Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #6


Menolak lupa.
Poster dengan gambar seorang lelaki yang kutemui sepanjang jalan menuju Malioboro itu menggelitikku.

“Hai,”
“Hai,” sahutku. 
Situasi yang aneh. Kalau ini terjadi bertahun-tahun yang lalu pasti semua akan lebih mudah.

“Apa kabar?”
“Baik,” jawabku singkat. Berbagai pertanyaan menggantung di kepalaku. Apa kabarnya? Ke mana saja dia selama ini? Apakah semuanya baik-baik saja? Apa yang terjadi padanya lima belas tahun yang lalu? Mengapa ia bisa hilang begitu saja?

“Kamu ingat tempat ini, Lia?”
“Ya, tentu saja,”. Bagaimana mungkin aku tidak ingat? Tempat ini, tempat sebagian besar kisah ini bermula dan mengalir. Bagaimana aku bisa lupa?

Gelanggang Mahasiswa. 
Aku berdiri di persimpangan lorong-lorongnya. Sepanjang lorong ini berderet basecamp unit kegiatan mahasiswa yang tak pernah sepi. Lapangan indoornya sudah dikunci. Agak ke dalam ada panggung terbuka yang sering digunakan untuk pementasan teater dan seni tari.

Papan tulisan itu masih menggantung di tempat yang sama. “Sekretariat BEM KM UGM”.

“Aku rindu tempat ini. Aku rindu duduk bersama Christine, Handoko, Santoso, dan kamu hingga malam hari di sini. Aku rindu diskusi-diskusi kita. Aku rindu berdesakan di dalam sana demi membahas banyak hal,” ujarnya, membuatku tergeragap.
Aku pun sama.
“Ingatkah kamu Handoko yang nyaris berkelahi dengan orang tak dikenal yang sering datang ke Gelanggang tiba-tiba?”
Aku mengangguk. Kalau bukan karena Bang Ismaya dan kawan-kawan mungkin perkelahian itu akan benar-benar terjadi.
“Apa kabar, Dipta?” tanyaku akhirnya, membuat Dipta yang asyik menekuri setiap sudut Gelanggang menoleh kepadaku.
Hanya pelukan yang kudapatkan sebagai jawaban.

****

Dipta, tinggi besar dengan bahunya yang lebar. Kuingat betul cara jalannya, yang masih sama hingga sekarang. Masih dengan senyum yang sama. Hanya matanya yang terlihat, emm, tua.

“Sudah makan?”. Aku menggeleng. “Dasar, buat apa kau jauh-jauh terbang ke sini kalau tidak menikmati hidangan di Wisma tadi?” sambungnya. Aku tertawa. Khas Dipta.

Kami berjalan menyusuri jalan di kompleks UGM dari Bulevar, melewati lapangan dan Grha Sabha Pramana. Mau tak mau aku kembali mengingat peristiwa belasan tahun silam. Semua orang berkumpul di sepanjang jalan ini, memajang poster bertuliskan berbagai gugatan, satu suara meneriakkan reformasi. Turut serta bersama kami Prof Teuku Jacob, Amien Rais, Mochtar Mas’oed, Prof Koento Wibisono dan dosen-dosen lainnya bersama mendengarkan Ridaya La Ode Ngkowe membacakan deklarasi keprihatinan KM UGM. Ribuan tangan teracung, ribuan bibir bergerak, Darah Juang menggema sedemikian dahsyatnya.

Selama beberapa saat aku dan Dipta sama-sama tidak bergerak menekuri jalanan ini. Tidak ada yang bicara. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, mengenangkan hal yang sama.
“Sudah lama sekali, Dipta. Lihat, kampus kita sudah sedemikian cantiknya, tidak ada lagi bekas berdarah-darah yang kita tinggalkan bertahun silam,” ujarku lirih.
“Aku senang, Lia. Inilah hasil perjuangan kita. Semua ini lahir dari pikiran bersama, tujuan yang sama, dan gelora yang sama. Sudah sepantasnya kamu ikut bangga,”
“Benar. Dulu aku selalu membayangkan generasi penerus kita yang benar-benar merdeka, yang tidak perlu merunduk menyampaikan gagasan, yang tidak perlu merasa ketakutan dan terancam hidupnya. Sekarang mimpi-mimpi itu sudah terwujud,”
“Hanya ini yang bisa kita berikan untuk generasi selanjutnya. Kuharap mereka bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang dulu bersama rekan-rekan kita buka,”

Aku mengangguk. Senang rasanya bisa memberikan arti, walaupun tak seberapa. Semua orang yang lahir sepantaran denganku pasti mengerti. Kami bukan hanya saksi, tetapi kamilah penggerak roda sejarah itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar