Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #10


Kerusuhan semakin meluas di mana mana. Jakarta bergolak. Massa semakin banyak. Namun Presiden tetap bergeming di atas tahtanya. Bahkan beliau tetap mengahdiri Konferensi di Mesir, seakan negaranya aman-aman saja.

“Kita akan ke Jakarta,” ujar Bang Amir. “Kita akan bergabung dengan mahasiswa seluruh Indonesia di sana. Kita akan turut menduduki gedung MPR dan menyuarakan tuntutan rakyat,” sambungnya. Semua yang hadir mengangguk setuju. Aku tahu aku tidak akan diijinkan. Benar saja kabar kerusuhan Gejayan kemarin sampai juga ke telinga orangtuaku. Besoknya mereka langsung meminta Lik Kaji menjemputku pulang. Apa jadinya kalau aku meminta ijin ke Jakarta?

“Kamu tidak perlu ikut, Lia,” ujar Dipta.
“Tidak, aku mau ikut,” bantahku. Inilah tujuan aku ada di sini. Beribu-ribu mahasiswa meneriakkan hal yang sama, rakyat pun mendukung pergerakan ini. Aku tidak mau hanya diam dan menjadi penonton.
“Orangtuamu?”
“Biar aku yang urus,” pungkasku.

Siang itu juga aku bertolak ke Semarang menghadap orangtuaku. Sejenak aku merasa takut dengan reaksi yang akan kuhadapi nanti. Tapi tekadku sudah bulat.

“Assalamualaikum,” sapaku begitu tiba di depan rumah. Rumah ini terlihat begitu aman, seperti tidak tersentuh oleh konflik di luar sana. Sekelebat aku berpikir nikmatnya hanya berada di rumah nyaman ini.
“Waalaikumsalam. Lho kok pulang lagi, Nduk?” sahut Ibu yang langsung menciumi pipiku.
“Lho anaknya pulang kok malah bingung,” sahutku. Ibu hanya tertawa kecil. Diam diam beliau mengamatiku, memastikan tidak ada luka-luka di sekujur tubuhku.
“Bapak ada?”
“Sebentar lagi juga pulang, Nduk. Mandi dulu sana, calon dokter harus selalu bersih,” perintah Ibu. Aku memutar bola mata. Itu lagi itu lagi.
****
Bocah edan! Dikandani kok jan angel tenan!”
“Sudahlah pak, sudah, tenang dulu,”
Begitulah yang terjadi ketika aku menyampaikan keinginanku berangkat ke Jakarta. Bapak naik darah seketika. Ibu kalut memandangku dengan jengkel. Mungkin mulut beliau sudah gatal ingin mengatakan aku anak durhaka yang selalu menentang orangtua.

“Kamu itu kok aneh-aneh saja to, Nduk. Kemarin kamu melihat sendiri kerusuhan di Yogya. Lha apalagi di Jakarta? Ibu Bapak tidak mengijinkan!”
“Bu, tolonglah. Aku sudah jauh-jauh kemari untuk meminta restu Bapak Ibu, bukan meminta dimarahin begini,”
“Maumu apa sebenarnya, Nduk? Mbok sudah anteng diem di sini, toh pemerintah tidak mengganggu hidup kita. Kamu ini malah nyari gara-gara sukanya!”
“Bukan cari gara-gara, aku justru pengen membantu. Bapak ibu tahu sendiri harga-harga semakin meroket, situasi yang semakin tidak aman, kalau dibiarkan begini terus bisa hancur ini negara,”
“Omonganmu macam calon Presiden saja. Mbok sudahlah diam saja, kuliah yang bener, nggak usah ikut-ikut organisasi kampus segala,”
“Pak, bahkan dosen-dosen pun ikut turun ke jalan. Mereka juga akan ke Jakarta. Semua orang akan berkumpul di sana,”
“Pokoknya tidak!”
“Baik kalau begitu. Lia hanya meminta restu bapak ibu, dapat atau tidak Lia akan tetap ke Jakarta,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar