Namaku Leli, Nurleli.
Usiaku sudah renta kini, mungkin mendekati 90, entahlah, aku
tak pernah tahu kapan sebenarnya aku lahir. Tubuhku tak lagi sekuat dulu.
Lihat, punggungku bungkuk, bahuku tak lagi tegap, kulit sekujur tubuhku sudah
tak lagi kencang.
Namaku Leli, Nurleli.
Yang kutahu hidup itu sederhana. Asal bisa makan sehari
sudah cukup.
Namaku Leli, Nurleli.
Rambutku sudah putih benar sekarang. Sehari-hari kututup
dengan selendang, selayaknya wanita di desaku. Aku janda beranak 5. Ah, mereka
sudah besar sekarang, sudah jadi ibu bapak juga. Halimah,si sulung merantau
hingga ke Hong Kong, TKW. Sapii, penakluk ibu kota, jadi pemulung. Yono,
lulusan SLTA, sukses jadi pegawai di kota, walaupun hanya pegawai pabrik.
Senang sekali aku melihat Yono berseragam, sudah parlente, hihi. Sani, si
kembang desa, ah malu aku bercerita tentangnya. Dulu dia pamit bekerja di
Surabaya, diajak kawan-kawan sekolahnya, tak tahunya dia jadi lonte
sekarang. Dan Wardoyo, anak bungsu yang begitu kuharapkan jadi suar bagi
keluarga kami, tak lulus SMP. Dia mengamuk. Usianya 30-an sekarang, ah tapi
kini dia terpasung di halaman belakang. Sedih rasanya membayangkan, kalau aku
sudah tiada, siapa pula yang sudi merawatnya?
Namaku Leli, Nurleli.
Sudah berapa lama aku hidup? Ah, entahlah.
Hari ini aku duduk di kursi pengadilan, menghadapi Yang
Mulia Hakim tanpa pernah paham apa salahku. Beberapa hari lalu aku pergi ke
kebun di dekat sungai seperti biasa, memetik setandan pisang dan beberapa helai
daun singkong untuk makan Wardoyo dan aku hari itu. Beras murah pemberian Pak
RT tinggal sedikit, itupun sudah berkutu, tak tega aku memberi makan Wardoyo
dengan beras seperti itu. Entah apa salahku hingga beberapa orang membawaku ke
kantor polisi.
“Keng napa niki,Pak? Kula salah napa?” ujarku sambil
sesenggukan. Terbayang wajah Wardoyo. Ah sungguh kasihan kau Nak, ibu akan
terlambat pulang.
“Niku,pisang lan godhong
pohung jenengan pundhut saking pundi?” jawab Bapak Polisi berkumis.
Kuceritakan bahwa aku memetik
setandan pisang dan daun singkong dari kebun di dekat sungai.
“Bu, itu kebun milik perusahaan
saya. Ibu harus meminta ijin dulu kepada saya kalau mau mengambil sesuatu dari
kebun saya. Kalau tidak ya begini jadinya, Bu,” ujar seorang laki-laki yang
tadi membawaku ke kantor polisi. Laki-laki dari kota.
“Napa leres, Pak? Wiwit
rumiyin nggih kula nedha saking mrika,mendhet pisang, pohung, sayuran. Kula
mboten ngertos niku kebon kagungan panjenengan,” jawabku kembali terisak.
Ah, kenapa semua jadi berbelit
seperti ini? Bertahun-tahun tidak ada yang pernah mempermasalahkan warga yang
mengambil buah dan sayuran dari kebun itu. Kebun itulah sumber penghidupan
kami, warga desa di pinggiran Jawa Tengah. Kami menggantungkan hidup kami pada
hasil bumi kebun itu ketika beras jatah pemerintah tak kunjung tiba, ketika
kami tak lagi mampu membeli minyak, ketika harga sembako melejit begitu jauh
dari jangkauan kami.
Kuperhatikan laki-laki dari kota
ini. Pakaiannya necis, badannya wangi. Pastilah orang kaya. Pastilah dia tak
pernah makan nasi aking berlauk garam. Pastilah dia tak perlu susah mencari
uang untuk makan sehari-hari, mungkin malah dia punya mobil ber-AC.
Aku tahu penduduk desa ini warga
miskin, kere. Tapi yang kutahu kami tak pernah enggan berbagi. Jika kami punya
lebih, kami tak sungkan berbagi dengan tetangga kami. Hampir semua rumah di
desa ini hanya berdinding bambu, berlantai tanah. Tapi toh kami sudah cukup
bersyukur. Bagi kami, rezeki adalah titipan. Kami takkan membiarkan satu sama
lain saling kelaparan. Mengapa laki-laki dari kota ini pelit sekali? Apalah
artinya setandan pisang dan beberapa helai daun singkong dibandingkan uangnya
yang sudah berlimpah? Lagipula kebun itu cukup luas, setandan pisang dan
beberapa helai daun singkong hanya secuil, mengapa pula dia tega menyeret
wanita renta ini ke depan polisi?
“Kebun itu akan kami jadikan
pabrik. Bayangkan bila pabrik bisa berdiri di desa ini, berapa orang yang bisa
bekerja dan mendapat penghasilan dari sana? Hahaha,” sambungnya.
Itu berarti sumber penghidupan
kami akan hilang. Berapa orang dari desa ini yang mampu bekerja di pabrik? Kami
yang sudah tua dan tak berdaya? Anak-anak kami sudah merajut hidup
masing-masing di luar sana. Bocah-bocah yang tidak pernah mengenyam bangku
sekolah? Manalah mereka tahu cara mengoperasikan mesin, lha wong baca tulis
saja tidak pernah tahu. Semua ini omong kosong belaka.
Aih, orang kota yang sok jadi
pahlawan bagi kami. Mereka yang datang membagi-bagi kaos bergambar orang yang
kami tak tahu itu siapa, mereka yang datang membawa janji perubahan dan
kemakmuran, mereka yang datang membagikan beras jatah yang walaupun tak layak
toh kami terima dengan senang hati. Setelah itu? Mereka pergi begitu saja. Tak
pernah lagi menengok ke belakang, apalagi ingat dengan kami.
Namaku Leli, Nurleli.
Kini aku berbaju panjang berwarna
jeruk. Ada tulisan “TAHANAN” menempel di punggung bajuku. Aku dituntut 2,5
tahun penjara. Ah, Wardoyo, siapa yang akan mengurusmu, Nak?
Janda tua masuk penjara hanya
karena setandan pisang dan beberapa helai daun singkong. Mungkin generasi
selanjutnya tak mengenal lagi apa itu nurani.
Yogyakarta, 19 Juni
2014
Untuk orang-orang
yang percaya nurani masih ada.
