Aku jatuh cinta pada Senja.
Aku mengaguminya dari kejauhan.
Sebelumnya tidak pernah aku bertanya, “kenapa
senja berwarna merah?”
“Pagi tak pernah benar-benar
mencintai Senja, Malam tak pernah meninggalkan Eleanor Sang Bintang. Lalu siapa
yang menurutmu paling terluka?” tanya Kala
“Senja, menjadi alat balas
dendam yang percuma,” jawab Luna.
“Kamu tahu apa warna darah?”
Merah.
****
Ada yang ganjil ketika sore tadi
aku kembali menemukan tawa lepas dan tulus kanak-kanak pada tawamu.
Ada yang tidak biasa ketika kutemukan
lagi sinar gemilang mata kanak-kanak yang seolah enggan tumbuh dewasa.
Mau tak mau aku tertawa.
Sudah berapa lama kita tidak
bersua?
Tidak pernah ada kata marah atau
emosi yang keluar dari mulutmu.
Tapi aku tahu dari bungkammu dan
bayanganmu yang semakin susut dari pandanganku.
Goblok juga waktu itu aku tidak
berusaha memperpanjang durasi narasi kita.
Tapi pilihan apa lagi yang aku
punya?
****
Di bawah pohon Bodhi semua
bermula.
Celingukan aku merasa tersesat di
kampus sendiri. Hutan di sisi utara kampus seperti dunia lain yang tidak pada
tempatnya, tidak pada zamannya, saking kontrasnya dengan bangunan tinggi di
kanan kirinya.
Mana?
Ketua senat mengirimku ke forum
lembaga mahasiswa antar fakultas.
“Aku tidak bisa hadir, Jingga,
tolong wakilkan,”
Sore itu, pulang kuliah, aku
memutar bola mata gemas. Bisa apa aku ini sebagai bawahan?
****
“Mbak, mencari siapa?” tegur
seorang laki-laki berambut cepak dengan kemeja hitam. Mungkin dia anak menwa
yang ditugaskan menjaga acara forum lembaga.
“Saya dari Sastra Indonesia mas,
ditugaskan untuk hadir dalam forum lembaga, tapi saya tidak tahu ruangannya di
mana,” sahutku.
“Oh, ruangannya ada di lantai 2
mbak. Kalau tidak keberatan, mari saya antarkan,” ujarnya.
Aku tersenyum berterima kasih.
Ruangan forum lembaga sudah
hampir terisi penuh, menyisakan beberapa deret bangku di bagian belakang yang
belum terisi. Mas Menwa tadi, yang ku tahu bernama Jaya, berpamitan keluar
ruangan. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Ini awal semester, awal periode
lembaga mahasiswa. Sepertinya kemahasiswaan merasa perlu mengumpulkan kami
semua untuk menyeragamkan visi dan misi lembaga atau organisasi kami dengan
visi misi Universitas. Dalam hati aku tertawa, macam Orde Baru saja kampusku
ini.
Lima belas menit setelah acara
dimulai, catatanku buyar oleh langkah kaki setengah diseret setengah berlari.
Seorang mahasiswa laki-laki dengan rambut awut-awutan, masih dengan jas
praktikumnya tergopoh-gopoh masuk ruangan.
“Hai, saya Senjaya, panggil saja
Senja. Dari MIPA,” ujarnya begitu pantatnya menyentuh kursi di sampingku.
Aku menjabat uluran tangannya.
“Jingga, Sastra Indonesia,”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar