Yogyakarta, Mei 1998
“Setelah sholat Jumat kita akan kembali melakukan aksi di
Bunderan. Semuanya harap tetap menjaga suasana tetap kondusif. Aku tidak ingin
jatuh korban lagi,” instruksi Bang Amir. Kami semua mengangguk patuh. Masih
jelas terrekam dalam ingatan kami tragedi April lalu. Aksi damai kami diserang
oleh aparat hingga jatuh korban.
Lepas sholat Jumat kami semua sudah siap di depan gelanggang
dan bergerak ke Bunderan. Aksi damai kami relatif lancar. Kami kembali
menyampaikan keprihatinan atas kondisi ekonomi Indonesia, tuntutan untuk
menurunkan harga sembako, dan mendesak segera dilaksanakannya reformasi. Kami
juga mendengar mahasiswa di IKIP, dan Sanata Dharma juga melakukan aksi serupa.
“Mahasiswa IKIP ditangkap!” seru seseorang, entah siapa, di
tengah-tengah aksi.
Kontan saja konsentrasi massa terpecah. Banyak dari kami
yang akhirnya ikut menggabungkan diri berlari ke arah IKIP.
“Ayo Lia!” seru Dipta sembari menggandeng tanganku. Kulihat
Christine dan Bang Darjo sudah ada di depan barisan. Handoko dan Susanto
mengangguk mengisyaratkan persetujuan mereka. Aku pun mengikuti langkah-langkah
lebar Dipta. Kami terus berlari menyusuri Selokan Mataram hingga tiba di
kawasan Gejayan.
“Kenapa berhenti Bang?” tanya Dipta pada seseorang berjas
UGM.
“Cuma isu rupanya bung!” serunya jengkel.
“Baik bang, kami istirahat sini juga. Ayo Lia,” ujar Dipta,
menyuruhku duduk di trotoar. “Haus?” tanyanya lagi. Aku menggeleng. Mana sempat
memikirkan minum di tengah situasi panik begini. “Sudah, minum saja,” imbuhnya
sembari menyodorkan botol minumnya. Aku tak menolak.
“Mana yang lain Dipta?”
“Aku tak tahu. Kita semua berlari mengikuti arus massa tanpa
koordinasi. Sepertinya tadi kulihat Bang Darjo ada di depan,” sahut Dipta. Aku
mengangguk. Semoga semuanya baik-baik saja.
“Kita tetap menjalankan aksi bersama lepas maghrib nanti?”
“Kurasa, ya,” sahut Dipta.
Sekitar pukul 5 sore, rombongan kawan-kawan dari Sanata
Dharma memasuki wilayah Gejayan. Kami yang sudah lama menunggu tentu saja lega
melihat kedatangan mereka. Penjagaan aparat semakin diperketat. Namun kami
bersama warga sekitar tak gentar mengahadapi mereka.
“Ayo Lia, kita tuntaskan hari ini!” seru Dipta. Aku
tersenyum dan mengangguk. Semua masih berjalan baik-baik saja. Kami merangsek
maju kembali ke UGM. Panser air yang sudah disiapkan pun dibuka, gas air mata
menyiprat ke sana kemari.
Aku kehilangan peganganku.
“Dipta!” refleks aku berteriak. Berdesakan dengan massa yang
ingin maju namun terpaksa mundur. Mataku mulai pedih dan berair. “Dipta!”. Aku
mulai ketakutan. Aku kehilangan orang yang kukenal dalam situasi kacau balau,
di tengah massa yang saling lempar dan pukul. Ledakan bom molotov terdengar
beberapa kali. Aku kian kalut.
Sebuah tangan menarikku keluar dari pusat kekacauan ini.
“Kemari Lia! Syukurlah kamu tidak apa-apa,” seru Dipta begitu berhasil
menarikku keluar. Ada lebam di wajahnya dan baret di lengan kirinya.
“Kamu baik-baik saja Dipta? Ya Tuhan, tanganmu
berdarah!”pekikku panik melihat luka-lukanya.
“Ya, aku baik-baik saja, Lia. Tenangkan dirimu, oke? Ini
hanya luka kecil. Ingat, aku calon dokter, aku tahu cara menanganinya,” ujarnya
mencoba menenangkan.
“Jangan kira aku bodoh, aku tahu luka itu cukup dalam,
Dipta!” seruku panik. Aku mencari kain yang sekiranya bisa kugunakan untuk
membebat lukanya. Tidak kutemukan sesuatu pun di sekitarku. Akhirnya kulepas sepatuku
dan kugunakan kaos kakiku untuk membebat luka Dipta.
“Maaf aku membebatmu dengan tidak layak begini,”gumamku
malu. Dipta hanya tersenyum.
“Terima kasih,” sahutnya. “Kita harus pergi dari sini, Lia.
Keadaan semakin tak terkendali,” sarannya. Aku setuju.
“Kamu kuat berlari kan?” tanyaku khawatir.
“Jangan bodoh, yang luka tanganku, kakiku masih sehat wal
afiat kugunakan untuk berlari. Ayo!”
Peristiwa sore kelabu ini yang kelak akan dikenang sejarah
sebagai peristiwa Gejayan Berdarah. Jatuh korban dari pihak mahasiswa bernama
Moses Gatotkaca, rekan kami dari Sanata Dharma. Ia wafat akibat kekerasan yang
dialaminya. Korban luka-luka tak terhitung jumlahnya. Sudah lewat bertahun-tahun, tapi aku masih saja ngeri
mengenangkan peristiwa berdarah ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar