Minggu, 20 Desember 2015

Amanah

"Amanah nggak akan pernah salah memilih. Nggak usah dikejar. Tapi kalau dia datang, terimalah dengan lapang, selesaikanlah sebaik-baiknya,"
Nasihat seseorang di akhir masa jabatan.

Salah satu wahana pembelajaran terbaik yang pernah aku singgahi.
Awal mulanya, hanya keinginan sederhana untuk menjalin komunikasi dengan rekan-rekan di fakultas lain.
Tanpa kemampuan mumpuni, tanpa pengalaman di bidang public speaking memadai, dan tanpa pengalaman internasional yang berarti, nekat saya terjun ke Departemen ini.

Nggak ada pikiran sama sekali untuk mengepalai Departemen sebesar ini (walaupun lingkupnya hanya fakultas).
Di antara banyak sekali orang hebat di sekeliling saya, nggak ngerti kenapa amanah ini justru mendarat di pundak saya.
Mau gimana lagi, yasudah, istiqomah, pelan-pelan saya dayung perahu ini bersama dengan 13 partner saya yang lain.

Satu periode.
Enam belas program kerja skala internal fakultas, universitas, regional, nasional, hingga internasional akhirnya dapat terlaksana.
Harus diakui, saya bukan tipe pemimpin yang asyik.
Menghabiskan separuh umur dalam didikan semi militer di satu sisi membuat saya tidak mentolerir kata "tidak bisa", dan membuat pola pikir lebih ke praktis lapangan, bukan konseptual.
Perlu adaptasi lumayan juga di awal bagi saya dan tim untuk bisa saling menyesuaikan dan mendayung perahu ke tujuan.
Lebih-lebih, saya tidak punya pengalaman memimpin organisasi besar apapun.
Kendala pasti ada, banyak malah, hahaha.
Lingkungan kampus yang cenderung tertutup, rutinitas kuliah-praktikum 12 jam non stop sering jadi benturan di sana sini.

Lelah, iya lelah.
Jam kerja nambah, dari 12 jam jadi 18-20 jam sehari.
Waktu pulang ke rumah makin berkurang.
Pacaran juga disambi rapat sana sini, bahkan di merger yang sana ikut rapat sini, yang sini ikut rapat sana.
Tapi toh saya nggak sendirian.
Semua orang di perahu ini juga pasti merasakan hal yang sama.
Dan semua orang di sini saling merangkul, saling menjaga agar laju kami tetap seimbang sampai akhir.

Well,
Di penghujung lajunya, perahu kami diganjar sesuatu yang tidak terbayangkan.
Dua penghargaan event terbaik.
Satu program exchange terbaik di Jepang.
Satu program penyuluhan kesehatan terbaik se-Asia Pasifik.

Nggak bisa nggak terharu.
Nggak bisa nggak bangga sama tim ini.

Akhirnya, Jumat 18 Desember 2015, perahu kami merapat ke dermaga.
Telah sampai kami pada peraduan.
Saatnya kemudi berpindah tangan.
Bukan lagi di tangan renta kami, melainkan ke tangan-tangan muda yang telah banyak belajar selama pelayaran satu periode penuh.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan belajar tiada duanya, yang melapangkan hati kami, yang menguatkan punggung-punggung kami.
Terima kasih kepada Bapak, Ibuk, Adek yang mendukung penuh dan begitu percaya saya bisa melabuhkan perahu ini dengan selamat.
Terima kasih untuk Kakakku, Kekasihku, yang dengan rela hati bertukar pikiran, beradu argumen, memberikan banyak kritik saran dan bimbingan untuk adek kecilnya ini.
Terima kasih kepada jajaran Dekanat atas kepercayaan dan kerjasamanya.
Terima kasih kepada jajaran BPH yang selama setahun penuh menjadi mentor dan tutor sebaya.
Terima kasih juga untuk alumni Dept.Jaringan atas ilmu, saran, dan kritiknya.
Tidak lupa kepada seluruh pihak yang turut membantu terlaksananya berbagai proker Jaringan.
Daaaaaaannnn... terima kasih sebesar-besarnya untuk Elis, Dian, Gita, Faluth, Nada, Hasna yang berjuang dari awal di Jaringan. Kalian partner yang luar biasa!
Untuk Laxmi, Rifqa, Dina, Imas, Dinda, Arum, Tata, Fathur, Ira, Popit, Laksmi, Athaya, Elma, Himma, terima kasih sudah banyak berkontribusi untuk Jaringan, semoga dimudahkan segalanya bagi kalian.
Sekarang kemudi perahu ini ada di tangan kalian.
Kami percaya perahu ini akan melaju lebih jauh, lebih pesat di tangan kalian.

Perahu ini harus terus berlayar.
Perlahan layarnya hanya tinggal titik di kejauhan.
Emak pamit anak-anak, cinta kasih selamanya untuk kalian.
Semoga tetap eksis dan mendunia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar