Sabtu, 23 Agustus 2014

Gemilangnya Gemintang #5

Kubentangkan foto berukuran poster ini.
Dua orang berpose berlatarkan senja di bibir samudra.
Laki-laki dan perempuan.
Gemilang, dan Gemintang.
Itu foto yang kami ambil saat study tour beberapa tahun yang lalu.

Pelan-pelan aku mencerna kata-kata Gemilang.
Mengingat-ingat lagi polah tingkahnya, yang mungkin mengandung petunjuk di mana dia berada sekarang.
Rasanya seperti ada sesuatu yang bersinar di dalam kepalaku begitu aku menyadari sesuatu.
Aku tahu.
Bahkan sudah sejak lama aku tahu di mana Gemilang berada sekarang.

Aku sangat yakin tentang ini.
Bagaimana tidak, aku mengenal sudah sejak lama, menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya.
Mana mungkin saudara tidak akan mengenali saudaranya?

Gemilang tidak pernah berbohong kepadaku, pun tentang yang satu ini.
Aku juga tahu ada alasan di balik sikapnya menyembunyikan semua ini.
Lebih dari itu, aku paham.
Makanya aku tidak akan pernah menggugatnya.
Terharu dia masih ingat padaku, masih membaginya denganku.

Gemilang akan terus gemilang.
Bersinar jauh lebih terang daripada Gemintang.

Sungguh aku tidak minta yang aneh-aneh, cukuplah aku tahu dia ada.
Silakan hilang dari dunia, tapi jangan pernah hilang dariku.

Teruslah jadi Gemilang yang kukenal.
Aku harap suatu hari nanti dia akan pulang, mengetuk pintu rumahku, kembali makan bersama keluargaku.
Aku harap suatu saat aku akan menemukan sepasang mata yang teduh dan bersinar lagi.
Mendapati bahunya. Senyumnya.
Bahkan sekarang saat menuliskan ini semua suara tawanya terngiang-ngiang jelas.

Sudah bertahun-tahun, tapi kurasa sampai kapan pun aku tidak bisa menghilangkan sayangku untuk Gemilang.
Menguranginya pun tidak.

Hidup memang bergerak, banyak hal terjadi dan berubah.
Aku tidak tahu bagaimana dengan Gemilang, yang jelas selalu ada ruang untuknya pulang.

Yogya, 2014.
Untuk Gemilang yang Gemintang sayang.

Gemilangnya Gemintang #4

Amrita.
Itu nama kekasih Gemilang.

Sejak Gemilang punya pacar, sedikit banyak hubungan kami berubah.
Gemilang tetaplah seorang kakak yang menyayangi adiknya, masih berbagi cerita kepada adiknya.
Tapi aku juga cukup tahu diri.
Nggak mungkin aku masih mendominasi keberadaan Gemilang.
Kubilang padanya agar tidak sering-sering main dan tidur di rumah, nggak enak sama Amrita.
Kami berdua toh sebenarnya tidak benar-benar bersaudara.
Aku hanya takut terjadi salah paham.

Perasaan?
Kalau ditanya perasaan, sejujurnya aku mau Amrita nggak usah ada.
Tapi kan Gemilang menginginkan Amrita ada, dan sejauh ini dia terlihat baik-baik saja, bahagia.
Jadi, apa sih kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat orang yang kita sayangi bahagia?

Awalnya, Gemilang masih sering menghubungiku, via sms, telepon, dan sebagainya.
Biasanya setiap malam.
Kemudian menjadi dua hari sekali.
Lalu seminggu sekali.
Tidak pernah kutanyakan pada Gemilang mengapa jadi begitu.
Dia masih menghubungiku saja aku sudah sangat bersyukur.

Saat kelulusan.
Aku tidak heran Gemilang tidak datang ke pelepasanku.
Gemilang memang tidak kuberitahu, dan dia juga tidak bertanya.
Aku melanjutkan studi ke salah satu universitas negeri, sesuai dengan yang pernah kuceritakan pada Gemilang saat suatu siang dia tiba-tiba datang ke sekolahku.

Tapi aku tidak tahu Gemilang melanjutkan ke mana.

Sampai suatu hari pintu rumahku diketuk.
Amrita berdiri di sana membawa bungkusan entah apa.
"Gemilang menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu," ujarnya.
Aku menatap bungkusan itu dengan heran.
"Mengapa bukan dia sendiri yang mengantarkannya kemari?"
Amrita menggeleng. "Gemilang tidak bisa," sahutnya.
"Mengapa tidak bisa?"
"Gemilang sudah pergi, Gemintang,"
Pergi? Ke mana? Kenapa dia tidak bilang dulu padaku? Lalu apa urusannya aku dengan bungkusan yang di bawa Amrita?
Begitu pertanyaan itu bertubi-tubi kulontarkan pada Amrita, jawabannya hanya satu kalimat singkat "Aku tidak tahu,"
"Kamu.. masih kekasih Gemilang bukan?"
Amrita lagi-lagi hanya menggeleng. "Tidak Gemintang, bahkan tidak pernah. Aku tahu setelah bertahun-tahun dia hanya memiliki satu kekasih sepanjang hidupnya. Dan itu bukan aku, tidak pernah aku. Permisi,"
Amrita kemudian berlalu, meninggalkan aku terbengong-bengong memegangi bungkusan yang dibawa Amrita dengan gemetar.


Gemilangnya Gemintang #3

Lulus dari sekolah menengah pertama, aku dan Gemilang melanjutkan di SMA yang berbeda.
Tapi persahabatan kami masih tetap berjalan seperti biasanya.
Gemilang masih selalu menceritakan banyak hal padaku.
Sekarang beberapa nama anak perempuan sudah masuk dalam ceritanya.
Aku tertawa saja mendengarkan, tapi sejujurnya ada sesuatu yang mengaduk-aduk perutku tiap kali ada nama perempuan disebutkan Gemilang dalam ceritanya.

Kadang kami jalan-jalan, entah hanya berdua atau ramai-ramai dengan teman sekolah yang lain.
Lebih sering hanya berdua.
Ke mall, bioskop, pantai, naik gunung, atau hanya sekedar duduk-duduk minum di warung lesehan di dekat sekolah kami dulu.
Gemilang juga masih sering main ke rumahku, tidur, atau minimal numpang makan siang, hahaha.

Gemilang terlihat semakin matang di usianya yang masih belasan.
Pertumbuhan badannya yang kelihatan paling mencolok. Tubuhnya semakin berisi dan atletis.
Benar saja kalau semakin banyak anak perempuan yang tertarik kepadanya.

Tiap kali memasuki bulan Maret, aku selalu memutar otak mencari kado apa lagi yang akan kuberikan untuk kakakku tersayang.
Bertahun-tahun Gemilang bertambah usia bersamaku. Tiap tahun aku mencoba memberikan sesuatu untuknya. Begitu pula sebaliknya.
Di ulang tahunnya yang ke-14, dia meneleponku sesenggukan.
Terang saja aku bingung, seharian bersamaku dia terlihat baik-baik saja, mengapa sore ini dia menangis seperti itu.
"Kamu jangan ngasih tulisan kayak begini lagi ke aku dong, malu tahu sampai nangis begini cuma gara-gara baca tulisanmu," ujarnya di telepon. Kontan saja aku tertawa sekaligus menghembuskan nafas lega. Kukira dia kenapa.

Seperti juga hari itu, ulang tahunnya ke-16.
Pagi-pagi aku sudah menggedor pintu toko roti untuk mengambil pesananku, taart mungil berwarna biru bertuliskan namanya beserta lilin ulang tahunnya.
Aku sudah menyusun permainan untuk Gemilang. Dia harus menyelesaikan permainan itu untuk menemukanku dan mengambil kue taartnya.
Lokasinya di taman bermain yang sering kami kunjungi sejak kecil.
Aku sudah tersenyum senang membayangkan Gemilang yang harus kembali bermain seperti anak-anak untuk mendapatkan kuenya ketika suaranya tiba-tiba ada di belakangku.
"Jangan bercanda deh Gemintang, kamu yakin mainannya masih kuat menahan bebanku waktu kunaiki?" ujarnya. Aku tersipu. Berantakan sudah rencanaku.

"Selamat ulang tahun," kusodorkan kue taart birunya. Sekarang kami sudah ada di pinggir pantai, menghadap ke gelombang-gelombang kecil Laut Jawa. Gemilang dengan senang hati mengambil kuenya dari tanganku.
Dikecupnya puncak kepalaku. Rasanya saat itu aku ingin lebur saja dengan pasir pantai dibawa gelombang.
"Terima kasih adikku, sahabatku selama bertahun-tahun. Maaf ya kalau selama ini aku tidak bisa menjadi sahabat dan kakak terbaikmu," ujar Gemilang. Aku terkekeh. Kucorengkan krim ke hidungnya, pipinya. Dia membalas.
Sesorean kami saling mengejar hingga matahari seperti tenggelam ke perut samudra.

Itu adalah terakhir kali Gemilang menghabiskan hari ulang tahunnya hanya bersamaku.
Tahun selanjutnya ia habiskan dengan kekasihnya, perempuan manis teman satu kelasnya.
Iri. Tapi ya mau bagaimana lagi. Tetap kutunaikan janjiku sebagai adik sebaik-baiknya.
Bagaimana pun juga Gemilang kakakku, sahabatku, saudaraku. Aku percaya padanya.
Aku percaya dia tidak akan benar-benar pergi dariku.

Gemilangnya Gemintang #2

Di tengah begitu banyak perhatian yang diterima Gemilang, rasanya aku harus sangat bersyukur Gemilang masih menganggap aku kawannya.
Dia tetap menceritakan banyak hal padaku.
Hal-hal yang kadang orang lain tidak tahu dan tidak boleh tahu.

Tumbuh bersama Gemilang begitu ringan.
Rumah kami tidak berdekatan, tapi kami sering pulang bersama.
Gemilang sudah biasa pulang ke rumahku, mengerjakan PR, lalu makan siang bersama keluargaku.
Dia sudah dianggap anak sendiri oleh orangtuaku.
Maka aku pun sudah menganggapnya sebagai kakakku, meskipun usia kami hanya terpaut 2 bulan.

"Tuh kan, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersaudara, Lang," ujarku suatu ketika. Gemilang hanya tertawa.
"Mungkin benar begitu. Gemintangnya Gemilang, Gemilangnya Gemintang," sahutnya.
"Tapi selain nama, sebenarnya kita nggak terlalu mirip," bisikku. "Kamu populer, aku nggak. Kamu pintar, aku biasa aja. Kamu cakep, aku kayak itik buruk rupa. Kamu idola, aku rakyat jelata," sambungku.
Gemilang kembali tertawa. "Makanya, jadilah anak pintar dan cantik," ujarnya. Aku memonyongkan bibir, semakin merasa minder dengannya. "Setidaknya untukku. Kamu nggak perlu kok jadi anak populer dan jadi idola semua orang. Nanti aku dicuekin kalau begitu," sambungnya sembari mencubit pipiku dengan gemas.
Aku tersenyum. Untuk kakakku yang satu ini, sebisa mungkin aku berusaha menjadi anak pintar dan tampil cantik. Begini-begini aku nggak mau juga mempermalukan kakakku sendiri.

Selayaknya hubungan pertemanan, aku dan Gemilang tak selamanya sepaham. Malah kami lebih sering bertengkar, adu mulut.
Gemilang bilang aku yang terlalu sensitif, hal kecil saja bisa membuatku mutung padanya.
Sebaliknya, menurutku Gemilang terlalu emosional, nggak sabaran.
Tapi toh tetap saja kami berdua akan baikan lagi tak lama kemudian.
Semarah-marahnya kami berdua nggak pernah sampai serius.
Kurasa karena kami saling membutuhkan.
Aku perlu Gemilang sebagai bahu, pelindung, nyaris segalanya. Gemilang membutuhkanku sebagai partner berbagi cerita.

Aku pernah bertanya padanya, di antara begitu banyak perempuan yang mengaguminya kenapa tak ia pilih satu untuk jadi kekasihnya.
"Hush, ngomong apa kamu ini. Nggak lah, nggak ada yang cocok," jawabnya.
"Kamu tahu cocok atau enggak dari mana Lang? Kamu saja tidak pernah menanggapi mereka," tukasku.
"Yah ngapain juga sih begitu ditanggapin? Aku nggak perlu punya pacar sekarang. Aku sudah punya sahabat, adik seperti kamu. Apa lagi yang aku perlukan selain kamu?"
Kurasa mukaku sudah semerah air sumba yang kami aduk-aduk dari tadi.
"Tetaplah jadi adik kesayanganku, apapun yang terjadi, oke?" imbuhnya. Aku mengangguk patuh.
Memangnya apa yang akan terjadi?

Gemilangnya Gemintang #1

I always believe that a bestfriend will always be a bestfriend.

Time's changing.
Peoples change.
But I still don't know, berapa banyak bagian dari kita yang berubah.

Missing that eyes, that smile.
I've tried to write it in many ways, but I still can't describe it well.
Hehehe.

Gemilang.
Nama yang aku suka, hihi.
Kurasa sesuai dengan yang menyandangnya.
Karena Gemilang berarti selalu bersinar, tanpa cela.

Tahun ajaran baru, semua anak terlihat bersemangat melangkahkan kaki ke sekolah barunya.
Ke kelas barunya. Bertemu teman-teman baru.
Guru-guru baru.
Menyandang tas baru, sepatu baru, seragam baru.
Semua serba baru.

Sama halnya denganku.
Bocah ingusan yang baru kemarin lulus SD, hari ini untuk pertama kalinya memakai seragam putih-biru.
Terlongok-longok berjalan menyusuri koridor, menekuri nama-nama yang tertempel di tiap pintu kelas.
Kelasku di ujung koridor.

Riuh rendah suasana kelas yang serba baru.
Senang rasanya berjabat tangan dengan nama orang dan menyebutkan nama.
"Gemintang," ujarku dengan riang.

Seperti lazimnya, murid-murid baru harus menjalani Masa Orientasi.
Mengitari sekolah, berkenalan dengan anak-anak kelas lain, kakak kelas, guru, dan karyawan.
Satu yang paling aku ingat dari masa orientasi ini, ketika aku berjabat tangan dengan bocah laki-laki berpipi tembam, berkulit gelap.
"Gemintang," ujarku.
"Gemilang," sahutnya.
Kami berdua sama-sama cekikikan begitu tahu nama masing-masing.
Entah apa yang dia tertawakan, tapi menurutku nama kami terdengar seperti saudara kembar.
Tak lama kami pun berpisah, melanjutkan perjalanan untuk berkenalan dengan banyak orang lain lagi.

"Gemintang!" sapa seseorang di belakangku.
"Gemilang!" seruku.
"Daftar juga?"
"Iya,"
"Baguslah, kita akan sering bertemu," ujar Gemilang. Mau tak mau aku tersenyum. Sepertinya menyenangkan memiliki teman seperti Gemilang.
Kami berdua pun resmi terdaftar sebagai anggota klub Olimpiade sekolah.
Aku Biologi, Gemilang Matematika.



Itu awal jumpaku dengan Gemilang, bocah berpipi tembam yang sangat menyenangkan.
Sejak saat itu, kami berdua benar-benar menjadi sering bertemu.
Tidak hanya di klub Olimpiade, tetapi juga dalam kegiatan Pramuka, OSIS, dan sebagainya.
Aku dan Gemilang tumbuh bersama-sama selama bertahun-tahun.
Aku menyaksikan sendiri transformasi seorang bocah tembam berkulit gelap ini menjadi laki-laki yang diidolakan banyak perempuan.
Selalu saja aku tertawa kalau ingat. Bagiku, Gemilang tetap Gemilang yang kutemui di hari-hari awal masuk sekolah ini.
Memang, pipi tembam itu sudah berubah menjadi tirus, mempertegas bentuk wajahnya. Hidung Gemilang lancip, potongan wajahnya tajam, berwibawa. Bibirnya penuh, dan bila Gemilang tersenyum akan tampak geliginya yang putih dan berderet rapi. Ada kumis tipis yang mulai muncul di atas bibirnya.
Badannya yang dulu bulat, sekarang menjulang dengan otot-otot yang padat berisi.
Rambutnya hitam legam dipotong pendek, jabrik. Alis yang menaungi matanya juga hitam dan lebat memberi kesan teduh. Bulu matanya lentik.
Hanya satu bagian tubuhnya yang kurasa tetap sama. Matanya. Mata yang bersinar, khas kanak-kanak. Aku suka mata itu.
Gemilang tidak hanya menarik secara fisik, dia juga pintar. Beberapa kali juara Matematika dari Kabupaten hingga Nasional. Namanya tak pernah absen dari deretan tiga besar terbaik di kelasnya.
Kemampuan non-akademisnya juga bagus. Dia dipercaya menjabat Wakil Ketua OSIS di sekolah.
Dengan tampilan sedemikian rupa, wajar saja bila teman-teman perempuan banyak yang mengidolakannya, diam-diam hingga terang-terangan.
Setiap pagi kami berdua akan menemukan setumpuk surat cinta di loker Gemilang. Setiap itu pula aku terbahak-bahak.