Yogyakarta, Februari 1998
“Situasi politik sudah semakin kacau. Kondisi ekonomi pun
semakin tak terkendali. Apa kita mau diam saja di sini?” ujar Handoko.
“Demonstrasi mulai pecah di berbagai wilayah. UI, Unsoed
sudah bergerak, padahal mereka selama ini terkenal konservatif. Bahkan rekan
kita di UII pun sudah mengadakan mimbar bebas menyoroti krisis moneter saat
ini,” imbuh Santoso.
“Pikirkan lagi lah Boy, kau tahu sendiri rencana seminar
kita tempo hari tak jadi digelar. Rektorat takut. Apalagi kalau kita mau
mengadakan aksi?” tukas Christine
“Lalu kita mau apa? Tetap diam seperti orang buta tuli
begini? Malu lah kita dengan simbol kerakyatan yang kita banggakan ini! Rakyat
sedang butuh suara kita!” seru Handoko.
“Aku yakin kita pasti bisa bertindak, Han. Dosen-dosen kita
tak semuanya takut. Kau kan dari Fisipol, Han, lobi lah dosen-dosenmu. Ajaklah
diskusi terlebih dahulu,” usul Pradipta.
“Benar kata Dipta. Kalau memang kita mau melakukan aksi,
kita perlu dukungan. Kalau tidak, aksi kita ini hanya akan jadi misi bunuh
diri. Bagaimana pendapat senat?” tanyaku.
“Senat justru ingin kita segera mengambil tindakan. Mereka
juga tengah memantau kondisi di kampus lain,”
“Kalau begitu, segera kita matangkan diskusi kita mengenai
topik yang akan kita sampaikan. Masing-masing dari kita harus bisa melobi pihak
rektorat agar setidaknya mengijinkan KM melakukan mimbar bebas,” ujar Santoso.
“Sebaiknya kita berpindah tempat. Aku curiga ada mata-mata
di sekitar kosku,” ujar Handoko lirih.
“Baik. Ke mana?”
Kami berdiskusi sejenak, lalu menumpang mobil Pradipta kami
meninggalkan kos Handoko.
****
Aku, Handoko, Christine, Pradipta dan Santoso bekerja sama
di Departemen Kastrat KM UGM. Handoko dari Fisipol, Christine dan Santoso dari
Hukum, sementara Pradipta dari Fakultas Kedokteran. Saat ini KM sedang
menggodok rencana mimbar bebas mengkritisi pemerintahan yang dipimpin orang
itu-itu saja selama beberapa dekade. Kami mencium ketidakberesan rezim ini.
Data yang kami peroleh, hutang luar negeri Indonesia mencapai angka 140 milyar
dollar AS, sementara kekayaan Presiden dan kerabatnya semakin bertambah tiap
harinya.
Sebelum ini, Desember lalu kami berniat mengadakan seminar
mengenai isu kebijakan ekonomi pemerintah. Akan tetapi, seminar tidak dapat
terlaksana karena tidak mendapatkan ijin dari pihak rektorat. Alasan mereka,
kampus bukan tempat untuk membahas urusan politik. Saat itu kami hanya bisa
mengumpat sambil tertawa. “Guobloknya pimpinan kita ini, wong
jelas-jelas yang ingin kita bahas itu kebijakan ekonomi, kok dibilang urusan
politik!” gerutu Bang Darjo disambut tawa kami di sekre.
“Sudahlah Bang, mereka ini takut rupanya,” sela Nabella.
“Bah, macam piaraan saja ini pimpinan kita!” seru Handoko.
“Jaga omonganmu Han! Kita masih ada di sekitar kampus!”
tegur Bang Ismaya.
Ada benarnya juga kata-kata bang Ismaya. Sekarang gerakan
kami terbatas. Berkali-kali kami mendapati orang asing berseliweran di
Gelanggang. Kami harus sangat berhati-hati bila berdiskusi di sekre.
****
“Jangan stress begitu, pasti ada jalan keluarnya,” bisik
Dipta. Aku menghembuskan nafas.
“Semuanya menjadi tidak mudah sekarang,” ujarku.
“Hahaha, sejak awal ini memang tidak mudah kan? Kau tahu,
kita bukan hanya akan membangunkan raksasa tidur, melainkan mencoba
menggelitiki raksasa yang sudah bangun tidur,”
Aku tertawa mendengar analogi Dipta. “Kapan ujianmu?”
“Entah, mungkin 2 atau 3 minggu lagi. Tidak terlalu
kupikirkan,” sahutnya ringan. Anak ini, merasa dunia hanya dia yang punya.
Dipta berdarah Tionghoa. Dia lahir dan besar di Bandung.
Ayahnya dokter, kakaknya calon insinyur yang sedang menempuh studi di Jepang.
Suatu hari pernah kutanya mengapa dia tidak mengikuti jejak kakaknya kuliah
diluar negeri, padahal kemampuan otak dan ekonominya lebih dari cukup untuk ke
sana.
“Tidak, Lia. Buat apa aku jauh-jauh bersekolah ke luar
negeri, padahal yang akan kubangun negeriku sendiri. Aku akan tetap di sini,
Lia, belajar lebih dalam tentang masalah-masalah dan kebutuhan orang-orang
Indonesia sehingga nanti ketika aku lulus aku sudah siap mengabdikan diri,”
Bukan hal yang mudah bagi peranakan Tionghoa belajar di
Universitas negeri. Kami semua tahu itu. Tapi Dipta menganggap semua
diskriminasi yang dialaminya hanya sebagai angin lalu. Suatu ketika dia
mendaftarkan diri sebagai asisten dosen anatomi, namun sebelum seleksi namanya
sudah tidak ada di dalam daftar pelamar. Ketika dia tanyakan mengapa, bagian
akademik dengan acuh hanya berkata “data yang kami masukkan memang begitu”.
Saat Dipta bercerita, terang saja kami tak percaya.
Dipta, seorang jenius
dengan IP selalu cum laude, tidak mendapatkan kesempatan untuk
berkembang hanya karena dia berbeda.
****
“Lia,”
“Ya?”
“Apa kau tidak takut?” tanya Christine. Aku meletakkan pena
di tanganku.
“Takut kenapa?”
“Apakah aktivitasmu di KM berpengaruh ke akademikmu? Apa kau
juga dipersulit?”
Aku tercengang. Sejauh itukah?
“Sejauh ini tidak ada masalah dengan akademik di KG. Ada apa
Christine?”
“Aku.. Minggu lalu aku dipanggil pihak akademik. Mereka
memberikan surat peringatan kepadaku, isinya mengatakan aku tidak dapat
mengikuti ujian semester ini karena ada persyaratan administrasi yang belum diurus,
namun tidak disebutkan apa saja. Ketika kutanyakan lebih lanjut, mereka tidak
mau menjawab, bahkan memintaku menghadap dekan secara langsung,”
“Lalu?”
“Aku belum sempat menghadap beliau. Tapi aku yakin ini
berhubungan dengan aktivitas kita di KM. Aku takut, Lia,”
Aku mencoba menenangkan Christine. Kami semua tahu cepat
atau lambat masalah ini akan datang juga. Kami dipaksa tunduk.
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, semua akan baik-baik
saja,”
“Tidak hanya aku, Lia. Susanto, Bang Darjo, Darmiyati, Kak
Resputri pun mendapat surat peringatan yang sama,”
Aku menelan ludah. Mereka semua adalah orang-orang yang
vokal di KM. Fakultas Hukum sudah melakukan tindakan. Siapa selanjutnya? Aku
menatap Christine ragu. Maukah dia bertahan? Atau dia akan ikut tunduk padahal
hatinya menolak?
“Tapi tenang, Lia, aku tidak akan mundur,” tandasnya mantap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar