Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #8


Yogyakarta, Mei 1998

“Setelah sholat Jumat kita akan kembali melakukan aksi di Bunderan. Semuanya harap tetap menjaga suasana tetap kondusif. Aku tidak ingin jatuh korban lagi,” instruksi Bang Amir. Kami semua mengangguk patuh. Masih jelas terrekam dalam ingatan kami tragedi April lalu. Aksi damai kami diserang oleh aparat hingga jatuh korban.

Lepas sholat Jumat kami semua sudah siap di depan gelanggang dan bergerak ke Bunderan. Aksi damai kami relatif lancar. Kami kembali menyampaikan keprihatinan atas kondisi ekonomi Indonesia, tuntutan untuk menurunkan harga sembako, dan mendesak segera dilaksanakannya reformasi. Kami juga mendengar mahasiswa di IKIP, dan Sanata Dharma juga melakukan aksi serupa.

“Mahasiswa IKIP ditangkap!” seru seseorang, entah siapa, di tengah-tengah aksi. 
Kontan saja konsentrasi massa terpecah. Banyak dari kami yang akhirnya ikut menggabungkan diri berlari ke arah IKIP.

“Ayo Lia!” seru Dipta sembari menggandeng tanganku. Kulihat Christine dan Bang Darjo sudah ada di depan barisan. Handoko dan Susanto mengangguk mengisyaratkan persetujuan mereka. Aku pun mengikuti langkah-langkah lebar Dipta. Kami terus berlari menyusuri Selokan Mataram hingga tiba di kawasan Gejayan.

“Kenapa berhenti Bang?” tanya Dipta pada seseorang berjas UGM.
“Cuma isu rupanya bung!” serunya jengkel.
“Baik bang, kami istirahat sini juga. Ayo Lia,” ujar Dipta, menyuruhku duduk di trotoar. “Haus?” tanyanya lagi. Aku menggeleng. Mana sempat memikirkan minum di tengah situasi panik begini. “Sudah, minum saja,” imbuhnya sembari menyodorkan botol minumnya. Aku tak menolak.
“Mana yang lain Dipta?”
“Aku tak tahu. Kita semua berlari mengikuti arus massa tanpa koordinasi. Sepertinya tadi kulihat Bang Darjo ada di depan,” sahut Dipta. Aku mengangguk. Semoga semuanya baik-baik saja.
“Kita tetap menjalankan aksi bersama lepas maghrib nanti?”
“Kurasa, ya,” sahut Dipta.

Sekitar pukul 5 sore, rombongan kawan-kawan dari Sanata Dharma memasuki wilayah Gejayan. Kami yang sudah lama menunggu tentu saja lega melihat kedatangan mereka. Penjagaan aparat semakin diperketat. Namun kami bersama warga sekitar tak gentar mengahadapi mereka.
“Ayo Lia, kita tuntaskan hari ini!” seru Dipta. Aku tersenyum dan mengangguk. Semua masih berjalan baik-baik saja. Kami merangsek maju kembali ke UGM. Panser air yang sudah disiapkan pun dibuka, gas air mata menyiprat ke sana kemari. 

Aku kehilangan peganganku.

“Dipta!” refleks aku berteriak. Berdesakan dengan massa yang ingin maju namun terpaksa mundur. Mataku mulai pedih dan berair. “Dipta!”. Aku mulai ketakutan. Aku kehilangan orang yang kukenal dalam situasi kacau balau, di tengah massa yang saling lempar dan pukul. Ledakan bom molotov terdengar beberapa kali. Aku kian kalut.

Sebuah tangan menarikku keluar dari pusat kekacauan ini. “Kemari Lia! Syukurlah kamu tidak apa-apa,” seru Dipta begitu berhasil menarikku keluar. Ada lebam di wajahnya dan baret di lengan kirinya.
 “Kamu baik-baik saja Dipta? Ya Tuhan, tanganmu berdarah!”pekikku panik melihat luka-lukanya.
“Ya, aku baik-baik saja, Lia. Tenangkan dirimu, oke? Ini hanya luka kecil. Ingat, aku calon dokter, aku tahu cara menanganinya,” ujarnya mencoba menenangkan.
“Jangan kira aku bodoh, aku tahu luka itu cukup dalam, Dipta!” seruku panik. Aku mencari kain yang sekiranya bisa kugunakan untuk membebat lukanya. Tidak kutemukan sesuatu pun di sekitarku. Akhirnya kulepas sepatuku dan kugunakan kaos kakiku untuk membebat luka Dipta.
“Maaf aku membebatmu dengan tidak layak begini,”gumamku malu. Dipta hanya tersenyum.
“Terima kasih,” sahutnya. “Kita harus pergi dari sini, Lia. Keadaan semakin tak terkendali,” sarannya. Aku setuju.
“Kamu kuat berlari kan?” tanyaku khawatir.
“Jangan bodoh, yang luka tanganku, kakiku masih sehat wal afiat kugunakan untuk berlari. Ayo!”

Peristiwa sore kelabu ini yang kelak akan dikenang sejarah sebagai peristiwa Gejayan Berdarah. Jatuh korban dari pihak mahasiswa bernama Moses Gatotkaca, rekan kami dari Sanata Dharma. Ia wafat akibat kekerasan yang dialaminya. Korban luka-luka tak terhitung jumlahnya. Sudah lewat bertahun-tahun, tapi aku masih saja ngeri mengenangkan peristiwa berdarah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar