Minggu, 20 Desember 2015

Senja #Part 2

Riuh rendah tahun ajaran baru mulai terasa.
Semarak penyambutan mahasiswa baru di mana-mana. Ada yang memakai caping warna warni, ada yang memanggul tas karung goni.
Jauh sebelum itu semua, aku kembali dikirimkan ketua senat fakultas untuk menyusun kurikulum bersama di Universitas.
“Kenapa aku lagi sih, Bima?” ujarku separuh jengkel. Ada lebih dari 30 anak di senat, kenapa aku yang selalu harus mewakilinya ke mana-mana.
“Karena kamu yang bertugas berhubungan dengan pihak di luar senat,” sahut Bima.
“Ya tapi nggak urusan penyambutan mahasiswa baru juga, aku nggak paham apa-apa Bim. Kenapa nggak Laily? Kan dia bagian kaderisasi,” ujarku bersikukuh menolak.
“Ya justru itu, Laily tidak bisa pergi, karena dia harus mengurus penyambutan mahasiswa baru di Jurusan,” tandas Bima.
Aku mendengus pasrah.
Dan pagi ini aku kembali terdampar di tengah-tengah orang yang tidak kukenal, dan membicarakan hal yang asing sama sekali buatku. Ah sudahlah, diam dan catat saja apa kata pemateri dan peserta lain. Setelah itu makan siang, pulang, dan laporan.
****
Aku sempat berkenalan dengan beberapa orang selama beberapa jam yang monoton ini. Dewa dari Teknik, Riska dari Kedokteran, Feby dari Psikologi, dan Amir dari Ekonomi. Sejujurnya anomali juga aku ditempatkan di bagian humas, mengingat aku tidak terlalu pandai bergaul dan membuka pembicaraan. Aku lebih asyik dengan buku Pramoedya Ananta Toer yang kuselipkan di laci mejaku daripada mendengar teman-temanku berbasa basi.
Setelah berjam-jam habis mendengarkan dan mencatat paparan pembicara –ibu-ibu gemuk dari Fakultas Peternakan-, akhirnya tiba saatnya istirahat dan makan siang. Kuikuti langkah teman-teman baruku keluar ruangan menuju meja besar untuk makan.
“Namamu bagus, Jingga,” ujar Feby. Aku terkekeh.
“Tidak tahu kenapa orangtuaku menamaiku begitu. Jingga identik dengan Senja, saat istirahat. Kenapa mereka tidak memilih nama warna yang lebih mengundang semangat aku juga tidak tahu,” sahutku. Ganti Feby yang terkekeh.
“Kamu tahun ke berapa Jingga?”
“Tahun ketiga. Kamu sendiri?”
“Wah seharusnya aku memanggilmu kakak, hahaha, aku baru tahun kedua,” jawab Feby.
“Wah, jangan, panggil saja Jingga, tanpa kakak. Panggilan kakak hanya akan membuatku merasa sekian tahun lebih tua,” sahutku. Tiba-tiba aku merasa haus. “aku ambil minuman dulu ya Feb,” lanjutku.

Saat itu aku kembali menemukan matamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar