Stasiun Gambir, Jakarta
20 April 2011
Masih hangat rasanya tanganmu menggandeng turun dari gerbong kereta eksekutif yang membawa kita dari Semarang subuh itu.
Harum kopi dan roti-roti menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di peron stasiun.
Kita mencicip satu.
Lapar.
"Tiga atau lima tahun lagi kita akan menetap di sini, di kota sejuta mimpi ini"
Aku tersenyum.
Selalu janji masa depan yang indah.
Yang aku percaya, asal keluar dari bibirmu.
Karena aku ingin percaya kau laki-laki yang benci ingkar janji.
"Mengapa kau pilih kota ini, Adrian?"
"Banyak sekali konflik terjadi dalam keseharian di sini. Sepertinya kota ini sangat cocok untukmu memuaskan kehausanmu membaca kehidupan,"
Lagi-lagi aku tersenyum.
Aku kadang takut padamu, Adrian.
Kamu terlalu mengerti aku tanpa pernah kuberi tahu.
"Bukankah kamu benci polusi, macet, dan kehidupan keras di sini, Adrian?"
"Memang. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengatasinya. Kita kan akan hidup bersama, aku entah bagaimana takkan membiarkan hidup kita kering kerontang seperti yang kita lihat,"
Mendadak aku merasa haus mendengar celotehmu, Adrian.
Segelas besar Pepsi ludes dalam sekejap.
"Maukah kau menikah denganku Lucyana? Entah itu tiga atau lima tahun lagi,"
Kau belum yakin Adrian.
Mana bisa kau melamar wanita jika kau tidak yakin Adrian?
Jangan lupa, pekerjaanku membaca Adrian.
Kau belum yakin.
"Jangan hanya diam, Lucyana, aku melamarmu sekarang. Atau mungkin peron stasiun sama sekali tak romantis untuk hal begini? Kau mau aku melamarmu di atas Tornado?"
Aku tertawa.
Bukankah kau pernah cerita, kau takut dengan ketinggian Adrian?
Bisa-bisa kau muntah di atas sana.
Ah, Adrian, kau memang belum yakin.
Stasiun Gambir, Jakarta.
2014
Tanganku kini menggandeng, alih-alih tangan hangatmu Adrian, melainkan koper besar yang kubawa dari rumahku di Semarang.
Harum kopi dan roti-roti masih menguar dari gerai-gerai yang berjejer rapih di sepanjang peron stasiun.
Aku lapar.
Tapi aku tak ingin makan.
Sudah tiga tahun, Adrian.
Waktu sangat tepat janji dan selalu dapat dipercaya.
Janjinya tak pernah meleset sedetik pun.
Aku menginjakkan kaki kembali ke Jakarta, Adrian.
Menagih janji yang kupercaya asal keluar dari bibirmu.
Kota sejuta mimpi kita Adrian.
Saat itu kau memang belum yakin Adrian.
Kubiarkan lamaranmu menggantung tinggi di tiang-tiang penopang stasiun kuno ini.
Warna hijau tembok stasiun mulai memudar.
Sama, sepertimu.
Kau tidak sabar, Adrian, atas dirimu dan jawabanku.
Mengapa kau lari, Adrian?
Bukankah lebih nyaman menunggu sambil menghirup capuccino?
Ah, tapi kau juga tepat janji, Adrian.
Awal tahun ini kau pun sudah tinggal di kota sejuta mimpimu
yang katamu takkan kau biarkan hidupku kering kerontang seperti yang terlihat.
Tapi kau tidak sabar.
Kau memilih tinggal bersama gadis manis pengantar pesanan kita di gerai stasiun ini
Tiga tahun lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar