Sabtu, 23 Agustus 2014

Gemilangnya Gemintang #4

Amrita.
Itu nama kekasih Gemilang.

Sejak Gemilang punya pacar, sedikit banyak hubungan kami berubah.
Gemilang tetaplah seorang kakak yang menyayangi adiknya, masih berbagi cerita kepada adiknya.
Tapi aku juga cukup tahu diri.
Nggak mungkin aku masih mendominasi keberadaan Gemilang.
Kubilang padanya agar tidak sering-sering main dan tidur di rumah, nggak enak sama Amrita.
Kami berdua toh sebenarnya tidak benar-benar bersaudara.
Aku hanya takut terjadi salah paham.

Perasaan?
Kalau ditanya perasaan, sejujurnya aku mau Amrita nggak usah ada.
Tapi kan Gemilang menginginkan Amrita ada, dan sejauh ini dia terlihat baik-baik saja, bahagia.
Jadi, apa sih kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat orang yang kita sayangi bahagia?

Awalnya, Gemilang masih sering menghubungiku, via sms, telepon, dan sebagainya.
Biasanya setiap malam.
Kemudian menjadi dua hari sekali.
Lalu seminggu sekali.
Tidak pernah kutanyakan pada Gemilang mengapa jadi begitu.
Dia masih menghubungiku saja aku sudah sangat bersyukur.

Saat kelulusan.
Aku tidak heran Gemilang tidak datang ke pelepasanku.
Gemilang memang tidak kuberitahu, dan dia juga tidak bertanya.
Aku melanjutkan studi ke salah satu universitas negeri, sesuai dengan yang pernah kuceritakan pada Gemilang saat suatu siang dia tiba-tiba datang ke sekolahku.

Tapi aku tidak tahu Gemilang melanjutkan ke mana.

Sampai suatu hari pintu rumahku diketuk.
Amrita berdiri di sana membawa bungkusan entah apa.
"Gemilang menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu," ujarnya.
Aku menatap bungkusan itu dengan heran.
"Mengapa bukan dia sendiri yang mengantarkannya kemari?"
Amrita menggeleng. "Gemilang tidak bisa," sahutnya.
"Mengapa tidak bisa?"
"Gemilang sudah pergi, Gemintang,"
Pergi? Ke mana? Kenapa dia tidak bilang dulu padaku? Lalu apa urusannya aku dengan bungkusan yang di bawa Amrita?
Begitu pertanyaan itu bertubi-tubi kulontarkan pada Amrita, jawabannya hanya satu kalimat singkat "Aku tidak tahu,"
"Kamu.. masih kekasih Gemilang bukan?"
Amrita lagi-lagi hanya menggeleng. "Tidak Gemintang, bahkan tidak pernah. Aku tahu setelah bertahun-tahun dia hanya memiliki satu kekasih sepanjang hidupnya. Dan itu bukan aku, tidak pernah aku. Permisi,"
Amrita kemudian berlalu, meninggalkan aku terbengong-bengong memegangi bungkusan yang dibawa Amrita dengan gemetar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar