Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #11


Jakarta, Mei 1998

12 Mei 1998 meletuslah suatu peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Trisakti. Mahasiswa Trisakti awalnya melakukan aksi damai dan mimbar bebas. Aksi ini diikuti mahasiswa, dosen dan karyawan Universitas Trisakti. Mahasiswa kemudian melakukan longmarch ke Gedung MPR, namun dihalangi oleh aparat. Aparat keamanan mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa hingga tercerai berai. Empat orang mahasiswa Trisakti meregang nyawa akibat peluru yang ditembakkan oleh aparat. Situasi di sekitar Universitas Trisakti menjadi sangat mencekam dengan adanya aparat dan penembak jitu di kawasan tersebut. Tragedi ini berlanjut hingga dini hari.

13, 14, 15 Mei 1998
Kerusuhan dan penjarahan besar-besaran di Jakarta, terutama di toko-toko milik etnis Tionghoa. Amuk massa semakin tak terkendali. Jakarta seperti kota mati. Warga tidak berani keluar akibat kerusuhan yang semakin meluas. Diduga juga terjadi tindakan pelecehan seksual terhadap warga etnis Tionghoa. Hal ini tentu saja menimbulkan ketakutan dan trauma yang luar biasa.

Rombongan kami tiba di Jakarta tanggal 17 Mei. 
Aku menyimpan kekhawatiran tersendiri mengenai keberadaan Dipta di sini. Kerusuhan dan pembantaian terhadap etnis Tionghoa belum reda benar. Membawa Dipta kemari seperti mengumpankan anak rusa ke mulut harimau.

“Sssstt, tidak perlu cemas, Lia, aku masih di sini,” ujar Dipta setiap kali melihatku menatapnya dengan pandangan khawatir.

18 Mei, bersama dengan ribuan mahasiswa lainnya kami berkumpul di depan Gedung MPR, dan bertekad bertahan di sana hingga Sidang Istimewa berjalan.

“Lihat Lia, semua berpihak pada kita. Bersama-sama kita akan membuktikan kebenaran. Rezim yang kejam ini akan segera runtuh!” seru Dipta di tengah teriakan tuntutan mahasiswa hari berikutnya. Dipta selalu demikian optimis, dan dia berhasil menularkan optimismenya ke orang-orang di sekitarnya.

“Presiden mengusulkan Komite Reformasi, dan berjanji segera me-reshuffle kabinet,” ujar Santoso ketika kami beristirahat malam harinya.
“Sama saja kalau Presiden tetap tidak turun, tidak akan ada perubahan yang berarti,” bantah Handoko. Aku sependapat dengannya. Tidak akan ada perubahan apapun apabila dalangnya tetap meskipun wayang-wayangnya diganti.

20 Mei, Amien Rais dan Emil Salim berpidato di depan mahasiswa yang membentuk Front Nasional untuk memperjuangkan reformasi. Inti dari pidatonya adalah menolak rancangan komite yang diusulkan oleh Presiden.

21 Mei, Presiden resmi mengundurkan diri dari jabatannya. 

Aku, Handoko, Santoso, Christine, Dipta, Bang Darjo, Bang Ismaya, Bang Amir saling berpelukan. Kami semua meneriakkan takbir, sujud syukur, terharu bahwa perjuangan selama berbulan-bulan ini berhasil. Indonesia memasuki lembaran baru sekarang. Tangis kami meledak tak tertahankan ketika Indonesia Raya kembali dikumandangkan.

Dipta menatapku lekat-lekat. “Kita berhasil, Lia,kita berhasil!” serunya seraya menjunjung badanku. Aku menangis sekaligus tertawa. Kupeluk ia erat-erat.
“Dipta, aku…,” bibir Dipta kembali melebur bersama bibirku sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. 

Itulah sore terakhir aku menatap matanya, meraba bekas lukanya, menciumi bibirnya, membaui harum tubuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar