Kamu tahu, Jingga selalu menjadi
warna Senja.
Itu yang pernah kamu ucapkan
suatu senja di selasar perpustakaan.
Sejak awal aku merasa ada yang
tidak beres dengan nama kita. Jingga yang bertemu Senja, mungkin terdengar
konyol, tapi yah, ada geletar halus tiap kali nama kita disebut secara
simultan.
Sejak mula kutemukan matamu, mata
kanak-kanak yang menyala, yang penuh rasa ingin tahu, haus pengetahuan. Mata
cerdas, kalau kata Ibuku. Sangat sangat saintek. Ada yang melompat lompat liar
di dalam diriku, seolah ingin keluar dan mengisi keingintahuan di matamu.
Aku tidak pernah ingat detail
sesuatu.
Itu juga berlaku atas bagaimana
kita berdua bisa duduk berhadapan di meja perpustakaan, atau berjalan
beriringan di pelataran kampus.
Yang kutahu, aku Jingga, dan kamu
Senja.
“Jingga, kamu tahu bagian laut
yang mana yang paling asin airnya?” tanyamu tiba-tiba dan tidak terduga, sambil
mengaduk es jeruk –minuman kesukaanmu, yang selalu konsisten kamu pesan di mana
pun kamu makan-.
“Mmm… mungkin bagian dasar laut?”
jawabku sekenanya.
“Benar, dasar laut. Lihat es
jeruk ini. Laut tidak ada bedanya dengan segelas es jeruk. Lihat, gulanya
terkonsentrasi di dasar gelas, bagian dasar adalah bagian termanis dari es
jeruk ini, lalu semakin ke atas semakin jadi tidak manis. Laut pun begitu,”
jawabmu. Aku manggut-manggut, sok mengerti persoalan ilmu alam seperti ini.
“Baca buku apa?” tanyamu lagi.
“Madilog, Tan Malaka,” sahutku.
“Kamu anak Sastra kan? Bukan anak
Fisip kan? Ngapain kamu baca begituan?” tanyamu berentetan. Aku tertawa.
“Memangnya hanya anak Fisip yang
boleh baca buku ini? Memangnya hanya anak MIPA yang boleh belajar ilmu alam?”
“Itu lain,”
“Apa yang lain?”
“Itu, ilmu alam. Semua orang
pasti belajar ilmu alam, karena bagaimana pun kita manusia belajar dari alam,”
sahutmu.
“Ya ya, jawaban yang cukup bijak
dari orang yang lebih muda setahun daripada aku, haha,”
Percakapan yang berakhir dengan
cubitan-cubitan kecil di lenganku.
****
Well, sulit menceritakan ulang
semua ini tanpa melibatkan banyak nama.
Dewa, Riska, Feby, Amir,
orang-orang baru yang kutemui dulu; Edwita, Galuh, dan Cahaya, sahabatmu yang
segera juga jadi sahabatku.
Penyusunan kurikulum penyambutan
mahasiswa baru berbuntut panjang. Tidak bisa sehari selesai seperti perkiraanku
semula. Butuh sekitar dua bulan, yah seminggu dua kali tatap muka, sampai
akhirnya kurikulum rampung dikerjakan. Dua bulan, dua kali seminggu itulah kita
semua bertemu, sejak jam 8 hingga jam 4 petang.
Di sela itu, kita semua akhirnya
sering makan bersama, berlibur bersama (sesuatu yang seumur hidup belum pernah
aku lakukan), mengenal satu sama lain lebih dekat.
“Aku bukan Jawa, seperti yang
kalian semua lihat. Aku separuh Palembang, Sumatera. Pantang pulang sebelum
menang,” ujar Senja suatu malam di warung bakmi.
“Aku Jawa, tulen. Tapi aku juga
nggak mau kalah sama orang Sumatera, hahaha,” timpal Amir.
Kami semua tertawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar