Jakarta, Mei 1998
12 Mei 1998 meletuslah suatu peristiwa yang dikenal dengan
Tragedi Trisakti. Mahasiswa Trisakti awalnya melakukan aksi damai dan mimbar
bebas. Aksi ini diikuti mahasiswa, dosen dan karyawan Universitas Trisakti.
Mahasiswa kemudian melakukan longmarch ke Gedung MPR, namun dihalangi oleh
aparat. Aparat keamanan mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa hingga
tercerai berai. Empat orang mahasiswa Trisakti meregang nyawa akibat peluru yang
ditembakkan oleh aparat. Situasi di sekitar Universitas Trisakti menjadi sangat
mencekam dengan adanya aparat dan penembak jitu di kawasan tersebut. Tragedi
ini berlanjut hingga dini hari.
13, 14, 15 Mei 1998
Kerusuhan dan penjarahan besar-besaran di Jakarta, terutama
di toko-toko milik etnis Tionghoa. Amuk massa semakin tak terkendali. Jakarta
seperti kota mati. Warga tidak berani keluar akibat kerusuhan yang semakin
meluas. Diduga juga terjadi tindakan pelecehan seksual terhadap warga etnis
Tionghoa. Hal ini tentu saja menimbulkan ketakutan dan trauma yang luar biasa.
Rombongan kami tiba di Jakarta tanggal 17 Mei.
Aku menyimpan
kekhawatiran tersendiri mengenai keberadaan Dipta di sini. Kerusuhan dan
pembantaian terhadap etnis Tionghoa belum reda benar. Membawa Dipta kemari
seperti mengumpankan anak rusa ke mulut harimau.
“Sssstt, tidak perlu cemas, Lia, aku masih di sini,” ujar
Dipta setiap kali melihatku menatapnya dengan pandangan khawatir.
18 Mei, bersama dengan ribuan mahasiswa lainnya kami
berkumpul di depan Gedung MPR, dan bertekad bertahan di sana hingga Sidang
Istimewa berjalan.
“Lihat Lia, semua berpihak pada kita. Bersama-sama kita akan
membuktikan kebenaran. Rezim yang kejam ini akan segera runtuh!” seru Dipta di
tengah teriakan tuntutan mahasiswa hari berikutnya. Dipta selalu demikian
optimis, dan dia berhasil menularkan optimismenya ke orang-orang di sekitarnya.
“Presiden mengusulkan Komite Reformasi, dan berjanji segera
me-reshuffle kabinet,” ujar Santoso ketika kami beristirahat malam
harinya.
“Sama saja kalau Presiden tetap tidak turun, tidak akan ada
perubahan yang berarti,” bantah Handoko. Aku sependapat dengannya. Tidak akan
ada perubahan apapun apabila dalangnya tetap meskipun wayang-wayangnya diganti.
20 Mei, Amien Rais dan Emil Salim berpidato di depan
mahasiswa yang membentuk Front Nasional untuk memperjuangkan reformasi. Inti
dari pidatonya adalah menolak rancangan komite yang diusulkan oleh Presiden.
21 Mei, Presiden resmi mengundurkan diri dari jabatannya.
Aku, Handoko, Santoso, Christine, Dipta, Bang Darjo, Bang Ismaya, Bang Amir
saling berpelukan. Kami semua meneriakkan takbir, sujud syukur, terharu bahwa
perjuangan selama berbulan-bulan ini berhasil. Indonesia memasuki lembaran baru
sekarang. Tangis kami meledak tak tertahankan ketika Indonesia Raya kembali
dikumandangkan.
Dipta menatapku lekat-lekat. “Kita berhasil, Lia,kita
berhasil!” serunya seraya menjunjung badanku. Aku menangis sekaligus tertawa.
Kupeluk ia erat-erat.
“Dipta, aku…,” bibir Dipta kembali melebur bersama bibirku sebelum
aku sempat menyelesaikan kalimatku.
Itulah sore terakhir aku menatap matanya,
meraba bekas lukanya, menciumi bibirnya, membaui harum tubuhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar