Riuh rendah tahun ajaran baru
mulai terasa.
Semarak penyambutan mahasiswa
baru di mana-mana. Ada yang memakai caping warna warni, ada yang memanggul tas
karung goni.
Jauh sebelum itu semua, aku
kembali dikirimkan ketua senat fakultas untuk menyusun kurikulum bersama di
Universitas.
“Kenapa aku lagi sih, Bima?”
ujarku separuh jengkel. Ada lebih dari 30 anak di senat, kenapa aku yang selalu
harus mewakilinya ke mana-mana.
“Karena kamu yang bertugas
berhubungan dengan pihak di luar senat,” sahut Bima.
“Ya tapi nggak urusan penyambutan
mahasiswa baru juga, aku nggak paham apa-apa Bim. Kenapa nggak Laily? Kan dia
bagian kaderisasi,” ujarku bersikukuh menolak.
“Ya justru itu, Laily tidak bisa
pergi, karena dia harus mengurus penyambutan mahasiswa baru di Jurusan,” tandas
Bima.
Aku mendengus pasrah.
Dan pagi ini aku kembali terdampar
di tengah-tengah orang yang tidak kukenal, dan membicarakan hal yang asing sama
sekali buatku. Ah sudahlah, diam dan catat saja apa kata pemateri dan peserta
lain. Setelah itu makan siang, pulang, dan laporan.
****
Aku sempat berkenalan dengan
beberapa orang selama beberapa jam yang monoton ini. Dewa dari Teknik, Riska
dari Kedokteran, Feby dari Psikologi, dan Amir dari Ekonomi. Sejujurnya anomali
juga aku ditempatkan di bagian humas, mengingat aku tidak terlalu pandai
bergaul dan membuka pembicaraan. Aku lebih asyik dengan buku Pramoedya Ananta
Toer yang kuselipkan di laci mejaku daripada mendengar teman-temanku berbasa
basi.
Setelah berjam-jam habis
mendengarkan dan mencatat paparan pembicara –ibu-ibu gemuk dari Fakultas
Peternakan-, akhirnya tiba saatnya istirahat dan makan siang. Kuikuti langkah
teman-teman baruku keluar ruangan menuju meja besar untuk makan.
“Namamu bagus, Jingga,” ujar
Feby. Aku terkekeh.
“Tidak tahu kenapa orangtuaku
menamaiku begitu. Jingga identik dengan Senja, saat istirahat. Kenapa mereka
tidak memilih nama warna yang lebih mengundang semangat aku juga tidak tahu,”
sahutku. Ganti Feby yang terkekeh.
“Kamu tahun ke berapa Jingga?”
“Tahun ketiga. Kamu sendiri?”
“Wah seharusnya aku memanggilmu
kakak, hahaha, aku baru tahun kedua,” jawab Feby.
“Wah, jangan, panggil saja
Jingga, tanpa kakak. Panggilan kakak hanya akan membuatku merasa sekian tahun
lebih tua,” sahutku. Tiba-tiba aku merasa haus. “aku ambil minuman dulu ya
Feb,” lanjutku.
Saat itu aku kembali menemukan
matamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar