Minggu, 14 Juli 2013

Ludira

Dumateng panjenenganipun, Jeng Pangeran, Kartikaningtyas.

sun lalipur ing tyas kang wiyadi

 

nging mêksa katongton

 

salêlewa myang solahbawane.

 

riyêm-riyêm buwana esmu gri wangkawa kalêson

 

uwung-uwung kêmlayung sonare samurcane Dyan sêkaring bumi

 

udan riwis-riwis kadya ngungunngungun.

 

saya mangrês risang kawula

 

lêngêr-lêngêr cêlom lir jinait ing tyase

 

jwala kongas sêmune alindri lir sang kaduk riris netarja sumuluh

 

lah Gusti wong anom imbangana Gusti kawulane

sampun bangêt-bangêt madung pari niyaya kêpati.

adhuh kapriye wong bagus tan ana wêkasing karsi

dene bangêt têmên sira

cacat apa ingsun iki.

iki wong punapi  

dhasar bagus atinya sawukir pêngkuh raseng dhiri wong abagus têrus

samana sang rêtna adi asupe purwa duksina ketang runtikireng galih  

sang rêtna mungkur brantaning.

lah paran karsanira dene ngantya pan kadya puniki.

rêb-rêb sirêp giwangkara tuwin purnama acêlom

 

tara-tara lidhah sudamane thathit-thathit lir milu wiyadi

 

manuk-manuk muni tinon rangu-rangu.

 

lah paran karsanira dene ngantya pan kadya puniki.

 

**Terjemahan :

Kepadamu Pangeran, Sang Bintang di hati.

Meski telah kucoba menghibur diri,

namun tetap saja masih terbayang-bayang

sosok dan lakumu.

Dunia tampak remang, lesu dalam kesedihan

Langit redup sinarnya karena hilangnya Tuan yang menjadi bunga dunia.

Hujan rintik yang turun membuat rasa tercekam heran.

Semakin teriris sang hati,

hanya mampu terdiam, hatiku bagai dijahit

Sang Mata bersinar redup tanda memendam kesedihan.

"Tuanku, terimalah cinta dari hambamu ini,

janganlah kau menyiksa hambamu ini, Tuanku.

Duhai pria tampan, kapan ini semua akan berakhir?

mengapa engkau begitu keterlaluan memperlakukanku?

Apa sebenarnya yang menjadi cacatku?

Orang macam apa kau ini?

Kau memang tampan, namun kenapa hatimu setinggi gunung? Kau sangat angkuh."

Saat itu juga Sang Putri kehilangan kendali karena sangat marah,

menjauh sudah rasa cinta Sang Putri kepada dirinya.

 Sebenarnya apa yang telah terjadi hingga semua menjadi seperti ini?

Matahari dan purnama bersinar kelam

Bintang-bintang, kilat, dan petir bagai turut berduka

Burung-burung berkicau penuh rasa ragu.

Ah, sebenarnya apa yang telah terjadi hingga semua menjadi seperti ini?


-Mengutip beberapa sajak Serat Gandakusuma-

 

Jumat, 05 Juli 2013

When I Fall in Love

Aku ingin mengirimkan tulisan ini padamu.
Ah, tapi mungkin belum sekarang saatnya.

Kak,
hari ini entah untuk yang ke berapa kalinya aku melumat Forgiven-mu.
Yang kemudian melayangkan ingatanku pada saat pertama aku bersentuhan dengannya.

Kak,
tahukah kau bagaimana aku menjadi begitu jatuh cinta pada guratmu?

Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA, di kelas yang penuh berisi anak-anak superior.
Mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi tanggungan kami di sekolah : Olimpiade Sains.

Kak, aku percaya penuh pada takdir.

Kami, siswa berotak kiri ini dikumpulkan di ruang perpustakaan sekolah.
Tujuannya jelas, agar kami lebih mudah mendapatkan referensi untuk menyiapkan materi.
Tapi aku bukan siswa berotak kiri.
Yang cinta pada logika, matematika, fisika, dan sejenisnya.
Aku hanya memandangi rekanku yang serius meladeni soal-soal latihannya.
Aku bosan.
Aku hanya menyusuri rak-rak fiksi perpustakaan.
Berkeliling berjam-jam.
Sampai kemudian takdir menyentuhkan tanganku dengan guratmu untuk pertama kalinya.

Kak,
tahukah kau, ilustrasi Champagne Supernova itu yang menyeretku untuk membuka lembar demi lembar guratmu.
Kak,
tahukah kau, kata pengantarmu dalam buku itu yang mendorongku melupakan sejenak Olimpiade Sains, meninggalkan berlembar-lembar soal yang belum kuselesaikan.
"Dan William Hakim; Indonesia memiliki banyak William Hakim muda di luar sana. Yang cerdas, berbakat dengan setumpuk prestasi di olimpiade sains dan penuh cita-cita. Yang mereka butuhkan cuma support. You never know what change they could make in the future" begitu tulismu.
Kata-kata itu, yang akhirnya tertanam kuat-kuat dalam benakku.
Tahukah kau kak,
aku belum pernah menjumpai kata pengantar yang seperti ini dalam buku-buku yang pernah kubaca.
Satu terima kasih untukmu atas kata pengantar indahmu :)

Kemudian aku mendapati siapa Will, siapa Karla, dan apa yang terjadi pada mereka.
Lingkungan sekolah mereka, pertemanan mereka.
Kak, entah aku yang kurang membaca atau bagaimana, tapi jarang kutemui tulisan yang mengangkat tema seperti ini.

Satu lagi terima kasihku untukmu kak,
kakak sudah memanusiakan William dan Nicolas Hakim. Juga anak-anak dengan nilai straight A di luar sana.
Karena banyak orang di sekitarku yang menganggap anak-anak seperti itu adalah manusia super, yang hebat, yang tahu segalanya, yang selalu bisa diandalkan, yang selalu mendapat nilai brilian, yang hanya tahu belajar, yang nanti hidupnya pasti akan sukses, yang tidak pernah memikirkan urusan sosialisasi dengan orang lain, apalagi percintaan.
Terima kasih kak, karena kakak menunjukkan sisi lain dari kehebatan mereka. Bahwa mereka juga manusia. Bahwa mereka bukan hanya robot pemikir tanpa emosi. Bahwa mereka bisa juga jatuh dan gagal.

Kurasa saat itulah aku memutuskan kalau aku jatuh cinta pada guratmu, kak.
Kuputuskan untuk memprioritaskan namamu dalam daftar pencarian ketika aku berkunjung ke toko buku.

Di guratmu selanjutnya kau banyak berkisah tentang Jogja, Semarang, Jakarta, dan Mesir.
Membuatku merasa dekat dengan apa yang kau tulis kak.
Saat itu aku belum memikirkan, apalagi memutuskan ke mana aku akan melanjutkan studiku kelak.
Universitas Gadjah Mada yang sering kau ceritakan entah bagaimana menjadi bayangan yang selalu terlintas di benakku ketika ditanya akan kemana aku setelah lulus nanti.
Kak, aku belum pernah ke UGM samasekali saat itu.
Aku hanya mengenal UGM dari tulisanmu.

Terima kasih lagi untukmu kak.
Ketika aku tahu gurat ketigamu lahir, aku sedang berada di Jogja.
Tersenyum senang akhirnya aku bisa menapakkan kaki ke tempat yang berkali-kali kubaca dalam tulisanmu.
Tahukah kau kak,
betapa bertambah senangnya aku ketika aku tahu yang kau jadikan tokoh utama di dalamnya adalah mahasiswi Kedokteran Gigi.
Seketika aku titip uang kepada temanku untuk segera membawakanku gurat barumu.
Aku semakin mencintai gurat-guratmu.
Rasanya girang sekali mendapati gambar-gambar seputaran kampus di dalam buku itu.

Terima kasih kak, sudah menginspirasi.
Terus berkarya ya kak, jangan bosan-bosan menulis.
Karena aku yakin banyak orang yang menantikan tulisan inspiratifmu. Seperti juga aku.
:)

Salam.
Enggardini R. Hakim