Suatu ketika aku ingin memohon
pada Tuhan agar diberi kekuatan membekukan waktu, atau menahan matahari tetap
di tempatnya, dan bumi sejenak berhenti berputar.
Salah satunya, satu senja, di
mana aku menyelipkan di saku bajumu sebatang cokelat sebagai kado ulang tahunmu
yang tertunda.
Dan kamu,
Menyisipkan jemarimu tanpa ragu
di sela jemariku.
Berdiri di depanku bagai tameng
yang kukuh, menuntun jalanku.
Atau berdiri di belakangku, dan
sesekali mengecupi puncak kepalaku, melindungiku dari desakan penonton konser
yang lainnya.
Kemudian menghabiskan malam
menonton serial TV yang baru selesai kamu unduh, di kedai 24 jam.
Katamu, bukan pertama kali kamu
tidak pulang ke asrama dan bermalam di kedai 24 jam,
Tapi ini pertama kali bagimu
menghabiskan malam bersama perempuan, dengan cara begini absurd.
Aku merasa seperti pendosa, yang
tertangkap basah. Padahal rasanya tidak ada yang salah.
Aku Jingga, dan kamu Senja.
****
Senja,
Adakalanya aku merasa kelimpungan,
merasa begitu rapuh, dan telanjang.
Ada hal-hal yang tidak bisa aku
ungkapkan dengan terbuka.
Senja,
Sadarkah kamu, tanpa mentari,
senja tak akan jadi jingga?
Seperti pagi itu, saat Edwita
sahabat kita, tanpa peringatan mengirimiku pesan singkat penuh pertanyaan.
Semuanya tentang kamu. Tentang kita. Lalu siang itu juga kujemput paksa kamu
dari asramamu.
“Katakan sesuatu, Senja,”
tuntutku.
“Apa?”
Kutunjukkan pesan singkat Edwita.
Pesan yang mencemaskan.
“Masih perlu kah kujawab semua
itu, Jingga?” katamu gemas. Matamu, mata kanak-kanak yang benderang itu
menatapku lurus-lurus, sampai aku tidak tahu lagi harus bersembunyi di mana.
“Senja, tanpa mentari senja tak
akan jadi jingga. Jingga bukan milikmu seorang,”
“Lalu?”
“Menyayangi seseorang bukan hal
yang salah, tapi menyayangi milik seseorang itu hal yang berbeda,” desisku.
Salahku juga membiarkan semua ini
menjalar ke mana-mana. Ada sengatan tak kentara yang menimbulkan sesak,
kemudian panas dan kabur di pelupuk mata. Kamu tampak berpikir keras.
“Aku tidak peduli dengan
matahari. Yang kutahu, aku tetap butuh Jingga untuk menjadi Senja,” pungkasmu.
Itu terakhir kali aku melihat
wajahmu. Tanpa binar mata kanak-kanakmu. Tanpa senyum istimewamu. Sekaligus
tanpa kemarahan atau penghakiman atasku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar