Sabtu, 23 Agustus 2014

Gemilangnya Gemintang #1

I always believe that a bestfriend will always be a bestfriend.

Time's changing.
Peoples change.
But I still don't know, berapa banyak bagian dari kita yang berubah.

Missing that eyes, that smile.
I've tried to write it in many ways, but I still can't describe it well.
Hehehe.

Gemilang.
Nama yang aku suka, hihi.
Kurasa sesuai dengan yang menyandangnya.
Karena Gemilang berarti selalu bersinar, tanpa cela.

Tahun ajaran baru, semua anak terlihat bersemangat melangkahkan kaki ke sekolah barunya.
Ke kelas barunya. Bertemu teman-teman baru.
Guru-guru baru.
Menyandang tas baru, sepatu baru, seragam baru.
Semua serba baru.

Sama halnya denganku.
Bocah ingusan yang baru kemarin lulus SD, hari ini untuk pertama kalinya memakai seragam putih-biru.
Terlongok-longok berjalan menyusuri koridor, menekuri nama-nama yang tertempel di tiap pintu kelas.
Kelasku di ujung koridor.

Riuh rendah suasana kelas yang serba baru.
Senang rasanya berjabat tangan dengan nama orang dan menyebutkan nama.
"Gemintang," ujarku dengan riang.

Seperti lazimnya, murid-murid baru harus menjalani Masa Orientasi.
Mengitari sekolah, berkenalan dengan anak-anak kelas lain, kakak kelas, guru, dan karyawan.
Satu yang paling aku ingat dari masa orientasi ini, ketika aku berjabat tangan dengan bocah laki-laki berpipi tembam, berkulit gelap.
"Gemintang," ujarku.
"Gemilang," sahutnya.
Kami berdua sama-sama cekikikan begitu tahu nama masing-masing.
Entah apa yang dia tertawakan, tapi menurutku nama kami terdengar seperti saudara kembar.
Tak lama kami pun berpisah, melanjutkan perjalanan untuk berkenalan dengan banyak orang lain lagi.

"Gemintang!" sapa seseorang di belakangku.
"Gemilang!" seruku.
"Daftar juga?"
"Iya,"
"Baguslah, kita akan sering bertemu," ujar Gemilang. Mau tak mau aku tersenyum. Sepertinya menyenangkan memiliki teman seperti Gemilang.
Kami berdua pun resmi terdaftar sebagai anggota klub Olimpiade sekolah.
Aku Biologi, Gemilang Matematika.



Itu awal jumpaku dengan Gemilang, bocah berpipi tembam yang sangat menyenangkan.
Sejak saat itu, kami berdua benar-benar menjadi sering bertemu.
Tidak hanya di klub Olimpiade, tetapi juga dalam kegiatan Pramuka, OSIS, dan sebagainya.
Aku dan Gemilang tumbuh bersama-sama selama bertahun-tahun.
Aku menyaksikan sendiri transformasi seorang bocah tembam berkulit gelap ini menjadi laki-laki yang diidolakan banyak perempuan.
Selalu saja aku tertawa kalau ingat. Bagiku, Gemilang tetap Gemilang yang kutemui di hari-hari awal masuk sekolah ini.
Memang, pipi tembam itu sudah berubah menjadi tirus, mempertegas bentuk wajahnya. Hidung Gemilang lancip, potongan wajahnya tajam, berwibawa. Bibirnya penuh, dan bila Gemilang tersenyum akan tampak geliginya yang putih dan berderet rapi. Ada kumis tipis yang mulai muncul di atas bibirnya.
Badannya yang dulu bulat, sekarang menjulang dengan otot-otot yang padat berisi.
Rambutnya hitam legam dipotong pendek, jabrik. Alis yang menaungi matanya juga hitam dan lebat memberi kesan teduh. Bulu matanya lentik.
Hanya satu bagian tubuhnya yang kurasa tetap sama. Matanya. Mata yang bersinar, khas kanak-kanak. Aku suka mata itu.
Gemilang tidak hanya menarik secara fisik, dia juga pintar. Beberapa kali juara Matematika dari Kabupaten hingga Nasional. Namanya tak pernah absen dari deretan tiga besar terbaik di kelasnya.
Kemampuan non-akademisnya juga bagus. Dia dipercaya menjabat Wakil Ketua OSIS di sekolah.
Dengan tampilan sedemikian rupa, wajar saja bila teman-teman perempuan banyak yang mengidolakannya, diam-diam hingga terang-terangan.
Setiap pagi kami berdua akan menemukan setumpuk surat cinta di loker Gemilang. Setiap itu pula aku terbahak-bahak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar