Minggu, 20 Desember 2015

Senja #Part 3

Kamu tahu, Jingga selalu menjadi warna Senja.
Itu yang pernah kamu ucapkan suatu senja di selasar perpustakaan.
Sejak awal aku merasa ada yang tidak beres dengan nama kita. Jingga yang bertemu Senja, mungkin terdengar konyol, tapi yah, ada geletar halus tiap kali nama kita disebut secara simultan.

Sejak mula kutemukan matamu, mata kanak-kanak yang menyala, yang penuh rasa ingin tahu, haus pengetahuan. Mata cerdas, kalau kata Ibuku. Sangat sangat saintek. Ada yang melompat lompat liar di dalam diriku, seolah ingin keluar dan mengisi keingintahuan di matamu.

Aku tidak pernah ingat detail sesuatu.
Itu juga berlaku atas bagaimana kita berdua bisa duduk berhadapan di meja perpustakaan, atau berjalan beriringan di pelataran kampus.
Yang kutahu, aku Jingga, dan kamu Senja.

“Jingga, kamu tahu bagian laut yang mana yang paling asin airnya?” tanyamu tiba-tiba dan tidak terduga, sambil mengaduk es jeruk –minuman kesukaanmu, yang selalu konsisten kamu pesan di mana pun kamu makan-.
“Mmm… mungkin bagian dasar laut?” jawabku sekenanya.
“Benar, dasar laut. Lihat es jeruk ini. Laut tidak ada bedanya dengan segelas es jeruk. Lihat, gulanya terkonsentrasi di dasar gelas, bagian dasar adalah bagian termanis dari es jeruk ini, lalu semakin ke atas semakin jadi tidak manis. Laut pun begitu,” jawabmu. Aku manggut-manggut, sok mengerti persoalan ilmu alam seperti ini.
“Baca buku apa?” tanyamu lagi.
“Madilog, Tan Malaka,” sahutku.
“Kamu anak Sastra kan? Bukan anak Fisip kan? Ngapain kamu baca begituan?” tanyamu berentetan. Aku tertawa.
“Memangnya hanya anak Fisip yang boleh baca buku ini? Memangnya hanya anak MIPA yang boleh belajar ilmu alam?”
“Itu lain,”
“Apa yang lain?”
“Itu, ilmu alam. Semua orang pasti belajar ilmu alam, karena bagaimana pun kita manusia belajar dari alam,” sahutmu.
“Ya ya, jawaban yang cukup bijak dari orang yang lebih muda setahun daripada aku, haha,”
Percakapan yang berakhir dengan cubitan-cubitan kecil di lenganku.

****
Well, sulit menceritakan ulang semua ini tanpa melibatkan banyak nama.
Dewa, Riska, Feby, Amir, orang-orang baru yang kutemui dulu; Edwita, Galuh, dan Cahaya, sahabatmu yang segera juga jadi sahabatku.
Penyusunan kurikulum penyambutan mahasiswa baru berbuntut panjang. Tidak bisa sehari selesai seperti perkiraanku semula. Butuh sekitar dua bulan, yah seminggu dua kali tatap muka, sampai akhirnya kurikulum rampung dikerjakan. Dua bulan, dua kali seminggu itulah kita semua bertemu, sejak jam 8 hingga jam 4 petang.
Di sela itu, kita semua akhirnya sering makan bersama, berlibur bersama (sesuatu yang seumur hidup belum pernah aku lakukan), mengenal satu sama lain lebih dekat.

“Aku bukan Jawa, seperti yang kalian semua lihat. Aku separuh Palembang, Sumatera. Pantang pulang sebelum menang,” ujar Senja suatu malam di warung bakmi. 
“Aku Jawa, tulen. Tapi aku juga nggak mau kalah sama orang Sumatera, hahaha,” timpal Amir. 
Kami semua tertawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar