Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #5


Maret 1998

1 Maret 1998
Sidang Istimewa MPR dengan agenda mendengarkan laporan pertanggungjawaban Presiden. Laporan ini ditolak, dengan pertimbangan ambruknya kondisi ekonomi Indonesia, semakin melejitnya hutang luar negeri Indonesia, dan banyaknya kasus-kasus politik yang bertentangan dengan konstitusi. Presiden juga dinilai melanggar kebebasan pers dengan membredel berbagai media massa, ditambah lagi dengan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama kepemimpinannya.

Situasi politik semakin kacau. 
3 Maret 1998, mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga bersama dengan warga sekitar melakukan aksi menuntut mundurnya Presiden. 5 Maret 1998, ribuan mahasiswa UGM kembali turun ke jalan menuntut hal serupa. Aksi mahasiswa juga kembali terjadi di Jakarta oleh mahasiswa UI dan merembet ke IKIP Rawamangun. Kongres Indonesia yang rencananya akan mengusung reformasi politik dan ekonomi, serta mengajukan sejumlah tokoh sebagai pemimpin pemerintahan yang baru terpaksa gagal dilaksanakan karena dibubarkan secara paksa oleh aparat. Beberapa nama aktivis pro-demokrasi yang terlibat ditangkap dan didakwa melanggar undang-undang mengenai kegiatan politik.

Yogyakarta, Maret 1998.

Pulang kamu nduk titik Situasi mulai berbahaya titik Jangan ikut demo demo segala titik

Sebaris telegram singkat yang kuterima dari Semarang mau tak mau membuatku berpikir kembali. Benarkah aktivitasku sudah kelewat batas? Kekhawatiran orangtuaku memang beralasan. Aku dengar sendiri berita mengenai penangkapan mahasiswa dan para aktivis pro-reformasi. Kampus memang sudah membuka jalan hingga akhirnya kami bisa ikut turun ke jalan. Tapi justru karena itu risiko tertangkapnya kami semakin besar.
Sebegitu kuatnya rezim ini. Kurasa perlu gerakan seluruh rakyat untuk meruntuhkan kekuatannya. Laporan pertanggungjawaban Presiden memang sudah ditolak dalam Sidang Istimewa MPR, namun kenyataannya beliau tetap saja kokoh di puncak pimpinan.

“Kita ini akademisi, sudah seharusnya kita mengkritisi apa yang terjadi. Kalian tidak memperjuangkan hal yang salah. Kita mungkin perlu berteriak lebih keras lagi untuk membuka telinga mereka. Tentu saja, yang saya harapkan teriakan kita bukan hanya jadi angin lalu, tapi menjadi pisau untuk mengoyak ketulian mereka!” seru Pak Suryanto saat menemui kami setelah mimbar bebas beberapa hari yang lalu.
“Benar. Kita ini pemuda. Ingat kalian tentang Sumpah Pemuda? Dengan semangatnya, ide-idenya, pemuda Indonesia berhasil membawa negara ini bersatu hingga berdaulat. Maka dengan semangat yang sama kita pasti bisa merubah keadaan bangsa kita sekarang ini menjadi lebih bak!” sambung Bang Darjo.
“Hidup mahasiswa Indonesia! Hidup rakyat Indonesia!”, yang kemudian ditirukan semua yang hadir di sekre sore itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar