Minggu, 20 Desember 2015

Senja #Part 6

Satu tahun Senja, kita membangun jarak, susah payah menambal compang camping di hati kita masing-masing, mencoba menutupi apa yang tak perlu ditutupi.
Jingga seperti enggan menyapa senja.
Dan senja begitu kehilangan warna.

Tapi di bawah pohon Bodhi ini toh akhirnya sekarang aku berdiri.
Bersorak sorai, bergemuruh untukmu yang berlari lincah menggocek bola.
Sedetik, yang kembali aku memohon bisa membekukan waktu, kutemukan matamu, kamu temukan mataku, dan senyum kanak-kanakmu.
Matahari menggelincir dengan sempurna ke pelukan malam.
Senja kembali genap dengan semburat Jingga.
****
Yogya, 30 November 2015

Untuk Senja

Senja #Part 5

Suatu ketika aku ingin memohon pada Tuhan agar diberi kekuatan membekukan waktu, atau menahan matahari tetap di tempatnya, dan bumi sejenak berhenti berputar.
Salah satunya, satu senja, di mana aku menyelipkan di saku bajumu sebatang cokelat sebagai kado ulang tahunmu yang tertunda.
Dan kamu,
Menyisipkan jemarimu tanpa ragu di sela jemariku.
Berdiri di depanku bagai tameng yang kukuh, menuntun jalanku.
Atau berdiri di belakangku, dan sesekali mengecupi puncak kepalaku, melindungiku dari desakan penonton konser yang lainnya.
Kemudian menghabiskan malam menonton serial TV yang baru selesai kamu unduh, di kedai 24 jam.
Katamu, bukan pertama kali kamu tidak pulang ke asrama dan bermalam di kedai 24 jam,
Tapi ini pertama kali bagimu menghabiskan malam bersama perempuan, dengan cara begini absurd.
Aku merasa seperti pendosa, yang tertangkap basah. Padahal rasanya tidak ada yang salah.
Aku Jingga, dan kamu Senja.
****
Senja,
Adakalanya aku merasa kelimpungan, merasa begitu rapuh, dan telanjang.
Ada hal-hal yang tidak bisa aku ungkapkan dengan terbuka.
Senja,
Sadarkah kamu, tanpa mentari, senja tak akan jadi jingga?
Seperti pagi itu, saat Edwita sahabat kita, tanpa peringatan mengirimiku pesan singkat penuh pertanyaan. Semuanya tentang kamu. Tentang kita. Lalu siang itu juga kujemput paksa kamu dari asramamu.
“Katakan sesuatu, Senja,” tuntutku.
“Apa?”
Kutunjukkan pesan singkat Edwita. Pesan yang mencemaskan.
“Masih perlu kah kujawab semua itu, Jingga?” katamu gemas. Matamu, mata kanak-kanak yang benderang itu menatapku lurus-lurus, sampai aku tidak tahu lagi harus bersembunyi di mana.
“Senja, tanpa mentari senja tak akan jadi jingga. Jingga bukan milikmu seorang,”
“Lalu?”
“Menyayangi seseorang bukan hal yang salah, tapi menyayangi milik seseorang itu hal yang berbeda,” desisku.
Salahku juga membiarkan semua ini menjalar ke mana-mana. Ada sengatan tak kentara yang menimbulkan sesak, kemudian panas dan kabur di pelupuk mata. Kamu tampak berpikir keras.
“Aku tidak peduli dengan matahari. Yang kutahu, aku tetap butuh Jingga untuk menjadi Senja,” pungkasmu.

Itu terakhir kali aku melihat wajahmu. Tanpa binar mata kanak-kanakmu. Tanpa senyum istimewamu. Sekaligus tanpa kemarahan atau penghakiman atasku.

Senja #Part 4

Senja,
Adakalanya aku ingat tanganmu yang mencengkeram pergelangan tanganku kuat kuat saat aku tersedak mendengar leluconmu dan yang lainnya.
Adakalanya aku ingat caramu mengikatkan pita di lengan kiriku sementara mulutmu penuh tersumpal roti selai cokelat yang kubawakan buatmu.
Pada dasarnya kamu orang humoris. Semua orang akan jatuh sayang padamu, Senja. Kontras dengan aku yang kata orang-orang acuh seperti batu.
“Kata siapa? Kamu peduli dengan banyak orang, kamu tulus, dan kamu dewasa,” ujarmu begitu kutanyakan perkara “batu” ini padamu.
“Well, ini bukan caramu mengatakan aku tua kan?” sahutku. Kamu tertawa keras.
“Tidak, Jingga. Bagiku kamu tidak pernah tua, kamu dewasa,” pungkasmu.

****
“Kamu tahu, Jingga, aku suka sepak bola,” ujarmu suatu pagi ketika kita kesiangan mencari warung bubur untuk sarapan dan akhirnya memilih menyantap soto di pinggir lapangan.
“Lalu?”
“Hmm, aku ingin ikut klub sepak bola lagi, seperti saat bersekolah dulu di Palembang,” ujarmu. “Sayangnya terlalu banyak praktikum di MIPA yang merampas sore hingga petangku,”lanjutmu.
“Cinta selalu menemukan jalan pulang, Senja,” aku menasihatimu hampir seolah kamu adikku sendiri.
“Hah?”
“Yah, kalau kamu cinta sepak bola, mau sesibuk apapun kamu, kamu akan tetap bermain sepak bola. Kecuali kamu tidak menginginkan bermain sepak bola lagi,” sahutku.
“Bagaimana rasanya, Jingga?”
“Apa?”
“Menjadi anak Sastra. Hidup dengan buku-buku, puisi, novel, tidak ada praktikum menguras waktu,” tanyamu lagi. Aku terkekeh.
“Luar biasa, hahaha,” sahutku. “Aku harus banyak berterima kasih kepada Bapakku yang memperkenalkan aku dengan buku, cinta pertama dan selamanya,”
“Kamu orang yang beruntung,”
“Amin. Kelak kamu mau jadi apa, Senja?”
“Mmm, pengusaha,”
“Lah, kenapa tidak masuk Ekonomi saja?”. Ganti kamu yang tertawa.
“Di MIPA aku belajar mengolah hasil alam, menghargai alam. Aku ingin mengembangkan usahaku sendiri, produk yang unik, rekayasa genetika dan inovasi teknologi mutakhir yang aman untuk masyarakat sekaligus menguntungkan bagi pengusaha. Di Ekonomi menurutku aku hanya akan belajar mengenai teori yang ideal, tidak belajar tentang inovasi dan kreativitas seperti di MIPA,” terangmu panjang lebar.

Aku tersenyum, manggut-manggut, dan menyeruput es teh manisku sampai tandas.

Senja #Part 3

Kamu tahu, Jingga selalu menjadi warna Senja.
Itu yang pernah kamu ucapkan suatu senja di selasar perpustakaan.
Sejak awal aku merasa ada yang tidak beres dengan nama kita. Jingga yang bertemu Senja, mungkin terdengar konyol, tapi yah, ada geletar halus tiap kali nama kita disebut secara simultan.

Sejak mula kutemukan matamu, mata kanak-kanak yang menyala, yang penuh rasa ingin tahu, haus pengetahuan. Mata cerdas, kalau kata Ibuku. Sangat sangat saintek. Ada yang melompat lompat liar di dalam diriku, seolah ingin keluar dan mengisi keingintahuan di matamu.

Aku tidak pernah ingat detail sesuatu.
Itu juga berlaku atas bagaimana kita berdua bisa duduk berhadapan di meja perpustakaan, atau berjalan beriringan di pelataran kampus.
Yang kutahu, aku Jingga, dan kamu Senja.

“Jingga, kamu tahu bagian laut yang mana yang paling asin airnya?” tanyamu tiba-tiba dan tidak terduga, sambil mengaduk es jeruk –minuman kesukaanmu, yang selalu konsisten kamu pesan di mana pun kamu makan-.
“Mmm… mungkin bagian dasar laut?” jawabku sekenanya.
“Benar, dasar laut. Lihat es jeruk ini. Laut tidak ada bedanya dengan segelas es jeruk. Lihat, gulanya terkonsentrasi di dasar gelas, bagian dasar adalah bagian termanis dari es jeruk ini, lalu semakin ke atas semakin jadi tidak manis. Laut pun begitu,” jawabmu. Aku manggut-manggut, sok mengerti persoalan ilmu alam seperti ini.
“Baca buku apa?” tanyamu lagi.
“Madilog, Tan Malaka,” sahutku.
“Kamu anak Sastra kan? Bukan anak Fisip kan? Ngapain kamu baca begituan?” tanyamu berentetan. Aku tertawa.
“Memangnya hanya anak Fisip yang boleh baca buku ini? Memangnya hanya anak MIPA yang boleh belajar ilmu alam?”
“Itu lain,”
“Apa yang lain?”
“Itu, ilmu alam. Semua orang pasti belajar ilmu alam, karena bagaimana pun kita manusia belajar dari alam,” sahutmu.
“Ya ya, jawaban yang cukup bijak dari orang yang lebih muda setahun daripada aku, haha,”
Percakapan yang berakhir dengan cubitan-cubitan kecil di lenganku.

****
Well, sulit menceritakan ulang semua ini tanpa melibatkan banyak nama.
Dewa, Riska, Feby, Amir, orang-orang baru yang kutemui dulu; Edwita, Galuh, dan Cahaya, sahabatmu yang segera juga jadi sahabatku.
Penyusunan kurikulum penyambutan mahasiswa baru berbuntut panjang. Tidak bisa sehari selesai seperti perkiraanku semula. Butuh sekitar dua bulan, yah seminggu dua kali tatap muka, sampai akhirnya kurikulum rampung dikerjakan. Dua bulan, dua kali seminggu itulah kita semua bertemu, sejak jam 8 hingga jam 4 petang.
Di sela itu, kita semua akhirnya sering makan bersama, berlibur bersama (sesuatu yang seumur hidup belum pernah aku lakukan), mengenal satu sama lain lebih dekat.

“Aku bukan Jawa, seperti yang kalian semua lihat. Aku separuh Palembang, Sumatera. Pantang pulang sebelum menang,” ujar Senja suatu malam di warung bakmi. 
“Aku Jawa, tulen. Tapi aku juga nggak mau kalah sama orang Sumatera, hahaha,” timpal Amir. 
Kami semua tertawa.

Senja #Part 2

Riuh rendah tahun ajaran baru mulai terasa.
Semarak penyambutan mahasiswa baru di mana-mana. Ada yang memakai caping warna warni, ada yang memanggul tas karung goni.
Jauh sebelum itu semua, aku kembali dikirimkan ketua senat fakultas untuk menyusun kurikulum bersama di Universitas.
“Kenapa aku lagi sih, Bima?” ujarku separuh jengkel. Ada lebih dari 30 anak di senat, kenapa aku yang selalu harus mewakilinya ke mana-mana.
“Karena kamu yang bertugas berhubungan dengan pihak di luar senat,” sahut Bima.
“Ya tapi nggak urusan penyambutan mahasiswa baru juga, aku nggak paham apa-apa Bim. Kenapa nggak Laily? Kan dia bagian kaderisasi,” ujarku bersikukuh menolak.
“Ya justru itu, Laily tidak bisa pergi, karena dia harus mengurus penyambutan mahasiswa baru di Jurusan,” tandas Bima.
Aku mendengus pasrah.
Dan pagi ini aku kembali terdampar di tengah-tengah orang yang tidak kukenal, dan membicarakan hal yang asing sama sekali buatku. Ah sudahlah, diam dan catat saja apa kata pemateri dan peserta lain. Setelah itu makan siang, pulang, dan laporan.
****
Aku sempat berkenalan dengan beberapa orang selama beberapa jam yang monoton ini. Dewa dari Teknik, Riska dari Kedokteran, Feby dari Psikologi, dan Amir dari Ekonomi. Sejujurnya anomali juga aku ditempatkan di bagian humas, mengingat aku tidak terlalu pandai bergaul dan membuka pembicaraan. Aku lebih asyik dengan buku Pramoedya Ananta Toer yang kuselipkan di laci mejaku daripada mendengar teman-temanku berbasa basi.
Setelah berjam-jam habis mendengarkan dan mencatat paparan pembicara –ibu-ibu gemuk dari Fakultas Peternakan-, akhirnya tiba saatnya istirahat dan makan siang. Kuikuti langkah teman-teman baruku keluar ruangan menuju meja besar untuk makan.
“Namamu bagus, Jingga,” ujar Feby. Aku terkekeh.
“Tidak tahu kenapa orangtuaku menamaiku begitu. Jingga identik dengan Senja, saat istirahat. Kenapa mereka tidak memilih nama warna yang lebih mengundang semangat aku juga tidak tahu,” sahutku. Ganti Feby yang terkekeh.
“Kamu tahun ke berapa Jingga?”
“Tahun ketiga. Kamu sendiri?”
“Wah seharusnya aku memanggilmu kakak, hahaha, aku baru tahun kedua,” jawab Feby.
“Wah, jangan, panggil saja Jingga, tanpa kakak. Panggilan kakak hanya akan membuatku merasa sekian tahun lebih tua,” sahutku. Tiba-tiba aku merasa haus. “aku ambil minuman dulu ya Feb,” lanjutku.

Saat itu aku kembali menemukan matamu.

Senja #Part 1

Aku jatuh cinta pada Senja. 
Aku mengaguminya dari kejauhan. 
Sebelumnya tidak pernah aku bertanya, “kenapa senja berwarna merah?”

“Pagi tak pernah benar-benar mencintai Senja, Malam tak pernah meninggalkan Eleanor Sang Bintang. Lalu siapa yang menurutmu paling terluka?” tanya Kala
“Senja, menjadi alat balas dendam yang percuma,” jawab Luna.
“Kamu tahu apa warna darah?”
Merah.
****
Ada yang ganjil ketika sore tadi aku kembali menemukan tawa lepas dan tulus kanak-kanak pada tawamu.
Ada yang tidak biasa ketika kutemukan lagi sinar gemilang mata kanak-kanak yang seolah enggan tumbuh dewasa.
Mau tak mau aku tertawa.
Sudah berapa lama kita tidak bersua?
Tidak pernah ada kata marah atau emosi yang keluar dari mulutmu.
Tapi aku tahu dari bungkammu dan bayanganmu yang semakin susut dari pandanganku.
Goblok juga waktu itu aku tidak berusaha memperpanjang durasi narasi kita.
Tapi pilihan apa lagi yang aku punya?
****
Di bawah pohon Bodhi semua bermula.
Celingukan aku merasa tersesat di kampus sendiri. Hutan di sisi utara kampus seperti dunia lain yang tidak pada tempatnya, tidak pada zamannya, saking kontrasnya dengan bangunan tinggi di kanan kirinya.
Mana?
Ketua senat mengirimku ke forum lembaga mahasiswa antar fakultas.
“Aku tidak bisa hadir, Jingga, tolong wakilkan,”
Sore itu, pulang kuliah, aku memutar bola mata gemas. Bisa apa aku ini sebagai bawahan?
****
“Mbak, mencari siapa?” tegur seorang laki-laki berambut cepak dengan kemeja hitam. Mungkin dia anak menwa yang ditugaskan menjaga acara forum lembaga.
“Saya dari Sastra Indonesia mas, ditugaskan untuk hadir dalam forum lembaga, tapi saya tidak tahu ruangannya di mana,” sahutku.
“Oh, ruangannya ada di lantai 2 mbak. Kalau tidak keberatan, mari saya antarkan,” ujarnya.
Aku tersenyum berterima kasih.
Ruangan forum lembaga sudah hampir terisi penuh, menyisakan beberapa deret bangku di bagian belakang yang belum terisi. Mas Menwa tadi, yang ku tahu bernama Jaya, berpamitan keluar ruangan. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Ini awal semester, awal periode lembaga mahasiswa. Sepertinya kemahasiswaan merasa perlu mengumpulkan kami semua untuk menyeragamkan visi dan misi lembaga atau organisasi kami dengan visi misi Universitas. Dalam hati aku tertawa, macam Orde Baru saja kampusku ini.
Lima belas menit setelah acara dimulai, catatanku buyar oleh langkah kaki setengah diseret setengah berlari. Seorang mahasiswa laki-laki dengan rambut awut-awutan, masih dengan jas praktikumnya tergopoh-gopoh masuk ruangan.
“Hai, saya Senjaya, panggil saja Senja. Dari MIPA,” ujarnya begitu pantatnya menyentuh kursi di sampingku.

Aku menjabat uluran tangannya. “Jingga, Sastra Indonesia,”.

Amanah

"Amanah nggak akan pernah salah memilih. Nggak usah dikejar. Tapi kalau dia datang, terimalah dengan lapang, selesaikanlah sebaik-baiknya,"
Nasihat seseorang di akhir masa jabatan.

Salah satu wahana pembelajaran terbaik yang pernah aku singgahi.
Awal mulanya, hanya keinginan sederhana untuk menjalin komunikasi dengan rekan-rekan di fakultas lain.
Tanpa kemampuan mumpuni, tanpa pengalaman di bidang public speaking memadai, dan tanpa pengalaman internasional yang berarti, nekat saya terjun ke Departemen ini.

Nggak ada pikiran sama sekali untuk mengepalai Departemen sebesar ini (walaupun lingkupnya hanya fakultas).
Di antara banyak sekali orang hebat di sekeliling saya, nggak ngerti kenapa amanah ini justru mendarat di pundak saya.
Mau gimana lagi, yasudah, istiqomah, pelan-pelan saya dayung perahu ini bersama dengan 13 partner saya yang lain.

Satu periode.
Enam belas program kerja skala internal fakultas, universitas, regional, nasional, hingga internasional akhirnya dapat terlaksana.
Harus diakui, saya bukan tipe pemimpin yang asyik.
Menghabiskan separuh umur dalam didikan semi militer di satu sisi membuat saya tidak mentolerir kata "tidak bisa", dan membuat pola pikir lebih ke praktis lapangan, bukan konseptual.
Perlu adaptasi lumayan juga di awal bagi saya dan tim untuk bisa saling menyesuaikan dan mendayung perahu ke tujuan.
Lebih-lebih, saya tidak punya pengalaman memimpin organisasi besar apapun.
Kendala pasti ada, banyak malah, hahaha.
Lingkungan kampus yang cenderung tertutup, rutinitas kuliah-praktikum 12 jam non stop sering jadi benturan di sana sini.

Lelah, iya lelah.
Jam kerja nambah, dari 12 jam jadi 18-20 jam sehari.
Waktu pulang ke rumah makin berkurang.
Pacaran juga disambi rapat sana sini, bahkan di merger yang sana ikut rapat sini, yang sini ikut rapat sana.
Tapi toh saya nggak sendirian.
Semua orang di perahu ini juga pasti merasakan hal yang sama.
Dan semua orang di sini saling merangkul, saling menjaga agar laju kami tetap seimbang sampai akhir.

Well,
Di penghujung lajunya, perahu kami diganjar sesuatu yang tidak terbayangkan.
Dua penghargaan event terbaik.
Satu program exchange terbaik di Jepang.
Satu program penyuluhan kesehatan terbaik se-Asia Pasifik.

Nggak bisa nggak terharu.
Nggak bisa nggak bangga sama tim ini.

Akhirnya, Jumat 18 Desember 2015, perahu kami merapat ke dermaga.
Telah sampai kami pada peraduan.
Saatnya kemudi berpindah tangan.
Bukan lagi di tangan renta kami, melainkan ke tangan-tangan muda yang telah banyak belajar selama pelayaran satu periode penuh.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan belajar tiada duanya, yang melapangkan hati kami, yang menguatkan punggung-punggung kami.
Terima kasih kepada Bapak, Ibuk, Adek yang mendukung penuh dan begitu percaya saya bisa melabuhkan perahu ini dengan selamat.
Terima kasih untuk Kakakku, Kekasihku, yang dengan rela hati bertukar pikiran, beradu argumen, memberikan banyak kritik saran dan bimbingan untuk adek kecilnya ini.
Terima kasih kepada jajaran Dekanat atas kepercayaan dan kerjasamanya.
Terima kasih kepada jajaran BPH yang selama setahun penuh menjadi mentor dan tutor sebaya.
Terima kasih juga untuk alumni Dept.Jaringan atas ilmu, saran, dan kritiknya.
Tidak lupa kepada seluruh pihak yang turut membantu terlaksananya berbagai proker Jaringan.
Daaaaaaannnn... terima kasih sebesar-besarnya untuk Elis, Dian, Gita, Faluth, Nada, Hasna yang berjuang dari awal di Jaringan. Kalian partner yang luar biasa!
Untuk Laxmi, Rifqa, Dina, Imas, Dinda, Arum, Tata, Fathur, Ira, Popit, Laksmi, Athaya, Elma, Himma, terima kasih sudah banyak berkontribusi untuk Jaringan, semoga dimudahkan segalanya bagi kalian.
Sekarang kemudi perahu ini ada di tangan kalian.
Kami percaya perahu ini akan melaju lebih jauh, lebih pesat di tangan kalian.

Perahu ini harus terus berlayar.
Perlahan layarnya hanya tinggal titik di kejauhan.
Emak pamit anak-anak, cinta kasih selamanya untuk kalian.
Semoga tetap eksis dan mendunia!