Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #7


Gedung Pusat UGM tampak semakin eksotis di malam hari.
Langit malam yang menaungi sangat pas dengan lampu-lampu bulat yang ada di sekitar tamannya.
“Aku ingat kamu masih dengan jas praktikummu berlari kemari demi menyusul kami,” gumamku.
“Iya, lantas kalian menertawaiku karena kalian sudah akan pulang dari sini,” sahut Dipta setengah menggerutu. Lagi-lagi aku tertawa.
“Lama sekali ya aku sudah tidak lagi menjadi mahasiswa,” gumam Dipta pelan.
“Kamu..praktik kan?” tanyaku ragu. Aku tak pernah tahu apakah dia menamatkan studinya di Fakultas Kedokteran atau tidak. Yang kutahu dia lenyap begitu saja.
“Ya, aku praktik, di Bandung,” jawabnya.
“Banyak yang harus kamu ceritakan, Dipta,” bisikku.
“Benar.. Banyak sekali yang ingin kuceritakan,”sahutnya.

****

Dipta tinggal di Bandung bersama istri dan dua anaknya. Ia bekerja di salah satu rumah sakit swasta di sana.
“Mengapa mereka tak diajak kemari?” tanyaku, sembari menikmati nasi bungkus di angkringan seputaran Tugu.
“Tidak. Yogya bukan untuk mereka. Ada beberapa bagian di sini yang tak ingin kubagi dengan mereka,” sahutnya. Kudengar nada suaranya berubah, bercampur getir. Aku menelan ludah.
“Kamu sendiri bagaimana? Kenapa datang kemari sendiri?”
“Aku.. memang masih sendiri, Dipta,” sahutku pelan. Dipta sempat tersedak sebentar.
“Oh..”
“Apa?”
“Kamu masih suka berbelanja?”. Aku tertawa.
“Of course, yes, Dipta, haha. Tapi di Bangka tak ada pasar yang bisa menandingi Malioboro dan Beringharjo,”
“Ya ya ya, saking sukanya belanja sampai lupa ada orang yang diajak juga,” guraunya. Aku kembali tertawa. 

Ingat betul dia. 
Suatu ketika aku memintanya menemaniku membeli beberapa potong pakaian di Malioboro. Sebenarnya aku lebih membutuhkan tumpangannya untuk pergi ke sini. Dia menyanggupi. Menuruti keinginanku, tanpa sadar aku masuk ke gang-gang pasar yang lebih dalam, meninggalkan Dipta entah di mana. Barulah ketika aku selesai berbelanja aku sadar Dipta tak ada lagi di belakangku.

“Maaf deh, maaf. Kan setelah itu kuganti dengan kue pukis kesukaanmu,” tukasku. Dipta tertawa. “Aku jadi ingat aku hampir jadi korban kecelakaan akibat ulahmu sok-sokan naik sepeda di jalan ramai begini,”
“Hahaha, sesekali kamu perlu olahraga ekstrem,”
“Apanya olahraga ekstrem, itu sih kamu yang sok bisa ngeboncengin orang padahal naik sepeda aja nggak bisa. Makanya Susanto dan Handoko tertawa terbahak-bahak saat aku dengan lugunya mengiyakan tawaranmu,”
“Hahaha, gantian aku yang minta maaf deh sekarang,”
Semalaman itu kami berdua terbahak-bahak menertawai kebodohan-kebodohan kami dahulu. Kenangan manis yang ikut kurenda bersama sahabat-sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar