Bapak nggak pernah ngekos dan paling nggak bisa hidup semuanya sembarangan.
Ibuk, makhluk paling militeristik di rumah, ngalahin ga jadi ikut study tour cuma buat nengok anaknya di rumah sakit.
Lihat Ibuk yang biasanya kuat, galak gitu tetiba nangis, tetiba tambah kurus itu mengerikan rasanya.
Di umur kepala dua ini aku masih dimandiin Ibuk, dicebokin Ibuk, disuapin Bapak.
Duh rasanya apa banget dulu ngeluh-ngeluh, ngerasa nggak disayang, nggak diperhatiin.
Emang kasih anak sepanjang galah doang, setinggi-tingginya paling se pohon mangga.
Banyak nggak bersyukurnya.
Banyak nggak nurutnya sama orangtua.
Kasih orangtua sepanjang jalan.
Nggak peduli jalannya ke mana, nggak ada ujungnya.
Butuh berapa galah coba buat menyamai panjangnya jalan?
Rasanya nggak akan pernah terbalas sempurna.
Cuma bisa berlaku sebaik-baiknya, berusaha berbakti, ada masanya akulah yang wajib mengurus kedua orangtuaku.
Semoga setiap tetes keringat dan air mata Bapak Ibuk diganti dengan tetesan air sungai di surga.
Semoga panas gerah yang dirasakan di dunia diganti dengan kesejukan di padang mahsyar.
Semoga rumah kecil Bapak Ibuk di dunia diganti istana indah di surga.
Barakallah, hanya Allah yang bisa membalas kasih sayang Bapak Ibuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar