Gedung Pusat UGM tampak semakin eksotis di malam hari.
Langit malam yang menaungi sangat pas dengan lampu-lampu bulat yang ada di
sekitar tamannya.
“Aku ingat kamu masih dengan jas praktikummu berlari kemari
demi menyusul kami,” gumamku.
“Iya, lantas kalian menertawaiku karena kalian sudah akan
pulang dari sini,” sahut Dipta setengah menggerutu. Lagi-lagi aku tertawa.
“Lama sekali ya aku sudah tidak lagi menjadi mahasiswa,”
gumam Dipta pelan.
“Kamu..praktik kan?” tanyaku ragu. Aku tak pernah tahu
apakah dia menamatkan studinya di Fakultas Kedokteran atau tidak. Yang kutahu
dia lenyap begitu saja.
“Ya, aku praktik, di Bandung,” jawabnya.
“Banyak yang harus kamu ceritakan, Dipta,” bisikku.
“Benar.. Banyak sekali yang ingin kuceritakan,”sahutnya.
****
Dipta tinggal di Bandung bersama istri dan dua anaknya. Ia
bekerja di salah satu rumah sakit swasta di sana.
“Mengapa mereka tak diajak kemari?” tanyaku, sembari
menikmati nasi bungkus di angkringan seputaran Tugu.
“Tidak. Yogya bukan untuk mereka. Ada beberapa bagian di
sini yang tak ingin kubagi dengan mereka,” sahutnya. Kudengar nada suaranya
berubah, bercampur getir. Aku menelan ludah.
“Kamu sendiri bagaimana? Kenapa datang kemari sendiri?”
“Aku.. memang masih sendiri, Dipta,” sahutku pelan. Dipta
sempat tersedak sebentar.
“Oh..”
“Apa?”
“Kamu masih suka berbelanja?”. Aku tertawa.
“Of course, yes, Dipta, haha. Tapi di Bangka tak ada pasar
yang bisa menandingi Malioboro dan Beringharjo,”
“Ya ya ya, saking sukanya belanja sampai lupa ada orang yang
diajak juga,” guraunya. Aku kembali tertawa.
Ingat betul dia.
Suatu ketika aku
memintanya menemaniku membeli beberapa potong pakaian di Malioboro. Sebenarnya
aku lebih membutuhkan tumpangannya untuk pergi ke sini. Dia menyanggupi.
Menuruti keinginanku, tanpa sadar aku masuk ke gang-gang pasar yang lebih
dalam, meninggalkan Dipta entah di mana. Barulah ketika aku selesai berbelanja
aku sadar Dipta tak ada lagi di belakangku.
“Maaf deh, maaf. Kan setelah itu kuganti dengan kue pukis
kesukaanmu,” tukasku. Dipta tertawa. “Aku jadi ingat aku hampir jadi korban
kecelakaan akibat ulahmu sok-sokan naik sepeda di jalan ramai begini,”
“Hahaha, sesekali kamu perlu olahraga ekstrem,”
“Apanya olahraga ekstrem, itu sih kamu yang sok bisa
ngeboncengin orang padahal naik sepeda aja nggak bisa. Makanya Susanto dan
Handoko tertawa terbahak-bahak saat aku dengan lugunya mengiyakan tawaranmu,”
“Hahaha, gantian aku yang minta maaf deh sekarang,”
Semalaman itu kami berdua terbahak-bahak menertawai
kebodohan-kebodohan kami dahulu. Kenangan manis yang ikut kurenda bersama
sahabat-sahabat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar