buat Bunda,
Saka
Selasa, 27 Agustus 2013
Pulang :)))
Pulang ke kotamu,
ada setangkup haru dalam rindu...
Mau cerita.
Aku jauh dari rumah lagi.
Tapi aku nggak pergi.
Aku pulang.
Aku mengalir lagi.
Tapi aku nggak terbuang.
Aku pulang.
Aku berjalan lagi.
Tapi aku nggak menjauh.
Aku pulang.
Pulang.
Iya, aku pulang.
Rasanya kata "pulang" yang paling bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan.
Menemukan sesuatu yang dicari.
Sesuatu yang dinanti sejak lama sekali.
Rasanya seperti menemukan suatu legenda yang jadi kenyataan.
Tempat yang hanya kalian kenal via buku-buku dan cerita-cerita.
Kemudian kalian tinggal, hidup di dalamnya,
menginjak tanahnya, menghirup atmosfernya,
ikut lebur dalam putaran waktu dan aktivitasnya.
Mungkin, yang bikin ini jadi berbeda juga,
aku tidak meninggalkan seorang pun, apapun, di tanah kelahiran.
Aku bukan lagi balita yang baru bisa jalan tapi ngeluyur kemana-mana
tapi memang sudah saatku untuk bisa berlari jauh sekali.
Lagipula, ke sini aku menemui, menjemput, menuju.
Hatiku sudah lama sekali ada di sini.
Belum pernah aku menginjak tanah ini.
Tapi entah apa dan bagaimana tanah ini menyedot penuh euforiaku,
antusiasmeku, bahkan kecintaanku.
Sebelum ini, aku sempat mengira cuma sedih dan sepi yang bisa kurasa ketika aku akhirnya menapakkan kaki di sini.
Tapi, alih-alih sedih, justru aku merasa lepas sekali, lega setengah mati.
Aku belum mulai ngapa-ngapain di sini.
Tapi aku harap aku masih se-antusias ini sampai masa belajarku selesai.
Mungkin aku akan tetap di sini nanti.
Aku senang aku pulang :))))))
ada setangkup haru dalam rindu...
Mau cerita.
Aku jauh dari rumah lagi.
Tapi aku nggak pergi.
Aku pulang.
Aku mengalir lagi.
Tapi aku nggak terbuang.
Aku pulang.
Aku berjalan lagi.
Tapi aku nggak menjauh.
Aku pulang.
Pulang.
Iya, aku pulang.
Rasanya kata "pulang" yang paling bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan.
Menemukan sesuatu yang dicari.
Sesuatu yang dinanti sejak lama sekali.
Rasanya seperti menemukan suatu legenda yang jadi kenyataan.
Tempat yang hanya kalian kenal via buku-buku dan cerita-cerita.
Kemudian kalian tinggal, hidup di dalamnya,
menginjak tanahnya, menghirup atmosfernya,
ikut lebur dalam putaran waktu dan aktivitasnya.
Mungkin, yang bikin ini jadi berbeda juga,
aku tidak meninggalkan seorang pun, apapun, di tanah kelahiran.
Aku bukan lagi balita yang baru bisa jalan tapi ngeluyur kemana-mana
tapi memang sudah saatku untuk bisa berlari jauh sekali.
Lagipula, ke sini aku menemui, menjemput, menuju.
Hatiku sudah lama sekali ada di sini.
Belum pernah aku menginjak tanah ini.
Tapi entah apa dan bagaimana tanah ini menyedot penuh euforiaku,
antusiasmeku, bahkan kecintaanku.
Sebelum ini, aku sempat mengira cuma sedih dan sepi yang bisa kurasa ketika aku akhirnya menapakkan kaki di sini.
Tapi, alih-alih sedih, justru aku merasa lepas sekali, lega setengah mati.
Aku belum mulai ngapa-ngapain di sini.
Tapi aku harap aku masih se-antusias ini sampai masa belajarku selesai.
Mungkin aku akan tetap di sini nanti.
Aku senang aku pulang :))))))
Kamis, 22 Agustus 2013
Tiga Tahun
Stasiun Gambir, Jakarta
20 April 2011
Masih hangat rasanya tanganmu menggandeng turun dari gerbong kereta eksekutif yang membawa kita dari Semarang subuh itu.
Harum kopi dan roti-roti menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di peron stasiun.
Kita mencicip satu.
Lapar.
"Tiga atau lima tahun lagi kita akan menetap di sini, di kota sejuta mimpi ini"
Aku tersenyum.
Selalu janji masa depan yang indah.
Yang aku percaya, asal keluar dari bibirmu.
Karena aku ingin percaya kau laki-laki yang benci ingkar janji.
"Mengapa kau pilih kota ini, Adrian?"
"Banyak sekali konflik terjadi dalam keseharian di sini. Sepertinya kota ini sangat cocok untukmu memuaskan kehausanmu membaca kehidupan,"
Lagi-lagi aku tersenyum.
Aku kadang takut padamu, Adrian.
Kamu terlalu mengerti aku tanpa pernah kuberi tahu.
"Bukankah kamu benci polusi, macet, dan kehidupan keras di sini, Adrian?"
"Memang. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengatasinya. Kita kan akan hidup bersama, aku entah bagaimana takkan membiarkan hidup kita kering kerontang seperti yang kita lihat,"
Mendadak aku merasa haus mendengar celotehmu, Adrian.
Segelas besar Pepsi ludes dalam sekejap.
"Maukah kau menikah denganku Lucyana? Entah itu tiga atau lima tahun lagi,"
Kau belum yakin Adrian.
Mana bisa kau melamar wanita jika kau tidak yakin Adrian?
Jangan lupa, pekerjaanku membaca Adrian.
Kau belum yakin.
"Jangan hanya diam, Lucyana, aku melamarmu sekarang. Atau mungkin peron stasiun sama sekali tak romantis untuk hal begini? Kau mau aku melamarmu di atas Tornado?"
Aku tertawa.
Bukankah kau pernah cerita, kau takut dengan ketinggian Adrian?
Bisa-bisa kau muntah di atas sana.
Ah, Adrian, kau memang belum yakin.
Stasiun Gambir, Jakarta.
2014
Tanganku kini menggandeng, alih-alih tangan hangatmu Adrian, melainkan koper besar yang kubawa dari rumahku di Semarang.
Harum kopi dan roti-roti masih menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di sepanjang peron stasiun.
Aku lapar.
Tapi aku tak ingin makan.
Sudah tiga tahun, Adrian.
Waktu sangat tepat janji dan selalu dapat dipercaya.
Janjinya tak pernah meleset sedetik pun.
Aku menginjakkan kaki kembali ke Jakarta, Adrian.
Menagih janji yang kupercaya asal keluar dari bibirmu.
Kota sejuta mimpi kita Adrian.
Saat itu kau memang belum yakin Adrian.
Kubiarkan lamaranmu menggantung tinggi di tiang-tiang penopang stasiun kuno ini.
Warna hijau tembok stasiun mulai memudar.
Sama, sepertimu.
Kau tidak sabar, Adrian, atas dirimu dan jawabanku.
Mengapa kau lari, Adrian?
Bukankah lebih nyaman menunggu sambil menghirup capuccino?
Ah, tapi kau juga tepat janji, Adrian.
Awal tahun ini kau pun sudah tinggal di kota sejuta mimpimu
yang katamu takkan kau biarkan hidupku kering kerontang seperti yang terlihat.
Tapi kau tidak sabar.
Kau memilih tinggal bersama gadis manis pengantar pesanan kita di gerai stasiun ini
Tiga tahun lalu.
20 April 2011
Masih hangat rasanya tanganmu menggandeng turun dari gerbong kereta eksekutif yang membawa kita dari Semarang subuh itu.
Harum kopi dan roti-roti menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di peron stasiun.
Kita mencicip satu.
Lapar.
"Tiga atau lima tahun lagi kita akan menetap di sini, di kota sejuta mimpi ini"
Aku tersenyum.
Selalu janji masa depan yang indah.
Yang aku percaya, asal keluar dari bibirmu.
Karena aku ingin percaya kau laki-laki yang benci ingkar janji.
"Mengapa kau pilih kota ini, Adrian?"
"Banyak sekali konflik terjadi dalam keseharian di sini. Sepertinya kota ini sangat cocok untukmu memuaskan kehausanmu membaca kehidupan,"
Lagi-lagi aku tersenyum.
Aku kadang takut padamu, Adrian.
Kamu terlalu mengerti aku tanpa pernah kuberi tahu.
"Bukankah kamu benci polusi, macet, dan kehidupan keras di sini, Adrian?"
"Memang. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengatasinya. Kita kan akan hidup bersama, aku entah bagaimana takkan membiarkan hidup kita kering kerontang seperti yang kita lihat,"
Mendadak aku merasa haus mendengar celotehmu, Adrian.
Segelas besar Pepsi ludes dalam sekejap.
"Maukah kau menikah denganku Lucyana? Entah itu tiga atau lima tahun lagi,"
Kau belum yakin Adrian.
Mana bisa kau melamar wanita jika kau tidak yakin Adrian?
Jangan lupa, pekerjaanku membaca Adrian.
Kau belum yakin.
"Jangan hanya diam, Lucyana, aku melamarmu sekarang. Atau mungkin peron stasiun sama sekali tak romantis untuk hal begini? Kau mau aku melamarmu di atas Tornado?"
Aku tertawa.
Bukankah kau pernah cerita, kau takut dengan ketinggian Adrian?
Bisa-bisa kau muntah di atas sana.
Ah, Adrian, kau memang belum yakin.
Stasiun Gambir, Jakarta.
2014
Tanganku kini menggandeng, alih-alih tangan hangatmu Adrian, melainkan koper besar yang kubawa dari rumahku di Semarang.
Harum kopi dan roti-roti masih menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di sepanjang peron stasiun.
Aku lapar.
Tapi aku tak ingin makan.
Sudah tiga tahun, Adrian.
Waktu sangat tepat janji dan selalu dapat dipercaya.
Janjinya tak pernah meleset sedetik pun.
Aku menginjakkan kaki kembali ke Jakarta, Adrian.
Menagih janji yang kupercaya asal keluar dari bibirmu.
Kota sejuta mimpi kita Adrian.
Saat itu kau memang belum yakin Adrian.
Kubiarkan lamaranmu menggantung tinggi di tiang-tiang penopang stasiun kuno ini.
Warna hijau tembok stasiun mulai memudar.
Sama, sepertimu.
Kau tidak sabar, Adrian, atas dirimu dan jawabanku.
Mengapa kau lari, Adrian?
Bukankah lebih nyaman menunggu sambil menghirup capuccino?
Ah, tapi kau juga tepat janji, Adrian.
Awal tahun ini kau pun sudah tinggal di kota sejuta mimpimu
yang katamu takkan kau biarkan hidupku kering kerontang seperti yang terlihat.
Tapi kau tidak sabar.
Kau memilih tinggal bersama gadis manis pengantar pesanan kita di gerai stasiun ini
Tiga tahun lalu.
Sabtu, 10 Agustus 2013
Bilakah Rama (Boleh) Tak Setia
Tangan bertangkup
bibir terus mendaras puja puji
kepada Purnama yang teduh melatari
tegak tinggi menjulang
puncak-puncak Swargaloka
Berdiri di sana,
membelakangi altar Siwagrha
Tegap, gagah, yakin
memburu Angkara yang meraung menggila
Terucap doa-doa kepada Sang Hyang
yang kepadamu, Putra Surya,
telah melimpahkan banyak brahmastra
agar senantiasa mereka
melingkupi berkah dan selamat untukmu
Vishnu awatara
Sabit terbit di antara puja pujiku
ketika kau berdiri di hadapanku
sekilas memandangku yang memujamu
Ah, semakin deras butir-butir tasbih
kudaraskan untukmu
Kembali membeku melihatmu,
merentang busur Shiva
mencabut anak-anak panah
yang kemudian melesat membelah malam
Raungan Angkara merobek egoku
Ah, mengapa pula bukan demi aku
kau lakukan segala itu?
Bilakah Sri Rama boleh tak setia
kepada Shinta?
Hanya sekali saja, lalu sudah
Biarkan Shinta dicumbu Angkara
dan kau, kau untuk sekali saja
menjadi sosok utuh yang maujud
bukan hanya menghantui mimpi
yang bisa, boleh
kusentuh dan kumiliki
Lalu biarkan Shinta terbakar hangus
lebur dalam nafsu api sucinya
Dan kau, lagi-lagi kau,
akan kuminta bermain cinta lagi
denganku
Kita ciptakan sendiri legenda kita,
membumihangus lakon-lakon lawas Ramayana
merobek bab-babnya
dan menggantinya dengan aku dan engkau
Maryada Purushottama
Kian deras tasbihku menderu
meluruhkan relung-relung batu Pura
ruang-ruang singgah Dewata
yang kepada mereka aku terus bertanya
Bilakah Rama boleh tak setia?
bibir terus mendaras puja puji
kepada Purnama yang teduh melatari
tegak tinggi menjulang
puncak-puncak Swargaloka
Berdiri di sana,
membelakangi altar Siwagrha
Tegap, gagah, yakin
memburu Angkara yang meraung menggila
Terucap doa-doa kepada Sang Hyang
yang kepadamu, Putra Surya,
telah melimpahkan banyak brahmastra
agar senantiasa mereka
melingkupi berkah dan selamat untukmu
Vishnu awatara
Sabit terbit di antara puja pujiku
ketika kau berdiri di hadapanku
sekilas memandangku yang memujamu
Ah, semakin deras butir-butir tasbih
kudaraskan untukmu
Kembali membeku melihatmu,
merentang busur Shiva
mencabut anak-anak panah
yang kemudian melesat membelah malam
Raungan Angkara merobek egoku
Ah, mengapa pula bukan demi aku
kau lakukan segala itu?
Bilakah Sri Rama boleh tak setia
kepada Shinta?
Hanya sekali saja, lalu sudah
Biarkan Shinta dicumbu Angkara
dan kau, kau untuk sekali saja
menjadi sosok utuh yang maujud
bukan hanya menghantui mimpi
yang bisa, boleh
kusentuh dan kumiliki
Lalu biarkan Shinta terbakar hangus
lebur dalam nafsu api sucinya
Dan kau, lagi-lagi kau,
akan kuminta bermain cinta lagi
denganku
Kita ciptakan sendiri legenda kita,
membumihangus lakon-lakon lawas Ramayana
merobek bab-babnya
dan menggantinya dengan aku dan engkau
Maryada Purushottama
Kian deras tasbihku menderu
meluruhkan relung-relung batu Pura
ruang-ruang singgah Dewata
yang kepada mereka aku terus bertanya
Bilakah Rama boleh tak setia?
Pelarian
Bulan berdarah,
malam meruam merah.
Ah, bukankah kita harus
terus berlari, Puan?
Sirine patroli pecah
menggerus hening pekat malam
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ah, malaikat maut malih rupa, Puan
Bersorban, berjubah, berkalang asma Tuhan
Sebegitu mudah, Puan,
menghunus belati, pentungan, bebatuan
kepada kita yang katanya sesama manusia
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ayo terus berlari Puan!
Menerjang pelor yang berguguran.
Mereka takkan peduli kita teriakkan Tuhan, Puan
yang mereka peduli kita lah sasaran
Kiranya kita mati dalam kebutaan, Puan
Ah, diimpit maut pun aku masih bertanya,
siapa kiranya yang pantas disebut manusia?
malam meruam merah.
Ah, bukankah kita harus
terus berlari, Puan?
Sirine patroli pecah
menggerus hening pekat malam
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ah, malaikat maut malih rupa, Puan
Bersorban, berjubah, berkalang asma Tuhan
Sebegitu mudah, Puan,
menghunus belati, pentungan, bebatuan
kepada kita yang katanya sesama manusia
Bulan berdarah,
malam meruam merah
Ayo terus berlari Puan!
Menerjang pelor yang berguguran.
Mereka takkan peduli kita teriakkan Tuhan, Puan
yang mereka peduli kita lah sasaran
Kiranya kita mati dalam kebutaan, Puan
Ah, diimpit maut pun aku masih bertanya,
siapa kiranya yang pantas disebut manusia?
Senin, 05 Agustus 2013
Ismail
Awal hari yang cerah.
Akhir pekan yang indah.
Ah, Ismail tersenyum riang.
Berderai tawanya tertiup angin yang menyapu rambutnya.
Hari ini Ismail pergi ke kota,
kota yang katanya gemerlap, yang katanya penuh gedung indah.
Ismail hanya bocah desa,
berkubang lumpur tamasyanya,
berlarian, bersepeda bersama temannya.
Ismail ingin melihat kota.
Tawa renyahnya tersirap lalu lalang kendaraan.
Ah, takjub dia rupanya,
pada bis, truk, dan mobil yang berlarian.
Ismail hanya bocah desa,
hanya pernah melihat bis, truk, dan mobil di rak mainan taman kanak-kanak.
Ismail membayangkan dia yang gagah menaikinya.
Matanya menatap gedung tinggi megah bak istana.
Tempat apa ini?
Begitu banyak kendaraan terparkir di depannya,
begitu banyak manusia lalu lalang di dalamnya,
begitu riuh musik mengalun di telinga,
begitu harum roti-roti indah yang berderet di etalase.
Ismail hanya bocah desa,
belum pernah mendengar, apalagi melihat kata "Mall" sebelumnya.
Takjub dia dibuatnya,
tak pernah terbayang menginjakkan kaki di dalamnya.
Ismail hanya bocah lugu.
Memandang orang-orang berlalu, ingin tahu.
Melihat tangga aneh yang bisa membawa orang yang menaikinya bergerak naik turun.
Itu eskalator namanya.
Ismail menatap bingung,
ah, sungguh nama yang asing di telinga.
Tapi tak urung, dijajalnya juga tangga ajaib itu,
menjajah rasa ingin tahunya,
memerdekakan penasarannya.
Satu, dua, tiga kali tak cukup jua,
melompat-lompat dia menaikinya.
Ismail hanya bocah desa,
yang bahagia hanya dengan menaiki tangga berjalan.
Kadang matanya memandang bingung.
Pada patung-patung tanpa kepala yang berbaju.
Pada perempuan-perempuan berdandan cantik,
yang menjaga patung-patung itu,
seolah tidak mengijinkan Ismail menyentuh satu barang pun.
Takut-takut Ismail berjalan menyusur lantai.
Menggandeng tangan agar tak sesat di belantara barang-barang.
Ah, celana yang bagus, kaos yang lucu, mainan yang sungguh keren.
Ah, tapi Mamaknya hanya penjual pakaian eceran,
yang pergi pagi pulang petang.
Yang kalau pulang akan marah jika rumah berantakan.
Apalagi jika Ismail berani minta mainan macam-macam.
Cukuplah baginya bersepeda bekas keliling kampung,
barang-barang ini terlalu tak tertebus.
Ismail hanya diam di perjalanan pulang.
Masih terbayang mainan-mainan impiannya.
Truk, bis, bahkan pesawat terbang ada.
Ah, jangan-jangan salah aku membawanya ke kota?
Hanya menimbulkan perasaan iri dan kecewa.
Ismail masih terdiam,
lama-lama matanya mengatup, ngantuk.
Semoga lah bukan iri dan kecewa yang termaktub di dadanya,
semoga mimpi indah menaiki pesawat terbang mainannya,
cita-cita yang lebih tinggi, wawasan yang lebih luas
yang menjadi oleh-oleh baginya dari perjalanan ke kota.
*kisah nyata. Ismail benar2 ada, umurnya kurang dari 3 tahun, tapi sangat dewasa mengurus diri sendiri karena ibunya single parent dan sibuk berdagang. Perjalanan ini terjadi hari Sabtu yang lalu. Sekarang tiap melihat Ismail aku jadi merasa agak berdosa dan was-was, kesan apa yang tertinggal setelah kami pulang ke rumah*
Akhir pekan yang indah.
Ah, Ismail tersenyum riang.
Berderai tawanya tertiup angin yang menyapu rambutnya.
Hari ini Ismail pergi ke kota,
kota yang katanya gemerlap, yang katanya penuh gedung indah.
Ismail hanya bocah desa,
berkubang lumpur tamasyanya,
berlarian, bersepeda bersama temannya.
Ismail ingin melihat kota.
Tawa renyahnya tersirap lalu lalang kendaraan.
Ah, takjub dia rupanya,
pada bis, truk, dan mobil yang berlarian.
Ismail hanya bocah desa,
hanya pernah melihat bis, truk, dan mobil di rak mainan taman kanak-kanak.
Ismail membayangkan dia yang gagah menaikinya.
Matanya menatap gedung tinggi megah bak istana.
Tempat apa ini?
Begitu banyak kendaraan terparkir di depannya,
begitu banyak manusia lalu lalang di dalamnya,
begitu riuh musik mengalun di telinga,
begitu harum roti-roti indah yang berderet di etalase.
Ismail hanya bocah desa,
belum pernah mendengar, apalagi melihat kata "Mall" sebelumnya.
Takjub dia dibuatnya,
tak pernah terbayang menginjakkan kaki di dalamnya.
Ismail hanya bocah lugu.
Memandang orang-orang berlalu, ingin tahu.
Melihat tangga aneh yang bisa membawa orang yang menaikinya bergerak naik turun.
Itu eskalator namanya.
Ismail menatap bingung,
ah, sungguh nama yang asing di telinga.
Tapi tak urung, dijajalnya juga tangga ajaib itu,
menjajah rasa ingin tahunya,
memerdekakan penasarannya.
Satu, dua, tiga kali tak cukup jua,
melompat-lompat dia menaikinya.
Ismail hanya bocah desa,
yang bahagia hanya dengan menaiki tangga berjalan.
Kadang matanya memandang bingung.
Pada patung-patung tanpa kepala yang berbaju.
Pada perempuan-perempuan berdandan cantik,
yang menjaga patung-patung itu,
seolah tidak mengijinkan Ismail menyentuh satu barang pun.
Takut-takut Ismail berjalan menyusur lantai.
Menggandeng tangan agar tak sesat di belantara barang-barang.
Ah, celana yang bagus, kaos yang lucu, mainan yang sungguh keren.
Ah, tapi Mamaknya hanya penjual pakaian eceran,
yang pergi pagi pulang petang.
Yang kalau pulang akan marah jika rumah berantakan.
Apalagi jika Ismail berani minta mainan macam-macam.
Cukuplah baginya bersepeda bekas keliling kampung,
barang-barang ini terlalu tak tertebus.
Ismail hanya diam di perjalanan pulang.
Masih terbayang mainan-mainan impiannya.
Truk, bis, bahkan pesawat terbang ada.
Ah, jangan-jangan salah aku membawanya ke kota?
Hanya menimbulkan perasaan iri dan kecewa.
Ismail masih terdiam,
lama-lama matanya mengatup, ngantuk.
Semoga lah bukan iri dan kecewa yang termaktub di dadanya,
semoga mimpi indah menaiki pesawat terbang mainannya,
cita-cita yang lebih tinggi, wawasan yang lebih luas
yang menjadi oleh-oleh baginya dari perjalanan ke kota.
*kisah nyata. Ismail benar2 ada, umurnya kurang dari 3 tahun, tapi sangat dewasa mengurus diri sendiri karena ibunya single parent dan sibuk berdagang. Perjalanan ini terjadi hari Sabtu yang lalu. Sekarang tiap melihat Ismail aku jadi merasa agak berdosa dan was-was, kesan apa yang tertinggal setelah kami pulang ke rumah*
Langganan:
Postingan (Atom)
