Awal hari yang cerah.
Akhir pekan yang indah.
Ah, Ismail tersenyum riang.
Berderai tawanya tertiup angin yang menyapu rambutnya.
Hari ini Ismail pergi ke kota,
kota yang katanya gemerlap, yang katanya penuh gedung indah.
Ismail hanya bocah desa,
berkubang lumpur tamasyanya,
berlarian, bersepeda bersama temannya.
Ismail ingin melihat kota.
Tawa renyahnya tersirap lalu lalang kendaraan.
Ah, takjub dia rupanya,
pada bis, truk, dan mobil yang berlarian.
Ismail hanya bocah desa,
hanya pernah melihat bis, truk, dan mobil di rak mainan taman kanak-kanak.
Ismail membayangkan dia yang gagah menaikinya.
Matanya menatap gedung tinggi megah bak istana.
Tempat apa ini?
Begitu banyak kendaraan terparkir di depannya,
begitu banyak manusia lalu lalang di dalamnya,
begitu riuh musik mengalun di telinga,
begitu harum roti-roti indah yang berderet di etalase.
Ismail hanya bocah desa,
belum pernah mendengar, apalagi melihat kata "Mall" sebelumnya.
Takjub dia dibuatnya,
tak pernah terbayang menginjakkan kaki di dalamnya.
Ismail hanya bocah lugu.
Memandang orang-orang berlalu, ingin tahu.
Melihat tangga aneh yang bisa membawa orang yang menaikinya bergerak naik turun.
Itu eskalator namanya.
Ismail menatap bingung,
ah, sungguh nama yang asing di telinga.
Tapi tak urung, dijajalnya juga tangga ajaib itu,
menjajah rasa ingin tahunya,
memerdekakan penasarannya.
Satu, dua, tiga kali tak cukup jua,
melompat-lompat dia menaikinya.
Ismail hanya bocah desa,
yang bahagia hanya dengan menaiki tangga berjalan.
Kadang matanya memandang bingung.
Pada patung-patung tanpa kepala yang berbaju.
Pada perempuan-perempuan berdandan cantik,
yang menjaga patung-patung itu,
seolah tidak mengijinkan Ismail menyentuh satu barang pun.
Takut-takut Ismail berjalan menyusur lantai.
Menggandeng tangan agar tak sesat di belantara barang-barang.
Ah, celana yang bagus, kaos yang lucu, mainan yang sungguh keren.
Ah, tapi Mamaknya hanya penjual pakaian eceran,
yang pergi pagi pulang petang.
Yang kalau pulang akan marah jika rumah berantakan.
Apalagi jika Ismail berani minta mainan macam-macam.
Cukuplah baginya bersepeda bekas keliling kampung,
barang-barang ini terlalu tak tertebus.
Ismail hanya diam di perjalanan pulang.
Masih terbayang mainan-mainan impiannya.
Truk, bis, bahkan pesawat terbang ada.
Ah, jangan-jangan salah aku membawanya ke kota?
Hanya menimbulkan perasaan iri dan kecewa.
Ismail masih terdiam,
lama-lama matanya mengatup, ngantuk.
Semoga lah bukan iri dan kecewa yang termaktub di dadanya,
semoga mimpi indah menaiki pesawat terbang mainannya,
cita-cita yang lebih tinggi, wawasan yang lebih luas
yang menjadi oleh-oleh baginya dari perjalanan ke kota.
*kisah nyata. Ismail benar2 ada, umurnya kurang dari 3 tahun, tapi sangat dewasa mengurus diri sendiri karena ibunya single parent dan sibuk berdagang. Perjalanan ini terjadi hari Sabtu yang lalu. Sekarang tiap melihat Ismail aku jadi merasa agak berdosa dan was-was, kesan apa yang tertinggal setelah kami pulang ke rumah*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar