Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #2


Yogyakarta, 1996

“Hidup Mahasiswa Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia!”

Teriakan penuh semangat ini yang selalu bergaung di telingaku sejak awal mula kedatanganku di kampus kebanggaan ini, dan tak dinyana hingga bertahun-tahun kemudian. 

Hari ini, aku resmi bergabung sebagai pengurus KM Universitas. Sejak semula aku berniat mengabdikan diri di sini. Awalnya bukan karena apa-apa, hanya karena orasi Ketua Umum KM saat penyambutan mahasiswa baru yang menyadarkan aku. Bertahun-tahun kami menempuh pendidikan yang egosentris. Keilmuan yang kami dapat hingga bangku sekolah menengah hanya berorientasi kepada masa depan kami sebagai individu, tapi tidak pernah kami dididik untuk menjadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar kami. Padahal, bangku-bangku sekolah yang kami duduki tiap hari tak lain adalah hasil keringat rakyat tanpa terkecuali. Maka aku sepakat, salah satu cara kami membalas budi adalah dengan melakukan aksi, menyuarakan aspirasi mereka.

“Kamu itu berangkat ke Yogya untuk kuliah, Nduk! Jadi dokter! Ngapain kamu ikut-ikut organisasi apalah itu segala?!”
“Bapak, lantas apa bedanya Lia dengan adik-adik Lia di SMA? Apa bedanya Lia dengan teman-teman Lia yang tidak berkesempatan masuk perguruan tinggi? Lia ini mahasiswa, Pak, bukan lagi sekedar siswa! Di perguruan tinggi ini Lia diberi kesempatan, diberikan ruang untuk bersuara, lantas mengapa Lia harus diam?”
“Nduk, bukan kami melarang, hanya saja kami rasa situasinya tidak tepat. Kamu dengar sendiri kan, banyak mahasiswa yang ikut-ikutan demo lantas hilang tanpa jejak. Kamu pasti lebih tahu itu Nduk!”
“Lia tahu, Lia mengerti, dan Lia tidak takut! Justru karena mereka dibungkam, Lia mau membantu mereka bersuara,”
“Kamu ini perempuan, Nduk, anak ibu satu-satunya,”
“Lantas kenapa kalau Lia perempuan? Lia juga punya pikiran untuk disampaikan, Lia juga punya mulut untuk bersuara, Lia punya tangan dan kaki untuk bertindak. Apa salahnya?”
“Kamu tega sama kami, Nduk? Kamu pernah mikir perasaan kami? Kamu pernah berpikir kalau ibumu tiap malam nangis di dalam sholat cuma karena kuatir sama kamu Nduk? Tidak kan?!”
“Bapak, ibu, berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Lia hanya ingin mengikuti organisasi kampus, sederhana. Lia sudah pikirkan risikonya, dan Lia rasa Lia mampu menanggung itu. Lagipula, KM itu organisasi resmi, sudah diatur pemerintah. Jadi, bapak ibu tidak perlu khawatir,”
“Lihat anakmu ini, Pak.. Susah payah kita sekolahkan, kok malah mau neko-neko ikut organisasi kampus. Paling kerjaannya demo melulu. Pusing ibu ini,”
Kowe kuwi pancen angel dikandani. Sak karepmu! Bapak ibu berlepas tangan dari risiko-risiko yang kamu buat sendiri. Kami cuma mau dengar kamu lulus tepat waktu dengan nilai yang baik. Selain itu, terserah!”

Berbekal restu setengah hati orangtuaku inilah sekarang aku berdiri menghadiri apel pelantikan pengurus baru KM. Dengan jas karung goni dan logo UGM tersemat di dada kiriku aku merasa menjadi mahasiswa yang sesungguhnya.

“Hidup Mahasiswa Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia!”
****
Yogyakarta, Desember 2013

Yogya sudah jauh berbeda dari Yogya yang dulu pernah kutinggali. Jalanannya sudah penuh sesak dengan kendaraan. Sepanjang jalannya sudah banyak berdiri gedung-gedung indah yang menjulang. Tapi nuansanya tetap sama, selalu sama.

Aku tiba di Yogya sudah sejam yang lalu. Sengaja kupilih penginapan dekat dengan Kedokteran Gigi. Rindu sekali rasanya. Belasan tahun lalu aku ada di sana, melewati lorong-lorong kelasnya menenteng diktat setebal bantal, bersama teman-temanku kadang kami bermain voli di lapangan depan. Rindu sekali rasanya, berjuang menghafalkan sebegitu banyak kosa kata asing anatomi, berjam-jam di perpustakaan belajar menjelang ujian, lembur hingga malam hari mengerjakan praktikum. Aku ingat seorang sahabat pernah berkata, “Hidup di KG tidak pernah mudah. Perlu otak dan hati seorang dokter, keterampilan seorang engineer, dan kreativitas seorang seniman,”. Aku selalu tertawa mendengarnya, tetapi kuakui kebenarannya.

Sore ini aku memilih berjalan-jalan di sekitar kampus. Aneh rasanya kembali berjalan kaki melewati jalanan di Sekip. Pohon-pohon akasia dan ketapang berbaik hati berbagi keteduhan sepanjang jalan. Kutatap gerbang Fakultas Kedokteran Gigi, ragu. Kulihat beberapa mahasiswa masih memakai jas laboratorium berjalan-jalan di koridor ruang praktikum. Aku tersenyum, sangat khas KG.
“Selamat sore,Pak,” sapaku pada satpam yang berjaga di depan.
“Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh, tidak, saya hanya ingin berjalan-jalan di kampus sebentar, nostalgia lah, Pak. Boleh?”
Bapak satpam itu tersenyum, dan mempersilakan aku masuk.

Kampus kedokteran gigi tidak terlalu luas. Jangan bayangkan kampusku ini seperti kampus Fakultas Kedokteran yang mempunyai ruang kuliah yang cantik, dengan fasilitas serba lengkap. Kampusku cukup sederhana, meskipun tidak dapat dielakkan fasilitasnya lebih baik dibandingkan fakultas lain pada masanya. Lapangan yang dulu sering kami gunakan untuk bermain voli di sore hari kini berubah fungsi menjadi lapangan parkir mobil. Mahasiswa jaman sekarang.

Di sebelah utara dibatasi oleh portal yang memisahkan kampusku dengan Jalan Medika yang membelah FKG, FK, dan Fakultas Farmasi. Tak ayal jantungku berdegup lebih cepat manakala aku menyebrangi Jalan Medika.

Fakultas Kedokteran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar