Kerusuhan semakin meluas di mana mana. Jakarta bergolak.
Massa semakin banyak. Namun Presiden tetap bergeming di atas tahtanya. Bahkan
beliau tetap mengahdiri Konferensi di Mesir, seakan negaranya aman-aman saja.
“Kita akan ke Jakarta,” ujar Bang Amir. “Kita akan bergabung
dengan mahasiswa seluruh Indonesia di sana. Kita akan turut menduduki gedung
MPR dan menyuarakan tuntutan rakyat,” sambungnya. Semua yang hadir mengangguk
setuju. Aku tahu aku tidak akan diijinkan. Benar saja kabar kerusuhan Gejayan
kemarin sampai juga ke telinga orangtuaku. Besoknya mereka langsung meminta Lik
Kaji menjemputku pulang. Apa jadinya kalau aku meminta ijin ke Jakarta?
“Kamu tidak perlu ikut, Lia,” ujar Dipta.
“Tidak, aku mau ikut,” bantahku. Inilah tujuan aku ada di
sini. Beribu-ribu mahasiswa meneriakkan hal yang sama, rakyat pun mendukung
pergerakan ini. Aku tidak mau hanya diam dan menjadi penonton.
“Orangtuamu?”
“Biar aku yang urus,” pungkasku.
Siang itu juga aku bertolak ke Semarang menghadap
orangtuaku. Sejenak aku merasa takut dengan reaksi yang akan kuhadapi nanti.
Tapi tekadku sudah bulat.
“Assalamualaikum,” sapaku begitu tiba di depan rumah. Rumah
ini terlihat begitu aman, seperti tidak tersentuh oleh konflik di luar sana.
Sekelebat aku berpikir nikmatnya hanya berada di rumah nyaman ini.
“Waalaikumsalam. Lho kok pulang lagi, Nduk?” sahut Ibu yang
langsung menciumi pipiku.
“Lho anaknya pulang kok malah bingung,” sahutku. Ibu hanya
tertawa kecil. Diam diam beliau mengamatiku, memastikan tidak ada luka-luka di
sekujur tubuhku.
“Bapak ada?”
“Sebentar lagi juga pulang, Nduk. Mandi dulu sana, calon
dokter harus selalu bersih,” perintah Ibu. Aku memutar bola mata. Itu lagi itu
lagi.
****
“Bocah edan! Dikandani kok jan angel tenan!”
“Sudahlah pak, sudah, tenang dulu,”
Begitulah yang terjadi ketika aku menyampaikan keinginanku
berangkat ke Jakarta. Bapak naik darah seketika. Ibu kalut memandangku dengan
jengkel. Mungkin mulut beliau sudah gatal ingin mengatakan aku anak durhaka
yang selalu menentang orangtua.
“Kamu itu kok aneh-aneh saja to, Nduk. Kemarin kamu melihat
sendiri kerusuhan di Yogya. Lha apalagi di Jakarta? Ibu Bapak tidak mengijinkan!”
“Bu, tolonglah. Aku sudah jauh-jauh kemari untuk meminta
restu Bapak Ibu, bukan meminta dimarahin begini,”
“Maumu apa sebenarnya, Nduk? Mbok sudah anteng diem di sini,
toh pemerintah tidak mengganggu hidup kita. Kamu ini malah nyari gara-gara sukanya!”
“Bukan cari gara-gara, aku justru pengen membantu. Bapak ibu
tahu sendiri harga-harga semakin meroket, situasi yang semakin tidak aman,
kalau dibiarkan begini terus bisa hancur ini negara,”
“Omonganmu macam calon Presiden saja. Mbok sudahlah diam saja,
kuliah yang bener, nggak usah ikut-ikut organisasi kampus segala,”
“Pak, bahkan dosen-dosen pun ikut turun ke jalan. Mereka
juga akan ke Jakarta. Semua orang akan berkumpul di sana,”
“Pokoknya tidak!”
“Baik kalau begitu. Lia hanya meminta restu bapak ibu, dapat
atau tidak Lia akan tetap ke Jakarta,”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar