Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #4



Yogyakarta, Februari 1998
“Situasi politik sudah semakin kacau. Kondisi ekonomi pun semakin tak terkendali. Apa kita mau diam saja di sini?” ujar Handoko.
“Demonstrasi mulai pecah di berbagai wilayah. UI, Unsoed sudah bergerak, padahal mereka selama ini terkenal konservatif. Bahkan rekan kita di UII pun sudah mengadakan mimbar bebas menyoroti krisis moneter saat ini,” imbuh Santoso.
“Pikirkan lagi lah Boy, kau tahu sendiri rencana seminar kita tempo hari tak jadi digelar. Rektorat takut. Apalagi kalau kita mau mengadakan aksi?” tukas Christine
“Lalu kita mau apa? Tetap diam seperti orang buta tuli begini? Malu lah kita dengan simbol kerakyatan yang kita banggakan ini! Rakyat sedang butuh suara kita!” seru Handoko.
“Aku yakin kita pasti bisa bertindak, Han. Dosen-dosen kita tak semuanya takut. Kau kan dari Fisipol, Han, lobi lah dosen-dosenmu. Ajaklah diskusi terlebih dahulu,” usul Pradipta.
“Benar kata Dipta. Kalau memang kita mau melakukan aksi, kita perlu dukungan. Kalau tidak, aksi kita ini hanya akan jadi misi bunuh diri. Bagaimana pendapat senat?” tanyaku.
“Senat justru ingin kita segera mengambil tindakan. Mereka juga tengah memantau kondisi di kampus lain,”
“Kalau begitu, segera kita matangkan diskusi kita mengenai topik yang akan kita sampaikan. Masing-masing dari kita harus bisa melobi pihak rektorat agar setidaknya mengijinkan KM melakukan mimbar bebas,” ujar Santoso.
“Sebaiknya kita berpindah tempat. Aku curiga ada mata-mata di sekitar kosku,” ujar Handoko lirih.
“Baik. Ke mana?”
Kami berdiskusi sejenak, lalu menumpang mobil Pradipta kami meninggalkan kos Handoko.
****
Aku, Handoko, Christine, Pradipta dan Santoso bekerja sama di Departemen Kastrat KM UGM. Handoko dari Fisipol, Christine dan Santoso dari Hukum, sementara Pradipta dari Fakultas Kedokteran. Saat ini KM sedang menggodok rencana mimbar bebas mengkritisi pemerintahan yang dipimpin orang itu-itu saja selama beberapa dekade. Kami mencium ketidakberesan rezim ini. Data yang kami peroleh, hutang luar negeri Indonesia mencapai angka 140 milyar dollar AS, sementara kekayaan Presiden dan kerabatnya semakin bertambah tiap harinya.
Sebelum ini, Desember lalu kami berniat mengadakan seminar mengenai isu kebijakan ekonomi pemerintah. Akan tetapi, seminar tidak dapat terlaksana karena tidak mendapatkan ijin dari pihak rektorat. Alasan mereka, kampus bukan tempat untuk membahas urusan politik. Saat itu kami hanya bisa mengumpat sambil tertawa. “Guobloknya pimpinan kita ini, wong jelas-jelas yang ingin kita bahas itu kebijakan ekonomi, kok dibilang urusan politik!” gerutu Bang Darjo disambut tawa kami di sekre.
“Sudahlah Bang, mereka ini takut rupanya,” sela Nabella.
“Bah, macam piaraan saja ini pimpinan kita!” seru Handoko.
“Jaga omonganmu Han! Kita masih ada di sekitar kampus!” tegur Bang Ismaya.
Ada benarnya juga kata-kata bang Ismaya. Sekarang gerakan kami terbatas. Berkali-kali kami mendapati orang asing berseliweran di Gelanggang. Kami harus sangat berhati-hati bila berdiskusi di sekre.
****
“Jangan stress begitu, pasti ada jalan keluarnya,” bisik Dipta. Aku menghembuskan nafas.
“Semuanya menjadi tidak mudah sekarang,” ujarku.
“Hahaha, sejak awal ini memang tidak mudah kan? Kau tahu, kita bukan hanya akan membangunkan raksasa tidur, melainkan mencoba menggelitiki raksasa yang sudah bangun tidur,”
Aku tertawa mendengar analogi Dipta. “Kapan ujianmu?”
“Entah, mungkin 2 atau 3 minggu lagi. Tidak terlalu kupikirkan,” sahutnya ringan. Anak ini, merasa dunia hanya dia yang punya.

Dipta berdarah Tionghoa. Dia lahir dan besar di Bandung. Ayahnya dokter, kakaknya calon insinyur yang sedang menempuh studi di Jepang. Suatu hari pernah kutanya mengapa dia tidak mengikuti jejak kakaknya kuliah diluar negeri, padahal kemampuan otak dan ekonominya lebih dari cukup untuk ke sana.
“Tidak, Lia. Buat apa aku jauh-jauh bersekolah ke luar negeri, padahal yang akan kubangun negeriku sendiri. Aku akan tetap di sini, Lia, belajar lebih dalam tentang masalah-masalah dan kebutuhan orang-orang Indonesia sehingga nanti ketika aku lulus aku sudah siap mengabdikan diri,”

Bukan hal yang mudah bagi peranakan Tionghoa belajar di Universitas negeri. Kami semua tahu itu. Tapi Dipta menganggap semua diskriminasi yang dialaminya hanya sebagai angin lalu. Suatu ketika dia mendaftarkan diri sebagai asisten dosen anatomi, namun sebelum seleksi namanya sudah tidak ada di dalam daftar pelamar. Ketika dia tanyakan mengapa, bagian akademik dengan acuh hanya berkata “data yang kami masukkan memang begitu”. Saat Dipta bercerita, terang saja kami tak percaya. 

Dipta, seorang jenius dengan IP selalu cum laude, tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang hanya karena dia berbeda.

****
 

“Lia,”
“Ya?”
“Apa kau tidak takut?” tanya Christine. Aku meletakkan pena di tanganku.
“Takut kenapa?”
“Apakah aktivitasmu di KM berpengaruh ke akademikmu? Apa kau juga dipersulit?”

Aku tercengang. Sejauh itukah?

“Sejauh ini tidak ada masalah dengan akademik di KG. Ada apa Christine?”
“Aku.. Minggu lalu aku dipanggil pihak akademik. Mereka memberikan surat peringatan kepadaku, isinya mengatakan aku tidak dapat mengikuti ujian semester ini karena ada persyaratan administrasi yang belum diurus, namun tidak disebutkan apa saja. Ketika kutanyakan lebih lanjut, mereka tidak mau menjawab, bahkan memintaku menghadap dekan secara langsung,”
“Lalu?”
“Aku belum sempat menghadap beliau. Tapi aku yakin ini berhubungan dengan aktivitas kita di KM. Aku takut, Lia,”

Aku mencoba menenangkan Christine. Kami semua tahu cepat atau lambat masalah ini akan datang juga. Kami dipaksa tunduk.

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, semua akan baik-baik saja,”
“Tidak hanya aku, Lia. Susanto, Bang Darjo, Darmiyati, Kak Resputri pun mendapat surat peringatan yang sama,”

Aku menelan ludah. Mereka semua adalah orang-orang yang vokal di KM. Fakultas Hukum sudah melakukan tindakan. Siapa selanjutnya? Aku menatap Christine ragu. Maukah dia bertahan? Atau dia akan ikut tunduk padahal hatinya menolak?

“Tapi tenang, Lia, aku tidak akan mundur,” tandasnya mantap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar