Minggu, 29 Juni 2014

Nurani (mungkin) Sudah Mati


Namaku Leli, Nurleli.
Usiaku sudah renta kini, mungkin mendekati 90, entahlah, aku tak pernah tahu kapan sebenarnya aku lahir. Tubuhku tak lagi sekuat dulu. Lihat, punggungku bungkuk, bahuku tak lagi tegap, kulit sekujur tubuhku sudah tak lagi kencang.

Namaku Leli, Nurleli.
Yang kutahu hidup itu sederhana. Asal bisa makan sehari sudah cukup.

Namaku Leli, Nurleli.
Rambutku sudah putih benar sekarang. Sehari-hari kututup dengan selendang, selayaknya wanita di desaku. Aku janda beranak 5. Ah, mereka sudah besar sekarang, sudah jadi ibu bapak juga. Halimah,si sulung merantau hingga ke Hong Kong, TKW. Sapii, penakluk ibu kota, jadi pemulung. Yono, lulusan SLTA, sukses jadi pegawai di kota, walaupun hanya pegawai pabrik. Senang sekali aku melihat Yono berseragam, sudah parlente, hihi. Sani, si kembang desa, ah malu aku bercerita tentangnya. Dulu dia pamit bekerja di Surabaya, diajak kawan-kawan sekolahnya, tak tahunya dia jadi lonte sekarang. Dan Wardoyo, anak bungsu yang begitu kuharapkan jadi suar bagi keluarga kami, tak lulus SMP. Dia mengamuk. Usianya 30-an sekarang, ah tapi kini dia terpasung di halaman belakang. Sedih rasanya membayangkan, kalau aku sudah tiada, siapa pula yang sudi merawatnya?

Namaku Leli, Nurleli.
Sudah berapa lama aku hidup? Ah, entahlah.
Hari ini aku duduk di kursi pengadilan, menghadapi Yang Mulia Hakim tanpa pernah paham apa salahku. Beberapa hari lalu aku pergi ke kebun di dekat sungai seperti biasa, memetik setandan pisang dan beberapa helai daun singkong untuk makan Wardoyo dan aku hari itu. Beras murah pemberian Pak RT tinggal sedikit, itupun sudah berkutu, tak tega aku memberi makan Wardoyo dengan beras seperti itu. Entah apa salahku hingga beberapa orang membawaku ke kantor polisi.

Keng napa niki,Pak? Kula salah napa?” ujarku sambil sesenggukan. Terbayang wajah Wardoyo. Ah sungguh kasihan kau Nak, ibu akan terlambat pulang.
Niku,pisang lan godhong pohung jenengan pundhut saking pundi?” jawab Bapak Polisi berkumis.
Kuceritakan bahwa aku memetik setandan pisang dan daun singkong dari kebun di dekat sungai.

“Bu, itu kebun milik perusahaan saya. Ibu harus meminta ijin dulu kepada saya kalau mau mengambil sesuatu dari kebun saya. Kalau tidak ya begini jadinya, Bu,” ujar seorang laki-laki yang tadi membawaku ke kantor polisi. Laki-laki dari kota.

Napa leres, Pak? Wiwit rumiyin nggih kula nedha saking mrika,mendhet pisang, pohung, sayuran. Kula mboten ngertos niku kebon kagungan panjenengan,” jawabku kembali terisak.

Ah, kenapa semua jadi berbelit seperti ini? Bertahun-tahun tidak ada yang pernah mempermasalahkan warga yang mengambil buah dan sayuran dari kebun itu. Kebun itulah sumber penghidupan kami, warga desa di pinggiran Jawa Tengah. Kami menggantungkan hidup kami pada hasil bumi kebun itu ketika beras jatah pemerintah tak kunjung tiba, ketika kami tak lagi mampu membeli minyak, ketika harga sembako melejit begitu jauh dari jangkauan kami.

Kuperhatikan laki-laki dari kota ini. Pakaiannya necis, badannya wangi. Pastilah orang kaya. Pastilah dia tak pernah makan nasi aking berlauk garam. Pastilah dia tak perlu susah mencari uang untuk makan sehari-hari, mungkin malah dia punya mobil ber-AC.

Aku tahu penduduk desa ini warga miskin, kere. Tapi yang kutahu kami tak pernah enggan berbagi. Jika kami punya lebih, kami tak sungkan berbagi dengan tetangga kami. Hampir semua rumah di desa ini hanya berdinding bambu, berlantai tanah. Tapi toh kami sudah cukup bersyukur. Bagi kami, rezeki adalah titipan. Kami takkan membiarkan satu sama lain saling kelaparan. Mengapa laki-laki dari kota ini pelit sekali? Apalah artinya setandan pisang dan beberapa helai daun singkong dibandingkan uangnya yang sudah berlimpah? Lagipula kebun itu cukup luas, setandan pisang dan beberapa helai daun singkong hanya secuil, mengapa pula dia tega menyeret wanita renta ini ke depan polisi?

“Kebun itu akan kami jadikan pabrik. Bayangkan bila pabrik bisa berdiri di desa ini, berapa orang yang bisa bekerja dan mendapat penghasilan dari sana? Hahaha,” sambungnya.

Itu berarti sumber penghidupan kami akan hilang. Berapa orang dari desa ini yang mampu bekerja di pabrik? Kami yang sudah tua dan tak berdaya? Anak-anak kami sudah merajut hidup masing-masing di luar sana. Bocah-bocah yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah? Manalah mereka tahu cara mengoperasikan mesin, lha wong baca tulis saja tidak pernah tahu. Semua ini omong kosong belaka.

Aih, orang kota yang sok jadi pahlawan bagi kami. Mereka yang datang membagi-bagi kaos bergambar orang yang kami tak tahu itu siapa, mereka yang datang membawa janji perubahan dan kemakmuran, mereka yang datang membagikan beras jatah yang walaupun tak layak toh kami terima dengan senang hati. Setelah itu? Mereka pergi begitu saja. Tak pernah lagi menengok ke belakang, apalagi ingat dengan kami.

Namaku Leli, Nurleli.
Kini aku berbaju panjang berwarna jeruk. Ada tulisan “TAHANAN” menempel di punggung bajuku. Aku dituntut 2,5 tahun penjara. Ah, Wardoyo, siapa yang akan mengurusmu, Nak?

Janda tua masuk penjara hanya karena setandan pisang dan beberapa helai daun singkong. Mungkin generasi selanjutnya tak mengenal lagi apa itu nurani.

Yogyakarta, 19 Juni 2014
Untuk orang-orang yang percaya nurani masih ada.

Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #11


Jakarta, Mei 1998

12 Mei 1998 meletuslah suatu peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Trisakti. Mahasiswa Trisakti awalnya melakukan aksi damai dan mimbar bebas. Aksi ini diikuti mahasiswa, dosen dan karyawan Universitas Trisakti. Mahasiswa kemudian melakukan longmarch ke Gedung MPR, namun dihalangi oleh aparat. Aparat keamanan mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa hingga tercerai berai. Empat orang mahasiswa Trisakti meregang nyawa akibat peluru yang ditembakkan oleh aparat. Situasi di sekitar Universitas Trisakti menjadi sangat mencekam dengan adanya aparat dan penembak jitu di kawasan tersebut. Tragedi ini berlanjut hingga dini hari.

13, 14, 15 Mei 1998
Kerusuhan dan penjarahan besar-besaran di Jakarta, terutama di toko-toko milik etnis Tionghoa. Amuk massa semakin tak terkendali. Jakarta seperti kota mati. Warga tidak berani keluar akibat kerusuhan yang semakin meluas. Diduga juga terjadi tindakan pelecehan seksual terhadap warga etnis Tionghoa. Hal ini tentu saja menimbulkan ketakutan dan trauma yang luar biasa.

Rombongan kami tiba di Jakarta tanggal 17 Mei. 
Aku menyimpan kekhawatiran tersendiri mengenai keberadaan Dipta di sini. Kerusuhan dan pembantaian terhadap etnis Tionghoa belum reda benar. Membawa Dipta kemari seperti mengumpankan anak rusa ke mulut harimau.

“Sssstt, tidak perlu cemas, Lia, aku masih di sini,” ujar Dipta setiap kali melihatku menatapnya dengan pandangan khawatir.

18 Mei, bersama dengan ribuan mahasiswa lainnya kami berkumpul di depan Gedung MPR, dan bertekad bertahan di sana hingga Sidang Istimewa berjalan.

“Lihat Lia, semua berpihak pada kita. Bersama-sama kita akan membuktikan kebenaran. Rezim yang kejam ini akan segera runtuh!” seru Dipta di tengah teriakan tuntutan mahasiswa hari berikutnya. Dipta selalu demikian optimis, dan dia berhasil menularkan optimismenya ke orang-orang di sekitarnya.

“Presiden mengusulkan Komite Reformasi, dan berjanji segera me-reshuffle kabinet,” ujar Santoso ketika kami beristirahat malam harinya.
“Sama saja kalau Presiden tetap tidak turun, tidak akan ada perubahan yang berarti,” bantah Handoko. Aku sependapat dengannya. Tidak akan ada perubahan apapun apabila dalangnya tetap meskipun wayang-wayangnya diganti.

20 Mei, Amien Rais dan Emil Salim berpidato di depan mahasiswa yang membentuk Front Nasional untuk memperjuangkan reformasi. Inti dari pidatonya adalah menolak rancangan komite yang diusulkan oleh Presiden.

21 Mei, Presiden resmi mengundurkan diri dari jabatannya. 

Aku, Handoko, Santoso, Christine, Dipta, Bang Darjo, Bang Ismaya, Bang Amir saling berpelukan. Kami semua meneriakkan takbir, sujud syukur, terharu bahwa perjuangan selama berbulan-bulan ini berhasil. Indonesia memasuki lembaran baru sekarang. Tangis kami meledak tak tertahankan ketika Indonesia Raya kembali dikumandangkan.

Dipta menatapku lekat-lekat. “Kita berhasil, Lia,kita berhasil!” serunya seraya menjunjung badanku. Aku menangis sekaligus tertawa. Kupeluk ia erat-erat.
“Dipta, aku…,” bibir Dipta kembali melebur bersama bibirku sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. 

Itulah sore terakhir aku menatap matanya, meraba bekas lukanya, menciumi bibirnya, membaui harum tubuhnya.

Memoar #10


Kerusuhan semakin meluas di mana mana. Jakarta bergolak. Massa semakin banyak. Namun Presiden tetap bergeming di atas tahtanya. Bahkan beliau tetap mengahdiri Konferensi di Mesir, seakan negaranya aman-aman saja.

“Kita akan ke Jakarta,” ujar Bang Amir. “Kita akan bergabung dengan mahasiswa seluruh Indonesia di sana. Kita akan turut menduduki gedung MPR dan menyuarakan tuntutan rakyat,” sambungnya. Semua yang hadir mengangguk setuju. Aku tahu aku tidak akan diijinkan. Benar saja kabar kerusuhan Gejayan kemarin sampai juga ke telinga orangtuaku. Besoknya mereka langsung meminta Lik Kaji menjemputku pulang. Apa jadinya kalau aku meminta ijin ke Jakarta?

“Kamu tidak perlu ikut, Lia,” ujar Dipta.
“Tidak, aku mau ikut,” bantahku. Inilah tujuan aku ada di sini. Beribu-ribu mahasiswa meneriakkan hal yang sama, rakyat pun mendukung pergerakan ini. Aku tidak mau hanya diam dan menjadi penonton.
“Orangtuamu?”
“Biar aku yang urus,” pungkasku.

Siang itu juga aku bertolak ke Semarang menghadap orangtuaku. Sejenak aku merasa takut dengan reaksi yang akan kuhadapi nanti. Tapi tekadku sudah bulat.

“Assalamualaikum,” sapaku begitu tiba di depan rumah. Rumah ini terlihat begitu aman, seperti tidak tersentuh oleh konflik di luar sana. Sekelebat aku berpikir nikmatnya hanya berada di rumah nyaman ini.
“Waalaikumsalam. Lho kok pulang lagi, Nduk?” sahut Ibu yang langsung menciumi pipiku.
“Lho anaknya pulang kok malah bingung,” sahutku. Ibu hanya tertawa kecil. Diam diam beliau mengamatiku, memastikan tidak ada luka-luka di sekujur tubuhku.
“Bapak ada?”
“Sebentar lagi juga pulang, Nduk. Mandi dulu sana, calon dokter harus selalu bersih,” perintah Ibu. Aku memutar bola mata. Itu lagi itu lagi.
****
Bocah edan! Dikandani kok jan angel tenan!”
“Sudahlah pak, sudah, tenang dulu,”
Begitulah yang terjadi ketika aku menyampaikan keinginanku berangkat ke Jakarta. Bapak naik darah seketika. Ibu kalut memandangku dengan jengkel. Mungkin mulut beliau sudah gatal ingin mengatakan aku anak durhaka yang selalu menentang orangtua.

“Kamu itu kok aneh-aneh saja to, Nduk. Kemarin kamu melihat sendiri kerusuhan di Yogya. Lha apalagi di Jakarta? Ibu Bapak tidak mengijinkan!”
“Bu, tolonglah. Aku sudah jauh-jauh kemari untuk meminta restu Bapak Ibu, bukan meminta dimarahin begini,”
“Maumu apa sebenarnya, Nduk? Mbok sudah anteng diem di sini, toh pemerintah tidak mengganggu hidup kita. Kamu ini malah nyari gara-gara sukanya!”
“Bukan cari gara-gara, aku justru pengen membantu. Bapak ibu tahu sendiri harga-harga semakin meroket, situasi yang semakin tidak aman, kalau dibiarkan begini terus bisa hancur ini negara,”
“Omonganmu macam calon Presiden saja. Mbok sudahlah diam saja, kuliah yang bener, nggak usah ikut-ikut organisasi kampus segala,”
“Pak, bahkan dosen-dosen pun ikut turun ke jalan. Mereka juga akan ke Jakarta. Semua orang akan berkumpul di sana,”
“Pokoknya tidak!”
“Baik kalau begitu. Lia hanya meminta restu bapak ibu, dapat atau tidak Lia akan tetap ke Jakarta,”

Memoar #9


Aku dan Dipta tidak kembali ke Bunderan. Kami langsung berlari menuju kos kami di daerah Sekip. Luka Dipta harus dirawat, tidak mungkin kami melanjutkan demonstrasi. Aku membawa Dipta ke UGD Sardjito untuk mendapatkan perawatan.

“Sudah lebih baik sekarang?”. Dipta terbaring di ranjangnya setelah membersihkan badan dari sisa-sisa kebrutalan sore tadi.
“Kamu kacau sekali Lia,” ujarnya dengan nada bergurau, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kekalutannya.
“Aku nggak papa. Diminum ya tehnya. Nggak papa kan kalau aku tinggal pulang sekarang?”
Dipta menggeleng. “Tinggal lah,” ujarnya.
“Aku harus bersih-bersih, Dipta. Lagipula tidak baik perempuan ada di kamar laki-laki hingga selarut ini,” sanggahku.
“Pakai kamar mandiku. Tetaplah di sini,”

Aku mendengus heran. Kupikir-pikir tidak ada salahnya juga aku menemani Dipta malam ini. Siapa tahu dia masih memerlukan bantuanku. Lagipula, aku tidak akan tidur se ranjang dengannya bukan?

Aku membasuh mukaku yang memang demikian keruh. Kutatap wajah sinting di cermin itu. Matanya penuh ketakutan sekaligus bara api. Rahangnya demikian kaku hingga tak meninggalkan sisa feminim sama sekali. Lama sekali aku baru mau menerima kalau itu wajahku.

Tidak pernah ada dalam pikiranku aku terjebak dalam situasi gila seperti sore tadi. Memang aku tahu suatu saat aku akan melakukan aksi. Tapi sejauh yang pernah kualami, aku hanya ada di perifer, bersama teman-teman perempuan yang lain. Kerusuhan tadi bukan kerusuhan yang kecil. Kabar tentang ini pasti akan sampai juga ke telinga orangtuaku. Sepertinya mereka akan semakin cemas saja.

“Kemarilah,” pinta Dipta ketika aku keluar dari kamar mandi. Aku menatapnya bingung. Ke sana? Ke ranjangnya? Aku bergidik. Dipta mencoba menegakkan badannya. Dengan sigap kubantu dia untuk duduk. “Duduklah di sini, Lia,”. Aku pun duduk di kaki ranjangnya.
“Maafkan aku,” ujarnya lagi.
“Maaf untuk apa?”
“Maafkan aku membiarkanmu terjebak dalam kekacauan itu begitu lama. Aku kehilangan tanganmu begitu saja. Seharusnya aku melindungimu, bukan malah menelantarkanmu di tengah-tengah massa yang gila itu,”
Aku mencoba tersenyum. “Aku baik-baik saja, sungguh. Yang harus dikhawatirkan justru kamu,” sahutku.
“Tidak,kamu tidak baik-baik saja,”. Sebuah pernyataan yang memang sulit sekali kubantah. “Berhentilah bersikap semuanya baik-baik saja Lia, karena memang semuanya tidak sedang baik-baik saja,”

Benar, semua tidak sedang baik-baik saja. Mungkinkah aku salah memilih ikut terlibat? Mungkinkah semua akan baik-baik saja andaikan aku hanya menjadi mahasiswa kedokteran gigi biasa? Mungkinkah semua akan berbeda kalau aku tidak menceburkan diri dalam organisasi kampus? Mungkin sore tadi aku sudah di kos, membaca buku-buku diktatku, bukan malah terjebak kerusuhan liar itu.

Sepasang tangan kokoh meraupku dalam pelukan hangat. Airmataku meleleh satu satu. Lelah, frustasi, takut, merasa bersalah, marah, sedih, tak berdaya meruap keluar. Menyaksikan banyak kekerasan di depan mata membuatku mual. Membayangkan korban-korban yang berjatuhan membuatku merasa tak berdaya. Aku sadar kekuasaan yang ingin kami dobrak sebegitu kokohnya, sedemikian tingginya. Memangnya siapa kami berani-beraninya menggulingkan mereka? Semua perasaan itu tiba-tiba mendobrak sedemikian kerasnya.

“Ssstt, kamu akan baik-baik saja, Lia, aku janji. Jangan takut, aku tidak akan meninggalkanmu lagi,” bisik Dipta disela isakanku. Tangannya membelai punggungku dengan lembut. Aku baru sadar kami sedemikian dekatnya. Kupaksakan menarik diri.
“Maafkan aku cengeng begini. Aku mempercayaimu. Sekarang istirahatlah,” bisikku.

Kedua tangan Dipta kembali merengkuh tubuhku. Kali ini diciuminya puncak kepalaku. “Semua akan kembali baik-baik saja Lia, aku janji. Kamu akan kembali kuliah dengan tenang, Lia. Diskusi kita akan kembali aman, aku janji,”

Aku menatap matanya, lalu ketakutan. Mata itu penuh dendam, penuh kemarahan. Kemudian bibirnya melumat bibirku tanpa ampun. Malam itu kami saling bergelung, membagi dendam kami, kemarahan kami, kesedihan kami.

Memoar #8


Yogyakarta, Mei 1998

“Setelah sholat Jumat kita akan kembali melakukan aksi di Bunderan. Semuanya harap tetap menjaga suasana tetap kondusif. Aku tidak ingin jatuh korban lagi,” instruksi Bang Amir. Kami semua mengangguk patuh. Masih jelas terrekam dalam ingatan kami tragedi April lalu. Aksi damai kami diserang oleh aparat hingga jatuh korban.

Lepas sholat Jumat kami semua sudah siap di depan gelanggang dan bergerak ke Bunderan. Aksi damai kami relatif lancar. Kami kembali menyampaikan keprihatinan atas kondisi ekonomi Indonesia, tuntutan untuk menurunkan harga sembako, dan mendesak segera dilaksanakannya reformasi. Kami juga mendengar mahasiswa di IKIP, dan Sanata Dharma juga melakukan aksi serupa.

“Mahasiswa IKIP ditangkap!” seru seseorang, entah siapa, di tengah-tengah aksi. 
Kontan saja konsentrasi massa terpecah. Banyak dari kami yang akhirnya ikut menggabungkan diri berlari ke arah IKIP.

“Ayo Lia!” seru Dipta sembari menggandeng tanganku. Kulihat Christine dan Bang Darjo sudah ada di depan barisan. Handoko dan Susanto mengangguk mengisyaratkan persetujuan mereka. Aku pun mengikuti langkah-langkah lebar Dipta. Kami terus berlari menyusuri Selokan Mataram hingga tiba di kawasan Gejayan.

“Kenapa berhenti Bang?” tanya Dipta pada seseorang berjas UGM.
“Cuma isu rupanya bung!” serunya jengkel.
“Baik bang, kami istirahat sini juga. Ayo Lia,” ujar Dipta, menyuruhku duduk di trotoar. “Haus?” tanyanya lagi. Aku menggeleng. Mana sempat memikirkan minum di tengah situasi panik begini. “Sudah, minum saja,” imbuhnya sembari menyodorkan botol minumnya. Aku tak menolak.
“Mana yang lain Dipta?”
“Aku tak tahu. Kita semua berlari mengikuti arus massa tanpa koordinasi. Sepertinya tadi kulihat Bang Darjo ada di depan,” sahut Dipta. Aku mengangguk. Semoga semuanya baik-baik saja.
“Kita tetap menjalankan aksi bersama lepas maghrib nanti?”
“Kurasa, ya,” sahut Dipta.

Sekitar pukul 5 sore, rombongan kawan-kawan dari Sanata Dharma memasuki wilayah Gejayan. Kami yang sudah lama menunggu tentu saja lega melihat kedatangan mereka. Penjagaan aparat semakin diperketat. Namun kami bersama warga sekitar tak gentar mengahadapi mereka.
“Ayo Lia, kita tuntaskan hari ini!” seru Dipta. Aku tersenyum dan mengangguk. Semua masih berjalan baik-baik saja. Kami merangsek maju kembali ke UGM. Panser air yang sudah disiapkan pun dibuka, gas air mata menyiprat ke sana kemari. 

Aku kehilangan peganganku.

“Dipta!” refleks aku berteriak. Berdesakan dengan massa yang ingin maju namun terpaksa mundur. Mataku mulai pedih dan berair. “Dipta!”. Aku mulai ketakutan. Aku kehilangan orang yang kukenal dalam situasi kacau balau, di tengah massa yang saling lempar dan pukul. Ledakan bom molotov terdengar beberapa kali. Aku kian kalut.

Sebuah tangan menarikku keluar dari pusat kekacauan ini. “Kemari Lia! Syukurlah kamu tidak apa-apa,” seru Dipta begitu berhasil menarikku keluar. Ada lebam di wajahnya dan baret di lengan kirinya.
 “Kamu baik-baik saja Dipta? Ya Tuhan, tanganmu berdarah!”pekikku panik melihat luka-lukanya.
“Ya, aku baik-baik saja, Lia. Tenangkan dirimu, oke? Ini hanya luka kecil. Ingat, aku calon dokter, aku tahu cara menanganinya,” ujarnya mencoba menenangkan.
“Jangan kira aku bodoh, aku tahu luka itu cukup dalam, Dipta!” seruku panik. Aku mencari kain yang sekiranya bisa kugunakan untuk membebat lukanya. Tidak kutemukan sesuatu pun di sekitarku. Akhirnya kulepas sepatuku dan kugunakan kaos kakiku untuk membebat luka Dipta.
“Maaf aku membebatmu dengan tidak layak begini,”gumamku malu. Dipta hanya tersenyum.
“Terima kasih,” sahutnya. “Kita harus pergi dari sini, Lia. Keadaan semakin tak terkendali,” sarannya. Aku setuju.
“Kamu kuat berlari kan?” tanyaku khawatir.
“Jangan bodoh, yang luka tanganku, kakiku masih sehat wal afiat kugunakan untuk berlari. Ayo!”

Peristiwa sore kelabu ini yang kelak akan dikenang sejarah sebagai peristiwa Gejayan Berdarah. Jatuh korban dari pihak mahasiswa bernama Moses Gatotkaca, rekan kami dari Sanata Dharma. Ia wafat akibat kekerasan yang dialaminya. Korban luka-luka tak terhitung jumlahnya. Sudah lewat bertahun-tahun, tapi aku masih saja ngeri mengenangkan peristiwa berdarah ini.